I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
RIOT AND CHASO END



Arci telah tiba di depan Gang, di sana mayat-mayat bergelimpangan dari mulai polisi sampai para preman. Dan yang lebih mengejutkan lagi ia melihat Lian dan Andini diseret oleh Baek dari kejauhan, Baek menuju ke sebuah mobil SUV. Dengan kasar ia melempar andini ke dalam mobil juga dengan Lian.


Melihat itu Arci segera berlari, "Berhenti! berhenti kataku!"


Ghea berjumpa dengan Arci. Arci melihat Ghea terluka perut dan bahunya, Darah mengalir dari kedua luka itu, tapi Ghea merasa tak apa-apa. Keduanya berlari mengejar mobil itu sambil menyerang orang-orang yang berusaha menghalangi langkah mereka.


"Aku tahu ke.mana mereka pergi." kata Arci.


"Kemana?" tanya Ghea


"PT. Evolus."


Dan mereka berdua pun membajak sebuah mobil, kemudian segera menuju ke perusahaan textil milik keluarga Zenedine.


******


Kapten Basuki yang melihat kekacauan ini mendapati Arci yang tampak masuk ke sebuah mobil bersama Ghea. Dia pun segera mengambil sebuah motor milik kepolisian, dia pun mengejar Arci. Kapten Basuki benar-benar tak habia pikir akan terjadi seperti ini, semuanya kacau, rusuh dan ini semua hanya sebuah perebutan harta.


"Kamu terluka?" tanya Arci yang khawatir kepada Ghea.


"Aku tak apa-apa." jawab Ghea.


"Yakin?"


"Sudah kemudikan saja!"


Arci mengemudikan mobilnya dengan kesetanan, tak perduli lampu merah dia menerobos agar bisa segera menyelamatkan Andini dan Lian.


Baek sudah masuk ke dalam halaman perkantoran PT. Evolus, tak berapa lama.kemudian Arci pun menyusul . Melihat Baek menyeret Andini dan ibunya, Arci tampak sangat marah ia pun menabrakan mobil ia kendarai ke mobil SUV yang dikemdarai oleh Baek.


BRRAAAKKK!


Suara hantaman keras itu mengejutkan Baek, segera para penjaga yang berada di tempat itu menuju ke arah Arci. Arci menyerahkan salah satu pistol Desert Eagelnya kepada Ghea dan dua magazinenya, Arci dan Ghea segera keluar dan menembaki para penjaga. Arci dan sepupunya itu segera masuk ke dalam kantor, terjadi baku tembak beberapa petugas keamanan menjadi korban. Sekarang ini Arci lebih prioritas untuk menyelamati Andini, ia tak memperdulikan apa yang ia lakukan.


Saat Arci dan Ghea sampai di depan lift mereka terlambat karena Baek sudah naik ke atas sambil melambai kepada Arci dan di hadapan Arci sekarang ada puluhan orang yang menghadang keduanya.


"Breng**k! kenapa mereka banyak sekali?" gumam Arci.


"Sepertinya tak ada gunanya kita menggunakan senjata api di sini." kata Ghea.


"Kau benar," kata Arci. Ia menyarungi kembali senjata mahal itu. Sebagaimana ia janji kepada Yuswo untuk mengembalikannya. Dia memberikan Katana yang ia bawa kepada Ghea, "Gunakan ini."


Ghea menerimanya, Arci mengeluarkan kapak yang ia bawa sejak tadi. Ghea melepaskan jacketnya dan kemudian membalut luka di perutnya dengan jacket itu agar mengurangi rasa nyerinya. Ia sekarang terlihat memakai kaos singlet you-can-see berwarna hijau dengan b*a yang tercetak jelas, punggung Arci dan Ghea saling memblakangi. Mereka kini dikepung oleh puluhan orang dengan senjata tajam mereka.


"Katakan kepadaku!" kata Ghea, "apa kamu menyesal mengenal keluargaku?"


Arci menggeleng, "Tidak, tapi kehidupan seperti ini jauh lebih menarik."


"Maaflan aku yang telah membawamu jauh ke tempat ini, rasanya aku makin berdosa." kata Ghea


"Tak perlu merasa bersalah, aku sudaj terlalu jauh masuk. Aku akan menikmatinya, setidaknya statusku sekarang tak bisa dianggap remeh sebagai raja preman."


"Kau sinting."


Mendengar kata "pasangan" membuat wajah Ghea memerah. Tapi rasanya adrenalinya lebih terpacu untuk bertarung daripada merasakan debar-debar cinta yang dirasakannya sekarang. Ghea tersenyum, ia mulai siap dengan Katana ditangannya.


"Arci, boleh minta satu hal?" tanya Ghea


"Apa?"


"Kalau kita berdua masih hidup setelah ini, jadikanlah aku istrimu!"


"What? apa yang kau katakan?"


"Dengarlah, di dunia ini tidak ada lelaki yang cocok denganku. Tak ada sama sekali yang bisa menerima Ghea, tak masalah kamu sudah beristri atau tidak. Kabulkanlah permintaan terakhirku ini. Aku siap menjadi nyonya Arczre!"


"Kau sinting. Aku sudah katakan kalau..."


"Cukup! Aku tahu cinta tak bisa dipaksa, dan aku tak ingin hidup terus dengan sakit hati karena kamu menolak cintaku. Bulls**t semua itu. Kita deal?"


"Ini nggak mudah."


"Deal?"


"Arghh...whatever, deal!"


"I love you. Hansome!" bisik Ghea.


Puluhan orang yang mengepung Arci dan Ghea langsung serentak menyerang mereka berdua. Arci segera memutar-mutarkan kapak seperti baling-baling sehingga tak ada satu pun orang yang bisa menghindar dari sabetan kapak itu, begitu pun Ghea. Dia sangat mahir dalam menggunakan Katana yang ia pegang sekarang, akibat dari sabetannya banyak orang yang kehilangan lengan dan jarinya bahkan kepalanya. Perutnya robek, badanya robek tertusuk, bukan hanya dia ahli dalam memainkan pedangnya tapi Ghea seperri mendapatkan kekuatan baru dalam dirinya yang bangkit. ya mungkin itu kekuatan cinta kalau boleh di bolang begitu.


Singkat cerita, akhirnya pulihan orang yang menghalangi mereka berdua dapat dilumpuhkan, dengan sisanya lari tunggang langgang. Tubuh Arci bertambah lukanya karena beberapa sabetan parang yang mengenai punggungnya dab dadanya, tapi lukanya tak begitu dalam. Agaknya Ghea tidak demikian, pahanya berdarah tampak lukanya cukup dalam.


"Kamu tak apa-apa?" tanya Arci memberikan perhatian kepada Ghea dengan memegang bahunya.


"F**k off!" jawab Ghea.


"Kondisimu seperti ini, sebaiknya aku sendirian saja yang ke atas." kata Arci.


"Kamu tak akan sanggup, kita sama-sama." kata Ghea.


"Tidak, kamu di sini. Dengan luka seperri itu kau tak akan sanggup." kata Arci.


"Kamu juga terluka."


"ini tak seberapa, tapi lukamu dalam."


"Luka hati lebih aakit dari pada luka ini."


Arci menghela nafas, "Terserah deh, ayo!"


kedua saudara sepupu ini pun berjalan menuju ke lift. Arci masih memegang kapaknya yang sekarang sudah berlumuran darah. Ghea juga memegang Katananya yang berlumuran darah. mereka berdua menuju lantai teratas, tempat dimana Tommy dan Agua Trunojoyo berada.


Bersambung FOREVER LOVE