
Ku langkah kan kaki ku menyusuri balkon kost itu, menatap ke arah langit. Sebenarnya angin nya sudah tak sehat, aku bisa-bisa masuk angin. Tapi aku ini orang yang keras kepala.
Aku ingin melihat lampu-lampu jalan berwarna kuning, yang menyusuri setiap jalanan. Dan banyak sekali pejalan kaki di sana. Toko-toko di sana berjejer dengan rapi, dengan lampu tumbler yang menghiasi atap dan pepohonan di sana. Rasa nya, mata ku benar-benar senang melihat keindahan di sana.
Aku kembali mendongak kan kepala ku, menatap bintang-bintang berkilau nan indah di sana.
Drrrttt... Drrrttt...
Telpon genggam ku berdering tak henti-henti nya. Panggilan yang tertera di layar handphone ku, yang berasal dari Shujae.
"Kamu di mana? Ku panggilin nggak ada jawaban?."
"Aku di lantai tiga. Sebentar aku turun dulu."
Aku berlari menelusuri anak tangga dengan cepat, membuka pintu kamar kost ku dan mendapati Shujae yang diam mematung di depan pintu kamar, dengan handuk yang bertengger di leher nya.
"Sudah selesai mandi?," Tanya ku.
"Sudah. Mandi sana, selepas mandi kita makan," Ucap Shujae sambil duduk di tempat tidur.
Aku masuk ke dalam kamar mandi seusai mengambil handuk. Sehabis mandi, aku membuka lemari es ku, yang penuh sekali dengan bahan makanan. Aku langsung memasak sesuai dengan arahan yang di berikan oleh Shujae. Aku tak bisa masak, tapi Shujae bisa. Walaupun tak di izinkan untuk memasak oleh ku, dia mengarah kan ku untuk memasak.
"Ya iyalah, kalau dia masak, nanti satu kost ini hangus terbakar," Ucap ku dalam hati sambil tertawa geli.
Seusai memasak, kami berdua langsung menyantap nya dengan lahap. Shujae dengan lahap nya menyantap makanan nya, sedangkan aku menatap nanar televisi yang menyala di hadapan ku. Shujae memang tak bisa melihat, namun aku bisa. Aku pasti sangat bosan jika harus duduk diam tanpa ada nya televisi.
Shujae selesai duluan makan malam, ia duduk di tempat tidur dan mengambil laptop yang ada di dekat tempat tidur. Ia mulai mengetik. Mungkin mengetik naskah baru lagi.
Shujae itu sudah menjadi seorang penulis. Sudah banyak buku nya yang terbit, dan tersebar di toko-toko buku. Aku pernah membeli buku nya satu dan meminta tanda tangan nya di buku itu. Shujae hanya tertawa geli ketika aku meminta tanda tangan nya waktu itu.
Semua nya berawal dari ketika ia menulis puisi dan kami kirim ke redaksi koran. Ada yang ingat dengan hal itu? Waktu itu, dia terlihat cemas dan kebingungan. Namun pada akhir nya, ia masih tetap mengirim kan nya. Dia cemas, takut jika puisi-puisi nya itu tidak di terima oleh redaksi. Tapi, kalau rezeki ya rezeki. Puisi lolos dengan mudah, tanpa revisi sedikit pun.
Aku ingat ketika Shujae baru saja mengetahui kabar tentang puisi nya yang di Terima redaksi, dan akan di terbit kan di koran. Dia melompat kegirangan. Berteriak senang dengan wajah cantik nya itu.
Semenjak hari itu, dia begitu bersemangat untuk membuat puisi. Selain buku, puisi nya juga sudah banyak ia kirim ke redaksi, dan semua itu lolos seperti air mengalir. Mudah sekali.
Aku pernah berkata pada nya. Aku memberi nya usul untuk membuat sebuah cerpen atau pun novel. Dengan imajinasi nya yang tinggi, ia pasti dengan mudah nya menyelesai kan tulisan nya itu. Setelah ku bujuk, dan terus menerus ku semangati. Ia setuju untuk membuat novel.
Dan jadi lah ia sekarang. Seorang penulis. Namun, dia menjadi penulis rahasia, ia mengguna kan nama pena nya untuk mempublikasi kan dan mempromosi kan setiap buku nya itu. Penerbit juga sudah setuju, untuk menyembunyi kan identitas dan nama asli Shujae.
Dan di sinilah, penulis rahasia yang tidak memperduli kan manusia yang sibuk menonton televisi ini. Kami berdua sama-sama sibuk, dia sibuk dengan tulisan baru nya, dan aku sibuk dengan televisi di depan ku.
Jika kalian bertanya-tanya bagaimana Shujae menulis di laptop. Apa kalian ingat, ada fitus aksesibilitas yang bisa di gunakan untuk tuna netra? Shujae menggunakan pembaca layar, atau lebih sering di sebut screen reader.
Maka nya, dia bisa dengan mudah nya menggunakan laptop atau handphone. Jadi ingat waktu pertama kali ia di beri handphone oleh ibu nya, dan di nyalakan Talkback. Betapa kaget nya Shujae ketika handphone itu bersuara mengikuti yang ia tekan. Dia seakan tidak percaya.
Tapi, tetap saja. Dia masih tetap memerlu kan bantuan. Biasa nya, aku yang selalu merevisi atau membaca ulang tulisan nya itu, memperhati kan setiap kata-kata, spasi, dan typo. Shujae bagian penulisan naskah dan cerita, dan aku proses editing dan cover.
Dengan bakat yang bisa melukis ini, aku mengaju kan diri sebagai pembuat cover dari buku nya. Shujae dan tante Rena dengan senang hati menerima permintaan ku. Karena secara garis besar, mereka kerap kali melihat lukisan yang ku buat.
Sebelum mulai kuliah, kami berdua belum di sibuk kan dengan tugas yang menumpuk bagai gunung Fuji. Aku menyempat kan diri menghias kamar kost ku dan Shujae. Aku memilih kamar yang lumayan luas dan bisa ku ubah menjadi minimalis. Aku mengubah nya agar aku tak merasa terlalu membosan kan di sini.
Kata pemilik kost nya sih, hanya tidak boleh menghidup kan listrik dan air terlalu banyak. Dan selebih nya ia memboleh kan, terserah kamar itu mau di ubah seperti apa yang penting tidak terlalu aneh. Anggap saja seperti di rumah sendiri.
*~*
Patss.
Televisi yang sedari tadi menyala, ku mati kan dan aku berjalan ke arah tempat tidur. Shujae masih sibuk dengan laptop nya, aku merebah kan diri ku ke tempat tidur. Aku membuka handphone ku, dan tertera banyak sekali pesan dari ibu dan tante Rena yang sama sekali tak ku indah kan.
Aku menelpon mereka kembali, dan hanya membaca pesan dari mereka berdua.
"Halo ibu? Kenapa?," Tanya ku sambil menjadi kan sebelah tangan ku tumpuan untuk kepala ku mendarat.
Shujae menutup laptop nya dan membaring kan tubuh nya di samping ku. Aku mengganti saluran telpon ku menjadi video call. Dan terpampang jelas lah wajah ibu ku dan tante rena.
"Uahhh ada tante Rena," Ucap ku sambil melambai kan tangan ku, dan Shujae ikut-ikutan melambai kan tangan nya ke layar handphone ku.
"Apa kabar kalian berdua di sana? Baik-baik saja kan? Sudah makan malam belum?," Tanya kedua orang itu bersamaan.
"Kami baik-baik saja bu, alhamdulillah kami sudah makan malam," Jawab ku dan Shujae sambil tertawa kecil.
"Alhamdulillah," Seru mereka berdua bersamaan.
"Ibu tumben bersama tante Rena? Nenek kemana?," Tanya ku.
"Aihh, iya. Tante Rena hari ini menginap di sini. Nenek? Biasa, dia menginap di panti asuhan dandelion. Lagi kepingin main sama anak-anak kecil di sana. Kalian berdua juga cepet cari cowok sana," Ujar ibu sambil tertawa geli di barengi dengan tawa tante Rena.
Shujae ikut-ikutan tertawa mengikuti gelak tawa kedua ibu-ibu kami. "Ibu mah. Kami berdua ini baru saja masuk kuliah. Sudah mikirin cowok lagi," Ucap ku sambil menahan malu karena pasti wajah ku sudah sangat memerah. Shujae hanya mengangguk-ngangguk kan kepala nya.
Teman cowok ya?
Entah kenapa, tiba-tiba terfikir kan anak laki-laki itu. Kira-kira, sudah seperti apa dia sekarang? Kecil nya tampan, kalau besar nya tampan juga nggak ya?
"Apa kabar mu? Apa kabar mu yang selama ini selalu memberi ku harapan untuk terus maju?," Bisik ku sambil melihat ke arah gelang manik kerang di tangan ku.
*~*
(Archery poV. )
3 tahun, tak bertemu dengan anak itu. Rasa nya sangat menyiksa batin. Aku tak bisa melihat senyuman nya selama 3 tahun itu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak bisa kemana-mana. Kemungkinan besar, aku akan selalu ada di sini.
Aku di penjara. Aku tak bisa keluar dari sini. Aku sekarang di penjara. Tak kan bisa melihat sosok nya lagi.
Rumah sakit ini.
Sudah seperti rumah kedua untuk ku.
Sudah seperti jeruji besi yang tebal, saking tebal nya tak bisa ku tembus begitu saja.
Aku ingin keluar. Aku ingin melihat dunia lagi. Aku muak di sini. Aku sudah muak dengan tempat ini. Langit-langit kamar rumah sakit yang berwarna biru muda ini, membuat ku lama-lama bosan. Dengan kamar yang kedap suara, yang di pesan secara VVIP. Hanya boleh keluarga dan guru yang menjenguk.
Penjagaan nya ketat sekali, aku tak bisa kabur dari sini. 3 tahun ini, benar-benar seperti neraka. Aku menjalan kan nya dengan kesendirian. Ayah terpaksa menyekolah kan aku di rumah sakit, bukan homeschooling, namun hospitalschooling:), karena kondisi kesehatan ku yang sudah cukup memburuk ini lah yang membuat ku sekolah di rumah sakit.
Sering kali, serangan kecil menyerang jantung ku dan aku jatuh pingsan. Kemudian di larikan ke rumah sakit. Dan hal itu, selalu saja berulang-ulang. Sampai-sampai membuat ku bosan dengan kehidupan dan penyakit yang ku idap ini.
Jantung koroner ini, benar-benar serius jika tak di tangani dengan benar. Nyawa ku taruhan nya. Aku belum ingin pergi dari dunia ini, aku masih ingin berada di sisi nya lebih lama. Aku ingin menemani nya lebih lama lagi.
Marshal. Bisa kah kau mendengar suara ku dari kejauhan ini? Ku mohon Tuhan. Biar kan angin mu menyampai kan suara hati ku pada nya. Aku ingin bicara pada nya sebentar saja. Walau tembok besar ini menghalangi ku bertemu dengan nya.
Aku begitu merindukan nya. Aku begitu merindukan nya. Aku ingin melihat nya Tuhan. Boleh kah? Sebentar saja.
"Marshal, apa kabar mu? Apa kau baik-baik saja? Apa kamu sudah bisa berjalan? Apa kau masih mengingat ku? Tenang saja, aku masih mengingat mu di sini. Tunggu lah aku, tunggu sebentar saja setelah semua nya selesai, aku akan menemui mu."
(Archery poV end.)
Hah? Air mata? Kenapa aku menitik kan air mata?
Mata ku tertuju pada jendela kamar kost yang tiba-tiba terbuka, lantaran angin yang begitu kencang di luar sana. Aku duduk di tepi ranjang, menatap nanar jendela itu, dengan mata yang bergelimang air mata yang tak tahu kenapa ia berjatuhan. Aku berjalan mendekati jendela kamar itu, mengisbaskan gorden yang menutupi kaca jendela.
Tiba-tiba, dada ku serasa sesak. Rasa nya sakit sekali. Rasa nya, seperti ada pedang tajam yang menghunus kejam hati kecil ku ini. Ada yang hilang, tapi apa?
Aku merasa, ada seseorang yang aku lupakan. Tapi seperti nya bukan Archery, jika bukan dia, lalu siapa yang membuat ku merasa resah seperti ini? Aku tidak boleh melupakan nama nya! Aku harus mengingat nama itu!
Aku merasa, dia adalah orang yang penting untuk ku. Aku tidak boleh melupakan nama orang yang benar-benar penting untuk ku. Aku harus mengingat nya.
Seseorang yang penting untuk ku, selalu ingin ku ingat. Dan seharus nya tidak boleh aku lupakan. Tapi siapa? Siapa? Siapa?! Siapa kamu!
*~*
Semalaman, aku tak bisa terlelap. Mata ku terjaga hingga pagi hari. Semalam, batin ku benar-benar merasa kosong. Hati ku benar-benar kosong. Rasa nya, ada seseorang yang sedang bicara pada ku, nun aku tak tahu siapa dia. Dia sedangencoba bicara pada ku dari jauh. Aku bisa merasakan kehilangan dan kerinduan yang tiba-tiba muncul di hati kecil ku.
Siapa kamu? Kenapa kamu merindukan aku?
Aku sudah bersiap terlebih dahulu, dan kemudian membangun kan Shujae yang masih tidur.
"Shujae bangun. Saat nya kuliah," Ucap ku sambil mengguncang-guncang kan tubuh nya.
Shujae membuka mata nya, dan merenggang kan tubuh nya yang kurus. Kemudian, dia mengambil tongkat nya, berjalan ke arah kamar mandi, dan mandi. Aku memasak sarapan, dan kemudian menyajikan nya.
Tak lama Shujae keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jeans hitam panjang, dan baju berwana putih, dengan kardigan merah. Rambut nya masih acak-acakan, rambut nya masih basah.
"Kemari. Biar ku kering kan rambut mu," Ujar ku sambil menuntun nya duduk di tempat tidur.
Aku mengambil handuk biru yang ada di punggung nya, dan mulai mengering kan rambut hitam legam Shujae. Shujae hanya diam, membiar kan aku yang terlarut dalam fikiran ku.
"Ada apa Marshal? Kenapa kamu diam saja?" Tanya Shujae mencoba membuka obrolan di antara aku dan dia.
Aku menghela nafas, dan berkata " Apa kamu percaya dengan Telephaty?" Tanya ku.
"Tentu saja, kenapa?" Tanya nya balik.
"Rasa nya, ada seseorang yang jauh di sana sedang mencoba berkomunikasi dengan ku. Tapi, aku tak tahu siapa dia. Namun aku merasa, hati ku kosong ketika merasakan panggilan nya," Ujar ku sambil menghentikan aktivitas ku yang mengeringkan rambut Shujae.
Shujae berbalik menghadap pada ku yang sedang menundukkan kepala.
"Kalau begitu, aku tanya, apa kau percaya dengan kata 'Kita akan bertemu lagi di tempat yang jauh dari kata perpisahan?'"
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear