
Arci memegang kepala Ghea agar tidak lepas dari pangutannya, keduanya kini telah terlena dalam lupan asmara. Ghea sudah menyerankan semuanya kepada Arci, bahkan hidupnya pun kini telah diserahkan kepada lelaki itu. Mungkin inilah untuk pertama kalinya Ghea akan bercinta dengan rasa yang sesungguhnya. Arci perlahan-lahan mengubah ciumannya ke leher, darah Ghea mulai mengalir ke ubun-ubun. Arci menuntun Ghea hingga berbaring di ataa ranjang.
Ghea terlena dengan perlakuan pria yang sekarang telah menjadi suaminya itu sangat lembut. Siapa bilang singa berina harus ditaklukan dengam cara yang kasar? Buktinya lelaki itu telah menaklukan dirinya dengan cara yang sangat lembut, entah mengapa Ghea sudah merasa sangat berhasrat padahal ia baru berpangutan dengan Arci.
"I love you." bisik Arci
Perasaa. Ghea .melayang saat ini, "I love you to handsome."
Kedua insan ini untuk semenit lamanya terengah-engah, peluh mulai bercucuran dari keduanya. Arci tak pernah membayangkan akan bercinta seperti ini dengan Ghea, bercinta dengan penuh perasaan . Ia seperti ingin menumpahkan seluruh perasaan yang pernah ia miliki kepada Safira dan Andini untuk Ghea. Dan ia telah tumpahkan semuanya perasaan itu sekarang, Ghea menerima cinta Arci, menerimanya dengan tangan terbuka dan semburan cintanya benar-benar bersarang di rahimnya.
Arci kini duduk sambil merenung, Siluet masa lalunya datang kembali. Dia memang sudah terlalu jauh melangkah, dia tak pernah merasa bahagia. Selama ini ia hanya bersama ibu dan saudari-saudarinya saja, sebenarnya hidup bersama mereka sudah cukup bahagia. Ia tak perlu itu semua, kenapa waktu itu ia menyetujui begitu saja menjadi pewaris Archer. Ia sebenarnya bisa saja menolak. Hanya karena harta, orang-orang yang dicintainya harus pergi meninggalkannya. Arci kini menoleh ke wajah Ghea yang kini tertidur pulas karena kelelahan, mungkin inilah saatnya ia akan mendapatkan kebahagiaan. Apakah memang Ghea adalah cinta sejatinya sekarang?
Arci menghela nafas, sekali lagi ia teringat dengan Safira. Ia masih ingat bagaimana Safira menyentuhnya, ia juga masih ingat bagaimana Andini menyentuhnya. Kedua orang wanita itu adalah cinta pertamanya dan ia tak akan bisa melupakannya begitu saja, Arci sudah bertekad agar dia membahagiakan Ghea. Semoga saja bisa.
******
Pagi telah datang, Ghea telah bangun. Matanya terbuka dan menyapu kearah sekitar, tak ada Arci di sampingnya. Tubuhnya serasa pegal semua, tadi malam adalah hal yang paling hebat dalam hidupnya. Dia tak pernah bercinta seperti itu dan ia merasa puas, sebuah kelelahan yang tidak pernah ia sesali. Dengan langkah gontai ia beranjak.dari ranjangnya.
Arci saat itu sudah memakai baju rapih kemeja.lengan panjang warna putih dan sebuah jas hitam, dia akan menemui seseorang hari ini. Ghea mendengar suara mobil di luar rumah, ia mengintip dari jendela dan tampak suaminya sudah melajukan mobilnya dengan berpakaian rapih. Ghea penasaran kemana pagi-pagi sekali Arci sudah pergi.
Setelah beberapa waktu melaju dan berkeliling Arci pun tiba di sebuah rumah kontrakannya dulu, dia mengenang sejenak masa-masa menghabiskan waktu bersama Safira di rumah ini. Kemudian ia melanjutkan. perjalanannya hingga menemuo rumah dipinggiran kota, Rumah yang teduh dan banyak ditanami tanaman hias.
Ketika Arci tiba, seseorang dari dalam rumah keluar. Dia adalah Araline, dia membawa tongkat sambil dipapah oleh suaminya. Johan membisikan sesuatu ke telinga wanita buta itu.
"Mommy," sapa Arci.
"Anakku."
Arci segera memeluk Araline dan Johan.
"Kamu tak apa-apa nak? Kamu baik-baik saja? Araline berkali-kali mengusap wajah Arci.
"Iya, Bagaimana kabar kalian?"
"Kami mulai menata hidup, kurasa semuanya akan baik bila bersamamu!" kata Johan.
"Aku berterima kasih kepada kalian, aku tetap akan menatap masa depanku. Mungkin peristiwa kemarin membuatku lebih kuat lagi, aku berterima kasih karena kalian baik kepadaku dan aku minta maaf karena tidak mengundang kalian kemarin."
"Mengundang?" Araline terheran-heran.
"Aku dan Ghea kemarin menikah."
"Ghea. Ya ampun, betulkah itu? Aku tak menyangka Ghea biaa juga takluk sama lelaki hahahahaha." Araline tertawa.
"Mommy, untuk itu aku akan mengajak kalian makan siang di restoran yang kalian inginkan."
Araline dan Johan tertawa , paling tidak Arci ingin memberikan kebahagiaan juga kepada mereka. Siang itu pun mereka makan siang bersama, bercanda dan tertawa. Tak ada lagi raut kesedihan pada wajah Araline, makan siang itu terasa nikmat, terasa hangat. Hingga sebuah panggilan telepon diterima Arci. Dari Ghea.
"Ada di mana?" tanya Ghea
"Ada di tempat mommy." jawab Arci.
"Ahh...kita belum mengundang mereka." kata Ghea cemas.
"Kamu mau bicara dengan merek?"
"Kasihkan! Kasihkan!" kata Ghea.
Arci menyerahkan ponselnya ke Araline. "Dari Ghea."
Araline menerimanya "Ghea?"
"Tante? Maaf ya, kemarin tak mengundang soalnya kami tak bikin pesta."
"Tak apa-apa, tante mengerti, selamat yah. Kamu sekarang dipilih oleh Arci, tetaplah di sampingnya. Dia butuh seorang wanita yang kuat sepertimu agar di saat dia rapuh akan selalu ada yang menjaganya. Ah, bagaimana kamu bisa ditaklukan oleh dia?"
Arci nyengir mendengar Araline bicara seperti itu. Johan tertawa keras.
"Ah, tante ini. entahlah." Ghea tersipu-sipu.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Setelah acara makan siang , Arci menemeui seseorang lagi. Siapa lagi kalau bukan Yuswo, Yuswo saat itu sedang di rawat di rumah sakit karena kangker paru-paru. Ternyata kebiasaanya merokok membuat paru-parunya sekarang berlubang, melihat Arci datang semua orang yang berada di luar kamar langsung menyambutnya. Mereka semua tentunya tahu siapa Arci sang pewaris kekuatan Yuswo, begitu masuk kedalam kamar perawatan. Arci langsung bertemu dengan Yuswo yang sedang diapit oleh istri dan anaknya, melihat Arci masuk. Yuswo memberi isyarat agar semua keluar ruangan terlecuali Arci, setelah di ruangan itu hanya ada Yuswo dan Arci saja lalu Atci duduk.
"Merokok bisa membunuhmu, agaknya benar kata-kata itu." ujar Arci.
"Ironis khan? Selama puluhan tahun jadi preman, rokok malah membuatku seperri ini. Hahahaha uhuk..
uhuk...uhuk!" kata Yuswo terbatuk-batuk. Ia mengambil masker oksigennya lalu menghirupnya.
"Aku berterima kasih." kata Arci.
"Kenapa berterima kasih padaku? Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Karena kalau bukam kamu yang membayar biaya rumah sakit ini lalu siapa? hehehehe, lagi pula aku senang memiliki penerus hebat sepertimu. Kota ini sudah kamu kuasai, kamu sudah mempunyai segala-galanya sekarang. Kemanapun kamu pergi akan dihormati, aku memang sudah waktunya pensiun. Kamu masih muda. jalanmu masih panjang."
"Aku belum.menemukan Tommy, polisi juga.mencarinya. Selama lima tahun ini, entah dia bersembunyi dimana." kata Arci sambil memberikan wajah penyesalan.
"Tak usah khawatir, tak perlu kau risaukan dia. Hidupnya sekarang pasti menyedihkan karena dia tak akan bisa kembali lagi ke kota ini, kota ini seperti tidak akan bisa menerima dia lagi. Setiap sudut kota mempunyai mata yang membiat dia seakan-akan diawasi dan setiap hembuaan angin di kota ini akan membuat dia terasa sesak."
"Aku kemari hanya untuk.mengucapkan terima kasih." kata Arci.
"Sudah kubilang, tak perlu berterima kasih."
"Justfu kalau aku tidak berterima kasih, aku seperti murid durhaka kepada gurunya."
Senyum tergurat di.bibir Yuswo sang preman. Ia pun menghela nafas. "Sudah, sudah. Sekarang pergilah, kamu mengganggu istirahat siangku saja."
Arci tertawa, "Aku akan menunggumu di luar, kudengar ada kolam pemancingan yang baru dibuka. Kuharap kita biaa memancing bersama."
"Mancing itu bikin tua, kamu tak pantas."
I LOVE YOU HANDSOME.
Pada sore harinya Arci tiba di rumah Lian. Ibunya tampak sedang menulis sesuatu, dia sekarang menekuni bidang fashion. Ternyata semenjak Arci di dalam penjara dirinya banyak berubah, pensiun dari dunia pela**ran dan mengantarkannya ke dunia yang sangat baru.
Setidaknya kalau anaknya mempunyai sebuah perusahaan textil maka dia harus bisa juga dibidang itu, selama tiga tahun dia menekuni mode. Mendesain busana dan membuatnya, pekerjaanya itu menghabiskan waktu juga. Putri sekarang sedang sibuk-sibuknya karena akan masuk kuliah, rumah Lian tinggali tampaklah sepi. Begitu Arci masuk, Lian langsung menyambutnya.
"Dari mana?" tanya Lian.
"Dari berkeliling-kliling." jawab Arc.
Rumah yang ditempati Lian dan Putri adalah rumah Archer, sengaja sengaka Lian memilih rumah itu agar kenangannya bersama Archer bisa kembali lagi. Mungkin berbeda dengan semua yang pernah ia rasakan tentang kenangan pahit maupun manis, tapi bagi Lian kenangan dengan Archer adalah kenangan yang paling manis. Dia sampai sekarang masij bisa merasakan bagaimana bibir Archer menciumnya untuk pertama kali.
"Bagaimana kabar Putri?" tanya Arci sambil menuju ke dapur mengambil air minum.
"Ya, kamu tahu sendiri, sibuk dengan persiapan masuk kuliahnya," jawab ibunya.
"Kudengar dia ingin ngekost, kenapa tidak tinggal di sini saja menemani ibu.?"
"Yah, kamu tau sendiri? dia tak ingin dimanjakan oleh kakaknya. Lagipula kalau misalnya kamu ada terus di dekatnya, mana dia laku? Dulu saja cowok-cowok sampai tidak mau mendekati Putri karena takut dengan dirimu."
Arci tertawa, ia.membuka tutup makanan di meja dapur. Ada tonseng cumi dan semangkuk sup.
"Makan saja kalau lapar?" kata Lian.
"Sebenarnya aku sudah makan, aku amibl cuminya saja deh," kata Arci sambol mengambil beberapa sendok tonseng cumi.
Lian pun ikut nimbrung di meja.makan, mereka pun kemudian bercerita banyak hal. Sidah lama Arci tidak bicara seperti ini dengan ibunya, ia jadi merindukan kehadiran Safira. Biasanya di saat seperti ini Safira pasti menggodanya dengan mengambil makanan yang ada di piringnya.
"Aku jadi teringat Safira," Arci memulai lagi, ia menyudahi makannya. Lian pun beranjak dan memeluk kepala anaknya. Air mata Arci meleleh, ia sangat rindu dengan kakaknya itu.
"Ssshh... sudah, nggak usah difikirkan. Dia sudah tenang di sana." kata Lian, "Kamu sekarang yang tabah saja, lupakan hal yang sudah lalu. Ibu juga sangat kehilangan, karena Safira lahir dari rahim ibu."
ponsel Arci berbunyi. Panggilan dari istrinya.
"Iyah halo?!" sapa Arci.
"Ada di mana sayang?"
"Di rumah ibu...srrk.." Arci mencoba mengjapus air matanya.
"Apa yang terjadi? Kamu menangis?" tanya Ghea.
"Iya, tapi nggak apa-apa koq. Hanya teringat kenangan lama," jawab Arci.
"Oh, aku mengerti
Ya sudah, nginap saja di sana kalau itu bisa membuat hatimu lebih baik," kata Ghea.
"Baiklah, mungkin seperti itu. Lagipula ibu sendirian di sini, aku ingin menemani beliau dulu hari ini." ujar Arci.
"Dari Ghea? Boleh ibu bicara?" tanya Lian.
Arci menyerahkan ponselnya.
"Ghea??" Lian pun mulai mengobrol melalui ponsel Arci.
Lian menyerahkan ponsel Arci dan meletakanya di meja makan, "Kamu nginap di sini saja, temani ibu."
******
Pagi harinya Arci sudah bangun lalu ia mandi kemudian berpakaian bersiap untuk pergi, sebelum beranjak pergi ia sempatkan terlebih dahulu mencoum kening ibunya yang masih terlelap tidur.
Tahun demi tahun berlalu.
Mungkin yang disebut dengan masa kejayaan adalah seperti sekarang ini, dimana Arci menjadi penguasa. Walaupun ada struktur pemerintahan, tapi dia lebih bisa disebut sebagai penguasa sejati. Dia menguasai kota yang ia tinggali, mengawasi setiap bisnis-bisnis gelap di kota ini dan juga mengeksekusi orang orang yang tidak mengikuti perintahnya.
Semenjak Yuswo meninggal, dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat dimana Yuswo selama hidupnya berada. Banyak orang loyal kepadanya, tapi ada juga yang mengkhianatinya.
Dari Ghea Arci memiliki anak, sekalipun menjadi ibu bukan berarti kemampuan Ghea menurun. Dia tetap sebagai seorang wanita yang mahir dalam melakukan sesuatu yang tidak biasa, Bahkan pernah ada sebuah kejadian dimana dia harus menebas orang itu di tempat umum dengan Katana yang ia miliki karena berani menggoda dia.
Ceritanya ketika dia sedang berbelanja di pasar, dan semua orang juga tahu siapa Ghea. Di pasar tradisional itu kebetulan saat itu dia mendampingi Arci, sedangkan Arci meninggalkannya sebentat katena ada suatu urisan. Datanglah orang yang tidak dikenal menggoda Ghea, awalnya ia dengan berani menepuk pantat Ghea. Semua orang langsung menyingkir saat itu, ya mereka takut akan sesuatu hal. Tapi dengan sombong orang itu malah tertawa.
"Kalian kenapa?" tanya orang itu heran, "Maaf nona, apakah punya nomor telepon?"
"Masnya orang baru di sini?" tanya Ghea.
"Oh iya, kenalkan namaku Karebet," jawab lelaki yang bertatto itu, dia memang baru tiba di kota Malang. Hari ini harusnya ia bekerja sebagai salah satu anak buah Arci mengawasi pasar. Tapi agaknya hanya diberi kekuasaan sedikit lelaki itu menjadi pongah.
Ghea tersenyum mendengarnya, ia berbalik hendak meninggalkan orang itu. Tentu saja ia tak ingin berurusan dengan lelaki itu, mata hijau Ghea ternyata telah menggoda lelaki itu. Dengan segera lelaki itu menghadang jalannya.
"Ayolah nona, siapa tahu kita biaa kenal.lebih dekat. Nona tahu siapa saya? Saya orang yang menguasai pasar ini, nggak akan ada yang berani sama saya." kata orang itu.
Ghea tersenyum, dia memberikan aba-aba. Tiba-tiba orang berkacamata hitam dan memakai jas dan dasi hitam berkemeja puti mendekat kepadanya sambil membawakan dia sebilah Katana, tentu saja lelaki yang menggodanya terkejut bukan main.
"Loh, loh, loh?"
Ghea dengan sekejap mengayunkan Katana itu hingga menebas leher lelaki hidung belang itu. Baru diberi kekuasaan sedikit dia sudah pongah.
Darah langsung mengucur dari leher yang ditebas itu, ajudan Ghea segera membuka payung, agar darah darah lelaki itu tidak mengotorinya. Ghea meninggalkan tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
Arci buru-buru datang ketika dikabar bahwa anak buahnya dibunuh oleh Istrinya. Ia tiba ditempat kejadian perkara dan melihat orang-orang berkerumun, Ghea tampak sudah berada di dalam.mobil menunggu sambil bermain bersama anaknya. Arci hanya menggeleng-geleng.
"Ahh dasar preman, susah diatur," gumam Arci sambil melihat mayat orang yang tidak beruntung itu.
Bersambung AKU DATANG