I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
KETIKA DIA DATANG



Hari itu Lian sedang berbelanja di supermaket, hingga dengan sengaja troli belanjaanya ditabrak oleh troli belanjaan seseorang, Lian menoleh ke orang tersebut. Dia mengenali orang itu, seorang wanita yang menjadi menantu keluarga Zenedine. Sebenarnya tidak secara resmi menjadi menantu, dia menikahi duda dari seorang keluarga Zenedine. Sebenarnya sang duda juga bukan dari keluarga Zenedine sang duda beruntung dia menikahi anak dari keluarga Zenedine dan anak Zenedine tersebut sudah tiada. Wanita yang menabrakkan troli tadi adalah Alexandra, suaminya ialah michael yang menikahi anak dari keluarga Zenedine.


"Alexandra?!" sapa Lian.


"Hai pela**r? masih exists? selamat atas warisannya." kata Alexandra ketus.


"Apa kamu menyapaku hanya untuk menghinaku saja?"


"Kamu memang pantas untuk dihina, dasar pela**r, anaknya juga pela**t, kamu tak pantas berada di keluarga kami."


"Aku juga sebenarnya tidak sudi berada di keluarga ini, tapi...Archer telah memilihku. Kita sama-sama orang yang beruntung masuk ke dalam keluarga Zenedine, aku yakin kalai kamu dicerai suamimu kamu juga akan mela**r sepertiku."


"Breng**k, kamu mau menghinaku?"


"Kenapa? benar bukan? Jangan-jangan suamimu mati karena kamu bunuh hanya untuk mendapatkan harta warisanya atau mungkin kamu dan michel sudah selingkuh lama, sehingga kalian menghabisi pasangan kalian masing-masing?"


Alexandra terpancing emoainya, tapi ia mengurungkan niatnya yang ingin menghajar Lian saat petugas keamanan lewat.


"Ini belum selesai, aku akan merobek mulutmu," kata Alexandra.


"Aku tak takut."


Alexandra kemudian pergi meninggalkan Lian. Lian jadi teringat bagaimana masa lalunya ketika pertama kali bertemu Alexandra. Dia pernah dilecehkan habis-habisan oleh Alexandra. Bukan, tetapi oleh Michael suaminya. Lian tahu hubungan perselingkuhan Alexandra dan Michael saat pasangan mereka masih hidup. Alexandra yang menikah dengan Robert Zenedine dan Michael yang menikah dengan Rachel Zenedine, mungkin dugaanya selama ini memang benar kalau Robert dan Rachel dibunuh oleh pasangan mereka. Robert, dia tewas dalam sebuah insiden jatuh dari jurang saat melakukan hiking, Rachel dia tewas dalam sebuah kecelakaan.


Dia teringat ketika hari itu Archer mengantar dia pulang, setelah Archer pulang Lian langsung dibekap. Dia disekap oleh Michael, dan Alexandra juga ada disana. Lian disiksa dengan cambukan, dikenc**i oleh Michael dan juga di perkosa. Lian tak akan pernah lupa kejadian itu, hal itu membuat Archer marah dan mengancam mengusir Alexandra dan Michael kalau tidak berlaku baik kepada Lian.


Tapi cobaan tidak berakhir setelah setelah Archer mewarisi kekayaan Arthur, dia tidak bisa berbuat banyak. Semntara Alexandra dan Michael terua memburunya, ini adalah salah satu alasan Lian dan anak-anaknya lari dari satu kota ke kota yang lain, selain itu tentu saja kejaran para debt collector, karena Archer tak meninggalkan apapun buat mereka. Namun setelah Archer meninggal, gangguan itu mulai mereda. Mungkin sebagian besar tahu bahwa Lian yang telah mengandung anak Archer dan akan berakibat buruk kalau terjadi sesuatu kepada Lian.


Lian menghela nafas, ia tahu beban ini masih berat. Yaitu keluarga Zenedine yang tidak menyukai keberadaanya, tapi yang lebih berat ialah Arci. Dia harus menanggung banyak hal, apakah anaknya akan kuat?


I LOVE YOU, HANDSOME.


Arci baru saja dari rumah sakit jwa menemui Araline, ia mengetahui hal-hal yang belum pernah ia ketahui hal yang sebenarnya. Ia ingin menyimpannya sendiri, ternyata apa yang dikatakan oleh ayahnya benar "Jangan percaya kepada siapapun". Entah apa yang akan dilakukanya, ia sendiri tidak tahu harus percaya kepada siapa saja. Araline tidak berbohong, ia telah menjelaskan semuanya kenapa ayahnya lebih memilih Lian sebagai pasanganya hingga melahirkan Arci.


Dan alasan Araline masuk ke dalam rumah sakit jiwa juga mencengangkan dirinya, Johan hanya berpesan satu hal. "kali ini kamu sendiri, kalau kamu ingin teman. Satu-satunya yang bisa menjadi temanmu hanyalah Ghea, dia masih polos, dia hanya patuh kepada ayahnya. Tapi kalau kamu mencoba mendekati dia maka kamu akan bisa mengendalikannya. Aku tak bisa menolongmu, kamu tau sendiri bagaimana keadaan Araline. Sekarang kamu mengerti bukan?"


Arci mengangguk. Selama dua jam ia berada di rumah sakit jiwa mendengarkan cerita Araline, seluruh seluk beluk keluarga Zenedine didapatnya dari orang yang sesang terkena ganggan jiwa.Arci pun punya rencana dan kali ini ia yakin rencananya tidak akan gagal, hanya saja mungkin apa yang akan dilakukannya ini akan membuat jalan hidupnya makin gelap.


Selama ini ternyata ayahnya lebih banyak curhat kepada Araline, mungkin karena dianggap gila karena itulah ia bicara semaunya, membicarakan segala hal tentang keluarga Zenedine. Bahkan sampai perselingkuhan Amanda dengan Pieter pun diceritakannya, Arci sudah masuk ke dalam lembah hitam, kalau ia lebih masuk lagi maka tidak ada pilihan.


Hidup memang keras dan ia harus kuat. Ia selama ini berjuang dalan kesusahan dan ia akan terus memperjuangkannya.


Mobilnya sekarang melaju di aspal kering melewati jalan raya, sampai sebuah mobil SUV memepet dirinya dan mengklakson, Arci melihat kearah jendela dan mendapati wajah Letnan Yanuar. Mau apa Letnan Yanuar? Arci pun menepi dan mobil SUV yang dipakai reserse itu pun menepi. Arci segera kekuar dari mobilnya, Letnan Yanuar tampak bersama anak buahnya keluar juga.


"Ada apa?" tanya Arci


"Kenapa belum ada laporan? bukankah kita sudah bersepakat? tanya Letnan Yanuar.


"Bersepakat? sepertinya anda salah, saya tidak bilang iya. Anda cuma ingin agar saya membantu anda untuk menghancurkan keluarga saya berdasarkan rekaman video ayah saya bukan? tanya Arci


"Ya, memang seperti itu."


"Tapi saya tidak mengatakan iya, dan saya juga bukan orang yang suka kalau ada orang lain yang mencampuri urusan saya. Jelaskan kepasa saya kenapa anda menerjunkan tim lain?"


"Oh itu, aku tentu saja tidak percaya dengan kinerjamu. Kamu bukan reserse!"


"Kalau anda memang ingin percaya kepada saya suruh anak buahmu pergi semua, daripada mereka mati konyol."


"Sersan Danu memang aku tugaskan untuk membackup mu, bukan untuk mencampuri urusanmu."


"Sama saja, dengar Let. Aku akan lakukan dengan caraku sendiri."


"Maksudnya?"


"Aku akan lakukan dengan caraku sendiri."


"Arci, mereka orang-orang berbahaya."


"Kalian juga orang-orang yang berbahaya."


"Apa maksudnya?"


"Kalian memang penegak hukum, tapi rela melakukan apapun."


"Hei, jaga mulut mu itu!"


"Mau apa, memukulku? memenjarakan aku? Ayo silahkan! toh. audah seharusnya aku dari dulu tidak pernah ada. Kalian yang katanya melindungi ku saat aku diburu oleh keluargaku sendiri, tapi kalian membiarkan ibu dan kakak ku mela**r. Itukah yang kalian sebut melindungi? Ketika aku menjual diri menjadi gi**lo lalu kalian diam saja, itukah yang kalian sebut melindungi? Pol**i macam apa kalian?"


Letnan Yanuar membisu.


"Sudahlah, aku capek. Aku perlu mempersiapkan acara pernikahanku," Arci berbalik menuju mobilnya lagi.


"Pernikahan?"


"Ya, aku akan mengirimkan undanganya ke kantor kalian," Arci membanting pintu dan menjalankan mobilnya. Dengan cepat dia meninggalkan Letnan Yanuar.


Kedua polisi yang berada di pinggir jalan itu tampaknya kecewa, sementara itu dari jauh sebuah Mercedes Benz SLK 250 melihat mereka semua. Di dalamnya Ghea hanya tersenyum simpul menyaksikan kelaukan Arci terhadap kedua pol**i yang ada di pinggir jalan itu. Saat sedan merah itu mendekat ke arah Letnan Yanuar, sang reserse tampak terkejut. Ia tahu siapa pemilik mobil itu.


"Arci diikuti mereka, itu mobil milik Ghea Zenedine anak Pieter Zenedine. Jangan khawatir ia tadi mungkin hanya pura-pura karena tahu dia diikuti," kata Letnan Yanuar.


"Siap, ndan!" jawab anak buahnya.


"Lain kali kita harus lebih hati-hati," ujar Letnan Yanuar.


Arci hari itu langsung kembali ke rumahnya kondisi rumahnya sepi, ia hanya mendapati adiknya saja yang berada di rumah.


"Loh, kak Safira dan ibu kemana? tanya Arci.


"Ibu belanja, kak Safira nggak tau dari tadi nggak nongol." jawab Putri


Arci kemudian mengambil ponsel dan langsung menirim oesan.


(WA)


Arci : kak, da dimna?


dan chat itu hanya centang dua saja.


Safira hari itu meninggalkan rumahnya tanpa ada yang tahu sama sekali, ia sebenarnya berat. Tapi itu semua dilakukanya agar Anduni kembali kepada Arci, Andini sudah melarangnya. Tapi Safira mengirimkan pesan WA pagi itu.


(WA)


Safira : Andini hari ini aku pergi dari rumah tanpa Arci tahu, kuharap kamu kembali.


Andini : Loh, knpa kmu hrs pergi? jangan lah.


Safira : Aku tak bisa berada di sini terus. kembali pada Arci ya?


Andini : Safira jangan, kmu ada dimna skrng?


Safira : aku masih di jln.


Andini : aku menyusulmu sharelok please.


Safira : din, akun akan pergi, jagalah Arci.


Andini : nggak, klo kmu pergi aku nggak akan kembali padanya.


Safira : sungguh?


Andini : ya sungguh. ya aku akan kembali pada Arci tpi kmu jgn pergi, aku akn terima semuanya. aku akan terima kalian sebagai kkuargaku juga.


Safira : boleh aku bertenu dgn mu.


Safira sudah berada di jalan saat itu, melihat ketulusan Andini yang akan kembali pada Arci ia pun akhirnya lega. Tidak berapa lama kemudian mobil Andini menyusulnya, Andini langsung keluar dari mobil lalu memeluk Safira.


"Kamu kenapa bertindak bodoh seperti ini? tanya Andini.


"Apa aku punya pilihan lain?"


"Sudahlah, aku akan menerima kalian sebagai keluargaku. Ya itu adalah keputusanku, mungkin ini berat bagiku tapi aku tak ingin orang yang dicintainya seperti ini Saf."


Safira tersenyum, ia membelai rambut Andini. Ia jadi tahu kenapa Arci sangat mencintai Andini, bukan karena harta bukan juga semata-semata karena kecantikannya tapi lebih pada kepribadian yang ada dalam diri Andini. Andini mungkin tak ingin cintanya diduakan, tapi dia lebih sakit ketika keluarganya sendiri mendaptakan cobaan.


Anda sadar ia hanya belum siap, dia sadar alasan Safira bersama Arci bukan didasari alasan nafsu semata, tetapi itu karena masa lalu Safira yang kelam. Ia mengetahui Safira seorang pela**r; bagaimana ia bisa diterima di masyarakat. Siapa laki-laki yang mau mencintai dirinya selain adiknya sendiri? selain keluarganya sendiri?


Andini juga baru mengetahui bahwa ayah Safira tak mengakui dirinya. Lalu kemana lagi ia harus pergi? Kemana ia akan pergi kalau semuanya tidak menerima keberadaan dirinya? Andini tak bisa mengusir Safira dari kehidupan Arci, hal itu terlalu jahat. Dan dia akan jadi orang jahat kalau sampai hati memisahkan Safira dan Arci, Andini menganggap dirinya terlalu egois. Tapi satu hal yang tak bisa ia bohongi kepada dirinya sendiri, ia cinta mati kepada Arci.


"Boleh aku tinggal di rumahmu untuk beberapa hari?" tanya Safira.


"Kenapa?" tanya balik Andini.


"Nggak apa-apa, aku hanya ingin dekat denganmu aja." jawab Safira.


Andini mengangguk, "Ayo"


Safira mendapat pesan dari adiknya.


(WA)


Arci : kak ada dimna? bales GPL


Safira : ke rumah temen, ga ush dicari. o iya aq nginap bbrpa hri di rumahnya.


Arci yang saat itu menerima balasan mengerutkan dahi, agak aneh bukankah Safira tak pernah punya teman. Arci pun makin penasaran.


(WA)


Arci : Temen? siapa?


Safira : udh deh jgn khawatir, aq ga akan pergi koq.


Arci makin tidak mengerti, tapi kalau Safira bilang tidak akan pergi maka perasaannya pun lega. Hanya saja ketidak beradaan Safira itu hal yang baru. Ponsel Arci pun berdering dari Ghea, Arci segera mengangkatnya.


"Hallo?" sapa Arci


"Arci, aku dengar senuanya," kata Ghea


"Maksudnya?"


"Semua yang dikatakan Araline. aku mendengar semuanya."


"Kamu menyadapku?"


"Ya."


Arci meraba-raba tubuhnya.


"Tak perlu diraba-raba yang penting aku tahu, itu untuk keamananmu saja."


"Jadi sekarang?"


"Ya kita sekarang tahu, siapa orangnya. Aku khawatir ia telah menguasai semua yang ada di dalam keluarga Zenedine, bahkan mungkin semua orang-orang kita. Aku takut terjadi sesuatu kepada ayahku dan kamu tentu saja."


Ghea entah kenapa sedikit mellow hari itu, dia merasa manja kepada Arci. Sesuatu yang aneh, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Beberapa hari lagi pernikahanmu bukan?" tanya Ghea.


"Itu settingan, aku sudah memperisapkan sesuatu."


"Jadi itu bohongan?"


"Iya, aku ingin Andini kembali kepadaku. Sengaja aku buat seperti itu."


"Kamu sewa gedung, catering, baju pengantin, itu semua untuk apa?"


"Aku sudah merencanakan ini semua, kamu ikuti saja."


Ghea sama sekali tak mengerti.


I LOVE YOU, HANDSOME.


"Bagaimana baju pengantinya?" tanya Arci kepada Rahma.


Mereka berdua sedang melakukan fitting gaun pengantin, Arci telah memakai tuxedo, Rahma memakai gaun yang sangat anggun dengan untaian mutiara. Baju pengantin yang mahal tentu saja, Rahma tak tahu apa yang akan terjadi nanti tapi kalau memang Arci berkata ini hanya pura-pura tapi kenapa seperti sungguhan? ia merasa dijadikan alat.


Rahma menatap dirinya dicermin, "Arci, ini terlalu berlebihan. Kamu sampai menyewa penghulu segala, ini berlebihan! Kita bukanya cuman pura-pura saja?"


"Kamu ikuti saja permainanku, nanti kamu akan tahu sendiri. Seperti yang aku tanyakan kemarin, kalau misalnya aku tak memberikan apa-apa kepadamu, apakah kamu masih mau?"


"Entahlah, sebenarnya apakah kamu mencintaiku?"


Arci tersenyum mendengar pertanyaan Rahma, "Kamu pikir bagaimana?"


"Entahlah, aku tidak tahu."


Arci memegang bahu Rahma, jarak mereka sangat dekat , "Dengarlah, aku masih mencintai Andini. Tapi pernikahan ini sungguhan, kamu akan menikah, aku juga."


"Tapi...apa maksudnya, aku tak mengerti?"


Arci masih tersenyum, "Dan aku mohon maaf kemarin sudab menciummu, akuntak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin Andini cemburu, kamu akan tahu pada hari pernikahan besok." Arci melepaskan pegangannya dan berkaca dicermin.


"Arci, aku masih tak mengerti?" kata Rahma.


Sikap Arci ini penuh tanda tanya, dia sudah punya rencana sendiri. Rencana yang tidak semua orang tahu. bahkan ketika pada malam sebelum hari H Arci tetap membisu. Dia tidak menceritakan apa yang ada di dalam pikirannya, Rahma kebingungan melihat sikap Arci. Dia ingin protes, tapi bingung apa yang bisa dilakukannya , semua sudah di setting.


Safira sudah beberapa hari ini tinggal di rumah Andini. Cukup ajaib, mereka sekarang bisa akrab. Andini mendapat undangan dari Arci, Safira yang melihat undangan tersebut hanya senyum.


"Kenapa kamu tersenyum? tanya Andini.


"Kamu yakin, Arci akan menikahi Rahma?" tanya Safira.


"Trus? undangan ini? bukannya ini sebagai bukti bahwa dia tidak main-main?"


"Arci punya kejutan, katakan saja kamu mencintainya, ia pasti akan memberikan kejutan."


"Omong kosong, tidak mungkin. Dia sudah menyiapkan segala keperluan pernikahan mana mungkin ini hanya bohongan."


"Andini, aku tahu siapa adikku. Dia sangat mencintaimu, ketika kamu datang nanti ke acara pernikahan, nanti pasti ada sesuatu yang terjadi dan itu baik buatmu. kalau toh tidak...oh..itu tidak mungkin, datang sajalah."


Andini menuyul wajahnya lalau mengusap-usapnya, rasanya tidak peecaya melihat undangan Arci dan Rahma. Mustahil seperri mimpi.


"Mau ke aana bareng?" tanya Rahma


Andini menghela nafas, "Boleh, aku ingin buktikan sendiri kalau itu hanya bohongan."


Safira mengacak-ngacak rambut Andini, "Naah gitu, sekalian jaga-jaga kalau-kalau kami pingsan."


"Iihhh, nggaklah.:


I LOVE YOU, HANDSOME


Bersambung KETIKA DIA DATANG II