I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
RUNAWAY



Pimpinan yang ada di PT Evolua Produtama memiliki lima pembesar, Andini salah satunya empat yang lainnya adalah Weny Widi Astuti, Tomi Rahardjo, Argha Federicus, dan Yuswan Andi. Keempatnya adalah orang-orang besar dan licik, licik karena mereka semua ingin menguasai PT. Evolus Produtama dan ingin menyingkirkan satu dengan yang lainnya.


Terkecuali Andini, karena dia tahu harus memihak kepada siapa, semuanya juga tahu satu dengan yang lain, sekalipun mereka berada dalam satu PT tapi masing-masing berusaha membuat produk sendiri. Sepeninggal Zenedine PT Evolus dikuasai oleh orang-orang yang berambisi untuk bisa menguasainya, hal ini tentunya sangat berbahaya bagj kelangsungan hidup perusahaan.


Archer Zenedine mempercayakan perusahan agar tetap berjalan seperti biasanya kepada seorang yang dipercayai. Tentu saja yang dimaksud adalah Andini, karena Archer Zenedine sangat kenal dengan orang tuanya. Mereka telah menjalin persahabatan sejak lama, Bu Susiati dan suaminya selama ini berusaha melindungi Arci dari orang-orang tak bertanggung jawab yang hendak melenyapkan Arci sejak Archer Zenedine meninggal.


Lalu siapakah ancaman terbesar dari keempat orang yang sekarang duduk di jajaran direksi? Selama ini Andini berusaha keras untuk bisa mengatur roda perusahaan, tapi karena sebentar lagi akan terjadi peralihan kekuasaan, agaknya akan ada lobi-lobi dari direksi.


Mereka kebanyakan sepakat untuk menyingkirkan Andini dari jajaran direksi, kalau seluruh direksi mendukung langkah ini maka matilah langkah Andini untuk tetap bisa mengendalikan perusahaan ini.


Andini kini berada di ujung tanduk, satu-satunya yang bisa menyelamatkan dua dari perusahaan ini adalah keputusan pengacara yang akan dibacakan pada tanggal 31 mei saat rapat direksi berlangsung. Momen itu sangat pas untuk pengalihan kekuasaan.


Rahma kedinginan malam iti, sudah tiga hari dia berada di ruangan dan disekap. Ia lemas karena belum makan dan minum, bahkan sang penculik pun tidak memberikan apa-apa kepadanya.


Udara dingin sangat menusuk tulang, dari sini ia mengira bahwa saat ini ia berada di daerah pegunungan atau yang semisalnya. Sebab tak mungkin suhunya bisa sedingin ini kalau malam hari.


Rahma berjuang, ia berusaha melepaskan ikatan yang membelenggunya. Seharian kemarin dia berhasil melepaskan ikatan tangan dan kakinya, sekarang dia sedang berusaha menyingkirkan seluruh benda-benda yang ada di situ. Dia mencoba untuk menghantam kaca jendela dengan potongan kaki-kaki meja afau kursi.


Awalnya Rahma ketakutan tapi semakin ia takut semakin ia tak dapat berfikir jernih. Butuh waktu seharian bagi dirinya untuk yakin seyakin-yakinnya bahwa dia sendirian di tempat itu. Butuh waktu seharian pula untuknya agar bisa lepas dari ikatan yang cukup kuat itu, kini dia ingin pergi ke toilet, sekaligus juga lapar dan haus. komplit.


Ketika mengingat-ingat lagi siapa kira-kira siapa orang yang tega melakukan ini semua. pikiranya langsung tertuju ke orang-orang yang berniat jahat kepada Andini. Rahma bukan perempuan biasa, sekalipun dia tak sekuat pria tapi tetap berjuang, ia tidak.lemah.


JDAAARRRR


Nyaring sekali suara kaca yang ia pukul, tetapi tenaganya kurang kuat. Apalagi kacanya juga tebal, ternyata tidak seperti di film-film yang menggunakan kacar dari bahan yang lunak sehingga bisa dengan mudah dihancurkan. ini adalah kaca beneran bukan seperti di film-film.


Rahma pun akhirnya mengambil potongan meja yang agak keras, lalu dengan sekuat tenaga ia pukulkan ke kaca tersebut.


JDAARRR!


Mulai.muncul retakan, ia lanjut pukulkan lagi dan akhirnya.


PRAANGGG!


Untunglah kaca jendela tersebut bukan terbuat dari kaca anti peluru. Yang jelas sekarang pecahan-pecahan kaca tersebut berserakan dimana-mana.


Rahma senang akhirnya bisa memecakan kaca jendela itu, dia melongok keluar. Hari sudah mulai pagi, di ufuk timur tampak seberkas cahaya yang mulai memanjang.


Sementara dari kejauhan terdengar suara surau dari masjid yang bersahut-sahutan, udara dingin kembali datang, Rahma menepis kuat-kuat perasaan takutnya dia harus lari.


Rahma melompat keluar dari ruangan tempat dia disekap, ia kemudian berlari sekuat tenaga. Tiba-tiba dia berhenti, dia kebelet pipis. dilihatnya sekeliling tempat itu masih banyak tanaman, semak belukar dan pepohonan.


Agaknya bangunan tempat ia disekap seperti sebuah bangunan sekolah tua yang sudah tidak terpakai. Rahma mencari tempat yang agak tersembunyi dan ia segera buang air kecil di sana, Rasanya sedikit lega walaupun diliputi rasa takut.


Dia agak terkejut ketika sebuah mobil datang dari kejauhan, ia memekik tertahan ketika mobil itu menuju ke tempat dimana dia disekap. Ia ingin tahu sipa orang yang berada di mobil tersebut, dari tempat ia bersembunyi sekarang kemungkinan ia tak akan terlihat.


Mobil BMW berwarna hitam itu bisa milik siapa saja, apalagi plat nomornya mungkin saja dipalsukan. Semua kemungkinan itu ada, tapi Rahma sedikit ragu ia tak mengenali pemilik mobil BMW tersebut.


Ia pernah melihat mobil itu terparkir di kantor tenpat ia bekerja, dan sudah pasti pemilik mobil itu ada hubungannya dengan perusahaan tempat dia bekerja.


Mobil berhenti dan sang sopir pun keluar, beberapa orang juga keluar dari mobil tersebut. Rahma langsung mengenali siapa mereka, setelah yakin seyakin-yakinnya siapa yang telah menculiknya. Hanya ada satu hal yang harus Rahma lakukan yaitu lari.


"Loh, kabur orangnya!" seru salah safu orang yang memeriksa tempat tersebut.


"Breng**k, Ceoat cari! Jangan sampai ia kabur! bunuh saja kalau perlu!"


Rahma tidak melewati jalan yang ada, dia lebih memilih menghindar jalanan terbuka. Sehingga para penculik tidak akan menemukan dia, akibatnya dia harus berjibaku menuruni tebing yang curam dengan berpegangan pada pohon-pohon pinus yang sengaja tumbuh teratur.


Ia beberapa kali harus menghantamkan tubuhnya di batang pohon itu, di bawah sana ia bisa melihat mobil lalu-lalang. Apakah mungkin ia bisa minta tolong ke mobil yang lewat?


"Cati di sebelah sana!" seru seseorang di belakangnha.


Tiba-tiba lampu senter menyorot ke semua arah, Rahma langsung bersembunyi di balik pohon dan berusaha mengatur nafasnya. Dia tidak boleh tertangkap lagi, setelah lampu senter menyorot tempat lain dab terdengar suara langkah kaki menjauh, Rahma kembali berlari.


Kejutan kecil, Rahma terpleset Ia sempat berguling-guling beberapa kali hingga ia berusaha menjaga keseimbangan lagi. sepatu hak tinggi sungguh tak nyaman, akhirnya ia membuang sepatunya, ia kembali kepada pemahaman alam alias nyekerisme.


Rahma akhirnya sampai juga di atas aspal yang dingin, tak mungkin kalau dia mencegat mobil sambil menunggu sedangkan nyawanya di ujung tanduk. Ia harus menghindari jalan raya karena para penculiknya membawa mobil, siapa tahu mereka akan melewati jalan raya ini. Lagi-lagi akhirnya Rahma berlari dan berusaha menghindar dari jalan raya.


Rahma tak bisa diremehkan, dia selalu dapat nilai bagus dalam olah raga. Dia sangat cepat dalam berlari, dalam bidang atletik dia selalu juara satu. Untuk persoalan lari ia juga jagonya. Rahma berlari seperti orang kesetanan. ia hanya butuh rumah penduduk untuk bisa dimintai tolong.


Tapi aneh sekali kenapa tak ada satu pun rumah penduduk? Terlebih lagi jalannya berkelok-kelok. Ia pun mengingat-ingat seluruh tempat yang pernah ia kunjungi, apakah ia pernah melewati jalanan ini atau tidak. Akhirnya ia teringat sesuatu saat melihat sungai.


"Ah iya, ini Pujon!" serunya.


Pujon adalah salah satu kecamatan di kabupaten .Malang, yang terletak setelah melewati Batu. Letaknya di dataran tinggi sehingga hawanya sangat dingin dan sejuk,


Rahma yang menyadari dirinya ada di Pujon, akhirnya menjadi terang semuanya. Ia pun tahu siapa yang menculik dirinya dan berusaha berbuat jahat kepada Andini. Tapi kemana ia sekarang? dia sendiri bingung.


Dari arah jauh ada sorot lampu mobil tapi tak begitu terang, Rahma langsung tahu bahwa itu adalah lampu mobil pickup. Segera ia melambai-lambaikan tangan, ternyata itu adalah mobil pengangkut sayuran, sang sopir pun menghentikan mobilnya.


"Loh ada apa mbak?" tanya sang sopir yang ternyata seorang wanita.


"Bu tolong saya. saya diculik. Saya kabur dan sekarang saya harus menghubungi seseorang, saya bisa menumpang?" tanya Rahma panik dan memelas.


Beberapa orang yang ada du dalam.mobil saling berpandangan.


"Naik aja mbak, naik!" kata sopirnya.


Akhirnya Rahma ikut rombongan itu, Rahma sedikit lega dia pun akhirnya menceritakan tentang pengalaman dirinya yang tak mengenakan kepada rombongan tukang sayur itu.


Rahma pun diberi makan nasi bungkus ala kadarnya, ia sangat kelaparan bahkan makanan yang tak begitu mewah yang isinya hanya sambel goreng tempe dan mie goreng itu rasanya sangat nikmat.


Rahma pun kemudian meminjam ponsel salah satu dari mereka, yang langsung dihubungi adalah Andini.


Tapi cukup lama ia menanti jawabannya, malah ponselnya direject, ah ia baru ingat kalau Andini selalu mereject telepon dari orang dari orang yang tidak dikenal.


Tipikal bosnya memang seperti itu, ia lupa. Ponselnya telah dibuang oleh para penculik ia kehilangan semua kontaknya, satu-satunya yang ia ingat hanya nomor telepon Andini. Ah tidak, ada lagi Arci! entah kenapa ia bisa ingat nomor ponsel cowok itu.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Lian duduk menikmati kopi yang ia buat, dia telah merasa lega setelah kemarin menceritakan segalanya tentang ayahnya Arci. Bayangan wajah ayah Arci tidak bisa ia tepis, terlalu singkat memang perjumpaan dengannya dia juga tak tahu apa yang akan terjadi pada Arci setelah mengetahui siapa jatidirinya.


Agaknya ada rasa bersalah kepada dirinya, sekarang rasa bersalah yang bisa jadi wajar karena dirinyalah anaknya bisa seperti Arci sekarang ini. Safira dan Arci terlalu dekat sehingga keadaanya seperti sekarang.


Hari sudah pagi dan ia tidak tidur semalaman, besok adalah hari dimana Arci akan mendapatkan seluruh warisan ayahnya. Entah kemelut apa yang akan terjadi, Lian yang selama ini dekjar-kejar oleh orang-orang yang ingin membunuhnya dan Arci dari pihak keluarga Zenedine, sekarang akan terbebas dari beban.


Mereka yang mengincaf harta Zenedine akan gigit jari kalau sampai Arci masih hidup sampai hari ini.


Arci keluar dari kamarnya dan mendapati ibunya sedang memandang keluar jendela.


"Arci? Sudah bangun?" tanya Lian.


"Sudah biasa Arci bangun jam segini," jawab Arci


"Tak terasa, besok harinya. kamu sudah siap?"


Arci menghela nafas "Entahlah, bagiku kekayaan itu tak penting. yang paling penting adalah kalian. Asalkan kalian bahagia, aku tidak masalah."


"Safira masih tidur?"


"Kamu punya teman dekat? ibu tak pernah lihat kamu punya teman dekat." tanya Lian


Arci tersenyum. Wajar seorang ibu bertanya seperti itu. terlebih dia selama ini terlihat menjomblo. "Ada sih, tapi aku tak yakin."


"Siapa?"


"Bosku sendiri."


"Bosmu? siapa namanya?:


"Andini Maharani."


"Ohh..Andini, sepertinya ibu kenal."


"Oh iya?"


"Ah mungkin namanya saja yang sama."


"Adakah yang ibu kenal dari masa lalu?"


"Bukan begitu, namanya tak asing. Ibu kenal dengan seseorang bernama Bu Susiati, punya anak namanya juga Andini Maharani. Dia yang selama ini menghubungkan ibu dengan ayahmu, dan dia juga orang yang memegang surat surat wasiat ayahmu, Bu Susiati sang pengacara terkenal itu."


Arci terkejut, "Tunggu dulu, Bu Susiati? yang punya anak namanya Iskha?"


"Iskha? Oh anaknya yang itu sudah meninggal karena kecelakaan bebrapa waktu lalu. Tunggu, koq kamu tahu?"


Arci segera kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya, dicarinya nomor Andini. Ia langsung menelepon Andini saat itu juga.


"Arci ada apa?" tanya ibunya.


"Sebentar, ada yang ingin aku tanyakan dahulu." jawab Arci.


Andini saat itu sedang tidur dan terbangun karena suara dering ponselnya dari Arci, ia kaget segera ia angkat "iya halo?"


"Aku ingin bertanya, Ibumu bernama Bu Susiati? seorang pengacafa? tanya Arci.


Andini tentu saja terkejut, darimana Arci tahu??


"Jawablah?" kata Arci.


"I..iya..kenapa?" tanya Andini balik.


"Dan, Iskha itu meninggal karena kecelakaan?"


"Iya, kamu tahu sekarang?" terdengar suara Andini pelan.


"Kalau begitu yang di hotel itu??"


"Itu aku bukan Iskha, akulah yang mengaku sebagai adikku waktu itu (tut) (tut) aku sebenarnya ingin jujur kepadamu, tapi belum saatnya. Ternyata kamu sudah tahu terlebih dulu (tut) (tut)..." kata Andini seperrinya diiringi ada nada telepon masuk.


"Jadi waktu itu?"


"Iya itu aku."


"Kamu berubah sekali." Arci tertawa.


"Hehehe (tut) (tut)..begitulah, jadi? kalau kamu sudah tahu itu aku??"


"Berarti kamu sudah tahu siapa aku selama ini?"


"Iya aku tahu semuanya, besok.kamu akan jadi bossku..(tut) (tut) kita bertukar posisi."


"D*mn..tak bisa begitu? aku..aku hanya tak menyangka saja."


"Sekarang sudah (tut) (tut) jelas kan? jadi? lanjut?"


"Apanya?"


"Ah kamu jadi cowok nggak (tut) (tut) sensitif."


"Maaf, jujur aku shock. Kaget kalau tahu itu kamu , aku pasti akan menerimanya."


"Maksudnya?"


"Kamu mau jadi pacarku?"


Lian mengangkat alisnya. "Duh duh duh subuh-subuh nembak cewek, dasar anak jaman sekarang." Ia pun menggeleng-geleng dan meninggalkan Arci sendirian.


"Pacar? Bukannya (tut) (tut) janjinya mau nikahin aku?"


"Hehehe...siapa takut."


"I love you, handsome."


"I love you too."


"Jangan lupa nanti langsung ke tempat acara yah?"


"Siap boss."


Arci lalu menutup teleponnya tanpa memperdulikan nada sela diteleponnya tadi, ia melonjak-lonjak kegirangan samapi tak sengaja ponselnya jatuh.


PRAAK!


"Waduh?"


Safira terbangun, ia melihat Arci memunguti ponselnya, ia mencoba merangkai ponselnya yang layarnya retak.


"yaah, pecah. Mana nggak bisa nyala lagi." gumam Arci "Beli baru deh, untung kontakbya udah syncronyze."


"Apaan sih? seneng banget? tanya Safira.


"Ada dehh."


I LOVE YOU, HANDSOME.


"Aarrrgghh! Arcii, Arci bego bego bego bego! kenapa malah ditutup??" umpat Rahma


Ia mencoba menelepon balik, tapi malah terdengar suara seorang wanita cantik yang mengatakan bahwa telepon tidak aktif! Rahma mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Sekarang malah.mati lagi Duuuuuhhhhh pusiiiiiing!?" Rahma.meminat-mijat kepalanya.


"Dianter ke mana mbak?" tanya sang sopir.


Rahma tahu kalau hari ini akan ada jadwal rapat di salah satu villa di daerah Songgoriti, kalau ia pulang justru makin jauh, kalau ia pergi ke polisi takutnya Andini nanti malah kenapa-napa. Akhirnya ia pun memutuskan "Anter ke Songgoriti bu?"


Bersambung MAN POWER