
DARKER THAN BLACK
Beberapa hari sebelumnya....
Arci masuk kesebuah ruangan khusus, ruangan itu adalah ruangan kamar tempat di mana Araline berada. Johan menunggu di luar, Arci melihat seorang wanita paruh baya. Wajahnya sudah terdapat kerutan, rambutnya tergerai tak terawat, matanya mirip sekali dengan mata Archer.
"Archer?" sapa Araline.
"Aku Arczre, anaknya." jawab Arci.
""Ah, bagaimana kabar ayahmu?" tanya Araline.
"Dia sudah tiada."
Mata Araline berkaca-kaca, tangannya gemetar ia memberi kode agar Arci mendekat. Arci pun mendekat, tubuh tua Araline gemetar ketika meraba wajah pemuda itu. Araline meraba seolah-olah ia tak bisa melihat, wajah Arci diusapnya hingga seluruh panca indera perabanya bisa merasakan wajahnya.
"Pengelihatanku sudah tidak berfungsi," ujar Araline. "Aku terlalu banyak menangis, aku selama ini menghancurkan hati Johan yang selalu setia mendampingiku."
"Apa yang ingin kamu sampaikan?"
"Aku ingin menceritakan semuanya, sudah saatnya aku bicara banyak. Semua yang harus kamu ketahui tentang keluarga Zenedine, kalau ad orang yang ingin menguasai harta kekayaan ayahmu. maka hanya ada satu orang di keluarga Zenedine, dia adalah Tommy Zenedine.
"Kenapa bisa begitu?"
"Ceritanya cukup panjang, tapi aku akan ceritakan dengan detail agar kamu paham seberapa bencinya tommy kepada ayahmu. Dan agar kamu tahu, apa yang Archer perjuangkan untuk keluarga ini. Kamu, mau tidak mau harus menerimanya, kamu bisa.mengubah semuanya,"
"Kamu bisa dan kamu satu-satunya yang bisa, aku berada di sini karena takut. Aku pura-pura gila agar aku tidak dihancurkan oleh Tommy, dia orang yang sangat berbahaya."
"Bukankah dia tidak tertarik dengan harta keluarga ini?"
"Siapa bilang? Dia berkata hanya akan mencintai seni, itu bohong semuanya. Dia yang pertama kali memperkenalkanku pada narkoba, dia yang pertama kali, dia juga yang menyelundupkan narkoba keluar negeri dengan perantara perusahaan ini. Kamu tahu pengaruhnya di keluarga ini melebihi pengaruh Archer, hampir semua tukang pukul, bodyguard, pembunuh bayaran, senuanya dikuasai oleh dia dan anaknya, Alfred. Alfred adalah kepanjangan tangan Tommy, mereka ayah dan anak sama saja,"
"Sejak kecil Tommy selalu bersaing dengan Archer dalam banyak hal, tapi Tommy selalu kalah. Dia selalu iri dengan apa yang diraih oleh Archer. Archee selalu sempurna, Archer sederhana, Archer membuat semua orang suka kepadanya. Aku juga suka kepada Archer; dia selalu melindungiku tapi aku melakukan kesalahan terbesar. Kesalahan terbesarku karena aku mencintai dia.
"Aku ingat ketika kami masih sekolah, dia sangat berbeda dari yang lain. Sangat mempesona, sikapnya yang dewasa membuat setiap gadis ingin mendekatinya. Aku sangat protektif. dan selalu aku yang manja kepadanya. dia tetap menganggap aku sebagai adiknya, tapi aku tidak,"
"Aku merasa ingin memilikinya, aku merasa akulah yang lebih tahu Archer, aku ingin menjadikan dia kekasihku dan akhirnya aku bisa mendapatkannya. Ya, aku bisa mendapatkanya. Suatu malam di saat ulang tahunku, aku meminta hadiah berupa kecupan di bibir. Dan aku mendapatkannya dari Archer, ah indahnya saat itu, itulah ciuman pertamaku,"
"Namun Archer tak pernah menganggap aku sebagai kekasihnya. Tidak, kami tidak melakukan s**s, aku mencintainya tulus. mengorbankan apapun untuk dia aku menyayangi dia sebagai keluarga, juga sebagai kekasih. Hanya saja kecintaanku kepada Archer mengakibatkan aku selalu sakit hati, ya sakit hat. Dia bisa bebas memiliki kekasih, ia berganti-ganti wanita, tapi aku? Aku hanya menelan pil pahit."
"Tommy menyadari bahwa aku sedang galau, dia pun menawariku serbuk jahanam itu. Untuk pertama kalinya aku memakai kokain, dan makin lama aku ketagihan, Archer marah kepadaku dan ketika marah itulah aku bisa jujur kepadanya kalau aku sangat mencintainya."
"Tapi, kami kakak beradik, aku tak bisa mencinti dia dan di tak bisa mencintaiku. Akhirnya akupun mengurung diri di kamar karenanya. Sebulan, dua bulan, tiga bulan. Selama itu aku selalu diberi narkoba oleh Tommy. Darinyalah aku bisa mengerti ambisi Tommy yang sebenarnya, darinya aku bisa tahu masa lalunya bagaimana dia sangat membenci Archer. Darinya aku bisa tahu berbagai bisnis yang ia kelola dari narkoba hinga jual beli barang antik curian, aku pura-pura tidak sadar ketika dia bicara."
"Suatu hari aku pura-pura tak sadar oleh pengaruh narkoba ketika dia datang, tapi dia bersimbah darah. Dia bercerita kalu dia baru saja membunuh orang dan ia ingin bisa membunuh ayahnya sendiri suatu saat nanti karena tidak berniat memberikan perusahaan itu pada dirinya. Akhirnya Archer bertemu dengan Lian dan mereka makin dekat, dan Archer mengunjungiku lagi. Ia berkata kalau dia dekat dan sangat sayang kepada Lian. Ah, aku tak tahu bagaimana wajahnya. Tapi aku tak perduli, bagiku kalau Archer bahagia akupun ikut bahagia, walaupun sakit sebenarnya."
"Setelah ayahku mengancamnya dan menghancurkan hidup Lian, aku tak tahu lagi kabar Lian. Archer menjadi dingin, dia tak perduli lagi kepadaku bahkan terhadap keluarganya juga. Suatu saat entah bagaimana aku histeris, aku kolaps, aku gila, aku tak ingat bagaimana dan apa yang terjadi. Antara aku sakaw, gila atau aku begitu karena Archer. Setelah itu aku direhabilitasi, di sini aku bertemu dengan Johan. Mungkin karena sering bertemu akhirnya aku dan Johan menikah, pernikahan kami sederhana. Berada dibawah pohon beringin. pondok rehabilitasi memberikan kamar khusus untuk itu. Ah, itu hari terindah, aku mendapatkan cinta Johan. Kamu pasti masih melihat sorot matanya yang mencintaiku bukan?"
"Berita mengejutkan terjadi setelah itu, Archer meninggal.karena sakit jantung, tapi aku tak percaya. Memang Archer mempunyai kelainan pada jantungnya, tapi aku tak percaya dia mati begitu saja. Ketika telah lama berita kematiannya kudengar, aku mendapatkan sepucuk surat. Aku bisa.membaca surat itu, tentu saja itu adalah tulisan Archer. Katanya aku harus menunggu, menunggu siapa? Ketika aku tahu kamu datang, aku yakin sekarang yang dimaksud menunggu itu adalah mebunggumu."
"Aku kemudian masuk rumah sakit jiwa, Johan selalu mensupportku. Bahkan semua berita tentanf keluarga ini aku tahu dari dia. Aku mendengar bagaimana Tommy mulai menyuruh Alfred untuk berbuat bodoh, ia ingin menggabungkan perusahaan kita dengan perusahaan milik Trunojoyo."
"Agus Trunojoyo pemilik PT. Denim sangat berambiai untuk bisa menguasai PT. Evolus, dan kesepakatan antara Tommy dan Agus adalah Tommy akan menjadi Presdirnya apabila PT. Denim bisa merger dengan PT. Evolus. Kenaoa dia tidak lakukan saja dari awal? itu karena pengaruh Pieter masih sangat kuat. Di penjara Pieter banyak rekanan, banyak kenalan sehingga mengusik kekuarga Zenedine sama saja dengan cari mati, Tommy mungkin masih mencari waktu yang tepat sedikit demi sedikit menguasai orang di keluarga Zenedine."
"Arci. tahukah kamu kalau sebenarnya Archer banyak curhat kepadaku tentang ibumu. Ya, ibu yang penuh kasih sayang. Aku tak pernah menyangka Archer akan bertemu dengan ibumu, dan rasanya aku tahu kenapa Archer memilih ibumu. Semenjak aku berada di rumah sakit aku jadi berfikir kalau toh aku bukan adiknya tetap saja aku tak akan bisa mengalahkan Lian."
"Aku juga tak mungkin bisa menjadi ibu yang baik, ibu baik mana yang menjadi pecandu narkoba? Archer juga menceritakan padaku ia tak mencintai Amanda. Selama ia menikah dengan Amanda itu hanya sebuah status saja, Archer tak pernah menyentuh Amanda, mereka berdua menjadi sahabat sedangkan Amanda lebih mencintai Pieter."
"Ya, mereka adalah sepasang kekasih, tapi bertemu dalam keadaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika Pieter ada di dalam penjara karena membunuh seorang pol**i. Amanda selalu menjenguknya, ah. banyak sekali affair dalam keluarga ini. Tapi aku salut kepada Amanda yang menyimpan.cintanya sampai sekarang."
"Arci..., boleh aku meminta satu hal kepadamu nak?"
"Ya, apa itu?"
"Maukah kamu menjadi anakku? Anggaplah aku ibumu?"
Arci sedari tadi menahan haru, ia mengetahui semua rahasia kekuarga Zenedine dari wanita ini.
"Ya. Kamu boleh menganggapku sebagai anakmu," kata Arci.
"Sini anakmu, peluk ibumu!"
Arci pun maju dan memeluk Araline, Araline meneteskan air mata. Ia sangat rindu Archer, walaupun sekarang yang ada dihadapannya adalah anak kandungnya. Hal itu sudah cukup rasanya.
Selama dua jam Arci berada di Rumah Sakit Jiwa, ia pun sampai menyuapi Araline layaknya seorang anak yang berbakti kepada ibunya. Araline sangat senang, Arci tak tega sebenarnya meninggalkan Araline sendirian. Johan yang melihat itu pun tak kuasa menahan haru. Tapi akhirnya setelah sekian lama Araline bertemu dengan kebahagiaan, senyum bisa terukir di wajahnya.
"Baru kali ini aku melihat Araline tersenyum, terima kasih Arci terima kasih."
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Mama koq tahu?" tanya Andini.
"Ini semua idenya Arci. dia menghubungi mama jauh-jauh hari. Maaf ya nggak ngasih tahu." kata Bu Susiati.
"Arciii! aku rasanya jadi orang bego gini, mana aku nggak pake baju pengantin. Disuruh duduk di depan hakim catatan sipil, malau tau?" Andini protes sambil mukul-mukul bahu Arci.
"Halaah peduli amat dengan gaun pengantin, yang penting saaaah! Arci nyengir.
Setelah statua Andini dan Arci sah menjadi suami-istri, begitu juga Rahma dan Singgih. Semuanya larut dalam kegembiraan, Arci menyalami siapa saja yang datang memberikan selamat. Yah, takdir tak dapat disangka, Rahma bisa bertemu dengan Singgih. Ia sangat senang, ia tak perduli Singgih punya kaki atau tidak, punya tangan atau tidak yang penting Singgih kembali.
Hari itu perasaan Andini antara mendongkol dan bahagia menjadi satu, semua kejutan-kejutan dari ke kasihnya itu tidak pernah ia sangka-sangka. Perasaanya senang, gembira, gemes, jutek jadi satu. Ia menganggap Arci pria terbreng**k, terganteng, dan tersayang yang paling ia kenal. Arci menggenggam tangan Andini erat-erat seolah-olah ia berkata, "Jangan pergi. tempatmu disini."
Akhirnya untuk pertama kalinya Andini tersenyum, mata Arci dan Andini bertemu. Ada debar rasa tersendiri di dada mereka. Ya, apalagi kalau bukan hari ini telah resmi menikah, sebuab janji yang dulu diucapkan sekarang telah ditepati. Rasanya seperti mimpi.
Ponsel Arci berbunyi, dia melihat siapa yang menelepon. Sebuah nama Ghea Zenedine terpampang di sana.
"Ghea?" gumam Arci.
"Ghea? Ghea Zenedine? yang nodong kamu wakfu itu?" tanya Andini.
"Iya," jawab Arci, ia kemudian mengangkat ponselnya. "Hallo?"
"Arci, pergi dari tempat itu sekarang!!" kata Ghea.
"Kenapa suaramu seperti menangis? ada apa?" tanya Arci.
"Papa tewas, rumah kami meledak anak buah Tommy sedang menuju ke tempatmu!" kata Ghea
"Apa?"
"Aku sekarang dalam peejalanan ke tempatmu, bubarkan semua orang yang ada di sana. Aku khawatir sebentar lagi terjadi perang di sana, aku sudah mengirim orang-orang yang aku percaya untuk melindungumu. Tapi sepertinya kita kalah jumlah." kata Ghea.
"Baiklah!" Arci memutus panggilan ponselnya. Raut wajahnya berubah.
"Ada apa?" tanya Andini
Arci menegang bahu Andini, "Dengar, segeralah pergi dari sini!"
"Ada apa? kenapa?" Andini heran Arci segera memberikan ciuman terdalam kepadanya. Andini langsung hanyut dalam kecupan sang kekasih. Arci seolah-olah ingin menghirup seluruh rasa bibir yang Andini miliki.
Setelah mencium Andini, Arci menoleh ke kiri dan kanan mencari Safira. Safira tak ada, ke mana dia pergi? Arci tak berfikir panjang , segera ia berlari ke sebuah Alarm kebakaran dan ia pun memukul alarm tersebut.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Letnan Yanuar pagi itu menghabiskan waktunya di sebuah kafe setelah joging pagi, dia memang sering nongkrong di sana. Pagi yang cerah untuk menikmati secangkir kopi dan corisant sambil membaca koran. Beberapa kali ia sibuk dengan smartphonenya, melihat berita-berita terbaru. Pikirannya sibuk akhir-akhir ini dengan kasus-kasus yang ia tangani, terlebih ketika salah satu anak buahnya tewas di tangan Pieter. Arci tak bisa diandalkan pikirnya.
Berapa yang harus dibayar atas kasus ini? Keluarga Zenedine telah terbukti berbuat jahat, menyelundupkan narkoba, membunuh, tapi barang buktinya seolah-olah lenyap begitu saja. Dan baru saja ia akan mendapatkannya, anak buahnya sudah tewas terlebih dahulu. Letnan Yanuar melipat koran dan memandang sekeliling, sunyi, sepi ia menghirup udara pagi yang sejuk, kemudian ia memandang sekelilingnya. Terlalu sepi.
"Sialan," gumamnya ketika ada orang-orang yang tidak ia kenal berdatangan. Dan mereka membawa bermacam-macam senjata, parang, pisau, dan pipa.
Letnan Yanuar meraba pinggangnya, ia lupa tak membawa senjata. Padahal ia seharusnya membawa benda itu kemana-mana. Akhirnya dia terkepung .
"Jadi begini ya? main keroyokan, baiklah," Letnan Yanuar berdiri lalu mengambil kursi yang dia duduki tadi, lalu ia angkat dan dibantingnya kursi tersebut hingga hancur lalu ia mengambil sebatang kayu dari kursi yang hancur tersebut dan kemudian ia ayun-ayunkan "Ayo! kalian ingin mengeroyokku! ayo sini?"
Kemudian orang-orang itu pun mulai maju serentak dengan mengayunkan senjata apa sajan yang ditangan mereka. Letnan Yanuar terus bertahan, bacokan demi bacokan parang, pisau, dan hantaman pipa mengenai tubuhnya. Ia berhasil melukai beberapa orang , sekalipun kalah jumlah tapi ia benar-benar garang untuk melawan. Tapu apalah daya karena kalah jumlah maka Letnan Yanuar terkapar tak berdaya dengan luka-luka bacokan, tusukan dab kepalanya remuk, ia pun ditinggalkan begitu saja seperti sampah hingga nafasnya pun terhenti.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Amanda menikmati suasana rumahnya yang sepi dan asri, tak ada suara seindah suara burung dan dedaunan yang gemrisik tertiup angin. Apa yang ia inginkan sekarang? mungkin yang ia inginkan ialah bisa bersama Pieter, sendirian di rumah tanpa ada yang menemani dirinya agaknya ia sudab bosan.
Ia ingin sekali dibelai oleh Pieter, ingin diakhir hidupnya bisa mencintai lelaki itu. Sunggu bukan suatu hal yang muluk bukan bila bermimpi seperti itu? Dia sangat menginginkan kedamaian dan cinta, dia boleh dibilang tidak menyesal berkenalan dengan keluarga Zenedine.
Setelah ia melihat Arci, ia jadi teringat Archer. Ya teringat saat ia menjadi sahabatnya, Archer selalu baik padanya status mereka memang suami-istri tapi Archer sama sekali tak menyentuhnya. Ah, andai Archer menjadi suami sepenuhnya tentu keadaanya akan lain, tapi dia mendapatkan cinta yang bernama Pieter hal itu sudah cukup . Sekalipun setelah lama di penjara, tapi cinta mereka makin besar.
Amanda memandang jaub ke depan, ke arah pepohonan yang daun-daunya beegoyang teriup angin. Suasana di teras belakang rumahnya sangat teduh, ia mengambil tehnya yang sudah agak dingin. Hampir saja ia minum, tiba-tiba sebuah tangan kekar membekap mulutnya. Ia mencoba melepaskan diri tapi tangan itu terlalu kuat, dengan satu gerakan kepala Amanda di putar KRAAAAK! Seketika itu juga Amanda sudah tidak bernafas, Amanda melemah tubuhnya sekarang kaku dengan kepala terputar kebelakang. Lehernya dipatahkan oleh seorang Assasin.
Teras sebuah rumah, menjadi saksi bisu di mana seorang wanita yang sudah lama menunggu cintanya akhirnya harus tewas ditangan orang suruhan Tommy Zenedine. Tommy sudah lama ingin menghabisi seluruh keluarga Zenedine.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Bersambung DARKER THAN BLACK II