
Kantor polisi itu tampak temaran, setelah kemarin malam terjadi penggrebekan terhadap pabrik narkoba dengan dibumbui mayat-mayay bergelimpangan membuat pengganti Letnan Yanuar yaitu Kapten Basuki makin tenggelam mempelajari file-file yang dipunya Letnan Yanuar, Letnan Yanuar di situ memiliki catatan tentang sejarah kelam keluarga Zenedine. Berbagai usaha penggelapan pajak, narkoba, barang selundupan semuanya ada.
Satu-satunya usaba yang murni tapi mungkin juga ada ilegalnya adalah perusahaan textil PT. Evolus, Kapten Basuki tertarik dengan seorang pewaris keluarga Zenedine yaitu Arczre.
Semenjak Letnan Yanuar terbunuh akibat dikroyok oleh anggota gangster beberapa waktu lalu, Kapten Basuki menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Bagaimana anggota gangster itu bisa menarget seorang anggota kepolisian kalau tidak dikamandoi? Dan bagaimana juga mereka bisa mengeroyok anggota reserse itu disaat tak membawa senjatanya? hal itu berarti selama ini gerak-gerik Letnan Yanuar telah diketahui.
Hal menarik lainnya adalah ketika Kapten Basuki mengintrogasi semua orang yang ditangkap di pabrik narkoba itu. Semuanya mengaku bahwa sang Archer yang telah melakukannya, sang Archer telah kembali. Dan hal yang menakjubkan lainnya beberapa pabrik narkoba telah dihancurkan oleh Arci, apa maksud dari semua ini?
Kalau memang pabrik narkoba itu adalah salah satu usaha dari keluarga Zenedine, kenapa Arci yang sebagai pewaris tunggal malah menghancurkannya sendiri? Sepertinya ada yang tidak beres dengan ini semua.
Kapten Basuki mengumpulkan semua file yang ada, dia mengumpulkan orang-orang dengan cara yang tak wajar, Pieter Zenedine. Jacques, Amanda, dan juga Safira. Mereka semua tewas dengan tidak wajar. Apalagi Safira yang tewas ditembak punggungnya hingga tembus ke perut.
Dia mempunyai hubungan dengan Arci, yaitu kakaknya. Apakah ini semua ada hubungannya dengan keluarga Zenedine? Berarti ada perang berdarah di dalam keluarga Zenedine, dan kalau melihat peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini, maka perang ini belum akan berakhir. Dari catatan Letnan Yanuar berusaha menghubungi Arci untuk minta bantuan kepadanya, Kapten Basuki pun akhirnya mengambil kesimpulan Arci berada dipihak kepolisian. Tapi bagaimana cara untuk menghubungi Arci? itu yang jadi masalah.
Kapten Polisi itu menggaruk-garuk kepalanha yang tidak gatal. ruangan yang ia tempati sekarang adalah tempat Letnan Yanuar. kapten Basuki ditugaskan dari pusat ke Malang untuk mengatasi kasus keluarga Zenedine.
Kapten Basuki berbeda dengan Letnan Yanuar, dia lebih keras dari pada Letnan Yanuar. Kapten Basuki tidak tedeng aling-aling bila berurusan dengan penjahat.
Kapten Basuki benar-benar ingin menemui Arci, hingga akhirnya dia mempunyai satu cara. Ia mengintrogasi para tersangka.
Segera ia beranjak, dia tampak terburu-buru. Dia mengajak dua orang bawahannya untuk pergi ke rumah tahanan, di sana ia akan bertemu dengan para tersangka.
Singkat cerita mereka pun akhirnya sampai di rumah tahanan, Kapten Basuki segera masuk ke ruang interogasi. Di sana dia memanggil beberapa tahanan untuk di interogasi, salah seorang yang ada di sana adalah sang mandor yang dibiarkan hidup oleb Arci.
Kapten Basuki segera duduk di kursi yang disediakan, tatapannya ke enam orang tahanan yang berada di ruang interogasi. Mereka tampak kaki dan tangannya diborgol, melihat tatapan mata Kapten Basuki mereka tak berani.
"Ceritakan kepadaku tentang Arci, siapa dia?" tanya Kapten Basuki.
Mereka semua berpandangan, hanya satu yang bisa mebjawab.
"Kami tak kenal ndan, yang pasti ia orangnya gila, berdarah dingin, yang bergerak ditembak olehnya." jawab sang mandor.
"Nama kamu?" tanya Kapten Basuki.
"Wawan ndan," jawab sang mandor.
"Baiklah wawan, kamu tahu di mana pabrik yang belum dihancurkan oleh Arci?" tanya Kapten Basuki.
"Saya tidak tahu pabrik mana saja yang sudah dihanjurkan oleh dia?" jawab wawan, "Maklum ndan saya sudah di sel. tak ada komunikasi."
"Yang sudah dihacurkan Arci dalam empat hari ada lima pabrik. cukup cepat bagi orang seperti dia. Di Wagir, Batu, Kepanjen, Dieng, dan di Singosari. Dimana lagi ia akan beraksi?"
"Ada satu yang belum dia hancurkan ndan, lolasinya di Pasuruan."
"Kamu tahu lokasinya?"
I LOVE YOU, HANDSOME.
Tommy menendang-nendang seseorang yang sudah terkapar di lantai berkali-kali, dia tampak marah sekali hari itu. Semua orang tak berani menatapnya.
"Breng**k! Bodoh! bodoh! bodoh!" terus menerus kata-kata itu terlontar dari mulutnya. Sedangkan orang yang dia tendangi di lantai sekarang sudah tak sadarkan diri, mungkin perutnya sudah hancur, wajah orang itu sudah pucat.
Tommy kemudian melampiaskan kemarahanya ke sebuah meja, dia tendang meja itu hingga bergeser beberpa meter.
"kenapa belum ada yang memberiku laporan dimana keberadaan Andini? Sekarang pabrik-pabrikku dihancurkan oleh anak Archer, kemana kalian semua??!"
Di ruangan itu ada lima orang yang sepertinya memiliki kedudukan tinggi, seseorang pria dengan rambut cepak berbadab tegap, memakai baju hitam. Dia adalah Assasin yang membunuh Amanda, di sebelahnua ada Alfred, di sebelahnya lagi ada seorang wanita yang sedang bernain-main dengan sebuah pisau yang berada ditangannya.
Lainnya ada seorang lelaki berkulit hitam dengan kacamata hitamnya, tubuhnya gempal dan sesekali mengaruk-garuk hidungnya, seseorang lagi seorang anak muda kemungkinan berusia 17an dia hanya tersenyum saja melihat orang yang disakiti oleh Tommy
Lima orang kecuali Alfred adalah para pembunuh kelas kakap, mereka mempunyai reputasi tinggi di dunia hitam dan kemampuan mereka tak bisa diremehkan.
"Kenapa hanya karena satu orang saja semuanya jadi berantakan? Alfred, kamu tahu Arci itu hanya seekor semut kecil. Kenapa susah sekali? Kenapa hanya karena dia rusak semua rencana kita. Breng**k bener, kita harus bergerak cepat. Temukan Andini! Kalian semua temukan Andini! Dan jangan kembali sebelum kalian menemukannya! Kecuali kamu Alfred, kamu pergi ke pabrik. Periksa pabriknya! Aku takut Arci akan mengincarnya juga," suara Tommy meninggi.
Tommy makin marah, dia sudah berada diambang batas kesabaranya. Arci telah mengacaukan segalanya, segalanya yang telah ia lakukan selama ini. Dia berada di perancis menikmati kekayaan dari apa yang dilakukan oleh anaknya Alfred.
Ada satu hal yang ia inginkan sejak dulu, yaitu menjadi penguasa keluarga Zenedine. Kini ia telah mendapatkan senuanya, PT.Evolus menjadi miliknya, tapi semuanya tertunda gara-gara Arci.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Arci mendapatkan informasi tentang cara pengedaran obat-obatan terlarang yang terakhir, pabrik yang ini benar-benar tidak biaa dilacak begitu saja. Memang benar ada di Pasuruan, tapi untuk bisa melacak keberadaan pabrik ini maka dalam hal ini tidak diberitahukan oleh siapapun kecuali orang-orang terdekat Tommy, pabrik ini adalah pusat dari semua pabrik yang pernah ada. Alfredlah yang mengurus ini semua.
Untuk melacaknya Arci diberi petunjuk untuk membuntuti seorang anak jalanan yang biasanya mangkal di sebuah perempatan lampu merah, mereka menjajakan kacang atau juga terkadang sticker dan ada yang mengamen.
"Ikutilah seoranv anak pengamen bertopi abu-abu. ikuti dan lihat bagaimana cara dia bertransaksi!" ujar seorang mandor di pabrik terakhir yang telah dihancurkan.
Arci terus mengikuti anak kecil yang usianya kira-kira sebelas tahun itu, melewati gang, pertokoan, pasar hingga kemudian berhenti disebuah taman bermain
Dia melihat kiri-kanan, sementara Arci bersembunyi dibalik pohon sambil mengawasi boca itu, di taman itu terdapat sebuah kotak pos. Sang anak kecil memasukan sebuah amplop ke dalamnya, tapi tak sekedar memasukan tetapi entah bagaimana anak itu menekan sesuatu di dekat lubang suratnya. sebelum ia memasukan amplop. setelah itu anak itupun pergi.
Arci berhenti mengikuti anak itu dan menunggu siapa kira-kira yang bakal menerima amplop yang ada di kotak pos, cukup bosan menunggu. Hingga hari hampir sore ketika seorang memakai topi biru dan sepatu kets putih mendekat dan membuka kotal pos tersebut. Bagaimana dia bisa membuka kotak pos itu? Dan ternyata dia memegang kuncinya, bukankah seharusnya hanya petugas pos saja yang bisa melakukannya?
Arci melihat dari jauh bagaimana orang itu mengambil sesuatu, seperti kantong plastik. Ternyata di dalam kotak pos itu terdapat kantobg plastik, di sanalah sebenarnya amplop yang anak kecil tadi masukan. dan kantok plastik tersebut guna memishakan amplop surat asli dengan amplop milik anak itu.
Arci kemudian bergegas mengikuti orang itu, sesaat kemudian orang itu menaiki angkot. Arci memberi aba-aba, segera sebuah mobil yang di kemudikan oleh Ghea mendekat. Arci segera membuka pintu dan masuk mobil itu.
"Aku tak tahu kalau Tommy memanfaatkan anak kecil untuk jual beli narkoba." kata Arci.
"Aku juga baru tahu." ujar Ghea.
Angkot itu terus diikuti hingga sampai ke sebuah tempat, orang yang diikuti Arci tadi itu pun turun dari angkot kemudian dia berjalan menuju ke sebuah belokan gang.
"Kita ikuti!" kata Arci. Dia mengambil pistolnya dan juga Ghea. sebelumnya Ghea memarkirkan mobilnya dan kemudian berlari mengejar orang tersebut.
Mereka melewati sebuah persawahan yang banyak ditumbuhi tanaman tebu, orang tersebut berhenti di sebuah gudang. Bukan, itu bukan gudang walau bentuknya seperti lumbung padi tapi di dalamnya ada banyak bangunan lagi. Menyembunyikan jati diri pabrik narkoba dengan cara menyamar sebagai lumbung padi? Arci dan Ghea saling berpandang.
Mereka kemudian memilih memutar dan memepet tembok, di sana Arci menolong Ghea untuk memanjat pagar tembok. setelah mereka berhasil memanjat tembok lalu mereka turun dan segera bersembunyi dibalik sisa-sisa padi yang habis digiling. mereka melihat orang yang tadi mereka ikuti masuk ke sebuah bangunan lagi. Tapi bangunan itu tampak terdapat tulisan RESTRICTED, gudang itu sepi mungkin para pekerjanya sudah pulang.
Arci mengamati keadaan sekitar, kalau-kalau ada kamera pengawas. Setelah yakin tidak terdapat kamera pengawas ia segera mengendap-enadap menyelinap ke dalam gudang yang dimasuki tadi. Mereka mencoba mebgintip melalui jendela, dan tampaklah pemandangan yang tak asing lagi bagi mereka. berkantong-kantong bubuk putih tampak sedang dipacking, orang yang mereka buntuti tadi tampak sedang berbicara dengan seseorang. Arci tahu siapa dia, ya dia adalah Alfred. Alfred yang ditugaskan oleh Tommy ternyata sudah ada di tempat itu.
"Kita tidak salah, ini adalah pabrik terakhirnya." kata Arci.
"Betul, lalu?" tanya Ghea, "Rasanya kalau kita serbu boleh juga."
"Itu emang rencanaku, aku tak menyangka lumbung padi ini digunakan sebagai kedok untuk menyembunyilan usaha mereka."
"Yeah, they're worst than i thought."
"Sebaiknya kita balik dulu memperisapkan segalanya, lagi pula tujuan kita adalah menghancurkan pabriknya bukan?" usul Arci.
"Yeah, lagi pula untuk menggempurnya kita butuh sesuatu " Ghea setuju.
Setelah melihat bagaimana keadaan di dalam, merekapun mengendap-endap pergi menyelinap diantara tumpukan jerami hingga kemudian memanjat tembok. Setelah itu mereka menuju mobil, sebenarnya saat mereka kembali keadaan tidak ada yang mencurigakan. Hingga Arci mendapati seorang bersandar di.mobil mereka, Arci dan Ghea berpandangan mereka tak kenal dengan orang itu, tapi sepertinya orang itu tahu siapa Arci.
"Maafkan aku sedikit mengganggu." kata orang itu yang tak lain adalah Kapten Basuki.
Arci dan Ghea reflek mengeluarkan senjatanya dan menodongkan ke arah Kapten Basuki, melihat Arci menodongnya Kapten Basuki tidak panik apalagi terkejut. Arci dan Ghea saling berpandangan lagi.
"Kita terkepung." kata Ghea.
"Pengamatanmu bagus sekali, tak bisa dipungkiri orang yang telah mengikuti pelatihan militer pasukan elit, aku sangat takjub. Tak perlu khawatir aku tak ingin menangkapmu karena menodongku atau menghancurkan pabrik-pabrik narkoba mereka. Aku adalah Kapten Basuki, pengganti Letnan Yanuar yang telah tewas,"
"Aku telah mempelajari file-filemu Arci dan kamu pernah bekerjasama dengan Letnan Yanuar. Aku ingin bekerjasama denganmu?" ucap Kapten Basuki.
"Aku bekerja sendiri," ucap Arci.
"Kami tak butuh bantuanmu," Arci menolak.
"Aku tahu, kamu tidak seperti mereka. Kamu hanya terjebak dalam dunia ini, aku bisa menawarkan pengampunan atas apa yang telah kamu lakukan?" kata Kapten Basuki.
"Aku tidak butuh itu, aku akan mencingcang mereka semua." kata Arci "Setelah itu, kamu mau menangkap aku terserah. Mereka telah membunuh kakakku dan aku tak akan memaafkannya."
Arci kemudian menuju pintu mobil, begitu pun Ghea. Kemudian Kapten Basuki perlahan-lahan menyingkir.
"Kalau kau menyalahkanku karena menghancurkan pabrik narkoba itu, maka aku ingin bertanya satu hal. Kemana hukum selama ini? Kalau kamu ingin menangkapku karena mengacaukan pekerjaan kalian, maka lakukanlah sekarang sebelum aku melakukannya. Kalau kamu tidak ingin, maka menyingkirlah."
"Arci kalau kamu sampai berbuat sesuatu yang nekat maka aku akan menangkapmu?" ucap Kapten Basuki.
"Coba saja!" kata Arci, "Aku akan menunggu saat borgolmu membelengguku Kapt."
Ghea segera melajukan mobilnya dengan kencang, Arci segera ke jok belakang mengambil sesuatu . Dia mengambil beberpa granat tangan, Kapten Basuki hanya menyakaikan mobil itu menjahuinya. Sementara itu beberapa anak buahnya dari tadi sudah membidik Arci dan Ghea mulai keluar dari persembunyian mereka.
"Kapt, apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu anak buahnya.
"Biarkan mereka," kata Kapten Basuki.
"Tapi mereka akan menghancurkan pabrik itu." katanya.
"Tenang, dengan begitu pekerjaan kita akan lebih ringan. Ingat Arci itu di pihak kita, dia akan mengirim kita kepada Jackpot!" ucap Kapten Basuki.
BLAARRR!
Gerbang lumbung padi itu dihancurkan oleh granat semua orang yang berada di pabrik narkoba terkejut. Beberpa diantaranya segera berhambur keluar dengan membawa senjata.
Arci dan Ghea menyerbu dengan senapan mesin, maka terjadilah perang di tempat itu. Alfred yang mengethui hal itu langsung mengambil senjata untuk ikut perang, mobil yang dikemudikan Ghea berhenti. Ia segera keluar sambil melempar granat ke pintu gudang, ledakan demi ledakan tak henti-hentinya. Arci menembaki semua orang yang keluar dari gudang, para pekerja yang berada di dalamnya kalang kabut dan berusaha melarikan diri. Lagi-lagi Arci melemparkan granatnya, ledakan demi ledakan kembali terdengar. Dalam sekejap api menjalar kemana-mana.
Ketika senjata otomatis yang digunakan Arci kehabisan pelurunya, maka ia langsung mengambil pistolnya dan menembaki para penjaga yang melakukan perlawanan. Ghea dengan gesit menembaki beberapa orang hingga tewas, ia melihat Alfred berlari dengan segera ia kejar sepupunya itu. Melihat Ghea mengejar Alfred maka Arci pun ikut mengejarnya sambil melemparkan granat ke sebuah mesin pembuat kokain.
Alfres berlari ke belakang, Ghea dan Arci segera mengejarnya.
Ponsel Alfred berbunyi, ia segera mengangkat ponselnya, "iya hallo!"
"Andini ketemu." kata suara orang dibalik ponsel itu.
"Bagus, aku masih sibuk. Hubungi aku nanti." kata Alfeed.
Alfred berlari menuju ladang tebu, hari mulai gelap ketika mereka saling kejar mengejar. Kini ketiganya saling kejar mengejar dalam kegelapan, Arci dan Ghea hanya mengandalkan pendegarannya saja ketika mengejar Alfred.
DOR! DOR!
Dua kali Alfred menembak ke sembarang arah, hal itu menyebabkan Ghea dan Arci mengetahui posisinya berada sekarang. Suara gesekan daun-daun tebu saling bersahutan, Alfred terus berlari hingga ia terjatu. Tak jauh dari posisinya terjatuh tampak Arci sudah berada dibelakangnya.
Ghea juga sudah ada dibelakangnya dan hampir saja ia menembak Alfred, tapi Alfred berbalik menerjang dan menensang tangan Ghea yang memegang pistil. Arci menacungkan pistol tetapi Ghea dan Alfred terlibat pertarungan sehingga membuat Arci tidak dapat membidik Alfred. Arci kemudian menyimpan pistolnya lalau menerjang Alfred.
Ghea berhasil memukul Alfred, kemudian Arci mencengkram leher Alfred. Alfred dapat memberontak dan memukul perutnya, Ghea langsung menerjang dengan mendaratkan lututnya diwajah Alfred seketika hidung itu patah. Arci kemudian menarik jas yang dikenakan Alfred, kemudian tubuh Alfred si putar dan dibekap wajahyna dengan.menggunakan jas terseut. Alfred tak dapat melihat, Ghea kemudian menghantam perut Alfred sehingga sepupunya itu tumbang.
Alfred tak berdaya, jas yang menutupi wajahnya pun ditarik hingga robek oleh Arci. Dia menodongkan pistolnya ke aarah Alfred.
Alfred tak bisa bergerak, tubuhnya sakit semua. Ia bergerak pun percuma karena dapat dipastikan Arci akan menembaknya, ia bahkan untuk memukul nyamuk pun tak berdaya.
"Kamu mau apa?" tanya Alfred.
"Aku ingin tahu lagi di mana tempat usaha Tommy?" kata Arci.
"Hahahahaha, kamu kira dengan menghancurkan usahanya itu membuat dia gentar?"
"Setidaknya demikian, bukan?" kata Ghea sambil menurunkan lututnya ke leher Alfred.
"Aku hanya tertawa saja melihat kalian seperti ini, yang satu kehilangan ayahnya yang satu kehilangan kakaknya. Bahkan mungkin sebentar lagi wanita yang baru saja kau nikahi akan mati." kata Alfred.
"Apa?" Arci menempelkan pistolnya ke kepala Alfred.
"Arci dia cuman berbohong!" kata Ghea.
"Kamu kira aku berbohong? hahahaha, ketahuilah seorang pembunuh nomor wahid sedang berusaha membunuh Andini. Mungkin sekarang kamu sudah terlambat, perang gerilya yang kalian lakukan hanya sia-sia saja." kata Alfred.
Arci pun menarik pelatuknya tepat di kepala Alfred.
DOR!DOR!DOR!DOR!DOR!DOR!DOR!
Dia menghabiskan seluruh isi magazinenya, Ghea langsung berdiri, ia tak pernah melihat Arci semarah ini sebelumnya.
"Ghea, kamu tahu Andini di mana?" tanya Arci.
Ghea menggeleng "aku tak tahu."
Ghea kemudian merogoh saku Alfred dan mengambil ponselnya yang berada di saku, lalu memberilan kepada Arci, Arci paham maksud Ghea. Lalu Arci melihat panggilan terakhir di ponsel Alfred, lalu Arci menelepon nomor tersebut.
"Halo?" sapa Arci, "Kalian dimana?"
"Kami ada di daerah lawang," kata orang si telepon itu.
"Andini ada dimana?" tanya Arci
"Ada di perkampungan daerah lawang, ikuti saja perumahan yang ada di Argobimo terus naik. Kami.mendapati Lian ada di sana, kalau ada Lian pasti ada Andini."
"Baiklah, bagus." kata Arci.
"Oke bos." kata orang itu tanpa sadar kalau yang diajak bicara adalah Arci.
"Kita ke Lawang, menyelamatkan Andini." kata Arci.
I LOVE YOU. HANDSOME.
Kani dikenal sebagai seorang pembunuh bayaran, dia tak banyak bicara kebiasaannya selalu membawa cokelat ke mana-mana dan kalau stoknya habis maka ia akan membeli berbungkus-bungkus cokelat. Ia memang menyukai cokelat sejak kecil.
Hidup Kani sejak kecil sangat keras, dia hidup di jalanan, makan terkadang harus mengais makanan sisa. Orang tuanya? orang tua Kani sudah tidak ada ia anak yatim piatu yang kabur dari panti asuhan. Ketika hidup di jalanan dan menggelandang itulah dia belajar kerasnya kehidupan, hingga suatu ketika Kani terlibat perkelahian ia cukup beruntung ketika itu perkelahiannya dilihat oleh Tommy. Tommy saat itu sedang mencari orang-orang yang bisa ia jadikan tukang pukul, Melihat Kani sedang terlibat perkelahian Tommy tertarik untuk melihat.
Kani berusaha keras untuk tetap berdiri sekalipun lawannya banyak, perkelahian mereka sebenarnya sepele, masalah lapak. Kani di keroyok oleh beberapa orang anak remaja tapi dia melawan balik. Saling pukul, saling tendang kerasnya hidup sudah ia rasakan sejak lama Kani berhasil menghajar mereka semua hingga terkapar. Dia melawan mereka semua seorang diri dan masih hidup.
"hahahaha, bagus. Siapa namamu nak?" tanya Tommy yang mengejutkannya.
Kani yang babak belur itu pun menjawab, "Aku Kani."
"Kau mau aku latih biar menjadi lebih kuat?" ajak Tommy.
Kani tak mengerti apa-apa, tapi mendengar kata lebih kuat, ia pun tertarik.
"Tak usah khawatir aku akan berikan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau menjadi bawahanku." kata Tommy.
Mengingat-ingat masa lalu, itulah yang dilakukan Kani sekarang. Ia menjadi orang yang sangat loyal kepada Tommy. Semua telah diberikan oleh Tommy kepadanya. Semuanya dia juga diajarkan cara untuk membunuh orang dan sekarang ia menjadi seorang Assasin.
Dia bersama tiga orang rekannya yaitu Baek, Tina, dan Ungi mereka menjadi tukang pukul yang sangat berbahaya.
Beberapa anak buahnya sekarang sedang berada di dekatnya, mereka melihat sebuah rumah yang menyendiri. Kani masih melihat-lihat keadaan.
"Alfred barusan menelepon, bertanya di mana kita berada," kata salah satu anak buahnya.
Bersambung GERILYA III