
Sepuluh tahun kemudian...
Arci berdiri di depan sebuah makam, batu nisan tersebut bertuliskan Rahma. Di sebelahnya tampak Singgih dengan kuris rodanya, mereka berdua menatap batu nisan itu.
"Sungguh aku iri denganmu." ujar Singgih
"Iri kenapa? Kehidupan yang kelam sepertiku, tak pantas kau iri." kata Arci.
"Bukan, bukan itu. Aku iri karena dirimu seharusnya bisa bersama Rahma."
"Apa maksudmu?"
"Aku membaca buku hariannya."
Arci menoleh ke arah Singgih.
"Dia memang masih mencintaiku, tapi semenjak ia mendekatimu, semenjak kamu pura-pura dekat dengan dia. Ia mulai suka kepadamu, hanya saja ketika tahu kamu membawa diriku kembali ke sini, ia menjadi bimbang. Ia merasa tak enak, ia selama ini sebenarnya menahan rasa sakit terhadap seorang rekan kerja yang ia cintai. Tapi harus menerima kenyataan pahit bahwa lelaki yang di sukai bersama wanita lain.
Arci tak bisa bicara apa-apa, dia hanya diam.
"Tapi tak mengapa, aku sadar dengan kekurangan yang ada pada diriku. Rahma lebih tertarik kepadamu, LDR memang membuat diriku hancur. Seharusnya kamu tak membawaku pulang, aku baru tahu kalau hatinya sesakit itu. Tapi dia berusaha baik padaku dan belajar mencintaiku dengan segala keterbatasan ini, Dia adalah wanita yang paling baik."
"Ya, dia wanita yang baik."
"Kamu sudah punya anak?"
"Ya, anaku laki-laki. Mungkin sekarang sedang bermain bersama ibunya."
"Ah, dari dulu aku dan Rahma ingin punya anak laki-laki juga. Selamat buat kamu dan Ghea."
"Aku akan meninggalkanmu di sini, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Setelah ini aku akan menjemput istri dan anakku."
"hahahaha, aku tak tahu wanita seperti Ghea bisa sefeminim itu sekarang. Padahal aku lihat dia seorang wanita yang tangguh."
"Percayalah, dia tetap seperti itu."
Arci menyerahkan sebuah remote kotak kecil kepada singgih, ia letakan di pahanya. Setelah itu Arci menepuk pundak Singgih lalu pergi meninggalkannya di makam istrinya, Singgih menghela nafas. Bebannya sedikit berkurang setelah ia menceritakan bagaimana perasaan Rahma kepada Arci. Dia menoleh ke arah ke sebuah arah tak terlalu jauh dari tempat dia duduk di atas kursi rodanya, di sana ada seseorang dengan mulut dibekap dengan lakban dan tangan serta kakinya terikat kuat. Seorang lelaki dengan mata yang nanar, pelipisnya berdarah dan bajunya robek disana-sini.
Orang itu sudah berubah penampilan, sangat berbeda dengan wajahnya beberapa tahun yang lalu. Ternyata operasi plastik telah mengubah wajahnya menjadi orang lain, sayangnya hal itu tak merubah sidik jarinya yang ia miliki. Wajah boleh berubah tepi sidik jari tetaplah sidik jari, kalau saja waktu itu Arci tidak tertarik pada sebuah lukisan maka dia tak akan bisa menemukan orang itu. Ya, Tommy ditemukan dengan profeainya sebagai pelukis. Wajahnya memang berubah, tapi ketika Arci menyelidiki sidik jarinya, ia yakin bahwa pelukis itu adalah Tommy.
Arci sudah tak lagi dendam kepada Tommy, ia tahu dendam akan membuat penyesalan seumur hidupnya. Maka hal iti ia serahkan hidup Tommy kepada Singgih yang sangat kehilangan Rahma, di tempat Tommy duduk ada sebuah bomb tertanam di sana. Singgih hanya menekan tombol itu maka meledaklah Tommy.
"Seharusnya kamu tak melakulan hal itu!" kata Singgih.
Tommy menggeleng-geleng, mulutnya tak bisa bicara ia hanya melotot terlebih setelah Singgih menekan tombol remote itu.
DUAAARRR!
Tommy hancur berkeping-keping, setelah itu Singgih menyingkirkan remote kecil itu dengan sikunya. Seseorang datang kepadanya dan membantu dia untuk mendorong kursi rodanya, dia adalah Chatrine. Perasaan Singgih sekarang lega, akhirnya Tommy sudah tewas dengan tubuh berhamburan di sana sini.
"Kita pergi." kata Singgih.
"Sekarang kemana lagi?" tanya Chatrine.
"kembali ke London."
"Boleh, siapa takut."
...****...
Kapten Basuki sekarang bukan lagi Kapten melainkan Komisaris, dia diundang Arci untuk datang ke kantornya. Bagi polisi yang diundang oleh Big Boss, tentu saja itu suatu hal yang aneh.Terlebih sekrang polisi sedang mencari-cari kesalahan yang dapat menjerat Arci, sekarang hampir semuanya dikuasai oleh Arci mulai dari mall, toko-toko, jalan-jalan, pasar-pasar. Seluruh kota Malang dikuasai olehnya, kalau dulu ada keluarga Trunojoyo sekarang mereka tidak ada apa-apanya setelah perusahaanya tumbang dan di Akusisi oleh PT. Evolus.
Komisaris Basuki memakai baju biasa, kemeja berwarna coklat dengan celana kain berwarna hitam. Sikapnya yang formal membuat ia dikenali sebagai polisi, kantor tempat Arci berada sekarang dirombak. Gedungnya ketambahan lantai lagi, bahkan fasilitasnya sangat mewah, Arci sedang menanti dua orang tepatnya. Seorang yang melamar kerja dan seorang tamu.
TOK!GOK!TOK! Pintu diketuk.
Arci menjawab ketukan tersebut, "masuk."
Seorang lelaki berkumis, berbadan tegap masuk ke dalam ruangannya. Dia adalah Komisaris Basuki, Arci mengangguk-angguk. Dia berdiri menyambut polisi tersebut, ini perjumpaan kesekian kalinya setelah beberapa tahun lalu ia berseteru dengan sang Komisaris itu.
"Selamat datang Komisaris." sapa Arci.
Komisaris Basuki mendekat dan menjabat tangan Arci, "Sudahlah tak usah berbasa-basi lagi. Katakan yang ingin kamu katakan!"
"Aku hanya ingin bersahabat itu saja, aku mengundangmu kemari dengan niat baik. Kita sudahi permusuhan ini, lagipula aku tidak punya dendam kepadamu."
"Kamu memang tidak punya dendam kepadaku, tapi jangan lupa kamu yang menggerakan masa enam belas tahun yang lalu! Kamu membuat kekacauan di Malang, nyawa anak buahku tak terhitung yang tewas. Dalam sehari kamu membuat kota Malang mencekam, tapi aku cukup takjub kamu bisa mempunyai mertua seorang pengacara handal. Tak kusangka kamu bisa memanfaatkan semua orang."
"Aku tak memanfaatkan siapapun, Bu Susiati sudah menganggapku sebagai anaknya. Aku juga mencintai putrinya."
"Agaknya aku sia-sia saja kamu undang aku kesini, aku tak akan bersahabat dengan kriminal sepertimu."
"Pak, aku berterima kasih."
Komisaris Basuki agak terkejut, "Berterimakasih untuk apa?"
"Berterimakasih karena telah menjagaku selama ini."
"Cih, menjaga?"
Komisaris Basuki tertawa, "Kamu.merasa begitu?"
"Begitulah."
"Sungguh bodoh," ujar Komisaris Basuki, "Aku tak ada urusan lagi denganmu, aku ciman ingatkan kamu. Usaha ilegalmu akan aku dapatkan dan kamu bisa mendekam lagi di penjara dalam waktu yang lama."
"Ini artinya anda ingin menangkap oranv yang telah menjadi penguasa kota ini, sedangkan semuanya yang ada di kota ini adalah rumah dan tempatku hidup? Itu artinya anda ingin menyalahkanku terhadap apa yang aku lakukan di dalan rumahku sendiri, sedangkan anda sendiri adalah orang yang sekedar menumpang?"
Komisaris Basuk tak bicara, ia terdiam tanpa menjawab.
"Well...good luck!"
Komisaris Basuki mendengus, ia segera berbalik dan sebelum membuka pintu ia berkata. "Dulu Letnan Yanuar sangat berharap dirimu membuang semua kesempatan untuk bergabung dengan keluarga Zenedine, tapi tampaknya itu tidak akan mungkin. Mungkin itu sebabnya kau kehilangan orang-orang yang kamu cintai."
"Ya, aku tahu. Ini adalah karma yang aku peroleh." ujar Arci.
Komisaris Basuki pun keluar, Arci menoleh ke dingding. Di dingding itu ada bingkai-bingkai yang berisi foto-foto, terdapat dua bingkai besar. Satu berisi foto Andini dan bingkai satunya lagi adalah foto Safira, keduanya tersenyum manis. Arci sengaja memajangnya, ia merasa mereka berdua masih hidup sekarang. berdiri disampingnya, setiap haru dia merasa demikian. Terkadang juga bisikan-bisikan Andini masih terdengar ditelinganya.
TOK! TOK! TOK! Pintu di ketuk.
"Masuk!" perintah Arci. Lamunanya pun buyar.
Seorang wanita masuk ke dalam ruangan, dia seoramg gadis yang cantik dengan atasan kemeja putih dan bawahan hitam. Ia datang untuk interview, ya Arci sedang menunggu gadia tersebut.
"Maaf, tadi saya di suruh oleh bagian HRD untuk langsung ke sini untuk interview." ujar gadis itu.
"Silahkan duduk." kata Arci, "Anda memang sudah ditunggu."
"Terima Kasih Pak," ujar gadis itu.
Arci membuka sebuah stopmap folio, di dalamnya terdapat data gadis itu. Ia memeriksa latar belakang pendidikan dan sebagainya, Arci tertarik. ternyata gadis cantik yang berada di hadapnya itu lulusab Unbraw dengan IPK 3.9. Jurusab Tehnik Informatika, tapi melamar sebagai seorang sekretaris.
"Ok, sepertinya saya tidak perlu panjang lebar bicara. Saya memang membutuhkan seorang sekretaris." kata Arci.
...****...
Komisaris Basuki keluar dari ruangan Presiden Direktur, dia berpapasan dengan gadis berkemeja putih dan bahawan hitam tadi. Dia seperti pernah melihat gadis itu, namun ia pun mengangkat bahunya. Banyak yang ia gadis-gadis yang ia temui pikirnya sehingga ia pasti pernah melihatnya di suatu tempat.
Polisi itu serasa dilecehkan di kantor itu, mungmin kalau saja Arci tidak memiliki banmyak beking bisa jadi dia akan menghajar pemuda itu. Dia memandang kantor Arci yang sangat megah ini, semuanya berbeda sekarang. Para karyawannya tampak sibuk, namun sebagian santai, sebagian sedang berdiskusi, sebagian yang lain sedang merancang sesuatu. Ya, merancang produk fashion terbaru mereka, Komisaris Basuki sudah berada di depan lift hingga ia teringat akan satu hal.
"Sebentar..... gadis tadi....oh tidak, celaka." Segera Komisaris Basuki berbalik.
****
Di depan Arci gadis itu sekarang sedang menodongkan senjatanya ke arah Arci, sebuab pistol Desert Eagel mengarah tepat ke kepalanya. Arci duduk dengan santai dan tersenyum kepadanya.
"Siapa kamu ini?" tanya Arci.
"Kamu tak tahu aku? Tentu saja, aku adalah anak Agus Trunojoyo. Kau dapat salam dari dia!"
Arci menghela nafas, apakah ini yang namanya karma? Akhirnya setelah lama menunggu, akan ada yang senekad ini. Menodongkan senjatanya tepat di hadapannya, Arci tak akan bisa menghindar kalau gadis itu menarik pelatuknya. Jaraknya terlalu dekat, tetdengar di telinga Arci suara gemetar. Ya gadis itu gemetar memegang pistolnya.
"Apakah kamu masih ingin hidup?" Arci bertanya kepada dirinya sendiri. "Aku sudah tak ingin hidup sejak lama. Nyawaku sudah pergi, tembaklah kalau kamu ingin menembakku, jangan pernah ragu. Jangan gemetar seperri itu."
Gadis itu menatap tajam Arci, matanya berair. Entah kenapa keberaniannya berhenti ketika Arci memang berniat untuk mati.
"TEMBAK AKU JANGAN PERNAH RAGU!" bentak Arci.
"AAAAAARRRGGGHHH!" gadis itu berteriak histeris.
Komisaris Basuki teringat ketika saat ia datang ke pemakaman Agus Trunojoyo, ia ingat gadis itu. Gadis kecil yang menangis meraung-raung di depan makam ayahnya, dia teringat bagaimana gadis itu histeris sambil berteriak. "Aku akan bunuh dia, aku akan bunuh orang itu!"
"Breng**k! Kenapa dia bisa berada di sini?" ujar Komisaris Basuki sambil mengumpat. Dia mengeluarkan Revolvernya berlari kencang menuju pintu tempat di mana Arci berada. Semua orang terkejut karena suara larinya sangat berisik dan sambil mengangkat senjata.
Sang Komisaris polisi itu menubruk pintu ruang kerja Arci.
BRRAKK!
"Gladis Trunojoyo! Hentikan!" Komisaris Basuki berada di depan pintu sambil menodongkan senjatanya.
Arci hanya tersenyum, ia memejamkan matanya. "Andini, safira aku datang...."
DOR!
(The End)
Epilog
Ghea menyimpan kembali PSG-2 miliknya, dia menaruhnya di koper senjata.Setelah itu ia beranjak dari tempat dia tiarap, sambil menenteng koper panjang itu. Dia berada di gedung seberang tempat Arci berada, salah satu ajudannya menerima koper yang ia bawa. Kemudian dengan santai Ghea berjalan pergi ke gedung tempat suaminya berada.
"Andini, Safira maaf. Aku masih ingin bersama suamiku."
...*********...
Dendam itu punya sebuah karma yaitu perputaran kematian tanpa henti.
Note : Akan hadir sekuel I LOVE YOU HANDSOME part II REBELLION