I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
HUJAN



HUJAN


Arci dengan seragam sekolahnya yang basah terkena air hujan, saat itulah dia melihat seorang cewek gemuk berkacamata duduk di halte. Hujan-hujanan adalah menjadi salah satu kebiasaan Arci, alih-alih ini Arci tentu kenal dengan cewek itu.


"Kamu kan??" Arci berhenti di depan cewek itu sambil menunjuk cewek tersebut.


"Hah? aku?" tanyanya


"Iya, kamu. kamu Iskha bukan?" tanya Arci.


"Loh koq tahu namaku?"


"Ya ampun, lupa sama aku?"


cewek gemuk itu menggeleng.


"Ini aku Arci, kita pernah ketemu di hotel waktu itu sama mamahmu!"


"Hotel? sama mamah? emangnya tahu siapa mamahku?"


"Mamahmu Bu Susiati kan?"


"Iya. Emangnya aku dan mamahku kenapa?"


"Duh masa nggak ingat sih, yaudahlah mau aku anter?"


"Hujan begini?"


"Dianter calon suami nggak mau?"


"Heh, sejak kapan kamu.jadi calon suamiku?"


"Sejak di hotel itu."


"Sembarangan."


"Aku sudah janji sama kalian dan aku tak akan mengingkaru janjiku. Ayo aku anter daripada membusuk di sini."


Iskha ragu-ragu, tapi akhirnya dia berdiri juga. Hujan masih belum reda tapi mau tak mau akhirnya mereka berdua pun berboncengan.


Sedikit beban buat sepeda motor Arci itu menahan beban beratnya, tapi itu tak jadi masalah. Arci tak ada niat buruk sama sekali, mereka pun melaju di atas aspal yang basah.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Iskha, Iskha! kami harus kuat! kamu harus kuat!" teriak Andini sambil mendampingi Iskha yang di dorong di atas rancang dorong. Tapi ketika masuk ruang ER Andinipun di tahan oleh perawat, ia tak menyangka bisa melihat tubuh Iskha bersimbah darah seperti itu. Ada luka robek di kepala, tangannya pun patah.


Tak berapa kemudian daru arah luar, muncul juga pasien lain yang di dorong oleh para perawat. Saat itulah ia terkejut melihat wajahnya , Dia kenal orang it. "Arci?? dia yang bersama adik saya?" Andini bertanya pada salah satu orang perawat.


"Iya, mereka berboncengan. Menurut saksi mata karena jalan licin akhirnya roda sepeda motor selip. Mungjin juga karena mereka ngebut, setelah itu yang cowok menghantam pembatas jalan, dan yang cewek terseret beberapa meter dan hampur tertabrak nobil box." ujar sang perawat.


Andini terperangah, bagaimana bisa Iskha ketemu dengan Arci? bagaimana mereka berdua bisa bertemu? Ya sejatinya walaupun bukan saudara kembar tapu wajah Andini dan Iskha mirip. Iskha adalah adik satu-satunya, dan sekarang ia pun bingung kenapa dua orang yang berarti dalam hidupnya berada di dalam rumah sakit yang sama?


Andini menunggu dan menunggu, sementata para dokter dan asisten dokter sudah masuk ke ruang operasi, dari tadi Andini berharap cemas menunggu dalam kegamangan. cemas hingga lampu kamar operasi telah padam, Andini berdebar-debar hinga sang dokter dengan pakaian khas operasi keluar dan sang dokter menggeleng sambil menundukan kepala.


"Tidak.., tidak, tidak mungkin! Adek! adekku Iskhaaa!" jerit Andini terlebih ketika dia masuk ke ruang operasi untuk melihat adiknya terakhir kali.


Tak berapa lama kemudian dari arah lain muncul ayah dan ibunya, mereka pum shock mendapati anaknya Iskha telah tiada karena sebuah kecelakaan maut. Andini menangis sejadi-jadinya Bu Susiati berusaha menenangkan anaknya.


"Mama, ini salah kita ma. Salah kita!" kata Andini.


"Salah kita kenapa?" tanya bu Susiati.


"Arci ada di sini, dia tadi membonceng adek." kata Andini


"Anak itu? bagaimana dia bisa bertemu dengan Iskha?"


"Siapa Arc" tanya papa Andini.


"Ceritanya panjang pa, nanti akan mama jelaskan." jawab bu Susiati


"Arci, bangaimana dengan dia?" Andini tiba-tiba segera bergerak meninggalkan Iskha. Dia langsung menuju ruang operasi sebelah yang ternyata sudah selesai, dia langsung bertanya kepada perawat.


"Dimana orangnya sus?" tanya Andini.


"Oh, pasiem ada di ruang observasi, kami belum bisa menghubungi keluarganya," katanya


"Pindahkan dia ke VIP cepetan! kami akan tanggung semua biayanya!" kata Andini tegas


.Setelah mengurusi administrasi urusan rumah sakit Arci yang sudah dioperasi lalu dipindahkan ke ruangan VIP, ia mendapatkan cidera yang cukup parah. Kepalanya dibalut perban melingkar, menurut dokter ia mendapatkan gegar otak ringan. sebagian ingatannya mungkin akan kacau. Andini menemaninya setelah ia menguburka. Iskha, di samping Arci dia terus berbisik.


"Kenapa kamu sampai bertemu adikku? kenapa kalian bisa bersama?" tanya Andini. "apa yang kalian lakukan?"


Setelah seminggu kemudian Arcipun terbangun, melihat dia diinfus dan seorang wanita ada di dekatnya , Arci merasa ada yang aneh. Ia tidak ingat apapun bahkan bagaimana ia bisa sampai di rumah sakit, ia pun bingung.


"Loh, aku di mana?" tanya Arci.


"Ya, sepertinya begitu.Kenapa aku ada di sini? dan kamu..?? Iskha?"


Andini terkejut karena Arci mengenali dirinya sebagai Iskha.


"Oh, maaf aku ingat sekarang. Aku mengantarkanmu pulang lalu kita terjatuh....dan.. ah iya itulah mengapa aku ada di rumah sakit ini," ujar Arci. "Syukurlah kamu tidak apa-apa."


Andini memang mirip Iskha, akan tetapi hal itu membuat Andini sakit.


"Kenapa kamu ada waktu itu?" tanya Andini.


"Entahlah. udah jodoh mungkin. Hehehe, sorry yah kamu yang biayain semua ini?" tanya Arci.


Andini mengangguk.


"Kamu dan ibu mu memang baik, aku makin berhutang kepada kalian." kata Arci.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan, kamu istirahat yang cukup saja." kata Andini sambil mengusao wajah Arci.


Andini sekiat mungkin menyembunyikan kematian adiknya kepada Arci dan membiarkan lelaki ini menganggap dirinya sebagai Iskha. Ini semua juga salah dia, di Hotel dulu dia mengaku sebagai Iskha bukan sebagai Andini.


"Iskha, aku akan tetap memegang janjiku. Kamu nggak perlu khawatir, aku akan kembalikan uang kalian, aku akan kembalikan." ujar Arci.


"Sudahlah tak usah dipikirkan, kamu tak kembalikan juga tak apa-apa koq."


"Tapi aku sudah janji, aku tak mau berpantang dari janjiku."


"Apa kamu ingin menikah dengam wanita seperri aku ini? aku jelek? aku gendut?"


"Fat is beautiful, dan hati mu baik, aku tak keberatan."


"Kamu pria ganteng, pasti banyak wanita yang suka sama kamu di luar sana nanti. aku jelek nggak pantaa sama kamu."


"Jangan berkata seperti itu. siapa wanita yang mau menolong seorang a anak yang sedang membutuhkan bantuan? Kamu. dan aku tidak akan berpaling dari janji ku, tunggulah aku sampai usia 25 tahun."


"Itu tak perlu."


"Bagi ku itu perlu."


"Kamu memangnya mau dengan aku yang seperti ini?"


"Iya, aku tak keberatan."


"Apa kata orang, kalau nanti kamu beristri wanita seperti aku?"


"Aku tak perduli kata orang, asal kamu mau bersabar dengan keadaanku, aku tak keberatan."


Andini tak mampu lagi membendung tangisnya, ia ingin mengatakan bahwa dia bukan Iskha, tapi ia tak sanggup.


"Arci?: tampak ibu dan kakaknya datang. Andini menoleh ke arah mereka, tentu saja Lian dan Safira terkejut. Tapi Andini memveri isyarat dengan mengangguk.


"Aku tinggal dulu, kamu istirahat saja." kata Andini.


Seribu pertanyaan terlintas di benak Lian dan Safira, mereka tahu wanita yang berada disatu ruangan dengan Arci ini adalah wanita yang menyewa jasa gi**lo Arci beberpa waktu yang lalu. Andini tangisnya makin menjadi.


"Maafkan aku Iskha dia menganggap dirilu sebagai dirimu, aku tak menyangka ada laki-laki seperti itu. apakah aku pantas untuknya? apakah aku pantas untuk orang sebaik dia? Dia dari keluarga orang baik. tapi kenapa adek ikut dia. tidak dia tidak tahu kalau adek udah pergi, dia tidak boleh tahu, belum saatnya. Aku akan datang kepadanya suatu saat kelak,.


Aku akan datang tapi dengan wajah berbeda , aku ingin dia benar-benar menyukaiku bukan karena terpaksa, aku ingin dia benar-benar menyukaiku ...apakah permintaanku terlalu muluk Yaa Tuhan?"


Andini menangis lagi, dia sudah berada si luar rumah sakit, hujan pun turun lagi membasahi bumi menyapu segala kesedihan kepada orang-orang yang sedang berduka. Andini melihat langit yang mendung, wajahnya tersiram air hujan, dia bertekad harus jadi orang yang berbeda. Iya oranv yang berbeda, ia tak mau Arci melihat dirinya sebagai Iskha, dia adalah Andini, Andini Maharani.


"Dini?" panggil seseorang sambil membawa payung.


"Papa?"


"Ngapain kamu hujan-hujanan?"


Andini langsung memelul papanya. "Kenapa anak orang yang menyelamatkan hidup papa, sangat baik? dan kenapa aku justru jahat kepadanya?"


"Sudahlah, kita harus melaksanakan wasiat Om Zenedine, sampai dia nanti dia siap untuk menjadi pemimpin perusahaan." kata papanya Andini.


"Ada satu lagi pa, Aku mulai suka ama dia." kata Andini


"Hmm, serius?"


"Nggak tau."


"Ya sudah, ayo kita pulang, mama mu sudah nunggu di mobil."


Andini pun akhirnya berjalan meninggalkan rumah sakit bersama papanya, mereka menuju ke sebuah mobil SUV warna putih, di dalamnya ada Bu Susiati yang sudah menunggu mereka. Papanya Andini sebelum masuk ke mobil menoleh sejenak ke arah rumah sakit.


"Semoga kita bisa bertemu lagi Arci," gumamnya.


bersambung MENGUPING