I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
TAPI AKU CINTA



Kejadian di kantor PT Evolus sungguh menghebohkan, Jatmiko tewas dengan luka tembak di kepalanya, dia seolah-olah seperti menembak kepalanya sendiri. Dari orang-orang hinga para polisi semuanya menyangka demikian. Tapi tidak bagi Arci dan Andini yang tahu bagaimana kekuarga Zenedine, mereka bisa saja melakukan hal tersebut. Tapi siapa?.


Arci dan Andini berada di ruangannya, mereka berdua tampak membisu. Antara cemas, takut dan khawatir semuanya bercampur jadi satu.


"Seharusnya tidak terjadi seperti ini bukan?" tanya Andini.


"Iya, seharusnya tidak begini. Aku takut Jatmiko dihabisi ketika sang pelaku takut kalau ia membocorkan rahasia perusahaan ini, tentang pengiriman barang ekspor itu. Aku sunggu tak menduga sama sekali, ini benar-benar gila," Arci menghirup nafas dalam-dalam.


"Aku jadi takut." kata Andini.


Arci segera beringsut ke Andini, "tak perlu takut. Aku akan berusaha melindungimu."


"Tapi...Aku khawatir kalau nanti terjadi sesuatu kepadamu." kata Andini.


"Aku tak akan apa-apa, sebaiknya siapkan saja dirimu. Bukankah kita sebentar lagi akan menikah, aku akan datang ke rumah mu secepatnya untuk melamarmu."


Andini tersenyum, "baiklah, secepatnya itu kapan?"


"Kamu bisanya kapan?"


"Kapan-kapan."


"Besok?"


"Ayo aja."


"Ok, besok."


Arci menarik tangan Andini dan memeluknya, tiba-tiba ia teringat dengan Safira. Apakah ia harus jujur kepada Andini tentang hubungannya dengan Safira yang melebihi saudara kandung.


"Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan, tapi aku tak tahu bagaimana menceritakannya." kata Arci.


"Ceritakan saja?"


"Tidak, nanti saja. Aku belum siap, aku takut kalau aku cerita maka aku akan kehilangan dirimu."


Andini mengerutkan dahi, "Apa? kenapa, koq bisa begitu?"


"Hmmm..ini rumit."


"Kamu punya pacar?"


Arci menggeleng.


"Punya istri?"


"Aku belum.menikah non."


"Gay?"


"Aku normal."


"Hmm, pernah menghamili anak orang?"


Arci menggeleng.


"Trus apa dong?"


"Beri aku waktu, tapi yang jelas aku butuh jaminan dulu."


"Apa?:


"Kalau aku cerita , kamu jangan tinggalin aku ya?"


"Kalai itu hal yang baik, kenaoa kamu harus takut?"


"Ini hal yang tidak baik."


"Oh."


"Bagaimana?"


Andini terdiam beberapa saat, "Apakah ini bisa mengganggu hubungan kita?"


"Bisa iya, bisa tidak."


"Wajah Andini menampakan raut wajah heran, "Trus?"


"Nanti yah, aku ingin merangkai kata-kata yang pas dulu."


"Baiklah"


I LOVE YOU, HANDSOME.


Ghea meletakan piatol Glocknya di meja, lengan baju jaketnya terkena cipratan darah. Ya, dialah yang membunuh Jatmiko, di depannya sekarang ada Pieter yang sedang menikmati cerutu dan wine. Melihat kedatangan Ghea di ruangannya, dia pun tahu bahwa Ghea baru saja melakukan sesuatu.


"Jatmiko?" tanya Pieter.


"Iya, ada yang mengepak barang-barang haram itu ke dalam box untuk diekspor ke luar negeri. Sebenarnya ia ingin mengirim ke Vietnam." jawab Ghea.


"Breng**k, kita tak pernah mengekspor itu ke Vietnam. Siapa yang memberi dia otoritas itu?"


"Aku masih belum tahu."


"Aku tak menyangka ada anggota keluarga kita yang berusaha keluar jalur. Bagaimana dengan Arci?"


"Aku telah menyelidiki tentang dirinya, dia bersih, tak pernah berbuat kriminal, masa lalunya cukup kelam demikian juga keluarganya. Hanya saja kemarin Amanda pergi ke rumahnya."


"Hmm, itu wajar. Dia ibu tirinya, lalu?"


"Dia begitu mengetahui kokain tersebut ada diproduk PT. Evolus, dia marah besar. Dia memusnahkan semua produk yang terdapaf kokainnya, ternyata dia boleh juga."


"Dia terlalu lurus, hal itu akan merusak beberapa usaha kita. Di salam keluarga ini semuanya saling makan, aku tak ingin dia juga jadi korban."


"Kenapa ayah?"


Pieter tidak menjawab.


"Dia bukan siapa-siapa terus terang, aku merasa ayah terlalu menganak emaskan dirinya."


"Tenanglah, bukan begitu maksudku. Aku ingin kamu bisa melindungi dia, sebab seperri sebelum-sebelumnya ada orang yang tak suka kepadanya di keluarga ini yang ingin menghabisi pemuda itu. Apalagi sekarang ini dia adalah sang pewaris tahta, apa yang baru saja ia lakukan akan berdampak besar. Aku yakin sebentar lagi akan heboh berita di surat kabar tentang barang yang diselundupkan itu, aku ingin kamu mencegah para wartawan itu untuk mencetak atau memberitakan hal itu. PT. Evolus harus bersih dari berita negatif."


"Baik ayah."


I LOVE YOU, HANDSOME.


Hari ini Arci sedang galau. Ya, galau karena ia ingin berterus terang kepada Andini tentang keadaan dirinya dan Safira. Safira tak bisa lepas dari Arci dan juga sebaliknya, dia takut keadaan ini tidak bisa diterima oleh Andini.


Malam itu Arci mengajak Andini ke taman merbabu, mungjin karena malam hari maka taman itu tampak sepi. Arci duduk di salah satu ayunan dan Andini di ayunan sebelahnya, mereka memang belum pulang setelah selesai dari kantor.


"Jadi mau bicara apa?" tanya Andini.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Arci memulai.


"Yah kalau ditanya dari peristiwa akhir-akhir ini boleh dibilang pikiranku kacau, aku shock ketika kejadian di Villa ditambah lagi dengan barang selundupan itu. Everything seem F**ked up!"


"Yeah, i agree."


"Din...?"


"Ya"


"Aku mencintaimu"


Andini menoleh ke arah Arci, dia tersenyum. "Aku juga."


"Arci menoleh ke arahnya, mereka berdua saling beroandangan. "Aku sangat, sangat mencintaimu dan aku tak ingin kamu pergi."


Arci terdiam dan memandang kakinya sendiri.


"Ada apa sih?" Andini pensaran.


"Kamu tahu, aku mencintai keluargaku. Ibuku, kakakku, dan juga adikku."


"ya, aku tahu itu."


"Dan terkadang aku melakukan apapun untuk mereka. Apapun."


"Aku mengerti."


"Tidak, kamu tidak mengerti Din." Arci berdiri.


"Bagaimana maksudnya?"


"Sejujurnya, Aku dan Safira saling mencintai. Maksudku Safira mencintaiku."


"Aku bisa tahu itu."


"Bukan itu, dengarlah. Kamu adalah Wanita yang paling aku cintai setelah wanita-wanita di keluargaku, dan aku sangat ingin mebikahi mu, membangun keluarga kecil kita. Tapi aku tak bisa menafikan Safira, karena aku dan Safira juga aaling mencintai. Dia membutuhkanku, aku tak ingin dia menjadi pela**r lagi, cukup sudah bagiku melihat dia di sewa oleh pria-pria hidung belang dan aku tak sanggup melihat keluargaku mengais rejeki dengan cara demikian."


"Maksudmu kamu dan Safira..??"


"Iya. Kami melakukan hal yang tabu bagi semua orang, aku tahu kamu bakal terkejut, mungkin juga jijik,marah, entahlah."


Andini terdiam dan mengalihkan wajahnya.


"Maafkan aku, tapi ketahuilah aku sangat mencintaimu."


Andini kemudian bangkit, ia beranjak dari ayunan. Dadanya terasa seaak, entah apa yang ia rasakan saat ini. Rasanya kejujuran itu sangat pahit dan getir, tapi seharusnya tidak seperti itu juga. Andini dan Arci terdiam, tak tahu apa yang harus mereka katakan lagi.


"Bicaralah?" kata Arci "Aku harus bagaimana Din?"


Andini menarik nafas dalam-dalam, "Aku tak tahu."


"Setelah apa yang aku katakan, apa kamu masih mencintaiku?"


"Aku tak tahu."


"Din..!?" Arci hendak meraih Andini tapi Andini mengelak.


"Maaf, biarkan aku berpikir." Andini pun pergi mininggalkan Arci.


"Din, tunggu. Ayolah jangan begitu, tolonglah apa yang harus aku lakukan?"


Andini tak menjawab, air matanya keluar. Ia meninggalkan Arci sendirian di taman itu, kini suara dedaunan yang berguguran di musim kemarau pun membuat sebuah alunan nada yang sesuai dengan perasaan hatinya saat ini.


Ah, andainya ia tak usah mengatakan hal tersebut kepada Andini. Tapi Andini harus tahu, Arci menghela nafas panjang. Ia tahu pasti akan ada komsekuensi dari kejujuranya itu. Tapi ia masih.mencintai Andini.


"Andini, aku sangat mencintaimu," gumam Arci, kemudian ia pun berbalik pergi meninggalkan taman itu.


Andini oulang ke rumah dengan mata sembab, hal itu tak bisa disembunyikan. tentu saja ia menangis sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. "Arci sang penghianat" mungkin itulah yang ia tetapkan padanya. Arci sang penghianat! kenaoa dia melakukan hal itu keoada kakaknya sendiri?? Apapun alasannya seharusnya ia tak melakukannya. Andini marah, kesal, Ia membanting pintu mobilnya dan segera masuk rumah.


Melihat putrinya seperti itu. Susiati tampak keheranan, ia segera bertanya "Ada apa Din?"


Andini tak menjawabnya ia langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Gadis itu pun ambruk di atas kasur dan membenamkan wajahnya ke bantal , ia menangis lagi.


"Arci mengapa? Padahal selama ini aku menantikan dirimu, aku mencintaimu..."


I LOVE YOU, HANDSOME.


Sementara itu di kediaman Pieter Zenedine.


"Bagaimana tanggapanmu tentang Arci? tanya Pieter kepada Amanda.


"Dia anak yang baik, seperti ayahnya." jawab Amanda. "Menurutmu, ia akan bisa diterima di keluarga ini?"


"Tindakanya di kantor telah membuktikan ia sangat serius untuk mengurus perusahaan, aku cukup bangga kepadanya. Hanya saja dia terlalu lurus, aku takut dia akan menggapai apa yang yang menjadi lumbungku."


"Aku sudah menyuruhnya untuk bisa dekat denganmu."


"Oh, kenapa begitu?"


"Karena dia anakku di mata hukum, dan aku sebentar lagi akan kamu nikahi. Bukankah itu pantas?"


Pieter mencium kening Amanda. "Hanya saja, orang yang dulu berusaha membunuh Arci dan keluarganya masih belum aku temukan. Bahkan ketika Archer menyuruhku untuk menyelidikinya, malah aku masuk penjara."


"Menurutmu siapa?"


"Aku tidak tahu, tapi aku akan berusaha sekuat tenagaku menolong dia. Ghea sudah bergerak menyelidiki."


"Semoga saja kita segera tahu siapa orang yang melakukan ini semua."


I LOVE YOU, HANDSOME.


Pagi itu suasana kantir sibuk seperti biasa, hanya saja ada yang berbeda dengan Andini. ia terlihat dingin bahkan ketika berpapasan dengan Arci. Ia tampak membuang muka, Arci pun tak tinggal diam. Ia segera masuk ke ruangan Andini.


"Din!? panggil Arci. Arci menutup pintu ruangan kerja Andini, "Din, aku...."


"Maaf pak,...kalau memang ada hal yang penting segera katakan saja aku sibuk." kata Andini dengan dingin.


"Din, jangan begitu. Aku menemuimu, karena aku mencintaimu. maafkan aku,"


"Keluar!? perintah Andini.


"Din, mengertilah!"


"Kumohon keluar!" Andini memelas, bulir-bulir air mata mulai keluar dari matanya.


"Din, apakah kamu tak mencintaiku lagi?"


Andini tak menjawab.


"Setelah apa yang kita lakukan? Aku tidak bisa meninggalkan Safira, aku ingin minta maaf. Kalau kamu ingin kakaku pergi aku tak bisa, dia butuh aku apalagi setelah dia tak diakui oleh ayahnya sendiri. Ke mana lagi ia harus pergi? Mengertilah, hal ini tak seperti yang kamu pikirkan! Dan..aku butuh kamu."


"Pergi dari ruanganku, kumohon..."


"Apakah hubungan kita berakhir begitu saja?"


Andini tak menjawab.


"Kenapa? karena satu kesalahan ini kamu tak memaafkanku? Din, aku butuh kamu."


"Arci, pergilah."


"Aku ingin kamu dengar alasanku dulu."


"Tidak ada yang perlu dibicarakan, Keluarlah kumohon atau aku yang akan pergi."


"Apa hanya sampai disini Din?"


"Iya, sampai disni."


"Kenapa? bukankah selama ini aku berusaha untuk menepati janjiku? Dan kamu juga menungguku."


"Cukup Arci, cukup! Pergilah kumohon."


"Baiklah, aku pergi kalau kamu memaafkanku dan ingin.mendengarkan semua penjelasanku. Aku akan menunggu mu di taman merbabu nanti, aku akan semalaman menunggumu di sana. Aku pamit!"


Arci pun pergi neinggalkan ruangan Andini, Entah ada rasa sesal atau apa setelah Andini berkata sperti itu kepada Arci.Andini sensiri tidak tahu perasaan hatinya saat itu.


Malam itu Arci menunggu Andini di taman Merbabu, dari selepas petang hari sampai malam. Hingga tidur di bangku taman dengan keadaan menggigil karena sudah barang tentu udara Malang pada malam hari memanglah sangat dingin. Ia terbangun ketika matahari sudah muncul, Andini tak datang ke taman itu, Arci bersedih. Ternyata hanya sampai disini saja hubungannya dengan Andini, sang kekasih sepertinya tidak bisa menerima apa pun alasannya, Arci mencoba menelepon Andini tapi nonornya tak pernah diangkat bahkan direject. Arci hanya bisa menghela nafas panjang, dia pun pergi meninggalkan taman itu dengan seribu penyesalan. Sekalipun Andini tak menerima alasanya, tapi ia terlanjur cinta.


Bersambung RIGHT HAND