
Rahma dengan tak beralas kaki diturunkan mobil pengakut sayur tak jauh dari villa, sudah jam 7 pastinya sebentar lagi akan banyak yang datang. Ia pun berfikir harus sembunyi sampai Arci atau Andini muncul. Sebab hanya kedua orang itulah yang bisa menolongnya sekarang ini.
Rahma kemudian bersembunyi di sebuah pohon pinus yang ada di pinggir jalan menanti mobil-mobil lewat, ia berharap mobil Andini akan masuk ke dalam.villa. Dan dugaanya tidak salah, mobil-mobil para petinggi dewan direksi mulai berdatangan.
Ia berdebar-debar karena semua orang yang ada di perusahaan ini tak bisa dipercaya, ia hanya percaya kepada rekan kerja dan bosnya saja.
Rahma capek berdiri, ia pun duduk sambil tetap merapat ke pohon, bersembunyi dari orang-orang yang lewat. Pikirannya lelah, ia capek apalagi matanya mulai berat, kakinya sakit karena tak memakai alas kaki.
Rahma bukan wanita yang lemah, ia banyak mengalami hal-hal yang lebih buruk dari pada ini. Dan ia tipe wanita pejuang.
Angin semilir di Songgoriti yang sejuk membuat Rahma sedikit tak sadar, ia terlelap beberapa menit, hingga suara klakson mobil membangunkannya. Rahma kaget, ia mengumpat dalam hatinya ketika menyadari bahwa ia tadi mengantuk dan tertidur beberapa saat.
Ketika ia menoleh ke arah villa didapatinya mobil BMW orang-orang yang menyekapnya ada di sana, Rahma segera bersembunyi. Ia mengintip dari balik pohon, hingga saat mobil itu sudah memasuki halaman villa ia pun menghela nafas lega.
Sesaat kemudian Rahma melihat seseorang mengendarai sepeda motor, dia sangat kenal dengan orang itu. Ya dia Arci, segera Rahma muncul dan melambaikan tangan, Arci yang mengendarai sepeda motor kaget melihat Rahma. Ia segera menghampirinya, kemudian turun dari motornya.
"Rahma kemana aja kamu?" tanyanya.
"Tak ada waktu, Bu Dini. Cepat hubungi Bu Dini!" kata Rahma panik.
"Ada apa?"
"Ada orang yang berniat jahat kepadanya, aku diculik karena mengetahui apa yang mereka rencanakan. Aku baru saja kabur." kata Rahma sambil terengah-engah.
Arci melihat Rahma dari ujung kepala sampai ujung kaki, melihat Rahma yang kondisinya memprihatinkan itu ia langsung percaya.
"Ok, sebentar." Arci mengeluarkan ponselnya, ia pun menelepon Andini.
"Din, kamu di mana?"
"..."
"Ok. Nanti aku jelaskan, ini darurat."
Rahma sekarang lebih melihat Arci sebagai dewa penolongnya. Perasaannya sangat lega saat itu.
"Mau, naik? Arci menawarkan diri.
Segera saja Rahma naik ke motor Arci, "Mau ke mana kita?"
"Ke alun-alun Batu, kita ketemuan ama Andini di sana." kata Arci.
Mungkin Rahma agak aneh karena Arci tidak menyebut Andini dengan sebutan Bu Andini tapi langsung namanya, hal ini membuat Rahma sedikit curiga, jangan-jangan ada sesuatu antara Arci dan Andini. Sepeda motor pun langsung digeber dengan kencang.
"Pegangan!" kata Arci.
Rahma pun akhirnya memeluk pinggang Arci dengan kuat sambil memejamkan mata, motor itu pun melaju seperti orang kesurupan membelah jalan.
Rahma tak terasa menempelkan pipinya ke punggung Arci, ia jadi teringat tentang Singgih. Bagaimana kabar cowoknya itu sekarang? sudah dua tahun tak kabar. ia bahkan sudah pesimis bisa bertemu lagi dengan lelaki itu.
Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di alun-alun kota Batu; di sana Arci langsung mengenali mobil Andini. Ia langsung menghampirinya. Andini segera keluar dari mobilnya begitu melihat Rahma, Rahma pun segera turun dari motor. Andini memakai baju blouse abu-abu dengan rok warna hitam. Ia tampak terlihat anggun dengan pakaian seperti itu.
"Rahma kamu tak apa-apa?" tanya Andini.
"I-iya bu, ada yang gawat. Ada orang yang merencanakan ingin mencelakai ibu." Rahma mengatur nafasnya sejenak, kemudian ia mulai bercerita dari awal sampai akhir. Sampai nafasnya hampir habis, Andini kemudian memberikan sebotol air mineral setelah Rahma bercerita panjang kali lebar sama dengan luas.
Arci tampak menampakan mimik wajah serius, "Kita bagaimana sekarang?"
Andini berfikir keras, tak mungkin ia tak menghadiri rapat tersebut walaupun nanti ia bakalan dibantai habis-habisan oleh direksi yang lain. Arci juga berfikir keras, hingga tiba-tiba ia ada ide.
"Aku yang akan menghadapi mereka hari ini; Kamu dan Rahma sembunyi dulu. lebih baik antar Rahma pulang soalnya sudah beberapa hari nggak pulang pastinya orang tuanya khawatir. Besok kamu baru muncul, sekalian dengan ibumu. Kamu tahu apa yang aku maksudkan," kata Arci.
"Serius? Mereka pasti akan mencariku." kata Andini.
"Trust me! untuk sementara memang seperti itu." kata Arci.
"Aku tak percaya kalau Yuswan Andi ingin melakukan hal seperti itu." ujar Andini "kamu tak salah orang kan?"
"Tidak, aku sangat kenal sekali dengan nobilnya. Hanya saja saya tidak tahu dia di toilet itu bicara dengan siapa." kata Rahma.
"Baiklah, ayo kita berangkat." kata Arci.
Rahma semakin curiga dengan cara bicara dua orang yang ada di hadapannya, mereka tampak lebih akrab seperti orang yang sudah kenal lama. Dan adegan berikutnya membuat Rahma nyesek, Arci mengelus pipi Andini! What??.
"Hati-hati!" kata Andini
"Kamu juga!" jawab Arci
kedua orang itu lalu menoleh ke arah Rahma, agaknya mereka lupa kalau ada Rahma di sana. Langsung saja mereka menjadi salah tingkah, Arci menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Rahma hanya nyengir kuda.
"Ok, Rahma ikut aku!" kata Andini membuyarkan kejanggungan. Rahma langsung bringsut masuk ke dalam mobil.
Arci kemudian menggeber motornya kembali menuju Villa, rapat kali ini bakal jadi ajang politik. Arcu berusaha berfikir dengan kepala dingin, dia akan mencoba untuk bisa stay cool sekalipun tahu keadaan yang sebenarnya.
Villa yang dipakai rapat ini cukuplah besar dan mewah, ini adalah villa yang tiap tahun dijadikan tempat untuk rapat. Selain Villanya sangat nyaman dengan berbagai fasilitas, villa ini dikelilingi oleh pemandangan yang cukup memanjakan mata. di dalamnya terdapat kolam renang dan pemandian.
Adapula para pekerja yang memang dikhusukan dipekerjakan di villa ini layaknya pegawai hotel, di villa ini terdapat banyak kamar, dan bisa dilihat dari udara bahwa Villa ini membentuk huruf U, dari kiri ke kanan secara berurutan adalah Aula, ruang makan. dan kamar. di tengah-tengahnya terdapat kolam renang dan agak jauh dari kolam renang terdapat pemandian yang diskat antara pria dan wanita.. dan sebuah taman yang indah mengelilingi villa tersebut.
Arci melangkah masuk dan langsung menuju ke sebuah ruangan yang digunakan untuk meeting, melihat dia sendirian tanpa Andini membuat jajaran direksi bertanya-tanya. Mata Arci mengawasi siapa saja yang ada di sana, tampak Yuswan Andi ada di sana.
"Saya mohoj maaf, Bu Andini tidak dapat hadir karena beliau harus ke rumah sakit," kata Arci mengada-ada.
"Hah, ke rumah sakit?"
"Begitulah, beliau menyuruh saya untuk mewakilinya;" Arci kemudian mengambil tempat duduk, semua pimpinan direksi saling berpandangan.
"Baiklah, kita langsung saja kalau begitu," kata Weny yang sepertinya tidak sabaran, "Saudara Arci sudah disiapkan semua materinya?"
"Tentu saja," kata Arci percaya diri.
Rapat pun hampir saja dimulai, ketika beberapa orang masuk ke dalam ruangan rapat. Arci tak mengenal mereka, tapi ketika semua orang yang berada di ruangan rapat berdiri Arci pun ikut berdiri.
Ada seseorang masuk dengan memakai jas yang rapi, rambutnya putih, matanya hijau. sedangkan tiga orang yang lainnya tampak hanya mengawal saja.Ada seorang wanita yang membawa map dan dua orang berkacamata berjalan di belakangnya, orang itu sedikit tersenyum dan ia terkejut ketika melihat Arci, sepertinya ia kenal Arci.
"Siapa?" tanyanya.
"Saya Arczre, manajer marketing yang baru." jawab Arci.
"Oh, kenapa hanya empat. Mana Andini?" tanyanya
"Saya yang mewakili dia,"
"Saya teleah mempelajari apa yang harus saya pelajari untuk bisa rapat hari ini."
"Baiklah, tunjukan kepadaku! sebelumnya kalau kamu belum tahu siapa aku. Aku Pieter Zenedine aku termasuk salah satu pemegang saham perusahaan ini dan juga anggota keluarga Zenedine. Sekarang mari kita mulai saja, dimulai dari kamu, laporkan apapun yang ingin kamu laporkan dalam meeting tahunan ini."
Arci mengangguk. ia kemudian mengambil tablet dan ponselnya. Semua orang kecuali tiga orang yang bersama Pieter duduk semua, Arci kemudian berdiri bringsut ke imager dan langsung mencolokan kabel USB tabletnya ke Imager, ia memilih-milih file lalu dalam sekejap di layar sudah muncul peresentasi.
"Perusahaan kita sedang sekarat!" kata Arci, memecah suasana ketika sempat hening. Di layar sudah ada beberapa bagan yang menjelaskan maksud Arci. Semua orang mengerutkan dahi, "Anda tahu kenapa sekarat?"
"Sekarat, bukankah kita selama ini terus mendapatkan laba?" tanya Pieter.
"Tidak, kalau anda melihat angka laba yang stabil tiap bulannya itu adalah angka yang mengerikan. saya jamin tiga bulan lagi perusahaan ini bangkrut."
"Kamu jangan mengada-ada, ini data dari mana? Andini harus bisa memberikan alasan yang jelas!" kata Tomi Rahardjo.
"Data ini bukan dari Andini tapi dari saya sendiri, selama 2 minggu saya terus mempelajari seluk beluk pemasukan perusahaan ini. Kebanyakan yang terjadi adalah perusahaan-perusahaan cabang yang dipimpin oleh anda semua melakukan persaingan pasar terhadap teman sendiri,"
"Akibatnya pembeli bingung, anda bisa lihat. Laba tiap bulannya konstan maka ada sesuatu yang terjadi dengan perusahaan ini yaitu sebut saja tidak berkembang."
Arci kemudian menampilkan slide lainnya, di situ menampakan foto-foto tentang barang di gudang.
"Saya mendapatkan fakta bahwa di gudang terdapat produk-produk yang sebenarnya masih bagus tapi tak laku dijual? karena apa? karena tak ada pemasaran yang sesuai. Semuanya menumpuk dan perusahaan hanya terfokus pada produk yang menjadi trend, sedangkan produk-produk lama yang jauh dari trend dibiarkan menumpuk di gudang,"
"Padahal kalau dijual sebenarnya masih laku, terlebih karena PT Evolus adalah sebuah perusahaan yang barang-barangnya sudah dikenal oleh masyarakat luas."
Mereka tercengang , mereka tak pernah mengetahui ada barang yang menumpuk.
"Tak perlu khawatir, karena kami sudah menyelesaikan permasalahan iini. Anda tahu? sebagian konsumen kita sebenarnya mempunyai ide-ide yang briliant, saya kemudian membuat sebuah kuis di internet, yaitu sebuah kuis untuk mereka yang punya ide desain untuk mendesain produk kita. Dan sebagai hadianya kita akan berikan banyak voucer dan hadiah langsung dari produk-produk kita yang menumpuk di gudang,"
"Alhasil peminatnya cukup banyak yang mendaftar levih dari 500 orang, strategi pasar yang saya gunakan adalah mengusung komunitas-komunitas lokal untuk bisa memasarkan produk ini. saya telah membuat sebuah portal yang bisa menghubungkan konsumen dengan kita, alhasil mereka suka dan situs ini dalam waktu satu bulan telah dikunjungi sebangak satu juta pengunjung."
Pieter manggut-mangut.
"Dan kemudian saya tahu saingan terbesar kita adalah PT. Denim. ya, dengan produk-produk mereka yang terus berinovasi, kita akan ketinggalan, kita akan kalah, dan kita akan bangkrut karena dari fakta lapangan beberapa pasar kita telah dikuasai mereka. Hanya saja mereka tidak melangkah ke tempat kita melangkah,"
"Saya menyerang mereka dari segi yang tidak mereka sangka, Yaitu komunitas Online. semuanya akan membicarakan produk kita dan dengan begitu saya akan pastikan tiga bulan lagi laba kita akan naik. Otomatis kita tidak perlu memusingkan diri untuk bersaing dengan PT. Denim.
"Tapi bukankah PT. Denim lebih baik dalam masalah inovasi? setidaknya kenapa kita tidak mencoba untuk bisa bekerja sama dengan mereka?" sela Yuswan Andi.
Arci kemudian menampilkan sebuah gambar. "Anda lihat, ini adalah sebuah baju, baju tersebut sangat menarik dengan setelan lengan panjang berwarna biru dengan motif batik di bawah, sebuah desain yang keren kalau dipakai bekerja. Apalagi warna khas seperti jeans, menaril bukan? coba tebak ini produknya siapa?"
Semua tampak terkesima dengan model baju kemeja yang ditunjukan oleh Arci.
"Kita tidak pernah membuat baju bermotif batik untuk baju kemeja seperti itu!" kata Argha.
"Ya, kita tak pernah membuat baju bernotif batik seperti itu," sambung Weny.
"Pak Pieter?" tanya Arci.
"Itu baju kita, produk kita," jawab pieter.
"Pak Pieter benar, ini produk kita," jawab Arci.
Semua orang tercengang
"Bagaimana mungkin??" tanya Yuswan Andi.
"Ini produk pertama yang dibuat oleh Archer Zenedine, di jaman itu di saat beliau masih menggunakan mesin jahit manual, beliau merancang baju ini. Anda mungkin lupa tapi ini adalah produk pertama beliau. Dan lihat gambar berikutnya!" Arci menggeser slide dan tampak sebuah baju yang bentuknya sama "Ini produk PT. Denim yang baru saja keluar, Anda bisa lihat logo di kerah bajunya."
BRAAK!
Pieter menggebrak meja. "Bagaimana mereka bisa mendapatkan itu?"
"Saya tak tahu, tapi yang jelas sebagian besar inovasi yang dilakukan PT. Denim berasal dari kita. Rancangan-rancangan model lama kita diambil oleh mereka dan diklaim sebagai produi mereka. Saya kira ada orang dalam yang ingin membuat perusahaan ini bangkrut!" jelas Arci. "Dan bukan hanya produk ini saja, ada banyak. Saya akan tampilkan di layar semuanya."
Arci kemudian menggeser slide menampilkan perbandingan kedua produk antara PT. Evolus dan PT. Denim.
"Oh. my God. What the F**k is This ****?!" Pieter tampaknya gusar. "Kalian jelaskan kepadaku, apa-apaan ini?!"
"Pak Pieter, kami. baru saja tahu," jelas Yuswan.
"Arczre jelaskan kepadaku data ini sangat valid?" tanya pieter.
"Sangat Valid, saya bisa antar anda di mana baju-baju itu dipajang," jawab Arci.
"Baiklah, apakah kamu punya solusi dari hal ini semua?" tanya Pieter.
"Sejujurnya saya punya, tapi...,"
"Tapi apa?"
"Alangkah baiknya saya meminta masukan juga kepada semua orang yang ada di sini, kalau misalnya ide saya tidak diterima sihlakan berikan saya masukan, kalau misalnya diterima maka saya ingin kita semua komitmen untuk bisa melaksanakannya." kata Arci.
Sekilas wajah Pieter tampak memperlihatkan rasa penasaran, tentu saja ia penasaran. Dia adalah sepupu dari Archer Zenedine, melihat Arci ia jadi teringat saudara sepupunya itu. Semuanya mirip, baik itu wajah, suara dan perawakannya, dia jadi penasaran siapa sebenarnya Arci.
"Baiklah berikan kami idemu?" kata Pieter.
Arci menarik nafas dalam-dalam memberikan ruang sejenak di dalam paru-parunya untuk bisa mengeluarkan semua kata-katanya.
"Ide saya. kita biarkan masyarakat atau konsumen yang memberikan kita ide dan kita akan memberikan apresiasi yang pantas bagi ide desain yang bisa kita pakai, bahkan kedepannya kita akan mencoba terobosan "You can designe your own suits."
"Maksudnya?"
"Kita akan membuat konsumen.yang memesan secara langsung produk sesuai dengan ide mereka, mereka lebih senang mendesain sebuah kemeja untuk lelaki, maka.kita akan berikan kepada mereka untuk mendesaij model mereka sendiri."
"Itu ide gila!"
"Gila, tapi itu akan membuat kita dimata konsumen lebih baik. Saya bertaruh ide tak masuk akal ini tidak akan dipakai oleh PT. Denim. Dan sebaiknya kalau ada di antara kita yang berniat untuk menggabungkan perusahaan kita dengan mereka maka buang saja jauh-jauh hal itu."
Semua yang ada di ruangan itu tercengang, harusnya hari itu akan menjadi hari pembantaian bagi Andini tapi Arci membuat semuanya berbalik dan menguasai forum.
"Ide itu pernah diusulkan Archer dulu, tapi sebelum terlaksana ia telah pergi terlebih dahulu," kata Pieter.
Arco sedikit terkejut, well mungkin karena memang sifat bapak niru ke anaknya. Ia punya yang sama dengan mendiang sang ayah, itu suatu yang tak pernah ia duga sebelumnya. Atci hanya bisa menyunggingkan senyum.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Bersambung