
Braaaakk. Pintu kamar kos terbuka saat itu wajah Rahma memerah, ia masih berbalut baju Toga. Ia baru saja diwisuda, sengaja ia langsung pergi ke tempat kos pacarnya Jesie yang pada saat itu dipuncak orgasme. benar-benar menembakan benihnya liang sengg**a Erna,, seorang wanita SPG yang baru saja ia kenal di Matos. Secara fisik Erna.memang menarik, menggoda, rambutnya sedikit berombak berwarna hitam dan merah ujungnya. kedua wajah.mereka.melongo ketika di pintu tampak.Rahma dan seorang lelaki berkumis tebal dengan beberapa orang penghuni kos melihat mereka.
Ok, ini adalah saat yang sangat buruk bagi Jesie dan Erna. berseng***a di siang bolong, lupa mengunci pintu, digrebek pak RT dan itu sangat buruk karena mereka berdua sama-sama orga**e. terlebih Jesie yang mendapati Rahma pacarnya selama ini, memergoki dia sedang indehoy. Setelah itu tidak perlu diceritakan lagi Jesie dan Erna langaung disidang.
"woooo...dasar mesum!" seru sesorang saat Jesie dan Erna berada di balai RW.
Kedua tersangka kini tentu saja sudah memakai baju, dan seseorang dari penggrebek sengaja mengabadikan persenggam**n tadi. Tetnyata mereka sudah mengintip dari sejak pertama kali Jesie mengajak Erna ke kamarnya, dan akhirnya diabadikannya lah persenggam**n mereka. Di sebuah lubang kamar kos, mungkin karena sudah terlalu bernafsu Jesie dan Erna tidak waspada. padahal di depan pintu kos sudah banyak orang yang siap menggrebek, di saat mereka sedang berada di puncak dan pengrebekan berhasil.
"Jadi enaknya gimana? telepon orang tua kalian untuk datang ke sini, hari ini kita bakal menikahkan kalian!" kata pak RT.
"Wah pak, jangan pak. Ampun, saya bisa bayar deh asal jangan dibawa kedua orang tua saya kami," kata Jesie.
"Kenapa? kalian kan udah enak tadi indehoy di kamar," kata Rahma.
"Rahma, maafkan aku. Ma..maaf." kata Jesie.
"Maaf? dasar hidung belang, breng**k!" umpat Rahma.
"Tapi aku begini juga karena kamu Ma,"
"Koq karena aku?"
"Soalnya kamu nggak pernah mau aku ajak begituan!"
Seketika itu semua orang yang ada di balai RW tertawa.
"Woi dasar wong edan, emangnya meme**u gratis buatmu, ketika kamu jadi pacarku, sontoloyo," ujar Rahma ketus. "Udah deh pak RT sidang aja, nikahin aja dia di sini kalau nggak mau kirim aja ke kantor polisi."
"Iya, kita berniat begitu." pak RT makin berang dengan kelakuan Jesie.
Sementara itu Erna dari tadi menangis karena malu, ia sebenarnya perempuan baik-baik. Entah bagaimana ia bisa dirayu oleh Jesie hingga akhirnya bisa menghabiskan waktu untuk melakukan "icikiwir" di kamar kos Jesie.
Memang untuk ukuran cowok Jesie adalah termasuk cowok yang cukup tampan, terlebih dengan Toyota Altis miliknya bisa membuat cewek bakal langsung naik aja tanpa pikir panjang. Apalagi sejak di dalam.mobil Jesie memberikan jurus rayuan mautnya, bagi cewek seperti Erna dia tak perlu pikir panjang; toh dengan pemuda tajir seperti Jesie dia bisa mempunyai harta yang memuaskan Erna tak hanya sekedar se*s.
Itulah pengalaman buruk yang tak terlupakan bagi Rahma , hari yang seharusnya menjadi hari yang bahagia bagi dirinya , sekarang malah menjadi hari terburuk yang tak akan pernah dia lupakan.
Sejak saat itu Rahma menjaga jarak dengan siapapun, dia hampir pasti tidak pernah lagi berniat pacaran atau dekat dengan cowok. Baginya dikhianati dengan cara seperri itu sungguhlah teramat sakit, kabarnya Jesie sudah dinikahkan 'paksa' kabar terakhir mereka bahkan sudah punya anak . Rahma hanya tertutup, bukan berarti ia tidak mau membuka hatinya untuk lelaki lain.
Rahma sedang sendiri di kamarnya sambil membaca novel-novel karangan Danielle Steel, Beberapa hari ini dia sudah memasukan lowongan ke berbagai perusahaa. Entah mana yang bakal nyantol, total dia sudah membuat sepuluh aplikasi dan semuanya sudah dikirim. Di kamarnya tiap malam dia habiskan untuk membaca novel-novel tebal itu hingga mengantuk, namun hari itu ada yang berbeda kalau saja ia tidak mengangkat dering telepon itu. mungkin hidupnya tak akan berubah.
Rahma segera mengangkat ponsel dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo? siapa ya?" tanya Rahma.
"Rahma, ya?" tanya suara dibalik ponsel Rahma.
"Siapa ya?"
"Ini aku Singgih, masih ingat?"
Ingatan Rahma dikit deni sedikit mulai tertata ingatannya kembali pada saat masa-masa kuliah. Singgih adalah seniornya di kampus dulu, dan tentu saja Singgih sudah berkali-kali mebdekatinya hanya saja karena saat itu Rahma sudah sudah punya pacar maka ia pun menjauh dengan sikap jantan.
"Oh kamu."
"Yah, ekspresinya mana? masa hanya bisa bilang gitu doang? histeris kek, menjerit kek, kaget kek."
Rahma tersenyum "Dasar kamu nggak berubah ya."
"Begitulah sudah dari sononya."
"hahaha, ada apa?"
"Nggak apa-apa cuman say hai aja, wah nomorku kamu hapus yah? koq sampai nanya siapa;"
"Bukan begitu ponselku rusak jadi ya nomor kontak kehapus semua,"
"Oh begitu."
"Tumben nyapa, biasanya juga diem."
"Hahaha, bukan begitu Ma. Terus terang aku selama ini mencoba menghindari."
"Menghindar, kenapa menghindar?"
"Kamu tau sendiri kenapa?"
Rahma dadanya serasa sesak ketika mengingat kembali bagaimana dulu perjuangan Singgih mendekatinya, tapi apa daya dia sudah punya Jesie waktu itu, "hmm.."
"Aku sudah dengar semuanya tentang jesie, aku turut sedih,"
"Nggak usah kamu kasihani aku, emang seharusnya aku nggak bersama-sama dia. Jangan sebut-sebut lagi nama si breng**k itu."
"Ok ok. Btw btw besok kosong nggak?"
"Ada apa?"
"Yah, kalau kosong kifa jalan yuk?"
"Hmm? ini rencananya menggunakan kesempatan dalam kesempitan."
"Hahaha, yah kamu tahu sendiri ah, namanya juga aku usaha. apa tak boleh?"
Rahma tersenyum "Emang kamu nggak punya pacar?"
"Nggak, pacarku nanti cuman satu wanita. Cuman kamu aja, dan kalau toh nggak bisa bersama dengan kamu, aku akan membujang."
"Huuu, gombal."
"Namanya juga usaha, jadi gimana?"
"Kamu mau.ajal.aku ke.mana?"
"Ke alun-alum.batu yuk? terus habis itu ke museum angkut."
"Ngapain ke sana? itu tempat kencan yang nggak cocok bukan Rahma banget."
"Oh, enaknya tempat kencan itu seperri apa?"
"Terserah deh."
"Lah, dasar cewek katanya ke sana nggal mau trua bilangnya terserah,"
"Hehehehe, terserah tapi jangan ke sana."
"Ke selecta?"
"Ngapain ke sana?"
"Yah, katanya kencan."
"Emang siapa yang bilang kencan?"
"Kamu."
"Masa sih?"
"Hehehe, ya udah ke alun-alun batu ajah, jemput yah?"
"Beneran?"
"Iya beneran."
"Siiip."
I LOVE YOU, HANDSOME.
Rahma dijemput Singgih jam tujuh malam, ini bukan malam minggu. Hari sabtu saja masih tiga hari lagi, Singgih bukan dari keluarga kaya. Dia orang biasa hanya saja nasibnya mujur itu saja, setelah lulus kuliah dia diterima bekerja sebuah perusahaan air mineral yang ada di kota Pandaan. Tapi di sana masih bekerja sebagai pegawai kontrak , sebenarnya hari demi hari ia terus bertanya-tanya tentang kabar Rahma.
Dia sudah cinta mati dengan Rahma semenjak kuliah tak sedikit usahanya untuk sekedar ngajak dia jalan tapi sayang waktu itu Jesie sudah mengencani cewek itu duluan. Dia kalah cepat.
Rahma tinggal bersama orang tuanya, orang tua Rahma cukup baik selama selama ini selalu mendukung putrinya. Sebagai putri pertama maka Rahma punya beban, ya tentu saja dia harus bekerja untuk bisa membantu orang tuanya dalam merawat adik-adiknya.
Dalam urusan asmara kedua orang tuanya selalu mewanti-wanti Rahma untuk .memilih lelaki yang baik, serta ketika berpacaran tidak kelewat batas. Mungkin atas dasar nasehat kedua orang tuanya itulah Rahma benar-benar tidak pernah menerima ajakan Jesie untuk bercinta. Boleh dibilang pengalaman Rahma masih nol, meskipun ia pernah berciuman tapi itu hanya sekedar tempel bibir, belum sampai ke ciuman basah atau french kiss.
Singgih pun datang dengan motor kesayangannya, jangan dikira itu motor berkelas cuman notor bebek bermerk Ho**a tahun 98. Lama memang tapi boleh dibilang cukup tangguh menemani Singgih selama ini, Rahma bukan cewek matre dia juga sudah kenal Singgih lama.
"Oh, masih aja ada ini motor," kata Rahma yang yang sudah menunggunya di teras.
Singgih turun dari motor dan menghampirinya. "Iya dong, walauoun tuir tapi notor ini sangat berjasa. Tanpa dia aku bisa keteteran kuliah sama kerja."
"Ya,ya,ya, terserah deh." kata Rahma.
"Jadi jalan nggak?" tanya Singgih.
"Terserah?"
"Buuuk, Paaaak, Raham pergi dulu?
"Jangan malam-malam?" sahut ibunya Rahma dari dalam rumah.
"Ndak bu," sahur Raham "Yuk?"
Singgi tak mau berlama-lama segera ia membonceng Rahma, setelah menyerahkan helm kepada cewek yang baru saja patah hati itu. Menggeber motor di atas aspal menuju alun-alun Batu merupakan perjalanan yang cukup jauh, mengingat rumah Rahma ada di daerah Purwantoro yang mana masih berada di kota Malang. Untuk mebuku Batu, maka.mereka harus melewati jalan protokol dan melewati kampus-kampus yang berada di sana.
Malang merupakan salah satu kota dengan perguruan tinggi terbanyak, maka dari itulah terkadang kota ini juga disebut sebagai kota pelajat. Dahulu batu masih merupakan satu kawasan dengan Malang namun sejak adanya otonomi daerah maka Batu dan Malang berpisah, Batu akhirnya mengurus sendiri rumah tangganya, bahkan yang katanya buaj apel malang pun sebagaian orang sudah menjulukinya Apel Batu.
Namun sekalipun menjulukinya apel Batu dan sudah terlepas dari Malang tetapi Batu tidak bisa lepas dari Malang dalam.hal Kultur dan budaya. Mereka.masih satu daerah yang mana yang mana mempunyai kebiasaan yang sama, bahasa yang sama dan prilaku yang sama.
Setelah mereka melewati jalanan yang cukup panjang, mendaki dan melelahkan akhirnya sampai juga di alun-alun Batu. Tempat ini cukup menarik sekarang setelah dilakulan renovasi.
Selama.perjalanan Rahma dan Singgih berbicara tentang banyak hal, bahkan boleh dibilang malam ini adalam malam pelipur lara bagi Rahma. Setelah Jesie pergi Singgih datang menawarkan cinta untuknya dan sepertinya Rahma pun berusaha untuk bisa menerima cinta Singgih. mereka pun naik bianglala malam itu.
"Jadi bagaimana jalan-jalanny?" tanya Singgih.
"Ya, boleh juga, makasih." jawab Rahma.
"Ma, kita kan sekarang ada di atas, kalau misalkan aku nembak kamu di atas sini kira-kira kami nerima nggak?"
Rahma sudah menduga kalau Singgih akan nembak dia ketika naik bianglala, Rahma hanya tersenyum.
"Ayolah jangan tersenyum aja. Bilang iya kek atau Ok gitu," kata Singgih.
"Hahahaha, kamu ini nggak pernah menyerah ternyata."
"yah masa ada cewek cantik kok dianggurin?" Singgih nyengir.
Rahma menulurkan lidahnya
"Trus?" tanya Singgih lagi.
"Apanya?"
"Laaah, Gimana mau nggak jadi pacarku?"
"Tau ah."
"Loh koq gitu?"
Rahma Tersenyum.
"Sorry kalai misalnya aku terlalu cepat aku tahu, perasaanya campur aduk. Aku bukan bermaksud mengambil kesempatan tapi kalau aku tidak mengambilnya sekarang lalau kapan lagi?"
Rahma tertawa kecil "Baiklah,"
Betapa bahagianya Singgih waktu itu, berciuman di atas bianglala melihat kota Batu dari atas sini well tidak ada yang lebih romantis dari itu semua.
Hari-hari berikutnya Rahma benar-benar menemukan tambatan hati yang baru, hubungannya dengan Singgih makin dekat dan kian mesra. Rahma mengerri bahwa Singgih sangat mencintainya. Singgih bukan seorang play**y mungkin memang ketulusan cinta Singgih yang membuat Rahma pun membalas cintanya.
Singgih bukanlah lelaki yang suka menuntut, tapi dia lebih banyak menuntun, Rahma lebih melihat sosok Singgih sebagai lelaki dambaan, lelaki yang tidak ingin menang sendiri. Bahkan tak seperti Jesie, Singgih benar-benar tidak menyentuhnya kecuali diijinkan oleh Rahma.
Adakalanya perjumpaan dan adakalanya perpisahan, sebagaimana kehidupan ini tak ada yang abadi. Bukan berarti Rahma tak mencintai Singgih lagi, dan begitu juga Singgih hanya saja waktu yang memutuskan.
"Aku ingin bilang sesuatu kepadamu," kata Singgih ketika mereka ada di teras rumah Rahma.
"Apaan?"
"Aku akan ke luar negeri, aku dapat beasiswa untuk melanjutkan S2 di sana."
"Oh...trus?"
"Aku galau."
"Galau kenapa?"
"Itu artinya aku akan jauj darimu, aku juga tak mungkin melepaskan kesempatan ini. Lagipula ini satu-satunya kesempatan karena aku dapat beasiswa dan ini juga adalah impian orang tuaku, aku ingin bisa membahagiakan mereka.
Tatapan mata Rahma kosong, berpisah dari Singgih? itu hal yang mustahil.
"Kalau misalnya kamu tak mengijinkanku pergi tak apa aku mengerri. Seorang wanita jauh dari lelaki yang dicintainya pasti akan sangat sedih. Tapi kita bisa teleponan, kita masih bisa chattingan, aku akan kirim email kepadamu . aku akan selalu meneleponmu."
Rahma mengangguk tanpa ekspresi.
"Ketika besok kalau aku sudah kembali aku tak ingin jauh lagi darimu. Kamu bisa menungguku?"
Rahma memejamkan mata "aku tak tahu."
"Rahma..??"
"Kamu mau pergi ke mana?"
"Ke inggris."
"Jauhnya."
"Iya jauh."
"Kamu tak perlu minta ijin dariku, aku akan melepaskanmu kalau kamu memang ingin."
"Ramha..?"
"Hiatusin aja hubungan kita."
"Hiatus?"
"Iya, ketika aku jauh darimu aku tak tahu apa yang terjadi denganku, kamu juga. aku tak tahu yang terjadi di sana, siapa tahu kamu akan kepada cewek yang lebih cantik dariku. kudengan nona-nona di london cantik-cantik."
"Rahma, aku tak akan melupakanmu, aku akan ingat terus."
"Aku tak bisa melakukan LDR, kamu tahu itu aku jauh darimu rasanya sedih. Aku ingin kamu selalu ada disampingku."
"Aku juga Ma, aku juga."
"Kita hiatus."
"Hiatus..?"
"Iya itu satu-satunya jalan, aku tak tahu nanti ketika kamu jauh dariku , bisa jadi bisa jadi ada yang mendekatiku, kamu juga. aku tak ingin kecewa lagi."
Singgih tahu, kalau ia takan tahu masa depan nanti seperti apa. Apakah Hiatus adalah salah satu carany? merka juga tak yakin. Dan Rahma tak pernah melakukan LDR dengan lelaki, Singgih mengusap pipi Rahma kemudian dia menium kekasihnya itu, ciuman untuk mengungkapkan perasaannya saat itu.
"Jangan pergi...!" bisik Rahma.
"Kita jalani saja," Singgih mengusap rambut Rahma.
"Jangan pergi..!"
"Aku akan kembali."
"Please..!"
Singgih kemudian berbalik meninggalkan Rahma sendirian di teras itu. Rahma memejamkan matanya air .atanya mengalir, bukan seperri ini yang dia harapkan tapi ia juga tak bisa egois memaksa Singgih untuk tetap tinggal. Jadi.. bagaimana ia akan menjaga cintanya sampai Singgih pulang, bagaimana?
Beberapa bulan kemudian Rahma pun diterima kerja di PT Evolus Produtama menjadi sekretaris Andini .
Awalnya hanya dua bulan Rahma dan Singgih intens berhubungan lewat telepon, chatting bahkan email. Namun setelah itu Singgih seperti menghilang tak ada kabar, tak pernah menelepon hampir seluruh kontaknya tak bisa dihubungi.
Selama berbulan-bulan Rahma galau tak menentu. ke mana Singgih? kenapa ia tak perna menghubunginya? ada apa sebenarnya? Rahma juga tak mungkin mengusul Singgih ke London.
Rahma tahu Singgih bukan orang yang mudah meninggalkannya, Namun ini sangat aneh. Apakah kekhawatirannya selama ini terbukti, bahwa Singgih sudah tergoda dengan gadis-gadis Inggris? kalau toh benar ia pasti sangat bersedih.
Hatinya rindu, galau tak menentu. Akhirnya untuk melupakan kegalauannya ia pun lebih fokus bekerja , hidup itu sangat singkat kalai harus memikirkan Singgih terus maka tak mungkin. Akhirnya Rahma hanya bisa pasrah terhadap hubungan ini, entah mau dibawa ke mana hubungan mereka.
Tapi sekarang ada seorang pria yang mengetuk hatinya, seorang pria yang ia lihat punggungnya tiap hari. Seorang pria yang membuat dia bersusah payah menyelidiki siapa sebenarnya dirinya.
Hingga ada getar-getar rasa setelah lama ia tak meresakan getaran rasa itu Getar-getar yang ia rasakan ketika bersama Singgih. apalah ia goyah? apakah keyakinannya sekarang goyah?.
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Aku harus pulang," kata seorang lelaki
"Kau yakin, dia akan menerimamu dengan kondisi seperti ini?" tanya seorang wanita.
Sang lelaki pun diam, ia menangis, tubuhnya gemetat terlihat tangan yang buntung berusaha menggapai wajahnya. Sang wanita pun kemudian mengusap air mata sang lelaki dengan tissue yang ada di tangannya. Wajah sang wanita juga tampak menunjukan raut muka sedih.
Melihat lelaki di hadapanya tak punya lengan dan kaki semakin membuat hatinya tersayat. Lelaki ini hampir setiap hari bersedih. Bersedih karena ia tak bisa apa-apa sekarang, sebuah foto tampak berada di pigura yang ada di meja dekat tempat tidurnya, foto itu adalah sebuah foto yang tak asing lagii, seorang wanita dengan senyumannya yang manis menghiasi pigura itu.
itu adalah foto Rahma.
bersambung HUJAN