
Dendam akan membawa kehancuran
Menyeret pelakunya ke dalam kehampaan
Akan banyak orang yang kehilangan
Dan akan banyak darah ditumpahkan
Pasukan Tommy terbagi menjadi dua, mereka yang menuju rumah Rahma dan satunya yang ingin menggempur pasukan Yuswo. Arci juga membagi pasukannya menjadi beberapa bagian, satu melindungi keluarganya, yang lainnya ikut dia. Dan satu lagi untuk mencegah agar pasukan Tommy lari.
Malam itu preman-preman tidak tidur, sorenya sudah galau. Mereka sebenarnya khawatir dirinya akan mati malam itu, tapi itu tak menjadi masalah hidup sebagai preman, mati sebagai preman, apa bedanya?
Daripada mati dengan timah panas polisi mereka lebih baik mati berkelahi dengan orang lain. Para preman stasiun yang biasanya mangkal sebagai tukang parkir, sebagai penjual gorengan, sebagai pak ogah, dan berbagai profesi yang mereka tekuni. Malam itu mereka bangun mengejutkan istri-istri dan anak-anak mereka. Dan pesan mereka ke pada keluarganya adalah "kalau pagi aku tidak pulang, tolong jangan cari aku. Mungkin aku sudah pergi" kurang lebih semua suami yang berpesan kepada istrinya seperri itu.
Ghea, Andini, Lian dan Rahma tampak sudah bersiap-siap. Sedari siang mereka tak bisa keluar rumah karena ratusan orang berpakaian preman sudah berjaga-jaga di sana. Mereka semua adalah para preman yang ditugaskan oleh Yuswo, ditambah lagi para polisi yang juga sudah bersiaga dari kemaren-kemaren kini mulai bersiap, mereka memakai rompi anti peluru dan berbagai persenjataan.
Semua toko tiba-tiba tutup lebih awàl, beberapa orang secara swadaya masyarakat tampak berjaga-jaga sebagai keamanan. Mereka jugabtakut kalau-kalau terjadi sesuatu, para polisi sudah menyebar pasukannya dimana-mana. Bahkan pasukan anti huru-hara sudah bersiap dengan perisai dan tongkat pemukil anjingnya di sepanjang jalan A Yani. Mobil Ambulance dan damkar di kerahkan. Malam itu keadaan benar-benar mencekam.
Arci menelepon istrinya.
"Halo?" Sapa Arci.
"Sayang, kamu di mana? Aku tak bisa keluar, ada orang-orang yang mencegah kami keluar, katanya kami harus tinggal di dalam rumah." ujar Andini.
"Iya, mereka orang-orangku. Bertahanlah! aku akan membuat perhitungan dengan mereka semua." ujar Arci
Andini membalas, "Tidak! hentikan semua ini. Kamu suamiku, aku tak mau terjadi apa-apa denganmu! Ayo kita pergi sayang, kita sudahi semua ini. Hentikan balas dendam ini."
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Aku hidup lebih lama dengan kakaku, dia berkorban banyak buat kami. Bahkan demi diakui keluarganya dia rela menyumbangkan ginjal untuk ayahnya tapi ia tetap tidak diakui. Akhirnya hanya aku yang bisa mengakui dirinya, hanya aku yang bisa memberikan kehidupan untuknya. Ada alasan kenapa dia mencintaiku, ada alasan kenapa aku juga mencintai dia. Dia bukan sekedar kakak buatku, kau juga tahu itu. Itulah alasannya kenapa aku tidak bisa berhenti, Apalagi ketika dia harus tewas di depan mataku sendiri terlebih dia juga mengandung anakku."
"Apa?"
"Ya, dia tewas saat mengandung anakku. Karena itulah aku tak akan memaafkan mereka. Aku sudah bersumpah akan menjadi vampir malam ini, aku akan hisap darah mereka, aku akan habisi mereka semua sampai mereka menyesal telah hidup."
"Sayangku....aku tak tahu..."
"Sabarlah, aku akan pulang. Kalau toh aku tidak pulang, kamu jangan khawatir. Aku akan pergi ke tempat di mana orang yang aku cintai berada."
"Ajaklah aku!"
"Aku tidak ingin mengajakmu, kamu harus hidup."
"Aku juga tidak akan bisa hidup, aku hamil...."
DEGG!
Tangan Arci gemetar, "Apa tadi yang kamu bilang?"
"Aku hamil." kata Andini sambil terisak.
"Katakan sekali lagi?!"
"Aku hamil."
"Kenapa kamu tak bilang?"
"Aku akan bilang kepadamu."
Arci entah bahagia atau bersedih, ia tak tahu yang mana yang benar dan yang salah. Sekarang di hadapanya sudah ada barikade polisi. Polisi benar-benar berada ditengah-tengah dua kekuatan.
"Sekarang belum terlambat, sudahi ini semua sayangku, pulanglah! Ayo kita hidup menyendiri, menjauh dari semua. Kita hidup di sebuah gubuk kecil dengan anak-anak kita. Jahui ini semua."
"Tangan Arci gemetar, Dia tak pernah menyangka akan seperti ini. Air matanya meleleh.
"Demi anak kita suamiku, jangan lakukan ini."
Pasukan Arci menunggu aba-aba, Arci memejamkan mata. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah berjalan jaih dan ini di depannya sudah ada pihak kepolisian menantang dirinya, dan di seberang sana ada pasukan dari Tommy.
"Mundur! Kalau tidak kami akan menembak! Kalian harus membubarkan diri sekarang!" tampak suara keras dari salah satu polisi terdengar jelas. "Kami hitung sampai sepuluh hitungan!"
"Cici, itu apa? suara apa itu?" tanya Andini.
"Polisi, mereka akan membubarkan kami." jawab Arci.
"Tidak mungkin! sudahlah, kumohon aku sangat khawatir. Pulanglah!"
"Aku tidak bisa, belum bisa." Arci segera menutup teleponnya.
Andini menjerit histeris, Ghea yang menyadari hal itu hanya bisa menghela nafas. Berat bagi Arci, berat bagi Andini. Lian berusaha menenangkan Andini, Rahma pun ikut menenangkannya.
"Sudahlah, kita hanya bisa berharap Arci pulang dengan selamat." kata Lian.
"Dini, yang tabah ya?!" kata Rahma.
"Kalian tak perlu khawatir Arci bukan orang yang akan jatuh begitu saja. Dia pernah melewati masa-masa kritis, dia telah melewati banyak cobaan. Dia lelaki tampan yang paling kuat yang pernah aku kenal." kata Ghea.
"Ghea?" gumam Andini.
"Perlu kalian ketahui, aku juga berharap dia selamat. Tapi aku tak pernah menyerah akan berharap kepadanya. Kamu adalah orang yang paling dia cintai. Kamu harusnya yakin!" kata Ghea sambil memegang bahu Andini. "Ini!" Ghea memberikan sebuah senjata kepada Andini, "Pakai pistol ini, kamu harus kuat. Sebagai istri seorang bos mafia, kamu harus kuat tembak siap pun yang ingin mendekat kepadamu. Malam ini kita akan mati. Jadi jangan berharap untuk biaa hidup esok hari."
Andini berkaca-kaca, air matanya meleleh, "Ghea, terima kasih..."
"Kalian adalah keluargaku juga. Aku tak akan membiarkan siapapun mendekati kalian." ujar Ghea.
Sementara itu Arci menyimpan ponselnya. Dia menatap ke arah para polisi yang sudah bersiaga. Dia memberi aba-aba.
"Ingat kita tak bisa kembali lagi, maju atau mati!" teriak Arci.
HIIYYEEEE teriak semua orang.
"Tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu! waktu habis! seru suara polisi dari pengeras suara.
Tak berapa lama kemudian pasulan anti huru-hara mulai maju ke arah Arci, tapi Arci belum memberi aba-aba untuk menyerang. Sementara gas air mata sudah ditembakan, beberapa orang langsung mengoleskan pasta gigi dibawah mata mereka dan memakai masker, Arci mengeluarkan topeng gas dan lalu memakainya.
Arci memberi aba-aba untuk maju, tapi bukan maju secata fisik. Para preman melemparkan sesuatu.
BANG! BANG! DOR! DOR RATATATATATATATATA!
Ternyaya mereka melemparkan petasan, hal itu membuat para polisi kalang kabut. Pasukan anti huru-hara kocar kacir karena suara-suara petasan disangka suara ledakan senjata api. Arci pun langsung berlari menuju kearah para polisi yang kalang kabut itu, akhirnya terjadilah bentrok ketiga pasukan pun bertemu mereka saling serang, saling pukul, saling bantai, keadaan sangat kacau sekali. Arci tak segan-segan membalas serangan para polisi, mereka juga bertahan ketika dua kekuatan saling bertemu tapi karena kekuatan pasukan anti huru-hara ini sedikit maka akhirnya mereka terdesak. Pasukan Gegana yang diterjunkan pun tak bisa berbuat banyak terlebih salah satu preman membawa RPG dan menembakkannya ke aras salah satu mobil taktis hingga mobil tersebut terlontar ke udara.
Tembakan pistol dan ledakan granat membahana malam itu, Malang terjadi perang listrik di sepanjang jalan A Yani dipadamkan. Para polisi semakin terdesak hingga akhirnya pasukan Tommy dan pasukan Arcu bertemu, mereka pun bertarung satu sama lain. Para polisi tak bisa berbuat banyak dan mereka meminta bantuan, beberapa diantaranya takut dan lari.
Arci mempraktekan apa yang telah ia pelajari bertarung kroyokan, dia mengambil senjata tongkat pemukul yang tergeletak milik pasukan huru-hara, lalu Arci memukul dan menghajar siapapun yang ada di depannya, semua yang terkena pukulanya pasti tumbang. Setiap orang mendapatkan paling sedikit dua pukulan di perut dan di kepala, di kaki dan di kepala. Arci terus mengalahkan setiap orang yang dilewatinya sekalipun mereka berjenjatakan parang dan pipa besi.
"Pergi ke sana dapatkan wanita itu, mereka butuh bantuan!" seru seseorang.
Arci mendengarkan, "Wanita itu" mungkinkah Andini? pikirnya. Ia segera melihat, banyak sekali pasukan Tommy berbelok ke sebuah gang. Arci pun segera mengejarnya, tak salah lagi mereka ingin menangkap keluarganya. Arci segera menelepon Ghea.
"Ghea?" sapa Arci.
"Ya?!" jawab Ghea.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Arci.
"Kacau, di sini terjadi perang! kami.bertahan di rumah!" jawabnya
DOR! DOR! DOR! DOR! Terdengar suara tembakan.
"Apa itu?" tanya Arci.
"Mereka menyerang dengan banyak senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol ini...auhh!" suara Ghea terputus.
"GHEA! GHEA!" teriak Arci, Arci pun segera berlari menuju rumah Rahma yang letaknya memang tidak jauh dari lokasi pertempuran itu, "Tidak. tidak, tidak, aku tidak mau kehilangan kalian. Aku tak mau! aku tak mau!"
I LOVE YOU, HANDSOME.
Rusuh, itulah yang terjadi terlebih ketika dua orang assasin suruhan Tommy tiba di tempat Andini dan yang lainnya berada; Baek dan Tina. Para polisi dan preman-preman yang berjaga melindungi rumah Rahma tak ada yang diberi ampun, mereka semua dibantai. Ghea baru menyadari siapa lawan mereka.
"Ini tidal baik." kata Ghea
"Ada apa?" tanya Andini.
"Mereka bukan orang biasa, mereka pembunuh bayaran profesional. Kalian segera pergi, tak ada yang bisa melawan mereka!" kata Ghea.
Ponsel Ghea berbunyi. Ghea segera mengangkatnya.
"Ghea?" sapa Arci.
"Ya?!" jawab Ghea.
"Bagaimana keadaan di sana?" tanya Arci.
"Kacau, di sini terjadi perang! Kami bertahan di rumah!" jawab Ghea.
Ghea menembakan senjatanya DOR! DOR! DOR! DOR!
"Apa itu?" tanya Atci.
"Mereka menyerang dengan berbagai senjata, pertahanan terakhir kita hanya menggunakan pistol ini...auchh!" Ghea memekik ketika pisau kecil menancap di punggunh tangannya, tampak Tina yang dari kejauhan memainkan pisaunya mulai merangsek masuk.
"Lari!" seru Ghea. Andini yang memegang pistol pun tak punya pilihan lain, dia sama sekali belum menembakan satu peluru pun. Andini dan yang lainnya segera keluar lewat pintu belakang, Singgih dengan kursi rodanya didorong oleh Rahma. Andini, Lian dan Putri segera berlari keluar rumah, tapi ketika Singgih dan Rahma keluar. Sebuah tendangan menghantam tubuh Singgih hingga terjatuh ketanah, Rahma pun terhantam hingga terpental ke dalam rumah lagi. Andini berbalik dan melihat keadaan, dia membidik Baek.
"Pergi dari dia, kamu mengincar aku bukan? sini kamu! aku akan menembakmu! kata Andini.
Baek menginjak-injal tubuh Singgih. Singgih hanya bisa mengerang kesakitan, dia tak dapat berbuat banyak dengan tubuhnya yang tak utuh, ia hanya berteriak, "Rahma! Rahma!"
Melihat Andini menantangnya, Baek segera menghampiri Andini. Andini berusaha menarik platuknya tapi susah, apa yang terjadi? Bahkan sekarang Baek sudah mendekat persis di depannya hingga moncong pistolnya tepat berada di dada Baek. Baek tersenyum geli.
"Bagaimana kamu bisa menembak kalau masih kau kunci?" tanya Baek. Andini terkejut, Baek memberikan hantaman ke perut Andini hingga Andini sulit bernafas. Lian yang melihatnya segera menolong Andini tapi ia terkena tamparan Baek hingga ambruk ke tanah. Rahma yang baru bangun segera mengambil sapu dan menerjang Baek, lalu dia memukulkan sapu itu ke kepala Baek. Kayunya patah tapi Baek masih baik-baik saja. Baek berbalik.
Dia kemudian mengapit leher Rahma dengan siku bagian dalam lalu memelintir leher Rahma hingga berbunyi KRAAK! lalu tubuh Rahma dilempar begitu saja ke tanah. Mata Rahma melotot dia sudah tidak bernyawa dengan gerakan Baek tadi.
Singgih histeris, "Rahmaaa! TIDAAK! Rahmaaa!" Dia berusaha menggapai tubuh Rahma dengan kuatan yang ada, ia mendekati tubuh Rahma sperti penyu yang merayap.
Baek meninggalkan Singgih yang histeris, dia kemudian menggelandang tangan Andini dan Lian. Dia menyeret tubuh kedua wanita yang pingsan itu, tapi di tengah jalan tampak Putri dengan membawa tongkat menghalangi Baek.
"Lepaskan ibuku! Lepaskan!" Kata Putri. Dia segera memukul-mukul Baek, Baek tak merasa sakit. Bahkan dengan tendangan keras ia menendang perut Putri hingga ia terpental dan menghantam kotak kayu yang di atasnya ada tumpukan kasur busa dan Putri pun pingsan.
Sementara itu Ghea terlibat perkelahian sengit dengan Tina. Tina mahir memakai pisau. Tidak, bahkan keduanya mahir. Bedanya adalah Tina mahir menggunakan pisau terbang berukuran kecil, sedangkan Ghea mahir dengan pisau yang lebih besar. Terjadilah adegan melempar pisau yang dilakukan oleh Tina, tapi karena ini pertarungan jarak dekat akhirnya Tina dan Ghea saling beradu pisau mereka. Pisau Tina adalah pisau baja sepanjang dua puluh senti yang biasa digunakan pada senjata laras panjang sebagai sangkur. Sedangkan Ghea lebih ke pisau belati yang biasanya digunakan oleh pasukan-pasulan elite yang terpasang di pinggang atau panggal paha.
TRANG! TRANG! TRANG!
Suara pisau mereka sangat nyaring, sekilas Ghea menoleh ke arah Baek yang telah berhasil menyeret Andini dan Lian, ia pun makin frustrasi , Tina berhasil.menyabet perutnya. Ghea mulai meliuk-liukan pisaunya, dia terus mendesak Tina. Tina tak tinggal diam, ia juga sesekali melempar senjata rahasianya, satu pisau menancap di bahu Ghea, Ghea mencabutnya dan melempar balik, Tina menangkisnya hal itu membuat fokusnya teralihkan sehingga sebuah tendangan menghantam dada Tina hingga terpental ke meja kaca yang ada di dalam rumah.
Tina berguling, tampak pinggangnya tertancap kaca. Ia pun mencabutnya, darah mengalir dari lukanya. Demikian juga Ghea , perempuan berambut merah ini sudah bersiap dengan kuda-kudanya walaupun tangannya berkedut karena sakit akibat tertancap pisau tadi.
"Kita tidak bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini," kata Ghea.
"hehehehe, aku tak perduli. Ternyata aku tak salah memilih lawan. Kamu hebat!" kata Tina.
Ghea kemudian menerjang Tina, Tina pun menangkap Ghea. Keduanya masih menghunuskan pisau mereka dan saling mendorong dengan pisau masing-masing. Tiba-tiba tubuh Ghea meloncat ke atas, Tina sedikit kaget belum sempat kekagetannya hilang tiba-tiba sebuah lutut langsung mengarah ke dadanya dua kali. Hal itu seketika membuat kantong paru-parunya kosong, Tina kehilangan nafas. Ia langsung mundur.
Ghea belum usai, sekali lagi dia menekuk lengan sikunya, kakinya juga ditekuk. Ini adalah kuda-kuda Muay Boran, dia mendekat dengan kaki merendah ke arah Tina dan tanpa Tina sadari Ghea melompat lagi. Kini lututnya tiba-tiba sudah berada di telingany, menghantam kepala bagian kiri. Tina Terhuyung ke kanan bagai gerakan Slow motion, Tina berusaha bertahan agar tidak jatuh. Belum sempat ia menahan keseimbangannya Ghea sudah menendang ulu hatinya, membuat wanita Assaain itu terhempas ke tembok.
Tina memijit-mijit dadanya yang sakit, "Muhay Boran?"
"Ini belumlah apa-apa, kamu salah besat kalau itu adalah hal yang miliki satu-satunya.: ujar Ghea? dia pun melemparkan pisaunya, saat bersamaan dengan sisa-sisa tenaganya Tina juga melemparkan pisaunya hingga kedua pisau itu saling menghantam.
Tina mendoring tubuhnya dari tembok hingga seakan-akan ia melesat terbang ke arah Ghea. Ghea sudah siap, ia memantapkan kuda-kuda kemudian merendahkan tubuhnya. Lalu menerima tendangan dengan tangkisan siku dikaki dan lengannya. Hantaman kaki Tina membuaf Ghea mundur beberapa langkah. Tak butu waktu lama, ia segera melakukan Counter Attack kemudian menyapu kaki Tina. Lalu dengan tendangan memutar kepala Tina dijadikan sasaran empuk tendangan yang dilancarkan Ghea yang ternyata adalah spinning kick. Tina terhempas ke kiri.
Cewek Assasin itu segera berdiri, belum sempurna dia berdiri Ghea sudah melompat ke arahnya dan mendaratkan sikunya tepat ke arah kepala Tina. Jurus itu sungguh telak, kepala Tina langsung robek bersamaan itu tempurung otaknya retak. Tina terhuyung-huyung, Ghea mendekat di depannya dan mengambil sebuah pisau kecil yang di simpan Tina di kakinya, Ghea lalu menusukan pisau itu tepat di dagu wanita Assasin tersebut dan merobeknya. Terakhir dia menghadiahi lututnya hingga tubuh wanita itu terhempas ke lantai.
Pertaurngan itu tentu saja dimenangkan oleh Ghea, Tina terlalu meremehkan Ghea. Tina tewas di tempat dengan leher robek dan wajah tak dapat dikenali lagi. Ghea teringat dengan Andini, segera ia mengejar kemana Baek tadi membawa Andini dan Lian. Ghea terua berlari mengejar Baek yang sudah tidak terlihat lagi, kemana ia harus mengejar?
I LOVE YOU, HANDSOME.
Bersambung RIOT AND CHAOS END