
Kesspakatan Rahma dan Arci telah dimulai, mereka melakukannya dengan berbagai cara. Menyebarkan gosip di kantor, bikin status di medaos, sering jalan berdua. Rahma sering diantat jemput oleh Arci, tujuan mereka hanya satu yaitu agar Andini bisa kembali keoada Arci. Andini pun mendengar gosip tersebut, hatinya seperti tercabik-cabik. Hingga pada suatu pagi, dia menyapa Rahma.
"Pagi?" sapa Andini
"Pagi Bu." jawab Rahma
"Kudengar. kamu sekarang jalan sama Arci?" tanya Andini.
"I-iya."
"Selamat yah," kata Andini. Setelah itu ia pergi meninggalkan Rahma yang bengong.
Di dalam ruangannya Andini menangis, ia lemas dan tertunduk di lantai, "kenapa? kenapa jadi begini? apakah kamu ingin menyakitiku?"
Hari itu kantor penuh berita heboh, bahkan sampai-sampai orang seperti Nita dan Sonia yang suka bergosip tambah lebih heboh lagi. mereka pun cahttingan.
(WA)
Nita : Eh cuy, dirimu jadian sma big bos?
Rahma : He-eh
Sonia : Waaaaa...kita telaaaatt, bruntung bgt kamu.
Nita : Iyo i
Rahma : hehehehe.
Nita : gimna si big boss? sudah di apain aja?
Rahma : ngomong apa sih? nggak ngapa-ngapain, baru juga jadian
Sonia : halaaa... diapa-apain juga nggak apa-apa koq Ma. aku juga seneng temenku dpt cwok ganteng.hihihihi.
Nita : Tapi kita butuh ditraktir nih.
Sonia : oya, butuh banget itu mah.
Rahma : eh..koq malah nodong sih? lagi bokek.
Nita : halaa, ayo makan bakso aja. Enak bgt!
Sonia : Iya bnr makan bakso penthol gedhe.
Rahma : yaealah dibilang bokek.
Nita : Peliiiit.
Sonia : Iyaaa peliiit.
Rahma : Ej beneran, aku lg bokek. beneran koq.
(chat end)
"Ajak aja mereka, aku yang bayarin? kata Arci.
Rahma terkejut dan buru-buru menutup laptopnya, "Eh..pak Arci..?"
"Dibilang jangan panggil pak. Nggak di kantor nggak dimana pun, aku melarangmu manggil pak." kata Arci
"Tapi..."
"Udah, ajak aja nanti makan siang Nita sama Sonia, makan bakso." ujar Arci
Rahma menghela nafas, Arci menoleh ke arah pintu ruangan Andini yang terrurup. Rahma melihat wajah Arci yang tampaknya merasa khawatir, pemuda ini sangat mencintai Andini.
"Dia sudah tahu?" tanya Arci
"Sudah." jawab Rahma.
"Baiklah, aku kesini ingin memberikan ini," kata Arci sambil memberikan beberapa tangkai bunga mawar merah berikut dengan vas,nya.
"Ehhh?? apa ini? nanti dilihat orang?"
"Bukankah semua orang harus tahu?"
"Hmm...i-iya juga sih, tapi aku malu;"
"Sudahlah, terima saja."
Andini tiba-tiba keluar dari ruangannya, dia terkejut melihat Arci ada di meja Rahma. Jantung Andini serasa copot melihat Arci memberikan bunga mawar kepada Rahma, Arci yang mengetahui Andini melihatnya kenudian membelai rambut Rahma. Setelah itu mengangguk kepada Andini, kemudian dia pergi. Rahma tidak tahu kalau Andini keluar dari ruangannya dan hendak menuju mejanya.
Setelah Arci menghilang dari balik pintu barulah ia bernafas lega, Andini menghampirinya.
"Bunga ya? Romantis banget? sindir Andini.
"Eh, ibu," Rahma tampak gugup.
"Tolong laporan minggu kemarin, bawa ke mejaku ya. Aku ingin keluar sebentat," kata Andini.
"B-baik bu." Rahma agak gugup
Andini berusaha mengejar Arci, dia mempercepat langkahnya. Begitu melihat Arci masuk lift ia juga mengejar Arci sampai masuk ke dalam lift. Mereka bedua di dalam lift, nafas Andini memburu ia seperti tak terima Arci sudah punya gebetan lain.
"Kamu,.... cepat sekali berpindah ke lain hati,"
"Kenapa? Inikan hidupku, bukan hidupmu " kata Arci, "Apa aku tak boleh mengencani Rahma?"
"Rahma itu anak buahku, sekretarisku. Kamu tak bisa seenaknya seperti itu!"
"Apakah ada peraturan perusahaan yang melarang atasan mengencani anak buahnya?"
"Ada, itu aturanku."
"Kamu cemburu?"
"Tidak. Si-siapa bilang?"
"Berarti kamu masih mencintaiku?"
"Hah??" Andini agak gugup, "Tidak, katamu hubungan kita telah berakhir bukan? Sudahlah nggak perlu dibahas. Terserah, kamu mau menjalin hubungan dengan siapa pun,"
"Ok, lalu kenapa kamu sewot?"
"Kenapa terlalu cepat? kenapa kamu terlalu cepat memutuskan?"
"Din, aku single. aku cukup ganteng, aku punya kekayaan, aku punya semuanya. Wajar kalau aku ingin punya kekasih bukan? Kamu mau kembali kepadaku lagi?"
"Tidak! Kamu bodoh! Tidak sensitif!"
"Akuilah kalau kamu masih mencintaiku."
Andini terdiam.
Untuk satu menit yang panjang mereka terdiam. Andini tak menjawab. Dia ingin berteriak saat itu "Aku mencintaimu" tapi mulutnya seperti terkunci, terlebih ketika mengingat Arci bersama Safira. Mata Andini berkaca-kaca.
"Aku akan menikahi Rahma seminggu lagi." pancing Arci.
JDERR! Tentu saja kata-kata itu membuat Andini terkejut.
"Bohong!"
"Kamu akan.menerima undanganya besok, setidaknya masih ada waktu. Apakah kamu masih mencintaiku ataukah tidak, kalau kamu masih mencintaiku maka aku akan batalkan pernikahan ini, kalau tidak maka kamu akan mendapatiku dipelaminan bersama Rahma."
Lift terbuka,. Arci pun keluar, Andini hanya melihati punggung Arci menjauh disusul pintu lift tertutup kembali. Tangis Andini pecah, ia menekan tombol STOP di lift agar lift berhenti. Entah antara penyesalan dan cinta ia bingung.
"Kenapa kamu memaksaku? Aku mencintaimu, kamu harusnya tahu. Arci..please jangan pergi...," Andini terisak di dalam lift.
DRRRRTT! ponsel Andini bergetar sebuah nama terpampang di sana MY CICI. Arci meneleponya, ia galau antara menolak atau menerima panggilan tersebut, dan jemarinya menggeser tombol hijau.
"Ya?" sapa Andini singkat.
"Andini?" tanya sebuah suara wanita, Andini sedikit terkejut.
"Si..siapa?" tanya Andini.
"Ponsel adikku ketinggalan, kalau itu kamu. aku ingin bicara, bisa kita ketemuan?"
Dada Andini berdebar-debar, kenapa Safira ingin bertemu dengan dirinya. Ada perlu apa?
"Please, ini penting. Bisa kita ngobrol? Aku tunggu di Kopi Tiam di jalan Bondowoso, nanti sore." kata Safira.
"B-baiklah." ujar Andini.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Kafe NIKI kopi tiam malam itu tak terlalu ramai, mungkin karena para mahasiswa sedang sibuk sengan ospek dan libur semesteran. Sehingga kafe yang biasanya ramai malam itu terlihat hanya beberapa pengujung saja,
Safira mengenakan baju putih lengan panjang dengan bawahan jeans dan sepatu boots, dia membawa sebuah tas kecil yang ia taruh di atas meja dimana dia duduk. Secangkir kopi yang masih mengekuarkan uap panas menemani dirinya, Beberapa pengunjung pria matanya tertuju pada dirinya, mungkin karena dia satu-satunya wanita cantik yang ada di kafe tersebut. Parfumnya pun bisa tercium ke segala sudut ruangan membuat pesona Safira tak bisa ditolak.
Andini tak lama kemudian datang? Begitu melihatnya Safira sangat senang sekali, dia mengaanggap Andini cantik, anggun dengan balutan baju atasan hitam putih dan rok abu-abu. Rambut Anidni diikat, sepatu high heelsnya yang bermerk terkenal nampak semakin serasi saja dia pakai. Begitu, Andini masuk ia langsung mengenali Safira. Para pria di kafe kini mendapatkan pemandangan indah yang lainnya, Dua bidadari berada di satu ruangan.
Safira segera menyambut Andini, menyalaminya dan cipika-cipiki. Andini tak menyangka kalau Safira bisa selembut dan seakrab itu.
"Apa kabar?" sapa Safira
"Baik." jawab Andini.
Mereka berdua duduk berhadapan, Andini sangat canggung apalagi Safira tersenyum. Ia mengira Safira ini cantik, pantas saja Arci menyukai kakaknya sendiri. Andini.merasa kalah.
"Aku ingin bicara mengenai adikku, kalau kamu tak keberatan," kata Safira.
Andini menghela nafas, "masalah apa?"
"Kami tahu apa yang dikatakan Adikku bukan?Ketahuilah dia sangat mencintaimu, aku tak ingin merusak hubungan kalian, aku sangat berharap ia bisa bersama dengan mu, Arci telah memnganggap kamu adalah hidupnya."
"Aku tak mengerti,"
"Andini, Safira menggenggam tangan Andini, "kamu mencintai Arci bukan?"
"Aku akan pergi, kamu tak akan melihatku lagi. Aku tak ingin kebahagiaan kalian terganggu olehku, aku sadari aku salah, dari dulu aku adalah wanita hina, sering diusir, sering diintimidasi, itulah aku. Tapi aku sangat menyayangi Arci lebih dari yang kamu ketahui, aku tak ingin mengganggu cinta kalian. Aku hanyalah duri yang mengganggu kisah cinta kalian,"
Andini tiba-tiba menangis, "Jangan, kamu adalah orang yang dia cintai. Aku tak bisa, aku sudah kalah sebelum bertarung. Aku tak bisa."
"Din, kenapa kamu menangis?"
"Aku tak tahu,"
"Kamu takut kehilangan dia bukan?"
"Iya, aku takut..takut sekali. Tapi dia hari ini sudah berhubungan dengan wanita lain, dia berkata kalau dia ingin menikahi wanita itu seminggunlagi."
"Tidak, Arci tak akan berbuat seperti itu. Dia hanya ingin memancing emosimu saja, dia hanya ingin agar kamu mengakui bahwa kamu masih mencintai dia. Hanya itu Katakan kepadaku, kamu mencintai dia bukan?"
Air mata Andini makin deras, "Aku sangat mencintainya, sangat-sangat mencintainya."
Safira menggeser kursinya, kemudian dia memeluk Andini. Keduanya sama-sama menangis, mencintai orang yang sama tapi dengan status berbeda.
"Kamu jangan pergi!" kata Andini "Arci takan bisa hidup tanpa kamu."
"Dia harus bisa." kata Safira
"Tidak, jangan!"
"Aku menyayangimu, sama seperti aku menyayangi adikku. Aku akan mengalah, Arci harus bisa hidup tanpa adanya diriku."
"Safira...hiks.."
I LOVE YOU, HANDSOME.
Besoknya Arci membawa surat undangan, surat undangan berwarna coklat itu terdapat sebuah pita kecil yang berada disalah satu halaman undangan tersebut. Di sana tertulis nama Arci dan Rahma, surat undangan pernikahan itu dibagikan semua. Sepertinya Arci sangat serius, Arci sudah pergi ke rumah orang tua Rahma untuk melamarnya, dan Arci juga sudah mempersiapkan segala hal yang diperlukan untuk pernikahan hingga Rahma tak tahu apakah ini bercanda atau serius. Dia berkali-kali bertanya kepada Arci.
"Ini seriusan?" tanya Rahma berkali-kali.
Arci menjawab, "Seriusan."
Rahma terkejut, "Ci, bukannya kita hanya main-main saja sampai Andini mengakui cintanya?"
Arci tersenyum, "Ikuti saja apa kemauanku, aku sekarang jadi calon suamimu. Baik kamu suka atau tidak."
"Hei? Tidak bisa begini, dan bukan begini perjanjiannya?"
"Tenanglah, aku yakin dia akan berkata jujur bahwa dia mencintaiku."
"ARCI!" suara Rahma meninggi.
Arci langsung menium bibir Rahma, Rahma yang mendapat serangan mendadak itu pun sontak kaget. Andini keluar dari ruangannya, ia kaget melihat Rahma dan Arci berciuman hal ini sama sekali tak pernah diduga. Rahma pun tak bisa melawan hingga akhirnya ia pasrah dan menerima perlakuan Arci. Andini sangat sakit hatinya, ia kembali ke ruangannya.
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan, aku tak peduli, mau kamu pergi, mau kamu nikah sama Rahma terserah!" runtuk Andini. Dia kemudian mendorong semua barang yang berada di atas mejanya, setelahnya ia menjerit. Hatinya sangat sakit, "Arci aku mencintaimu..."
Saat Andini masuk ke ruangannya, Rahma mengetahui kalau tadi Andini melihat, dia mendorong Arci kuat-kuat.
"Apaan sih?" grutunya.
"Aku ingin dia cemburu." kata Arci.
"Gila apa? ini bukan kesepakatan kita. ngapain pake acara cium segala? Batalin nggak itu pernikahan!"
"Tidak, ini sudah keputusanku."
"Tapi apa yang akan terjadi nanti? kalau misalnya memang beneran, Andini ingin kembali padamu, bukankah undangan sudah disebar?"
"Kamu tak akan menyesal pada hari itu, kamu tetap akan menikah. Aku tetap akan menikah."
"Ci, ini gila!"
"Bukankah kita sudah bersepakat kalau kamu mau mengikuti caraku."
Rahma menghela nafas, ia masih ingat bagaimana dua hari yang lalu Arci datang ke rumahnya. Terang-terangan 'melamar' Rahma, antara pura-pura dan tidak sepertinya tidak diketahui. Bahkan Arci menjadwalkan acara dua minggu lagi, dia sudah mengatur semuanya. Orang tua Rahma tentu saja setuju, Arci bilang itu keputisan Rahma dia setuju atau tidak dan Rahma setuju. Saat ini juga Arci berkata, "Sekalipun dengan menikah nanti kamu tidak mendapatkan apa-apa dariku."
Rahma tak mungkin bilang "tidak" dia hanya berkata "Iya"
Ini adalah hal tergila dalam hidupnya.
I LOVE YOU HANDSOME.
"Aku akan kembali." kata seseorang, dia memainkan cerutu yang ada di tangannya sementara tangan satunya sedang menggenggam ponsel
"..."
"Tak perlu takut, keluarga itu memang begitu. Tidak akan.memberikan toleransi pada para penghianat, hal itu memang akan terjadi. Hanya saja, kalau bisnisku diganggu aku pun tak suka."
"..."
"Aku tahu, kematian Jatmiko, harusnya kamu tidak ceroboh."
"..."
"Biarkan Alfred yang mengurus."
"..."
"Anak Archer biar aku urus, bantuan sudah datang."
"..."
"Tentu sja, apa? dia mau menikah? kapan?"
"..."
"Perjanjian kita tak akan batal, aku sudah berjanji? Kita akan merger, kalian akan tetap mendapat bagian. Sudah saatnya PT. Evolus dipimpin oleh orang yang tepat."
"..."
"Segera kita akan lakukan pembersihan. Semuanya tanpa ampun."
"...."
"Ya, semuanya."
I LOVE YOU HANDSOME.
Seorang lelaki berusia 40-an masuk ke sebuah rumah sakit jiwa, dia adalah Johan Sabastian. Dia mengunjungi istrinya Araline Zenedine, sebenarnya ini adalah kunjungan rutin. Karena hampir pasfi kalau tidak ada halangan, dua minggu sekali ia menjenguk istrinya. Sang istri keadaanya mulai membaik, mulai tenang walaupun tidak sepenuhnya, dan bisa kambuh sewaktu-waktu.
"Araline?" sapa Johan.
"Hmm??" jawab Araline. Dia memakai baju putih rambutnya disisir rapih, tapi kantung matanya tampak menonjol. Araline mempunyai kebiasaan kurang tidur, bahkan lebih banyak mengigau. Semenjak narkoba mempengaruhi jalan pikirannya ia dimasukan ke rumah sakit jiwa, ini adalah cobaan bagi Johan.
"Kamu tahu, ini kesekian kalinya aku menjengukmu. Dokter bilang sudah ada kemajuan dari terapimu, hanya saja masih perlu observasi." kata Johan.
Araline masih membisu.
"Kamu masih memikirkan kejadian masa lalu? Sudahlah, udah berapa tahun? Sebentar lagi kalau kamu tidak kambuh, kita akan pulang."
"Katakan bagaimana kabar Archer?" tanya Araline.
Johan lelah sebenarnya bila ditanya masalah Archer, Johan tak pernah tahu apa yang terjadi antara istrinya dengan Archer yang notabene adalah kakaknya sendiri. Araline selalu bertanya tentang keadaan Archer.
"Dia...sekarang sudah meninggal, kamu harus tahu. Dia sudah lama tidak ada." ujar Johan.
Araline tersenyum, "Kamu bohong, Archer menungguku, dia pasti menungguku!"
"Dia sudah meninggal, sekarang ada anaknya yang menggantikan dia," kata Johan.
"Anaknya? siapa?"
"Namanya Arczre panggilannua Arci, ia pewaris dari PT. Evolus. Harusnya kamu relakan dia."
"Semua keluarga ini memang sampah, mereka tidak pernah punya perasaan.Archer yang tidak bersalah saja bisa mereka siksa seperti itu, Siapa dia? Arci? Aku ingin bertemu dengannya, kamu bisa antarkan dia ke sini?"
"Kenapa?"
"Aku ingin berikan dia sebuah rahasia."
"Apa?"
"Biar Arci yang tahu, aku sudah berjanji kepada Archer untuk menceritakan hal ini kepadanya. Tapi kalau kamu bilang ada anaknya maka boleh saja kan? Aku ingin ceritakan sesuatu kepasa Arci, dan juga tentang alasanku berada di sini."
"Araline, kamu ini kenapa?"
"CEPAAAT!" suara Araline meninggi.
"Iya, Ok.Ok, aku akan ajak anak itu ke sini."
Araline tersenyim, "jangan sampai tidak."
Johan mengerutkan dahinya, ia tak habis pikir. Rahasia apa yang akan dibeberkan oleh Araline? Dia berdiri, dan kemudian meninggalkan Araline seorang diri. Tujuannya sekarang adalah mencari Arci.
Untuk mencari Arci tidaklah sulit, Johan langsung menemui Arci di ruang kerjanya. Sebagai salah satu keluarga Zsnedine, akses untuk dia adalah sangat mudah. Arci saat itu sedang menandatangani berkas-berkas, agaknya hari ini dia menyibukan diri di dalam.kantornya. Kantor seorang Presdir cukuplah luas, juga merupakan tempat paling atas di gedung ini. Di mejanya ada sebuah bingkai foto, dan foto itu adalah foto Andini. Ketika Arci mengusap-usap foto pada saat itu juga Johan mengetuk pintu.
Arci yang terkejut langsung menutup bingkai tersebut., dia lalu berkata. "Silahkan masuk."
Johan pun masuk.
"Johan?" Arci cukup terkejut.
"Apa kabar ponakan?" sapa Johan.
"Ada perlu apa?" tanya Arci
"Aku ingin kamu ikut denganku."
"Kemana?"
"Ke rumah sakit jiwa, tempat istriku berada. Dia ingin bercerita sesuatu kepadamu, percayalah kepadaku. kamu akan mengerti apa yang terjadi di keluarga ini."
Bersambung KETIKA DIA DATANG