
"Sidang ini harus memutuskan saudara terdakwa telah bersalah, menggerahkan masa, membuat kekacauan, dan ini adalah kejahatan serius. Bahkan sampai terdapat banyak korban jiwa!" kata seorang jaksa penuntut, "Dengan ini sesuai dengan KUHP selayaknya saudara terdakwa dihukum seumur hidup!"
"Keberatan, yang mulia," kata seorang pengacara. ya dialah Bu Susiati mertua dari Arci, "Klien kami terkena gangguan jiwa, saya memiliki rekam medisnya. Sihlakan dilihat."
Bu Susiati maju ke hadapan Majelis Hakim dan menunjukan rekam medis dari sebuah rumah sakit jiwa. Majelis Hakim membacanya dengan sangat teliti.
"Jadi, dia tidak melakukan pembunuhan itu atas kesadaran. Dia melihat istrinya diperkosa dan dibunuh, siapa yang akan membiarkan itu terjadi? Sekarang pengadilan ini harus memberikan keadilan kepada klien kami. Lihatlah dia! Lahir tanpa ayah, tapi setelah mendapatkan kekayaan dari ayahnya ia malah disiksa tak diberi keadilan, kemudian istri dan kakaknya dibunuh di depan matanya apakah dengan memberikan dia hukuman hal itu bisa disebut keadilan? Ketika istrinya tewas, ia telah kehilangan kesadaran, tak mengenali siapa dirinya sendiri. Maka dari itu persidangan ini tak bisa se-enaknya mengadili orang yang rusak gangguan mentalnya." kata Bu Susiati.
Jaksa yang membacakan dakwaan tadi menggrutu. "Dari mana dia bisa dapatkan rekam medis itu?"
Setelah beberapa saat hening majelis hakim berdiskusi. Akhirnya majelia hakim pun memutuskan sesuatu.
"Pengadilan ini tidak bisa mendakwa bahwa saudara terdakwa telah membunuh dikarenakan saudara terdakwa telah mengalami ganguan jiwa akut setelah istrinya dibunuh dengan cara diperkosa sampai tewas dalam kondisi hamil. Namun oleh karena itu, pengadilan memutuskan saudara terdakwa bersalah! karena telah menggerakan masa, membuat kekacauan dan keributan, merusak prasarana publik, maka dengan ini saudara terdakwa di hukum tujuh tahun penjara dikurangi masa tahanan dan denda sebesar 30 milyar atas kerusakan yang terjadi. Dan dia dihukum setelah mendapat kejelasan akan kesembuhan mentalnya." Kefua majelia hakim mengetuk palu.
Enam bulan setelah peristiwa itu, Arci seperri orang linglung, MALANG RIOT AND CHAOS itulah yang menjadi tajuk utama di surat kabar. Nama Arci menjadi besar karena itu. Dia dianggap sebagai raja preman, menggerakan seluruh preman yang ada di kota ini.
Namanya dieluk-elukan di dunia hitam, tapi sekalipun begitu ia tak merasa bahagia. Kehilangan Andini membuat dirinya rapuh, dia melihat saat-saat terakhir istrinya dimakamkan dan dia menjerit histeris hingga ingin ikut dikebumikan. Sampai tiga kali suntikan obat penenang dia akhirnya terdiam.
Arci selama tiga bulan lamanya mendekam di dalam rumah sakit jiwa, Kapten Basuki mengerri perasaan Arci. Dia tak menduga saja seperti itu kejadiannya, kejadian hari itu memberikan banyak luka.
Tidak sedikit orang yang tewas, baik dari pihak Arci, Tommy bahkan pihak kepolisian. Untunglah Lian dan Putri selamat, mereka berdua sering mengunjungi Arci. Tapi yang lebih sering lagi adalah Ghea, Ghea masih hidup setelah di rolong oleh anak buah Kapten Basuki. Setelah sembuh dari luka-lukanya, ia sering menjenguk Arci. Menyuapinya makan, membersihkan tempat tidurnya dan juga membantunya untuk mandi.
Melihat Arci rapuh, Ghea menjadi melankolis lagi. Dia tak pernah menyangka Arci akan seperri itu, orang yang dicintainya telah kehilangan segala-galanya. Dia tahu perasaan Arci, kehilangan orang yang dicintai, ia tahu Arci selama satu bulan pertama menatap dengan tatapan kosong. Tangan dan kakinya di rantai, karena dia suka mengamuk sendiri dan berusaha membunuh dirinya sendiri bila sudah sperri itu akan sulit dihentikan terkecuali dengan bius yang diperuntukan oleh gajah.
Namun semenjak Ghea sembuh dan sering berkunjung Arci mulai melunak, dokterpun meminya Ghea untuk sering-sering berkunjung.
"Sampai kapan kamu akan begini terus?" tanya Ghea.
Atci hanya diam.
"Aku tahu perasaanmu, aku tahu rasanya kehilangan. Tapi tak harus seperti ini. Kamu menyiksa dirimu sendiri. Atci, aku bisa jadi nyawamu, aku menawarkan diriku, ayolah kamu hatus sembuh. Sampai kapan kamu rapuh?"
Arci tetap tak bergeming, pandangannya tetap kosong. Ghea menangis dan memeluk orang yang sangat dicintainya itu.
"Aku akan tetap mencintaimu apapun keadaanmu, aku tak akan bisa menjadi Safira ataupun Andini tapi aku akan berusaha memberikan semua cintaku kepadamu. kamulah yang mengajariku tentang apa itu cinta, kamu jugalah yang memberikan oase di dalam gersangnya hatiku Aku akan terus mencintaimu tal ada lelaki lain yang pantas untuku! Hanya kamu...,"
"Ghea....?" bisik Arci.
"Arci?? Ya, ini aku Ghea," Ghea tersenyum mendengar Arci memanggilnya.
"Biarkan aku menikmati masa rapuhku ini..," ujar Arci.
"Kenapa?"
"Aku lebih tenang dan damai di sini...aku tahu alasan kenapa mommy Araline mau tinggal di rumah sakit jiwa seperri ini. Ia tak ingin orang lain melihat dirinya rapuh. Di sini aku bisa tenang, setiap kali aku lepas kendali maka obat penenang itu aku bisa tidur nyenyak, aku tak ingin keluar dari sini."
"Kamu...tidak gila?"
"Aku selama ini tidak gila, aku memang seperti orang gila. Aku rapuh, kehilangan orang-orang yang aku cintai. Mereka semua pergi, aku tak mau hidup lagi, setiap hari aku berusaha membunuh diriku sendiri dengan membentur-benturkan kepalaku ke tembok, hingga mereka memborgolku. Aku rapuh Ghea, aku rapuh..."
"Kamu tak boleh begitu, ada aku di sini, ada aku...kamu tak boleh seperti itu! Dengarlah, lihatlah aku! Lihatlah!"
Ghea memegang kedua pipu Arci, Arci menatap mata Ghea yang berwarna hijau. Arci tak tahu kalau Ghea ternyata memiliki sepasang yang indah, dan mata itu sembab karena bersedih.
"Aku akan memberikan separuh nyawaku untuk mu, aku rela . Aku akan melakukannya, kumohon terimalah! Aku akan memberikannya."
"Aku tak tahu, apakah aku akan menerimanya atau tidak."
"Arci, kamu harus keluar dari sini. Aku menawarkan diriku, aku memang bukan wanita pertamamu, aku bukan wanita yang baik menurutmu, aku bukan wanita yang kamu cintai. Setidaknya ijinkanlah aku jadi wanita terakhir dalam hidupmu, aku akan lakukan apapun. Kamu membuatku bersedih, kalau kamu rapuh maka aku juga rapuh, ibumu juga adikmu. Siapa yang menjaga mereka kalau kamu di sini terus?"
"Ghea..."
"Arci..."
Keduanya kemudian berciuman, untuk pertama kali dalam hidupnya Arci mencium Ghea dengan deep kiss. Lama mereka berciuman, Ghea memeluk Arci dengan hangat. Kehangatan yang tak ingin ia lepaskan.
"Terima kasih Ghea."
"Kamu harus keluar dari sini, Tommy belum binasa ia maaih berkeliaran bebas di luar sana. Aku akan membantumu untuk membalaskan dendam."
"Tidak Ghea, jangan! Aku tak ingin kamu pergi lagi."
"Aku bukan wanita yang lemah, aku bukan Safira ataupun Andini, aku adalah Ghea. Aku telah merasakan tebasan pedang, parang dan panasnya peluru. aku kuat. Kamu juga tau itu bukan?"
Arci tersenyum. Ghea tiba-tiba menangis lagi.
"Kenapa kamu menangis??"
"Baru kali ini aku melihatmu tersenyum lagi."
"Ya, baiklah. Demi kalian aku akan keluar."
Wajah Ghea memancarkan kebahagiaan, inilah awal mula Ghea mendapatkan cintanya. Dan untuk pertama kalinya Arci menerima cinta Ghea, walaupun ia tak akan pernah melupakan Safira dan Andini. Keduanya tak akan bisa terhapus dari ingatannya karena ia mencintai mereka selamanya.
I LOVE YOU HANDSOME.
Arci dibebaskan dari rumah sakit jiwa setelah dokter menyatakan bahwa dia sudah dari sakit mentalnya. sesuai keputuaan pengadilan, setelah dinyatakan sembuh oleh pihak terkait maka Arci menjalani masa hukuman di dalam LAPAS. Di dalam penjara Arci tidak saja menjadi orang yang disegani tapi juga dikenal sebagai big boss, tidak sedikit anak buanya yang ikut mendekam di penjara. Sebagai raja preman, semua penghuni LAPAS menghormatinya seperti raja. Kalau biasanya orang yang baru masuk penjara terkena orientasi alias perploncoan tapi hal itu tidak berlaku bagi Arci. Semua penghuni LAPAS berebut agar bisa melayaninya. Ya, nama Arci menjadi tenar sekarang, dia ditempatkan dalam sel khusus.
Hari demi hari ia habiskan untuk melatih tubuhnya yang kaku. Hari demi hari ia juga menulis dan membaca buku, dia tak pernah menghitung hari kapan dia akan keluar dari penjara. Seriap hari Ghea selalu mengunjunginya kalau ada waktu, Ghea sekarang yang mengelola usaha keluarga Zenedine, seluruh kekayaan Arci sekarang di serahkan kepada Yuswo tapi Yuswo menolak. Baginya memiliki penerus seperti Arci sudah lebih dari cukip dan dia bersungguh-sungguh akan hal itu.
Selama.masa tahanan Arci mengenal banyak orang, terutama ketika seluruh penghuni LAPAS dikumpulkan. Dia termasuk narapidana yang memiliki predikat baik, maka dari itu ketua LAPAS mengajukan permohonan grasi dari presiden dan dikabulkan.
Ketika akan bebas, seluruh penghuni LAPAS berebut untuk mencium tangannya. Arci hanya diam saja dan sedikit geli mendapatkan perlakuan seperti itu. Setelah berpamitan dan berjanji untuk membeeikan santunan bagi keluarga para napi yang dtingalkan maka setelah mengurus segala keperluan administrasi yang harus di tanda-tangani maka ia pun keluar. Di luar sudah ada tiga orang wanita yang menunggunya, siapa.lagi kalau bukan Ghea, Lian dan Putri yang sudah besar.
Putri langsung berlari ke arah kakaknya, "Kakaaaaak!" Dia langsung memeluk kakaknya, "Aku kangen sekali."
"Kamu tambah besar." ujar Arci sambil.mengacak-ngacak rambut Putri.
Arci berjalan mendekat ke arah Ghea dan Lian, ia.memcium pipi keduanya.
"Terima kasih sudah menjemput."
"Tak apa, ayo!" ajak Ghea.
Mereka berempat segera masuk ke dalam mobil, Ghea melajukan mobilnya dengan pelan saat meninggalkan LAPAS tempat dimana Arci menghabiskan masa hukumannya. Arci tak menyangka bisa bebas juga bukan hanya karena diajukan permohonan grasi oleh ketua LAPAS tetapi juga dari Bu Susiati juga ikut berperan. Arci teringat sesuatu saat di dalam mobil.
"Kita ke pemakaman dulu yuk?" ajak Arci.
Ghea mengerti, segera ia mengambil arah menuku pemakaman dimana Andini dan Safira dikuburkan.
Arci memandangi batu nisan bertuliskan Safira dan Andini secara bergantian, Ghea ingin meninggalkan Arci sendirian di sana. Tapi Arci mencegahnya.
"Jangan pergi!" kata Arci
"Baiklah." jawab Ghea.
Dari jauh Lian dan Putri memandangi dua orang yang berdiri di depan makam kerabatnya.
"Andini, Safira maafkan aku. Aku tak bisa menjaga kalian, seharusnya aku bisa, seharusnya aku menuruti nasehatmu Din. Seharusnya aku bisa, tapi aku akan menuruti wasiatmu. Di sebelahku ada Ghea, dia wanita yang sangat mencintaiku dan aku akan mencintainya juga. Aku meminta restu dari kalian... aku mencintai kalian selamanya, dia yang selama ini merawatku, memberikan aku kehidupan. Kalian tidak marah kan?"
Ghea terharu, air matanya tak dapat dibendung.
"Aku bersyukur kalian pernah hadir dalam hidupku, kalian adalah hal terindah yang pernah ada dalam hidupku. Aku tak akan melupakan kalian."
Ghea tak kuat lagi dan ia pun memeluk Arci sambil menangis, Arci balas memeluk Ghea.
I LOVE YOU HANDSOME.
Peenilkahan yang sederhana. Ya, pernikaham yang sederhana itulah yang diinginkan oleh Ghea. Keduanya sudah menikah sekarang, Ghea untuk pertama kalinya.mengenakan pakaian wanita. Pernikahan sederhana itu menjadi spesial karena sang raja preman sekarang terjalin ikatan yang kuat dengan keluarga Zenedine, Arci sang godfather itulah yang dikatakan oleh banyak orang.
Kapten Basuki sendiri tak menyangka hal itu akan terjadi, setelah ia berhasil membrangus kejahatan Tommy dan menangkap Atci. Sekarang Arci di dunia hitam dikenal sebagai seorang pemimpin, paling tidak jangan sampai Arci berbuat kriminal yang ditekankan dirinya sendiri. Kalau sampai dia mencium gelagat yang tidak baik dari pemuda yang sudah berusia 30an tahun itu, maka dia akan menangkap Arci.
Di kamarnya, Arci memandang tubuhnya sendiri. Seluruh badanya tampak bekas luka, satu persatu ia merabanya dari luka terrembus timah panas hingga terkena sabetan parang, pisau, golok, pedang dan lainnya. Dengan luka itu saja ia sudah dikenal Raja Dunia Hitam yang banyak mempunyai luka di tubuhnya sebagai ciri khasnya tanpa harus mentatto tubuhnya. Sebenarnya secara tak langsung file Arci sudab masuk ke dalam target polisi, tapi pihak kepolisian tidak berani bertindak ceroboh, terlebih orang yang membantu Arci adalah seorang pengacara handal seperti Susiati.
Ghea mendekati Arci dan berdiri di sampingnya sambil memeluk lengan suaminya itu.
"Apa yang kau lihat?" tanya Arci.
"Seorang Big Boss, orang yang telah merajai seluruh preman di kota ini dan juga pewaris tunggal dari Zenedine." jawav Ghea.
"Bukan, aku lebih kepada seorang lelaki yang hopeless. Aku seperti melihat zombie sekarang ini, lihatlah. Aku sudah tak merasakan sakit lagi." ujar Arci.
"Tidak sayangku, tidak seperti itu." Ghea mendekap Arci lebih erat.
"Bagiku, kau adalah lelaki yang paling baik, paling kuat dan paling tampan. Kamu bukan zombie, Kamu adalah dirimu sendiri."
"Aku sudah terlalu jauh masuk ke dalam dunia ini, dunia yang seharusnya aku hindari. Dunia yang telah merenggut orang-orang yang aku cintai, memang benar di mana-mana aku dihormati. Tapi aku merasa hampa."
"Kamu.masih teringat dengan Safira dan Andini?"
"Setiap waktu aku ingat mereka, dan setiap aku melihat diriku, aku marah kepada bayanganku sendiri. Marah karena tak biaa melindungi mereka, bahkan sampai tanganku bersimbah darah sekalipun aku tetap tak bisa melindungi mereka. Gege apa yang harus aku lakukan?"
"Lepaskanlah beban itu, bebanmu terlalu berat. Kamu tidak.sendiri, sekarang ini ada aku. Aku akan sekuat tenaga mendukungmu." Ghea memutar tubuh Arci agar melihatnya,."Lihatlah aku!"
Arci menatap mata hijau Ghea, hari ini seharusnya hari yang paling bahagia bagi Ghea dan Arci. Tapi tampaknya rasa bersalah dipundak Arci belum hilang.
"Kita bersama-sama pasti bisa menghadapi ini semua, kamulah yang mengajarkan arti cinta yang sebenarnya kepadaku. Tidak ada yang bisa mengajariku sebaik dirimu, kamulah alasanku untuk bisa berubah, kamulah alasanku tetap tegar menjagamu. Sebagai istri aku rela menjadi sarung pedangmu, menjadi perisaimu. Bahkan kalau kamu gunakan aku untuk umpan musuhmu pun aku rela!"
Arci memeluk Ghea, "Jangan ucapkan itu! Kumohon! Sudah cukup, aku tak ingin kehilangan anggota keluargaku lagi."
"Cici...bolehkah kupanggil dirimu dengan panggilan sayang istrimu?" tanya Ghea yang menangis dalam pelukan Arci.
"Ya, panggil saja."
"Aku hari ini mendapatkan pelajaran berharga."
"Apakah itu?"
"Bahwa cinta sejati itu tak akan pernah mati, walaupun aku bukan cinta sejatimu. Setidaknya biarkan kamu yang menjadi cinta sejatiku, biarlah saat-saat akhir hidupmu aku yang akan mengisinya. Kamu mau kan?"
Arci mengangguk, "Iya, demi kamu."
"Cici..."
"Gege."
Keduanya kini berpandangan, kedua mata mereka memancarkan sebuah aura yang tak akan bisa dipahami oleh siapapun. Rasa kesedihan Arci mulai perlahan hilang, jiwanya yang rapuh mulai perlahan-lahan dibangun kembali. Semuanya karena perjuangan wanita bernama Ghea Zenedine, Ghea berjuang sendiri untuk itu. Arci tak akan mungkin melupakan Ghea begitu saja, melihat kesungguhan Ghea merawat dirinya. Arci akhirnya memberikan keputusan yang membuat hati Ghea bergetar hebat.
Saat itu, setelah beberapa minggu Arci keluar dari LAPAS. Arci mengajak Ghea kesebuah tempat, tempat dimana dia pernah menunggu Andini sampai ketiduran di Taman Merbabu. Apa yang dilakukan Arci tengah malam mengajak Ghea ke taman itu? Arci hanya berkata "Ikutlah aku"
Ghea tak diberitahu kenapa Arci mengajaknya ke taman itu, dia selalu mematuhi Arci apapun yang Arci inginkan. Bahkan kalau Arci ingin dia terjun dari jurang pun akan dia lakukan, tapi Arci tidak seperti itu. Sebagai seorang big boss ia berhati lembut, semua para preman teratur bahkan terjamin kehidupanya. Status Arci melebihi status pemimpin daerah sekalipun, di mana-mana dia dihormati, bila ingin makan di restoran manapun, tempat nongkrong manapun tak ada yang berani membantahnya.
Bahkan jika ia ingin membooking satu gedung bioskop sendirian pun dia bisa lakukan itu. sayangnya sang godfather ini berhati lembut walaupun dia bisa marah.
Untuk beberapa menit lamanya Arci dan Ghea hanya berdiri di taman itu, rambut Arci mulai memanjang. Dia tak pernah mencukurnya selama di dalam penjara, malam semakin larut dan hawa dingin kota Malang mulai menusuk kulit membuat beberapa kali Ghea mengusap-usap lengannya.
"Aku tahu di sini tempatnya bukan?" tanya Arci.
"Maksudnya?"
"Tempat pertama kalinya kamu jatih cinta kepadaku, pertama kalinya kamu menciumku."
Pipi Ghea memerah, "Apaan sih?"
"Aku tahu, karena waktu itu aku terjaga."
"Hah?"
"Hahahaha, maaf aku tak ingin menghancurkan harga dirimu waktu itu. Aku terpaksa pura-pura tidur, kalau aku terbangun kamu pasti akan malu. Bahkan mungkin akan menembakku dengan piatol glock kesayanganmu."
"Kamu...." Ghea gemas dengan Arci.
"Aku ingin menikahimu."
Wjah Ghea senakin memerah, mungkin wajahnya sekarang seperti tomat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Lelaki yang dicintainya itu benar-benar berkata seperti itu kepadanya.
"Kamu yakin?" kata Ghea.
"Aku butuh orang yang menenangkan diriku, dan kamu selama ini yang sanggup melakukannya. Mungkin Big Boss memang membutuhkan seorang pendamping sekuat dirimu, dan aku memilihmu. Maukah kamu?"
"Kalau saja malam ini aku membawa pistolku. aku akan menembak kepalaku sendiri. Tentu saja aku mau."
Arci pun memeluk Ghea; sama seperri hari ini. Ketika mereka telah resmi menjadi suami istri, Arci membelai punggung Ghea. Ghea malam itu mengenakan gaun tidur transparant tanpa menakai pakaian dalam satu pun, dia telah mempersiapkan segalanya malam itu. Dia merelakan dirinya untuk orang yang sangat ia cintai, Arci mulai menurunkan taki baju Ghea, kulit putih mulusnya pun tepampang dari pundak lutut kaki. Ghea mengambil inisiatif. Ia membuka celana Arci dan menurunkannya, keduanya lalu maju mendekatkan diri, saling berpangutan...
Bersambung BIG BOSS END