
...Tak ada manisnya yang namanya balas dendam...
...Rasanya pahit dan getir...
...Namun bagi siapapun yang telah melakukannya...
...Kepuasan hati tak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang....
Arci memakai kemeja, jas, dan kemudian sepatu. Ghea memberikan baju ayahnya untuk Arci, dia seperti melihat sosok Pieter dalam diri Arci. Bahkan melebihi semuanya.
Kenyataan bahwa dia mencintai pemuda ini adalah sebuah kenyataan yang tak bisa diubah, mencintai Arci. pikiran itu meembuatnya geli, terlebih peejumpaan mereka pertama kali dimana dia menodong Arci. Ia malu sekali sekarang kalau mengingat peristiwa itu.
Mereka sudah siap untuk merencanakan pembalasan, dua bulan bukan waktu yang lama.bagi Tommy dan kawan-kawannya, tapi waktu itu cukup untuk Arcu membangun kekuatannya. Selama.dua bulan dendam di dalam dadanya bergemuruh, ia akan menghabisi semua yang terlibat.
"Kamu.mirip Seperti papa," kata Ghea.
"Aku tak menyangka, ukuran bajuku dan bajunya sama. Padahal kelihatannya papamu lebih besar dari aku." ujar Arci.
"Benar, tapi kamulah sekarang yang berubah. kamu tak menjadarinya."
Arci meraba tubuhnya, benar saja ia telah berubah, di punggungnya ada luka jahitan, di dada dan perut ada luka tembak. Tubuh penuh bekas luka, seperti boss mafia yang telah banyak merasakan kekerasan di dalam hidupnya, Arci tiba-tiba memeluk Ghea lalu menciumnya. Ghea tentu saja terkejut, tapi ia tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Ghea seperti orang yang kehausan ingin terus mengecup bibir pemuda yang dicintainya ini. Tapi Arci memberikan beberapa detik saja.
"Itu tadi untuk apa?" tanya Ghea.
"Ucapan terima kasihku atas apa yang kamu lakukan selama ini, aku tak tahu apakah aku bisa bertemu lagi denganmu setelah ini, tapi kuharap... kita tetap hidup," jawab Arci.
Ghea tersenyum, sekalipun ucapan terima kasih hal itu sudab cukup baginya. Ia memang tidak berharap banyak dari lelaki yang sudah beristri. ia hanya bisa berharap walaupun tanpa pernah akan mendapatkan keinginan yang sesungguhnya.
Tapi yang sebagaimana Arci ajarkan kepadanya, cinta tak harus memiliki, cinta adalah memberi sekalipun orang yang memberikan tak harua membalas. Tapi dengan cinta kedamaian akan merata, sekalipun karena rasa cemburu, membuatnya sakit. Tapi ia yakin suatu saat akan berbuah manis.
Benar kata Arci ia hanya harus.mencari pria yang tepat, dan ia bersungguh-sungguh untuk mencari sosok pria seperti Arci atau mungkin yang lebih baik darinya. Ia berjanji dalam hatinya dan bersungguh-sungguh.
Arci melangkah keluar rumah, dia membuka bagasi mobil. Di dalamnya terdapat banyak senjata dan senapan, MP-90, Pistol Glock, Shotgun, PSG-2, M-16, Bullpup dan berbagai amunisi dan sebuah RPG. Yang Arci tak habis pikir bagaimana Ghea mendapatkannya.
"Aku tak habis pikir bagaimana kamu bisa.mendapatkan ini semua?" tanya Arci.
"Kamu jangan remehkan aku, sayangnya stock Ak-47 habis. jadinya minus senjata itu." ujar Ghea dengan santai, "Untuk menghancurkan Tommy, kamu tak bisa menyerang langsung hal itu sama saja cari mati. Usaha gelap Tommy sangat banyak, kita hancurkan semua usaha mereka."
I LOVE YOU, HANDSOME.
Seoramg pria berambut gondrong tampak sedang menimang-nimang bungkusan kecil, lalu ia menyimpannya. Lelaki itu memakai baju lengan panjang berwarna coklat, dia menghampiri seorang penjual gorengan.
"Bang, aku ambil dua ya?" kata lelaki itu dan langsung mengambil gorengan.
Sang penjual hanya geleng-geleng, sore itu jalan raya sedilit ramai. Terlihat beberapa polisi sibuk mengatur lalu lintas, lelaki itu mengeluarkan ponselnya ketika terdapat notifikasi pesan masuk. Lalu dia membaca dan langsung membakas pesan masuk tersebut. tak berapa lama ia langsung menuju ke sebuah jembatan penyebrangan. Di atas jembatan ini ia berpapasan dengan seorang pelajar, mereka tampaknya sudah ada kesepakatan sebelumnya. Sang pelajar mengeluarkan uang beberapa lembar 50ribuan, lelaki ini pun mengeluarkan bungkusan kecil dan pelajar tadi menerimanya, setelah itu mereka berpisah.
Ini adalah transaksi narkoba yang biasanya dilakukan oleh lelaki tersebut, dua adalah seorang pengedar narkoba yang biasanya mengedar pada para pelajar-pelajar. Julukanya adalah Jack Gondronk sedangkan nama aslinya adalah Sutopo. Sutopo tak mempunyai profesi yang jelas, dia kadang menjadi juru parkir liar di lain waktu ia menjadi tukang ojek. tapi pekerjaan tetap ia adalah pengedar.
Sebenarnya sudah sepuluh tahun ini dia menekuni profesi sebagai pengedar narkoba dan belum terendus oleh pihak berwajib, namun dengan segepok uang ia selalu saja lolos dari jeratan hukum. Ia selau lolos setiap ada pengrebekan, di dalam dunia narkoba dia dikenal dengan nama Jarmo sang pengedar.
Banyak cara dia menyalurkan narkoba kepada para pemakai, salah satunya seperri tadi, bisa juga disaat dia menjadi juru padkir dan ada pemakain yang pura-pura memarkinkan kendaraanya lalu membayar parkir, disaat itulah transaksi berjalan, di saat menjadi tukang ojek dengan cara mengantar orang diatas motor itulah terjadi sebuah transaksi.
Jarmo bukanlah orang yang berpendidikan, dia menjadi pengedar narkoba juga karena awalnya kepepet, walaupun ia pengedar tetapi dia bukanlah pengguna juga. Selepas transaksi super kilat di atas jembatan penyebrangan tadi, ia langsung naik angkot. Para supir angkot sudah mengenal jarmo sebagai preman, jadi untuk masalah ongkos dia tak pernah bayar. Jarmo berhenti di pemberhentian terakhir, disanalah ia menjadi juru parkir liar.
Ketika hari sudah menjelang petang Jarmo pun hendak pulang, saat itulah sebuah mobil city car menghampirinya, Jarmo agak heran mengapa mobil itu menghampirinya, yang mengemudikan seorang gadis bule berambut merah bermata hijau dan dari belakang ada orang yang memgang kepalanya lalu dengan kuat menghantamkan kepalanya ke mobil.
BRAAKK! Jarmo tak.sadarkan diri setelah itu.
********
Jarmo terduduk di tempat gelap, matanya juga tertutup. Ia tak bisa merasakan apapun terlebih tangan dan kakinya terikat di atas sebuah kursi, ada sesuatu yang ia rasakan. Ia tak memakai celana hanya memakai baju, tidak memakai celana? dan tiba-tiba ada yang menyiram tubuh bagian bahwahnya denga air dingin, sontak jarmo menggigil kedinginan.
"Di-dimana aku? siapa kalian?" tanya jarmo.
"Kamu ditempat aman, mungkin sekarang anak dan istrimu sedang mencarimu. tentunya kamu tak ingin itu terjadi bukan?"
"Kepa**t! Bang**t! aku akan mengulitimu! Bajin**n! J**c*k!"
"Woi, woi, woi nggak perlu bicara kotor. Lakukan!"
"Aku bisa menyuruh wanita itu untuk menggigit pe**smu hingga putus, kalau kau tidak menjawab pertanyaanku!"
"Katakan dari mana kamu mendapatkan narkoba itu?"
"Aku, tidak akan katakan!" kata Jarmo
"Baiklah kalau kamu ingin benda ajaibmu putus? tak mengapa."
"Tu-tunggu! Bukan begitu...apakah kamu bisa menjamin kalau aku tidak akan celaka bila mengatakannya?" Jarmo sekarang ketakutan.
"Gampang, kalau kamu tidak berbohong. Maka aku akan melepaskanmu."
"B-baiklah, aku mendapatkannya dari orang yang bernama Rafa." jawab Jarmo, antara takut dan keenakan.
"Siapa Rafa? Bagaimana aku menemuinya?"
"Dia orang yang sering mangkal didiskotik dan karaoke, aku mendapatkannya dari dia."
"Bagaimana cara kamu mendapatkanya?"
"Aku memintanya langsung."
"Di diakotik mana aku bisa menemuinya?"
"Diskotik Ultra," pe**s Jarmo serasa dililit dan ia keenakan, ia meringis menahan enak.
"Kalau kamu sampai bohong aku akan meledakan kepalamu."
"Aku bicara jujur."
"Kalau begitu antar kami. Sebelum itu biar kamu dituntaskan dulu."
Arci melepaskan ikatan Jarmo dan memaksanya berdiri sambil menodongkan senjatanya. Jarmo tak berkutik, setelah ia memakai celananya ia pun digelandang Arci keluar dari sebuah rumah. Setelah Ghea membayar waria itu dengan beberapa lembar uang ia pun pergi. Mereka kemudian segera menuju diskotik yang dimaksud, tidak susah mencari diakotik tersebut.
"Kita masuk, kalau kamu melakukan tindakan aneh. aku langsung meledakan kepalamu!" kata Arci. "Ghea kamu backup aku."
"Ok." kata Ghea.
Arci dan Jarmo pun keluar mobil menuju ke dalam, Arci menyembunyikan pistolnya di pinggang, ia memakai jas agak terlihat perlente. Begitu masuk tampak semuanya mengenali Jarmo, Arci dan Jarmo segera masuk setelah mereka dikenali, diakotik itu ramai pengunjung. Arci hanya mengikuti Jarmo hingga naik ke sebuah tangga menuju lantai dua. Kemudian mereka melewati lorong menuju ke sebuah pintu bertulisan VVIP.
Ketika masuk, Arci melihat anak tangga turun. Jarmo turrun kesana, mereka berpapasan dengan beberapa orang berbadan gempal. Arci membuang muka agar tak dikenali, karena ia tahu itu anak buah keluarga Zenedine yang sekarang sudah dikuasai Tommy.
Setelah itu mereka ternyata ada di sebuah ruangan lain. Ruangan yang penuh dengan kolam dan jacuzzy, Jarmo menunjuj ke seseorang yang sedang berendam di jacuzzy ditemani oleh tiga orang wanita tanpa busana. Rafa orangnya cukup tampan, usia kira-kira 35tahun, badanya atletis, menurut perkiraan Arci orang ini cukup terlatih. Begitu Rafa melihat Jarmo dia mengangguk.
"Ada apa?" tanya Rafa yang saat itu sedang di ciumi oleh ketiga wanita.
"Barang habis, ada lagi?" tanya Jarmo.
"Cepet amat, perasaan baru dua hari yang lalu kamu minta, siapa itu?" Rafa menunjuk ke Arci.
"Dia temen."
"Temen? perasaan kamu nggak punya temen."
"Kamu dapat barang itu dari mana?" sela Arci.
"Siapa kamu? polisi?" tanya Rafa.
Arci langaung mengambil pistol Glock di punggingnya dan langaung meletakan di pelipis Jarmo DOR! tanpa basa-basi Arci menembak Jarmo. Rafa hanya terbelalak sambil melihat tubuh Jarmo tergeletak di jacuzzy ketiga wanita yang ada su situ langsung menjerit dan melarikan diri, Arci menodongkan pistol ke arah Rafa.
"Katakan padaku dimana pabriknya!" ancam Arci.
Mendengar suara tembakan, beberapa sekuriti segera menuju ke sumber suara. Arci langsung mencengkram leher Rafa dan dia langsung membidik pistolnya ke arah sekuriti yang baru datang.
DOR! DOR!
Dua sekuriti tumbang.
"Breng**k! siapa kamu? kamu tahu kalau kamu lakukan ini maka kamu akan menyesal seumur hidupmu!" ancam Rafa.
"Oh ya? siapa yang menyesal kalau peluru ini bersarang di kepalamu?" ancam Arci balik. "katakan dimana pabriknya atau aku meledakan kepalamu!"
"Sebentar, Ok,OK aku akan katakan," kata Rafa menyerah.
"Bagus, sekarang ikuti aku!" Arci kemudian menyeretnya keluar dari bak jacuzzy, Rafa tertatih-tatih. Ia hanya mengenakan ****** ***** dan di seret keluar dengan keadaan seperti itu, Arci menyeretnya ke pintu darurat. Setelah itu mereka ke tempat parkir, sebuah sedan menghampiri mereka. Di dalamnya sudah ada Ghea segera Arci membuka pintu dan mendorong Rafa masuk lalu mobil itu pun melaju kencang.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Andini tampak sedang membersihkan rumah, ia menyapu halaman sambil sesekali melihat ke arah Putri yang mengamatinya sedari tadi. Putri mungkin sedikit bingung dengan keadaanya sekarang, adiknya Arci itu masih belum mengetahui kalau kakaknya telah meninggal. Dia hanya tahu kalau kakaknya Arci telah menikah dengan Andini.
"Ada apa, ngeliatin terus?" tanya Andini.
"Jadi kamu sudah menikah dengan kak Arci?" tanya putri balik
Andini mengangguk.
"Jadi aku manggil kamu kakak dong?" tanya Putri.
"Iya gadis manis."
"hhh..." tampak Putri menghela nafas.
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku cuma iri saja. Kak Arci pasti suka sama kamu, kamu cantik, putih, da**nya besar, ... kapan kalian mau punya anak?"
"Eh??" Andini wajahnya memerah, "Kami belum membicarakannya."
"Sampai kapan sih kak Arci pergi? jadi kangen ama dia. Kamu tahu dimana dia?"
Andini mengangkat bahunya, "Entahlah, dia ada satu urusan yang harus diselesaikan."
Sudah selama dua bulan ini Andini tinggal bersama Lian dan Putri, mereka tinggal di sebuah rumah di daerah perkampungan yang jauh dari kota. Agaknya tempat mereka bersembunyi sekarang ini tidak terendus oleh anak buah Tommy. Hal itu sengaja mereka lakukan, karena selama Tommy masih hidup maka mereka tidak aman.
Andini mengetahui bahwa kantornya sekarang terjadi kemelut, semua staf yang berada dibawahnya dipecat semua termasuk Rahma dan Yusuf. Tak ada yang tahu kabar mereka sekarang. Andini juga sedang menunggu email dari Arci, tak ada email sama sekali membuat ia was-was tapi ia tetap berharap bahwa Arci baik-baik saja di luar sana.
"Kalai nanti kak Andini punya anak boleh ya aku gendong." celetuk Putri.
"Boleh, siapa yang ngelarang?"
"Beneran?"
"Iya." kata Andini.
"Cowo apa cewe ntar?"
"Nggak tahu deh, ntar lihat aja. hihihihi."
"Kalau cowok, aku pengen yang beri nama!"
"Emang mau kasih nama siapa?"
"Ada deh?"
"Kalau namanya jelek, aku nggak setuju."
"Nggak koq, beneran. Kakak pasti suka."
"Udah ah, doain aja."
"hihihihi," putri tampak tersenyum lucu.
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Jadi ini pabriknya?" tanya Arci.
"Iya." jawab Rafa.
Ghea melemparkan sebuah masker ke arah Arci, Arci menerimanya. Mereka memakai berdua masker itu sekarang.
"Kalian mau apa?" tanya Rafa.
"Omset pabrik itu milyaran, tapi aku akan menghancurkannya." jawab Arci.
"Kalian gila!"
BUK! Arci memukul kepala Rafa hingga ia tak sadarkan diri.
"Cerewet!" Arci segera keluar dari mobil, sebelumnya ia melakban mulut Rafa, kaki dan tanganya juga diikat.
"Kamu tahu siapa Rafa ini?" tanya Ghea.
Arci menggeleng, "Peduli amat!"
"Dia ini anaknya walikota," kata Ghea sambil tersenyum.
"Kamu tahu?"
"Ya jelaslah, hanya saja kenakalannya jarang terekspos. Pabrik narkoba ini tetap beroperasi salah satunya menggunakan kekuasaan ayahnya."
"Kita akan telanjangi dia besok, sekarang kita akan hancurkan pabrik mereka."
Arci membuka bagasi mobil, dia mengambil RPG, Ghea sudah bersiap dengan senjatanya. Arci membidik pintu pabrik itu dengan RPG, tanpa diberi aba-aba dia langsung menembakannya dan WWUUUSSHH BLAAAAARRR!
Pintu pabrik itu hancur seketika, Arci dan Ghea segera masuk. Orang-orang yang terdiri dari para pekerja dan penjaga panik. Mereka mengira digrebek oleh polisi. Arci segera menbak semua objek yang bergerak, Ghea juga beraksi demikian. Mereka memuntahlan peluru-peluru dari senjata mereka masing-masing menembus daging-daging, tulang-belulang, total semuanya berantakan, hancur, mayat-mayat bergelimpangan, Arci menyerbu ke atas, Ghea ke bawah mereka berpencar untuk membunuh semua orang yang ada di dalam pabrik itu. Baik wanita maupun laki-laki tak ada yang dibiarkan hidup, Arci tak perduli lagi apa yang ia lakukan. Di dalam dirinya hanya ada satu hal "Balas Dendam" Sebagaimana yang dikatakan Ghea ia tak bisa kembali lagi inilah yang dilakukannya.
Di sebuah ruangan tempat mandor berada, ia tampak keheranan dengan keributan yang terjadi. Dua orang lainnya yang berada di ruangan itu pun bingung. Mereka sedang bermain catur dan tampaknya terganggu, kemudian muncullah seseorang dari arah pintu. Ia tampak panik dan tergesa-gesa.
"Ada apa? apa yang terjadi?" tanya sang mandor.
"Ada yang menyerang!" jawab salah seorang anak buahnya yang panik dan menghambur masuk ruangan.
"Polisi?"
"Bukan!"
DOR!
Orang itu pun tergeletak dengan kepala berlubang. Arci masuk keruangan itu, sang mandor berusaha mengambil sebuah senapan Shotgun yang ada ditembok, sebelum ia beraksi Arci melemparkan sebilah pisau dan menancap di tangan sang mandor.
"Aaaaarrgghhh!" jerit mandor itu.
Dua orang yang ada diruangan itu menyerang Arci tapi dengan cekatan Arci menusukkan lima jari tanganya kanannya ke leher salah seorang dari mereka, orang itu langsung mundur sambil memegang lehernya. Tenggorokanya tiba-tiba tertutup sehingga dia tidak bisa bernafas, seorang yang lainnya mengambil parang dan mengayunkanya ke arah Arci, Arci mengambil pisau di pinggangnya dengan tangan kiri lalu menahan tebasan parang tersebut. Pisau dan parang beradu, orang yang menyeranya pun kaget karena pisau itu bukan pisau biasa tapi pisau yang dipakai oleh militer yang terbuat dari baja murni. Tangan kanan Arci naik dan membidil kepala orang itu, orang yang menyerangnya gentar dan melotot melihat moncong pistol glock yang panas.
DOR!
Tanpa basa-basi Arci menembaknya, Arci berjalan dengan santai ke arah sang mandor. Sang mandir memegang tangannya yang tertancap pisau, Arci menyarungkan pisaunya dan mengambil pisau yang tertancap itu. Mandor itu pun menjerit saat pisau itu dicabut.
"Ingin hidup? katakan pabrik lainnya ada dimana? ancam Arci.
"Iya, iya, aku akan katakan!" jawab mandor.
Singkat cerita orang-orang yang masih hidup akhirnya menyerah. Arci dan Ghea mengikat mereka semua di dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh bubuk cocaine.
"Kalian tahu yang kaliam lakukan?" tanya Arci
"Iya," jawab sang mandor.
"Jadi kalian sudah tahu konsekuensinya?" tanya Arci.
"Hah? Jangan! jangan! jangan! kumohon jangaaaan!" mereka menjerit.
Arci tersenyum sinis, "Aku bisa membunuh kalian semua sekarang, tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan biarkan kalian seperti ini, sementara pihak yang berwajib akan datang kemari. Kalau kalian bersaksi palsu, aku akan merobek mulut kalian dan kalian akan menyesal melihat dunia ini."
"Tidak akan, tidak akan!" mereka semua ketakutan.
"Kalau kalian ingin tahu siapa aku, namaku adalah Arci...anak dari Archer Zenedine dan Gadis itu Ghea anak dari Pieter Zenedine. kalau polisi bertanya siapa pelakunya katakan saja Sang Archer yang melakukannya.
Setelah itu Arci dan Ghea meninggalkan mereka semua, tak berapa lama kemudian polisi datang dan tentu saja mereka mendapatkan jackpot pabrik narkoba. Pasti akan terjadi skandal besar setelah ini, karena pabrik ini dilindungi oleh Walikota, sedangkan Arci melangkah ke pabrik-pabrik berikutnya.
Bersambung GERILYA II