
...Duhai yang dicinta...
...Sungguh aku sangat sulit melupakanmu...
...Cintamu sudah terlalu menusuk hatiku...
...Akankah aku bisa mencintaimu...
"Rahma, pulang bareng tuk,? ajak Nita.
"Eh, bentar girls. Tunggu dulu lah!" kata Rahma
"Mau lembur tah?" tanya Sonia.
"Iya, sudahlah tinggal aja. Bu Dini belum ngijinin pulang, banyak kerjaan;"
"Ooo...ya sudah, kita tinggal yah?" Nita melambai ke Rahma.
"Hati-hati, nanti kesambet cowok ganteng." goda Rahma.
"Aamiin..klo gantengnya kayak bos baru, kita ya..ok ok saja! jawab Sonia.
"Rahma?" Arci tiba-tiba ada di dekat Nita dan Sonia.
Nita dan Sonia langsung memerah wajahnya, mereka jadi salah tingkah melihat Arci.
"Eh...i..iya pak?" sahut Rahma gugup.
Nita dan Sonoa buru-buru pergi.
"Loh. Katanya kepengen kesambet cowok ganteng, koq kabur semua?" goda Arci.
Muka Nita dan Sonia memerah. Mereka malu setengah mati. "Nggk paaak!?"
Arci ketawa. Rahma hanya tersenyum.
"Bu Dini ada?" tanya Arci.
"Ada, tapi dia tak mau diganggu." jawab Rahma
"Kamu ada waktu?" tanya Arci
"Saya sedang ngurus pembukuan pak." jawabnya
"Halaah, nggak usah bilang Pak. Kemarin aja bilang Arci. Biasa ajalah, Ok aku mau masuk."
"Tapi pak? eh Ci..!"
Arci tak menghiraukan Rahma, ia mengetuk pintu lalu masuk. Andini kaget melihat kedatangan Arci.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Andini.
"Aku hanya ingin kejelasan, apakah kamu masih mencintaiku?" tanya Arci.
Andini tidak menjawab, mungkin terlalu keki bagi dia mengakui masih mencintai Arci, dia teringat kemarin ketika Arci jalan dengan Safira. Betapa dadanya bergemuruh, terlebih Arci mengakui telah berhubungan dengan Safira. Andini meneteskan air mata.
"Keluarlah, kumohon. Jangan temui aku lagi." kata Andini.
Arci menghela nafas, ia mendekati Andini. Andini memejamkan matanya, Arci mendekat dan kini tepat berada di hadapannya. Arci memegang wajah Andini lalu mencium oarng yang sangat dicintainya itu. Andini tak bisa berbuat apa-apa, ia ingin di cium tapi ia tetap tak bisa menerimanya. Ia menerima ciuman Arci itu tapi ada sesuatu di dalam dadanya yang tak ingin Arci ada di situ.
"Baiklah, kalau kamu ingin seperti ini," kata Arci "Aku akan buktikan kalau kamu masih mencintaiku, dan ketahuilah aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa jauh darimu, tapi... setelah ini kamu akan melihatku lain. Setelah aku keluar dari ruangan ini, aku tak akan lagi menemuimu. Aku tahu ini sulit, menerima kenyataan bahwa aku mencintai kakakku sendiri. Tapi aku jujur kepadamu karena aku mencintaimu, tak ada yang lebih baik bagiku selain kejujuran. Maafkan aku, Sekarang belum terlambat, aku masih disini katakanlah kalau kamu mencintaiku?"
Andini masih memejamkan mata, ia membisu Arci melepaskan tangannya dari wajah Andini. ia berbalik menuju pintu, perlahan-lahan ia pengang gagang pintu.
"Katakanlah kamu masih mencintaiku kumohon!" kata Arci.
Andini terisak, ia sangat mencintai Arci. Dia ingin bicara tapi mulutnya seperti tercekat.
"Aku sungguh mencintaimu, kalau kamu tak menerimaku...baiklah. Aku tak bisa memaksamu , selamat tinggal cinta," Arci membuka pintu lalu keluar dari ruangan Andini.
Tangis Andini pecah, ia langsung duduk di mejanya dan menangis sejadi-jadinya, "Arci...aku mencintaimu... hikkss.. maafkan aku hikss..aku masih mencintaimu...huaaaa..."
I LOVE YOU, HANDSOME.
Seumur hidup Arci tidak pernah mabuk, baru kali ini dia minum wisky dan langsung mabuk. Dia pun sampai tertidur di bangku taman, Ghea yang setia membuntutinya hanya menggeleng-geleng,. Dia sudah mengetahui hubungan Arci dengan Andini, tentu saja percakapan Arci di ruangan Andini ia pun tahu.
"Ayolah, kamu itu lelaki kenapa hanya urusan seorang wanita saja sampai seperri ini?" ucap Ghea di depan Arci yang sedang teridur.
Ghea lalu berjongkok, dia lalu mengusap wajah sepupunya itu. Entah mengapa hatinya sekarang nyaman ketika bisa mengusap wajah pemuda itu, ia tak pernah mengerti yang namanya cinta. Tapi apakah dia kini terkena penyakit itu? Dia menampar-nampar pipi Arci, tapi sang pemuda tak juga bangun. Ghea menghela nafas.
"Kenapa aku harus menjadi babysitter?" gumamnya.
Dilihatnya wajah pemuda itu, wajah Arci sangat mirip dengan pamannya Archer. Ghea masih ingat pamannya itu, Archer orang yang baik, ia selalu memperlakukan Ghea dengan lembut. Berbeda dengan ayahnya yang keras, Archer seoarang yang penyayang. Maka dari itulah ia bisa melihat sisi kasih sayang pada diri seorang pela**r seperri Lian, entah kenapa Ghea saat itu teringat dengan insiden ciumannya dengan Arci.
Tiba-tiba munculah sisi feminim di dalam dirinya, jantungnya berdebar-debar lagi. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Arci, dan dia pun akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir pemuda itu. Walaupun bau alkohol tapi ia tidak perduli.
Ghea tersentak dan menjauh, "Tidak..tidak, oh apa yang aku lakukan?" Ia berdiri lalu berpaling "apa yang terjadi kepadaku?" jantungnya semakin kencang berdetak. "F**k apa yang terjadi? oh God.." Ghea melihat Arci sekali lagi.
Ghea memukul-mukul dadanya sendiri, berusaha menenangkan detak jantungnya. Ia lalu mengambil pistolnya dan menodongkannya ke arah Arci. air matanya jatuh keluar membasahi pipi, baru kali ini ia merasakan rasa seperti ini.
"What's wrong with me?" katanya "kenapa aku tak bisa menembakmu??"f**k!"
Ghea menyarungkan kembali pistol glocknya, dia lalu menarik badan Arci kemudian memapahnya. Ghea sukar mengungkapkan perasaannya saat itu, dia tak pernah tahu yang namanya cinta. jadi dia menganggap perasaan aneh di dalam dadanya sebagai penyakit. Penyakit yang sukar diungkapkan dengan kata-kata, ia berencana akan pergi ke dokter untuk menanyakan kejiwaannya.
Arci pun sampai di rumahnya, pintu diketuk yang menyambutnya adalah Safira.
"Arci??" panggil Safira.
"Dia mabuk," kata Ghea
"Mabuk? nggak mungkin, Arci tak pernah minum...bau alkohol??"
"Dia sedang galau, cintanya baru saja ditolak. Dia jujur kepada kekasihnya tentang dirimu, betapa gentel dirinya," kata Ghea.
"Kamu?"
"Aku Ghea Zenedine, sepupunnya. Sebaiknya kamu selesaikan urusanmu dengan Andini, mungkin kalian bisa saling mengerti. Ah, kenapa aku harus perduli dengan urusan kalian?" "Aku pergi!" Ghea kemudian meninggalkan mereka.
Safira segera memapah Arci masuk, Lian yang terbangun pun melihat kondisi Arci yang mengenaskan, lalu membantu Safira memapah Arci sampai kamarnya.
"Kenapa dia?" tanya Lian
"Apa maksudmu?" kata Lian.
"Gara-gara aku, adek seperti ini," jawab Safira. Mereka berdua duduk di tepi ranjang Safira membantu melepas sepatu adiknya.
"Apa sebabnya?"
"Arci jujur kepada kekasihnya. Tentang diriku, mungkin terjadi sesuatu kepada mereka. Itu semua gara-gara aku."
"Tidak Safira, bukan karenamu."
Safira memeluk ibunya, air matanya meleleh.
"Andini...aku. Mencintaimu..," Arci mengigau, Safira menoleh ke arah adiknya, ia makin bersedih.
"Malam ini temani adikmu?" kata Lian.
Safira mengangguk, setelah itu Lian pergi meninggalkan kamar Atci. Malam kian larut Safira pun kemudian merebahkan diri disamping adiknya, seperti malam-malam sebelumnya. Tapi kali ini berbeda kali ini ia menemank Arci yang sedang galau, akhirnya ia pun tertidur sambil memeluk adiknya.
Baru beberapa jam tertidur, Safira kaget ketika ada yang meraba-raba dirinya. Ia terbangun dan mendapati pakaiannya telah terlepas dan dia melihat Arci sudah telanjang dan menindih dirinya, ia tak sadar ketika bajunya dilucuti. Bahkan sekarang Arci menciumi lehernya sambil *******-***** b**h d**anya.
Safira terasa sakit hatinya, ia tak menyangka adiknya sangat mencintai wanita itu. Sampai menganggap dirinya adalah Andini, dia pun hanya pasrah ketika Arci memasukan pe**snya yang keras ke dalam l**ng Seng**manya.
"Anggap aku Andini dek, ayo! lakukanlah. obati rasa sakit hatimu" ujar Safira di telinga adiknya itu.
Tak berapa kemudian Arci tertidur setelah melakukan hasratnya, Safira juga. Pelukan Arci sangat erat, hingga membuatnya nyaman.
"Arci aku bingung...aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, aku mengandung benihmu. Kamu mencintai Andini, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku cemburu tapi...kau mencintai dia," kata Safira dalam hati.
I LOVE YOU, HANDSOME.
"Rahma, ada waktu?" tanya Arci
"Hmm? Errr...nggak tahu pak, eh Ci." jawab Rahma.
"Aku ingin ngobrol sebentar bisa? nanti pas makan siang?" tanya Arci.
"B-bisa." jawab Rahma.
Arci pun menunggu Rahma kekuar dari ruangannya, begitu Rahma keluar Arci langsung menggandengnya.
"Eh, ada apa Ci?" tanya Rahma
"Bantuin aku ya."" jawab Arci
"Bantuin??"
"Aku akan cerita, kita di mobil aja. Makan yang jauh dari tempat ini."
Arci membawa Rahma pergi, mereka mencari tempat makan yang cukup jauh hingga akhirnya mereka menemukan sebuah tempat makan lesehan yang cukup nyaman untuk dibuat santai. Arci merapikan sambutnya yang sedikit kucel dan berantakan, Rasanya tidak enak sekali kepalanya, mungkin pengaruh Alkohol kemarin masih terasa.
"Ada masalah apa?" tanya Rahma.
"Aku ingin melakulan satu hal, tapi kamu mau apa nggak, sebenarnya ini persoalan pribadiku. Tapi kalau kamu bersedia?"
"Apa sih?"
"Aku dan Andini sudah menjalin hubungan..."
"Haaaaah?"
"Ssssshh..jangan dipotong dulu."
"Ok, ok. Jadi bener ya gosip itu?"
"Yeah, whatever. Ketahuilah sekarang ini situasinya sedikit kritis, ia tak mau menerimaku karena satu kesalahan. Tapi jujur aku tak bisa untuk melepaskannya, aku ingin dia kembali kepadaku. Aku ingin memancing emosinya agar ia mengakui kalau dia mencintaiku." ujar Arci.
"Gimana caranya?"
"Kamu, mau jadi pacarku?"
"Hah??"
"Pura-pura saja, kita jalan bareng bermesraan gitu. Bahkan kalau perlu aku bisa menyiapkan pernikahan bohong-bohongan."
"Ci, kamu gila!"
"Please, aku hanya ingin dia bilang kalau dia mencintaiku. setelah itu selesai."
"Itu nggak masuk akal Ci, aku nggak mau."
"Rahma please, siapa lagi yang bisa aku mintai tolong?? justru aku memilihmu karena kamu dekat dengan Andini, biar dia bemci kamu dan dia akan memperjuangkan cintanya. Aku ingin dia kembali, aku tak biaa hidup tanpa dia."
Rahma menghela nafas.
"Kamu bisa kan? Please tolonglah. Kamu minta apa aja, aku turuti. Termasuk mencari kekasihmu yang ada di London sana, aku akan lakukan. Kumohon tolonglah aku."
Rahma sedikit kaget, ya dengan kekayaan Arci sekarang ini ia bisa saja menemukan Singgih. Rahma memang membutuhkan Singgih sekarang ini, setelah hubungan yang tak jelas dengan Singgih ia bingung dengan statusnya. Singgle atau tidak, Rahma berfikir sejenak.
"Rahma tolonglah," kata Arci
"Baiklah, aku mau. Tapi kamu harus bisa mencari Singgih untukku?"
"Bisa."
"Ini pura-pura saja kan?"
"Iya, pura-pura. Sampai Andini kembali kepadaku!"
"Kalau dia tak kembali?"
"Dia pasti kembali."
Rahma dalam hati berkata, "Iya ini pura-pura, tapi kalau aku sampai jatuh hati beneran kepadamu bagaimana?"
"Baiklah, tapi aku hanya membantumu kaki ini." sambung Rahma.
"Terima kasih, terima kasih. Aku berterima kasih kepadamu."
Bersambung LET ME GO