I Found You

I Found You
Chapter 33 Poems



Aku dan tante Rena saling berpandangan dan kemudian menghela nafas pelan. Tante Rena duduk di samping Shujae yang masih diam terpaku memikirkan jawaban yang ia berikan kepada kami berdua.


"Ketika kamu ingin memulai sesuatu. Jangan pikirkan apa yang akan di katakan orang lain, dan jangan terlalu memusingkan hasilnya. Cobalah dulu, berusaha lah, yakinlah. Usaha tidak mengkhianati hasil. "


Aku mengangguk kan kepala ku, mendukung perkataan yang di katakan oleh tante Rena kepada Shujae, yang mencoba untuk memberi kan Shujae semangat dan membersih kan rasa ketakutan yang ada di dalam putri nya saat ini.


"Kalau begitu. Mau kita coba kirim puisi-puisi mu?, " Tanya tante Rena sambil membujuk Shujae yang masih berfikir keras.


"Uhm. Oke. Coba aja kita kirim. Siapa tahu bisa di Terima, " Ujar Shujae sambil memasang wajah yang begitu senang.


"Kalau begitu, kita cari media yang tepat untuk mengirim puisi mu, " Ujar ku sambil memandang ke arah tante Rena.


Tante Rena mengangguk, dan berdiri. Ia berjalan ke arah komputer yang ada di meja belajar nya Shujae. Ia menyalakan komputer nya, dan mulai mencari-cari situs dan media yang tepat untuk mengirim puisi Shujae.


Melihat sikap tante Rena yang begitu bijaksana menghadapi ketakutan putri nya dan selalu menyemangati nya, aku tiba-tiba teringat dengan ayah ku. Dari dulu, ayah selalu mengeluarkan kata-kata mutiara dan kata-kata motivasi untuk ku.


Entah itu ketika aku gagal, atau nakal pada nya. Ayah tidak pernah memukul ku dari kecil, yeahh walaupun aku sudah pernah di pukul hingga melukai punggung ku. Tapi itukan kecelakaan yang tidak di sengaja.


"Ada apa Marshal? Kenapa melamun saja dari tadi?, " Tanya tante Rena membuyarkan lamunan ku.


"Ahmmm. Nggak apa-apa, " Jawab ku pelan sembari tersenyum.


"Bagaimana tante sudah? Sudah ketemu media yang tepat?," Tanya ku mendekat ke arah tante Rena.


"Uhm. Sebenarnya Sudah ketemu. Tapi. Tante bingung, ini banyak sekali situs dan medianya. Tante jadi bingung," Jelas tante Rena tertawa kecil.


"Uhm. Kalau tante bingung, bagaimana kalau puisi-puisi nya Shujae. Kita kirim ke media yang berbeda-beda?," Saran ku.


"Uhm. Boleh juga ide mu. Kalau begitu kita pilih media yang begitu menjanjikan," Ujar tante Rena sambil kembali fokus ke komputer yang ada di hadapan nya.


"Marshal. Bagaimana kalau media ini saja?," Tanya tante Rena sambil menujukkan ku layar komputer nya. Aku melihat seksama syarat-syarat yang di sediakan setiap media yang di tunjukkan oleh tante Rena. Kalau ku lihat-lihat sih, puisi-puisi nya Shujae sudah memenuhi semua syarat itu


"Tante. Menurut ku sih, semua puisi-puisi nya Shujae sudah memenuhi semua syarat yang di berikan semua media itu, " Ujar ku menjelaskan.


"Uhm. Kalau begitu kita pilih media ini saja bagaimana? Bagaimana pendapat mu Shujae?," Tanya tante Rena sambil melihat ke arah Shujae.


"Aku nggak tahu. Kalian pilih saja, pokoknya yang terbaik lah, " Jawab Shujae sambil mengangguk kan kepala nya.


Tante Rena mengangguk kan kepala nya dan kembali fokus pada komputer nya. Ia mulai menulis I-mel kepada setiap media dan menuliskan isi puisi yang di buat Shujae.


20 menit kemudian;


" Bagaimana tante? Sudah di kirim semua nya?, " Tanya ku melihat tante Rena yang sedang menulis I-mel untuk mengirim kan beberapa puisi yang sudah di buat oleh Shujae.


"Sudah. Tinggal di kirim saja, " Ucap tante Rena kemudian ia menekan send.


Terkirim.


"Hufft. Selesai juga akhirnya, " Ucap ku dan tante Rena sambil menghela nafas kelegaan.


"Sudah?, " Tanya Shujae lembut.


"Iya. Sudah selesai, " Jawab tante Rena sambil berdiri dari duduk nya.


"Oh iya Marshal. Karena kamu ada di sini, sekalian saja. Mau ikut kami makan siang?, " Tanya tante Rena sambil mengajak kami berdua keluar dari kamar nya.


"Boleh kah?, " Tanya ku pelan sambil menatap ke arah tante Rena.


Tante Rena mengarah kan kursi roda ku ke meja makan dan Shujae duduk di samping ku. Tante Rena mengambil kan piring, nasi, dan lauk untuk Shujae, dan kemudian menyiapkan punya ku juga.


"Eh jangan. Aku bisa ambil sendiri kok tante. Tante gak perlu repot-repot, " Ujar ku pelan.


"Nggak apa kok. Tante nggak repot kok. Kamu kan baru kali ini makan bersama kami, " Kata tante Rena sambil meletak kan piring yang sudah ada isi makanan di hadapan ku.


Tante Rena duduk di hadapan ku. Ia menyuap kan makanan nya ke mulut nya, dan menguyah nya. Aku melihat ke sekeliling rumah nya penuh sekali dengan foto.


"Ada apa Marshal?, " Tanya tante Rena sambil mengunyah makanan nya.


"Uhmm. Aku hanya melihat-lihat sekeliling rumah tante. Dingin sekali di sini, " Ucap ku sambil tertawa kecil.


"Dingin ya? Seperti nya AC terlalu kencang. "


Tante Rena berdiri dan mengambil remote AC yang ada di samping nya. Ia mengecil kan suhu AC itu, dan kemudian suhu di ruangan itu sudah mulai menghangat.


"Bagaimana? Masih kedinginan?, " Tanya tante Rena sambil menatap ku.


"Sudah lumayan tante. Suhu nya pas, " Kata ku sambil mengacung kan jempol kanan ku.


"Marshal, " Panggil tante Rena sambil menepuk meja pelan.


"Iya ada apa tante?, " Tanya ku sambil menoleh ke arah nya.


"Kalau misal nya kamu punya masalah atau kekesalan coba ceritakan kepada tante ataupun Shujae," Ujar tante Rena.


"Iya Marshal. Kalau kamu nggak bisa mengungkap kan perasaan mu dan kamu lebih memilih untuk memendam nya sendirian. Jangan lakukan itu. Nanti kamu bisa sakit, " Sambung Shujae.


"Kalau begitu bagaimana cara nya?, " Tanya ku pelan.


"Tumpah kan semua perasaan mu yang tak bisa kau katakan kepada semua orang ke dalam puisi. Ceritakan. Hayalkan. Fikirkan. Dan tuangkan, " Ujar Shujae.


Aku tersenyum kecil kemudian senyuman ku mengembang menjadi lebar dan tulus. "Terima kasih ya atas saran nya. Akan ku coba nanti, " Jawab ku dengan penuh senyuman.


*~*


Aku pulang ke rumah setelah berpamitan pada mereka, dan tentu nya aku berterima kasih atas makan siang yang mereka berikan pada ku. Aku mendapati nenek ku sedang menonton televisi.


"Ahh, nek, " Sapa ku.


Nenek melihat ke arah ku dan membantu ku masuk ke dalam rumah. "Dari mana kamu? Kok nggak makan siang?, " Tanya nenek. "Aku makan di rumah Shujae nek, " Jawab ku.


"Ya sudah lah. Tak apa, " Ucap nenek.


Aku kembali ke dalam kamar ku. Aku merebah kan tubuh ku pelan-pelan ke kasur ku. Aku menjadi kan salah satu tangan ku menjadi pijakan kepala ku, dengan tangan satu nya yang menjulur ke atas langit-langit kamar yang penuh dengan lampu. Aku memejam kan mata ku, dan mulut ku sesekali menggertak kan gigi.


"Bangun. Bangkit. jangan biarkan mereka menenggelam kan kepercayaan diri mu. Lari. Selamat kan aku. Bayangan. Jangan dengar kan perkataan mereka. Mereka hanya menertawai mu, tapi tidak pernah tahu usaha mu. Terus kan. Jangan henti kan. Biarkan proses nya berjalan. Ikhlas kan hasil nya pada Tuhan. Dan biarkan sakit hati itu menjalar dengan ikhlas, agar Tuhan membalas mu dengan lebih yang baik. "


"Terkadang, memang ada saat nya kita mengalah dengan takdir yang tidak bisa di ubah lagi. Membiarkan nya mengambil peranan penting dari hidup. Yang perlu kau lakukan hanyalah menyaring kebaikan nya. Bukan kejahatan nya. Jangan biarkan mereka membunuh rasa keberanian mu. Pancarkan keberanian mu. Jangan sirna begitu cepat. "


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear