I LOVE YOU, HANDSOME

I LOVE YOU, HANDSOME
SERPIHAN RINDU



"Arci, bangun!" Andini menggoyangkan tubuhnya.


Arci pun bangun dan membuka matanya, dilihatnya Safira memakai piyama. Wajahnya sunggug cantik. "Kamu cantik sekali hari ini,"


"Gombal."


"Beneran, kamu seperti bidadari."


"Ayo bangun!"


"Aku rasanya tak ingin bangun, kalau memang ini mimpi aku ingin di sini terus."


Safira mendekat dan memberikan kecupan di keningnya, "Kalau kamu tidak bangun, bagaimana kamu akan menyongsong hari ini? Banyak yang menunggumu."


"Temani aku sebentar! Aku rindu kamu, aku sangat kehilangan kamu."


Safira menggeleng-geleng, Ia pun berbaring di sebelah kekasihnya yang juga adiknya. Kedua mata mereka saling bertatapan, mata Arci menyiratkan kerinduan yang sangat. Arci kemudian merangkul Safira, lalu menciumnya, ia memejamkan mata. Arci bersedih, ia ingin memeluk kakaknya lebih lama. Ia sangat kehilangan.


"Jangan pergi kak! jangan pergi! Aku akan berikan apa saja, tapi jangan pergi. Aku tak mau kamu pergi meninggalkanku."


"Ada banyak perjumpaan, ada pula kepergian. Aku tak bisa di sini terus."


Arci berderai air mata, "Kumohon jangan pergi, kamu sudah berjanji akan jadi ibu dari anak-anakku, jangan pergi! Aku mohon!"


"Aku akan selalu bersamamu, aku selalu melihatmu. Adek, kamu sudah ada Andini, jangan lepaskan dia."


"Hiks..aku butuh kamu, aku rela membuang semua kekayaan ini untuk kamu! Jangan pergi! Aku janji akan mengajakmu liburan, aku janji akan meembuat rumah untuk kita! Aku janji!"


Safira mengusap wajah adiknya. Ia lalu bangun, ia menggeser pelan tubuh adiknya agar pelukan Arci terlepas.


"Dunia ini cuman sementara adikku. Di mana tempat orang seperti aku? Tak ada yang menerimaku, kamu satu-satunya orang yang memeluku erat saat tak ada siapapun yang mau peduli kepadaku. Kamu satu-satunya lelaki yang menghiburku saat yang lain merendahkanku. Aku sudah punya tempat tinggal di hatimu, aku akan selamanya di sana. Kamu harus berjuang untuk hidup, karena Andini juga tinggal di sana. Aku dan dia ada dihatimu. Selamanya...."


"Kaak...! Maafkan aku...!"


Safira tersenyum, senyumnya tak akan pernah dilupakan oleh Arci. Perlahan-lahan tubuhnya bercahaya kemudian menghilang.


"Kaaaakk! Kak Safiraaa!"


Ghea melihat jalannya operasi, tubih Arci penuh luka bacokan di punggung. sayatan dilengan, pelipisnya berdarah, enam peluru menembus dada dan perutnya. Beruntung tidak mengenai organ vital di dalamnya, Arci kehilangan banyak darah, bahkan detang jantungnya sempat berhenti sejenak. Tapi kondisi kritis itu sudah lewat, ada sesuatu yang membuat Arci berjuang hidup.Ghea keluar dari kamar bedah lalu duduk di kursi tunggu.


Dokter lalu keluar dari ruangan bedah, ia melihat Ghea yang sepertinya kelelahan. Bajunya masih basah akibat terjun ke sungai, tangan Ghea tak melepas pistol glocknya dalam keadaan seperti ini dia harus lebih sigap.


"Kamu perlu ganti baju?" kata sang dokter.


Ghea menatap ke arahnya.


"Jangan berfikir buruk, aku cuma ingin menolong. Aku tak perduli apa yang sedang terjadi dengan kalian, aku hanya menjalankan tugasku saja!" ujar sang dokter.


Ghea tersenyum tipis, "Baiklah, ada baju?"


"Ada, asistenku bisa menyediakannya. Aku tak tahu ukurannya pas atau tidak."


"Ada mobil?"


"Kalau soal itu..."


"Heh, jangan khawatir. aku akan mengembalikanya dengan yang baru!"


Singkat cerita setelah Ghea mendapatkan baju ganti, ia segera membawa Arci pergi dengan mobil milik sang dokter. Satu hal yang dijanjikan oleh Ghea kepada sang dokter "Aku akan membayar semuanya mobil dan biaya operasi."


Mobil Hyundai Avega milik sang dokter itu melaju, Ghea menuju ke sebuah tempat yang sering ia jadikan tempat berlatih. Tempat itu tak banyak orang yang tahu, termasuk Tommy. Jadi menurutnya itu adalah tempat teraman bagi dia dan Arci sekarang.


Hari itu juga dia membaca banyak berita tentang kerusuhan kemarin, Letnan Yanuar tewaa, Jacques, Pieter, Amanda dan Safira. Mata Ghea berkaca-kaca saat mengetahui ayahnya, semua orang kehilangan, Arci kehilangan, dia juga. Agaknya kedua orang tersebut mempunyai tujuan yang sama yaitu balas dendam.


Ghea melajukan mobil sampai ke daerah perbukitan, jalanan berkelok-kelok, setelah mengisi bahan bakar di SPBU dia masih harus terus mengemudi sampau dua jam lagi. Jauh sekali. Mereka berhenti di sebuah pondok, lahannya cukup luas dan pemandangan di depannya ada sebuah gunung dan jurang dari jauh terlihat sebuah waduk. Ghea tiba di sana pas hari sudah malam, segera ia menggendong Arci menuju ke dalam pondok. Dia mengambil sebuah kunci di bahwa sebuah pot, lalu dibukanyalah pintunya. Gadis berambut merah ini menuju ke kamar dan membaringkan Arci di sana, Ghea pun ambruk di samping Arci.


"Aku juga capek, kamu harus hidup! Aku tak bisa menghadapi mereka sendirian, kamu jangan mati!..."


Ghea menatap wajah Arci ada sebiah perasaan tertentu ketika dia menatap wajah pemuda itu. Ia mulai ada rasa tertarik kepada pemuda yang pernah ia todong, sang pemuda ini berani menghadapi semuanya sendirian. Ia juga tak takut terhadap ancaman senjata api, baru kali ini Ghea bertemu pemuda seperti Arci. Berbeda dengan pria-pria pengecut yang pernah ia temui, Ghea kemudian mengecup bibir Arci.


"Ini adalah hadiah buat kamu, kamu harus hidup. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku, aku menjadi lembek kalau dekat denganmu. Jadi malu, dadaku berdebar-debar, aku tak mengerri apa yang terjadi kepadaku. Tapi kalu perasaanku ini bisa membuatmu hidup, maka hiduplah! Aku tak tahu...tapi sepertinya aku menyukaimu, cinta? Entahlah...jangan mati! jangan mati!"


I LOVE YOU, HANDSOME.


Suara ayam jantan berkokok membangunkan sang mentari, Arci yang sudah tiga hari tak sadarkan diri akhirnya bangun. Tubuhnya terasa sakit sakit semua, di kamar ia kebingungan kenpa bisa ada di sini. Padahal ia berharap mati saja, rasa kehilangannya sangat dalam, kehilangan Safira membuat ia benar-benar tak punya semangat hidup. Arci membuka matanya menatap langit-langit kamar, ia merasakan udara dingin yang menusuk selimut tebal yang menyelimuti rasanya tak bisa menghalau udara dingin itu.


Arci pun menyingkapkan selimut itu, ia kebingungan melihat tubuhnya telanjang dan yang pertama kali dirasakannya adalah "panggilan alam" dia segera menuju ke sebuah pintu yang dia kira kamar mandi, dan ternyata benar itu adalah pintu kamar mandi. Dia mengeluarkan hajat yang ada di dalam tubuhnya, setelahnya ia berkaca di cermin yang terdapat di kamar mandi tersebut. Ada banyak luka yang diperban, ia masih ingat peluru-peluru itu menembus tubuhnya, sayatan-sayatan parang. pukulan pipa, ia ingat itu semua. Rasanya kehiduoanya belum berubah, masih kelam. Tapi ia merasa ini lebih gelap, kekayaan tak menjamin ia bisa hidup tenang sebagaimana yang ia inginkan. Setelah selesai urusannya di kamar mandi, Arci mengambil handuk yang berada di gantungan kamar mandi.


Arci keluar kamar mandi, ia agak terkejut ketika mendapati Ghea ada di sana. Ghea memakai tanktop warna merah dan celana pendek jeans, hal itu menampakan kemulusan tubuhnya. Arci tak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada tubuh Ghea yang terpampang di hadapanya, apalagi Ghea sedang duduk di tepi ranjang dengan tangan bersedikap dan kaki disilangkan.


"Kamu sudah siuman?" tanya Ghea.


"Kalau sudah begini ya sudah siuman." jawab Arci.


"Hahahaha. aku pikir kamu tak akan selamat kemarin. Tiga hari tak sadarkan diri, kamu sekarang sudah merasakan bagaimana peluru panas menembus tubuhmu kan?"


"Iya."


"Sekarang apa yang ada di pikiranmu?"


Arci tak menjawab dia masih bingung, dia teringat kembali tentang Safira.


"Apa yang sudah terjadi?"


"Kamu harus berterima kasih padaku. aku mengumpulkan berita selama tiga hari kamu berada di rumah pribadiku."


"Ini? Dimana?"


"Ini di daerah nongko jajar, di atas gunung. Aku sengaka memilih tempat ini untuk menyepi, tak ada yang mengganggu. Bahkan cecunguk Tommy tak akan menemukan kita, tak ada sinyal telepon, tapi kalau kamu mau akses internet kita ada sambungan satelite."


"Nongko jajar?"


"Iya, daerah ini dari Malang terus ke timur melewati pakis, kemudian ke utara. Kalau kamu terus ke utara maka kamu akan mendapati hutan belantara yang belum tersentuh."


"Aku baru tahu daerah yang belum tersentuh."


"Jadi apa yang ada dipikiranmu sekarang?"


"Aku ingin balas dendam."


"Sama seperriku."


Arci mengangkat alisnya.


"Tapi dengan kondisimu yang sekarang, kamu belum siap. Aku akan melatihmu hingga kamu siap."


"Melatihku?"


Arci baru ingat kalau ponselnya tidak ada, Ghea berdiri menuju ke lemari di sana ada beberapa pakaian, ia mengambilnya kemudian menyerahkanya kepada Atci.


"Pakailah, ini baju ayahku. Kuharap pas, kalau toh tidak kamu bakalan pakai handuk tiap hari," kata Ghea sambil tersenyum.


Arci nyengir melihat kondisi tubuhnya yang hanya memakai handuk, Ghea setelah itu keluar dari kamarnya. Segera Arci memakai baju yang ada, dia lalu melangkah keluar kamar. Dia melihat suasanya rumah yang nyaman, hampir semua terbuat dari batang kayu pinus layaknya sebuah rumah musim dingin di wilayah colorado amerika. Beberapa foto ada di sana, foto-foto pamanya, juga Ghea, dan ada pula foto Ghea merangkul senapan laras panjang yang dikhususkan untuk menembak jarak jauh ya itu adalah Sniper Rifle. dan ada juga senapan yang di pajang di dingding kayu rumah pribadi Ghea.


Ada tiga sofa besar di ruang tengah dan sebuah meja di tengahnya dan terdapat vas bunga yang tidak ada bunganya, Arci melihat keluar rumah di sana ada Ghea yang sedang mengelap pistolnya. di depan Ghea terdapat sebuab meja yang banyak terletak senjata api tersusun rapih bak sebuah pameran, lalu Arci menghampirinya.


"Hidup ini memang keras, aku yakin kamu tahu itu. Terkadang kita tak bisa lari, terkadang kita harus melawan balik." Ghea menggenggam pistolnya, lalu membidik Arci.


KLIK!


Arci sedikit kaget, ia menyangka Ghea beneran menembaknya.


"Itu yang aku suka, kamu tak berkedip ketika pistol ini aku tarik pelatuknya. Orang biasa pasti akan memejamkan mata, kamu tidak demikian. Kamu sudah tahi rasanya menembakan senjata dan kamu juga sudah tahu rasanya ditembus peluru. hal itu menjadi nilai plus, aku tahu kamu kehilangan sangat kehilangan dan aku ingin rasa kehilanganmu itu kamu fokuskan untuk membalas perbuatan mereka. Jadikan itu sebagai semangatmu, Nih tangkap!"


Arci menangkap pistol glock yang dilemparkan Ghea, rasanya lebih ringan dari yang pernah ia pegang dulu. Mungkin karena tal ada pelurunya, mungkin juga ia pernah memegang pistol sebelumbya. Arci menatap Ghea, di mata gadis itu teroancar Aura balas dendam.


"Aku ingin menghubungi Andini?" kata Arci.


"Kamu nanti bisa menggunakan laptop di kamarku," kata Ghea. Dia segera menghampiri Arci. dipegangnya tangan pemuda itu "Aku ingin bertanya padamu lagi, kamu sudah masuk ke keluarga ini, suka atau tidak suka. Kamu akan berkubang lumpur di keluarga ini, dan kamu harus siap. Sebelum lebih jauh melangkah, aku tanya lagi. Kamu Siap?"


Arci menatap mata Ghea, ia tak mampu menjelaskan apa yang ada di dalam dirinya sekarang ini. Ketika ingat Safira, ia pun langsung berkata. "Aku Siap."


I LOVE YOU, HANDSOME.


Andini bersedih. Ya, dia bersedih. Dia berdiri di hadapan kuburan Safira, ia tak bisa membendung tangisnya. Padahal mereka baru saja dekat, tapi semuanya berlalu begitu cepat. Hanya sang ibu yang bisa mengelus-elus punggungnya untuk menenangkan putrinya. Saat sedang bersesih itulah Ghea tiba-tiba muncul.


"Andini??" sapa Ghea.


Andini menoleh ke arah Ghea, Bu Susiati juga tak menyadari kalau Ghea ada di dekat mereka.


"Arci selamat, aku ingin kamu, ibunya Arci, adiknya dan kalian semua sembunyi dulu. Kalian tak aman berada di sini," kata Ghea.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Andini "Kenapa mereka melakukan ini?"


"Ada orang gila harta yang ingin menghabisi Arci dan yang lainnya. papaku juga telah dibunuh oleh mereka, bukan kamu saja yang kehilangan." kata Ghea.


"Maaf, aku turut berduka." kata Andini.


Ghea tersenyum simpul, dia melangkah mendekat ke Andini lalu memberikan dia pelukan. Bukan sepeeti Ghea pada umumnya, Ghea juga heran kenapa dia biaa berbuat demikian, semenjak mengenal Arci dan tenggelam dalam kehidupan sepupunya itu. Ia banyak berubah dan kali ini dia melakukanya secara spontanitas.


"Aku akan.menjaga Arci, kamu jangan khawatir. Sementara ini kamu ganti nomor ponsel, mereka bisa melacakmu kalau kamu memakai nomor yang lama." kata Ghea.


"Kenapa kamu melakukan ini?"


"Karena kita keluarga, Arci sudah menjadi keluargaku." kata Ghea sambil menepuk-nepuk punggung Andini.


Ghea melepaskan pelukannya, Andini tampak masih bersedih. Ia tak percaya terhadap apa yang baru saja terjadi.


"Kalian punya tempat untuk sembunyi bukan?" tanya Ghea.


Bu Susiati menghela nafas, "Ada, kami akan mengajak Lian dan anaknya. Kamu jangan khawatir, bagaimaba keadaan Arci?"


"Dia masih belum sadarkan diri, tapi dia sudah melewati masa kritis. Maaf merusak.acara bulan madu kalian," Ghea menggenggam tangan Andini yang dingin


Wajah Andini datar ia terlalu sedih untuk dihibur.


"jaga diri kalian, aku akan menyuruh Arci untuk menghubungimu lewat email kalau nanti dia sudah sadar, untuk sementara kalian jangan bertemu dulu dengan dia. Dia sendiri yang akan menemui kalian." kata Ghea.


"Ghea...."


"Ada apa?"


"Bilang kepada Arci, balaskan setiap tetes darah Safira yang ditumpahkan oleh mereka. Balaskan sakit hatiku, sakit hati kita semua."


"Ya, aku akan menyampaikannya." ujar Ghea sambil tersenyum pada Andini.


Setelah itu ia meninggalkan Andini dan ibunya, Andini kemudian merangkul ibumya. Seharusnya ini menjadi hari bahagia karena Andini sudah bisa bersama Arci. Entah apalagi yang akan terjadi ke depannya, Ghea dan Arci pasti punya rencana sendiri pikir Andini. Dan dia akan menunggu kedatangan Arci suatu saat nanti.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Tommy tampak puas, dia telah melakukan apa yang dia inginkan. Kini ia duduk di kursi presiden direktur, dia melihat sebuah foto yang tepampang di dalam sebuah pigura, itulah Foto Andini.


"Toh, aku lupa kalau mereka sudah menikah " gumam Tommy, "Ah, whatever tak penting , sekarang tak akan ada lagi yang bisa merebut kekayaan ini,"


Alfred masuk ke dalam ruangan di mana Tommy berada. "Papa?"


"Hei, Alfred. Kerja bagus, kamu sudah melacak keberadaan mereka?" tanya Tommy.


"Mereka sepertinya menghilang."


"Apa kita sandera saja istrinya, biar dia bisa mumcul?"


"Itu ide bagus, aku juga sudah berfikir ke arah sana, tapi mereka mereka juga menghilang tanpa jejak."


"What?"


"Ah, tapi aku tak perduli, mereka tak akan mungkin merebut ini, apa mereka.mau cari mati? hahahaha, kerja bagus sekarang tinggal kita satukan perusahaan ini dengan PT. Denim.


I LOVE YOU, HANDSOME.


Andini menerima email dari Arci.


From : arci


To :andini


Subject : I"m Sorry


Maaf sayangku, sepertinya aku harus menunda bulan madu kita. Tapi secepatnya aku akan kembali.


I Love you


Arci


"Arci, aku merindukanmu," desah Andini. Dia bersama dengan kedua orang tuanya, dan juga ibu dan adiknya Arci, mengendarai mobil pergi ketempat yang dirasa aman oleh mereka. Andini tak membalas email dari Arci, tapi ia yakin saat ini Arci pasti sangat merindukannya. Tiba-tiba saja pikiranya mengatakan bagaimana kalau Ghea jadi lebih dekat dengan Arci? Ah itu hanya perasaannya. Tapi sebagai istrinya ia juga punya rasa cemburu.


"Arci, aku membutuhkanmu." lagi-lagi mendesah.


Dan Arci saat itu sedang memandang langit hitam yang penuh bintang. Dia bergumam "Andini, tunggulah aku...."


Bersambung PURIFIER