
SERIBU KERINDUAN
Pukul tiga pagi tak ada yang istimewa saat itu, kecuali malam mulai galap, udara mulai dingin Ghea sudah tertidur di luar sana dengan jacketnya, ia lebih memilih tidur di mobil untuk berjaga-jaga kalau-kalau ada yang datang. Lian dan Putri sudah tertidur karena kelelahan, Andini dan Arci berbaring di atas kasur yang ada di ruang tengah. Lampu sudah dimatikan, tapi sinar samar-samar yang masuk dari sela-sela jendela dapat digunakan mereka untuk melihat. Apalagi di depan rumah ada lampu penerangan jalan dan teras yang cukup terang.
Andini menciumi Arci, tampaknya ia tak ingin melepaskan bibirnya itu dari bibir suaminya, Arci sedikit mendorongnya.
"Ciuman terus? Nggak pegel tu bibir?" kata Arci dengan suara rendah.
Andini tersenyum, "Biarin."
Mereka pun terlelap dalam keheningan lagi, Arci tak bisa tidur mungkin karena ditemanj Andini.
"Kita boleh nggak sih begituan di sini?" tanya Andini.
"Hmm? Begituan?"
"Ih, kayak nggak tau aja."
"hehehehe, terserah sih. Tapi kalau sampai berisik malu juga kan?"
"Kamu nggak tahu ya? tadi yang matiin lampunya kan Rahma. dia juga pasti ngerti dong kita kepengen gimana."
"Sok tahu kamu."
"Tapi Yang aku beneran, lakuin itu yuk?" ajak Andini.
"Serius?"
"Pliiss, pera**nin aku sekarang, aku ingin memberikan semuanya untukmu malam ini."
Arci tahu kerisauan Andini, Keinginan Andini sebenarnya juga sama seperrinya. Ia belum memberikan nafkah batin kepada istrinya, apalagi setelah menikah malah diributkan dengan persoalan Tommy. Ia juga merasa tidak enak kepada Rahma, apalagi mereka melakukanya diruang tengah. Takut saja kalau-kalai ada yang lihat, tapi melihat Andini yang memelas Arci pun tahu bahwa kerinduan Andini sudah tak tertahankan lagi. Tidak banyak orang yang akan kuat ketika setelah menikah harus ditinggal oleh kekasih hatinya.
Malam ini Arci masih membelai rambut Andini, dengan cahaya remang-remang itu di dalam selimut tebal yang mereka rasakan. Tanpa merasakan mewahnya tempat tidur, mewahnya kekayaan, inilah yang sebenarnya yang ingin dirasakan oleh Arci. Ia tak ingin Andini melihatnya sebagai orang kaya yang punya segalanya, Andini ingin melihatnya sebagai seorang Arci, manusia biasa yang punya kelemahan. Kelemahan Arci adalah orang-orang yang dicintainya, juga dirinya. Andini sejurus kemudian melepas baju Arci sehingga ia bertelanjang dada.
"Oh sayangku, sakit ya ketika kamu ditembus peluru-peluru itu?" tanya Andini sambil mencium bekas lukanya.
"Sekarang sudah tidak," jawab Arci.
"Oh sayangku, biarkanlah aku menjadi obat penawarmu malam ini biarkan engkau menikmatinya." bisik Andini sambil terus menciumi bekas luka itu. Arci perlahan-lahan menarik baju yang dipakai Andini. istrinya itu pun membantunya untuk melepaskannya.
"Aku bahagia sayangku, akhirnya kamu melakukanya," kata Andini.
Mereka masih berpangutan mesra, setelah itu buru-buru mereka memakai bajunya kembali. Takut kalau nanti bangun seluruh isi rumah kaget melihat mereka berdua telanjang. Hari sudah masuk subuh ketika mereka tertidur sambil berpelukan dan Andini menyunggingkan senyuman dalam pelukan suaminya.
I LOVE YOU, HANDSOME.
Rumah Rahma ini jadi makin ramai dengan kehadiran Arci sekeluarga. Ghea masih sibuk dengan mobil dan persenjataannya di luar. Ia tak ingin memperlihatkan perasaan cemburunya, dia lebih memilih di luar. Lian dan Putri akhirnya bisa tidur malam itu, Arci dan Andini sangat berterima kasih kepada Rahma dan Singgih.
"Sekarang apa yang kita lakukan?" tanya Andini.
"Aku tetap harus menghancurkan mereka," jawab Arci.
Andini menghela nafas, ia ada rasa khawatir sebenarnya. Perasaan khawatir akan kehilangan suaminya, terlebih urusan dengan mafia bukan urusan yang ringan.
"Aku khawatir," kata Andini.
"Khawatir kenapa?"
"Kamu tahu aku sangat mencintaimu, aku tak mau kehilangan kamu. Tak bisakah urusan balas dendam ini selesai begitu saja?"
"Aku tak bisa, aku sudah melangkah terlalu jauh. Aku tak ingin kehilangan dirimu, karena mereka sekarang sedang mengincar dirimu."
"Kenapa kita tidak lari saja, pergi jauh dari mereka dan menyembunyikan diri tak akan ada orang yang mengetahui. Kita hidup bahagia selamanya?"
Arci menoleh ke arah Andini, wajahnya yang cantik itu tampak lebih manis dengan senyumannya. Arci menghela nafas, "Andai aku bisa."
"Cici, Safira sudah pergi. Kamu tak akan bisa mengembalikan dia, apapun yang kau lakukan nanti."
"Aku tahu, tapi aku tak bisa. Aku harap kamu mengerti."
"Aku tidak mengerti."
Arci menempelkan keningnya ke kening Andini, "Percayalah, ini tak akan lama."
Arci meninggalkan Andini sendirian yang saat itu ada di halaman rumah, ia lalu menghampiri Ghea yang tampak sedang merawat senjata-senjatanya yang ada di bagasi. Andini sudah sudah bertemu dengan suaminya, ia sangat takut kehilangan sekarang. Terlebih Arci saat ini Arci lebih dekat dengan Ghea, Andini serasa cemburu.
Sementara itu dari jendela kamar tampak Rahma mengamati Arci dan Andini, ada sesuatu yang ia simpan sendiri. Melihat Singgih yang sekarang sedang tidur di atas ranjangnya ia pun menjadi gundah sekarang, "Maafkan aku suamiku walaupun kamu sudah datang, tapi...aku merasa kehilangan Arci sekarang. Aku mencintainya...." Rahma meneteskan air mata.
Dalam hati rasa kerinduan telah sirna bukan dengan kedatangan Singgih, tapi kedatangan Arci. Dialah yang sangat khawatir semenjak peristiwa pernikahannya itu, dia memang masih mencintai Singgih tetapi ada perasaan lain yang tak dapat ia ucapkan. Sesuatu itu adalah mencintai seorang yang sudah beristri. Hatinya pun resah.
Beesambung RAJA PREMAN