
Setelah menyelesaikan makan malam nya.
Hans pun minta izin untuk pulang.
Karena memang hari sudah malam.
Sebelum pulang,Hans berpamitan kepada kedua orangtua Mikhayla,termasuk Mikhayla.
Supir pribadi Mikhayla pun mengantarkan Hans pulang ke rumah nya.
Setelah kepergian Hans, Mikhayla dan kedua orangtua nya kembali ke aktivitas terakhir mereka,yaitu istirahat malam.
"Pa,ma.Mikha tinggal ke kamar ya,Mikha istirahat duluan ya. Papa sama mama juga harus istirahat udah malem.
Selamat malam pa,ma"
Ucap Mikhayla sambil mencium pipi kedua orang tua nya.Lalu pergi meninggalkan orangtua nya menuju kamar.
"Iya selamat malam kembali sayang,papa sama mama juga mau istirahat."Jawab papa Mikhayla sambil berjalan menuju ke kamar nya.
Mikhayla membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur,ia memandang langit langit kamar nya.
Tiba tiba saja wajah Hans yang sambil tersenyum terlintas di pikiran Mikhayla.
"Aneh,kenapa aku tiba tiba memikirkan nya? Kalau di pikir pikir lagi wajah Hans memang tidak kalah menarik di banding Rayhan.
Tapi...kalau di nilai dari sikap nya seperti nya sikap Hans lebih mudah untuk di bawa berteman.Dia murah tersenyum,dan kadang aku malah betah bicara lama dengan nya.Kalau Rayhan,entah kenapa saat di dekat nya suasana berubah menjadi lebih tegang.! Tapi..ah sudahlah kenapa aku malah bahas yang tidak tidak?! aku lebih baik istirahat saja."
Ucap Mikhayla sambil menutup kedua mata nya.
Malam pun semakin larut,Mikhayla pun sudah berada di alam mimpi nya.
****
Berbeda dengan Hans.Seusai di antar oleh supir Mikhayla Hans langsung membersihkan diri nya,dan setelah itu ia sibuk membaca beberapa buku mengenai dunia kedokteran.
Walaupun sudah 4 tahun menjadi dokter,tapi Hans merasa masih perlu untuk terus belajar mengenai dunia yang ia minati itu.
Bisa di katakan,Hans merupakan salah satu dokter Lulusan terbaik di universitas nya.
Iq nya yang mumpuni serta kegigihan nya membuat nya cepat menuntaskan pendidikan kedokteran nya.
Di sela sela kesibukan nya membaca buku,Hans tiba tiba teringat tentang Mikhayla.
Ia terbayang wajah Mikhayla saat sedang menangis.
Hans berhenti membaca buku nya,ia melangkah kan kaki nya ke arah tempat tidur nya lalu segera membaring kan tubuh nya di atas tempat tidur.
"Mikhayla... nama nya bagus!" gumam Hans sambil tersenyum.
Tidak bisa di pungkiri,semenjak Mikhayla memeluk nya secara tiba tiba,perasaan Hans mulai menjadi tidak karu karuan.
"Apa dia sudah tidur? aduh... Hans bodoh kenapa tiba tiba kau berpikiran ke situ?!dasar bodoh!! sudah lah lebih baik aku tidur." Gumam Hans sambil menutup wajah nya dengan bantal.
Tak butuh waktu lama,Hans pun langsung terlelap dalam tidur nya.
****
Hari kembali berganti,pagi datang bersama terik nya mentari.
Mikhayla yang sudah terbangun dari tidur nya langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai membersihkan diri dan Mikhayla pun bersiap siap untuk menuju ke kantor. Pagi itu,Wajah Mikhayla tampak lebih segar dari kemarin. Dengan balutan blezer maroon dan kaos putih polos di dalam nya serta celana kulot hitam nya membuat Mikhayla tampak sangat elegan.
Mikhayla menuruni satu persatu anak tangga rumah nya,lalu menuju meja makan. Kali ini,Mikhayla yang menunggu kedua orangtua nya di meja makan.
Tidak berapa lama kemudian,orangtua Mikhayla tampak berjalan mendekati putri mereka.
"Selamat pagi sayang."
Ucap Ibu Mikhayla sambil mencium kening Putri nya.
"Selamat pagi ma,pa." jawab Mikhayla dengan tersenyum.
"Tumben sekali,putri mama sudah duluan turun."
"iya ma,semalam Mikha kan langsung tidur,jadi bangun nya lebih cepat dari biasa nya."
"ooh" ucap ibu Mikhayla.
"Yauda yuk kita sarapan. Nanti kalau kelamaan papa bisa telat lagi ke kantor." gumam Mikhayla.
"yauda kita sarapan" ucap ibu Mikhayla.
Mereka bertiga pun menikmati sarapan mereka,sambil berbincang.
"Mikha,sebentar lagi ulang tahun kamu kan,kamu mau rayain di mana sayang?" Ucap ayah nya.
"Hm..Mikha belum ada rencana pa,Mikha pikir sebaik nya gausa di rayain aja soal nya umur Mikha juga bukan anak remaja lagi.Mika rasa Kita rayain nya bertiga aja deh pah."
Ucap Mikha dengan wajah datar nya.
"Loh kenapa sayang?kamu kan bisa undang temen temen kamu.Sekalian,papa juga mau ngenalin anak teman papa.Siapa tahu kalian bisa cocok."
Ucap ayah Mikhayla sambil menatap ke wajah putrinya.
"Maksud papa? papa mau jomblangin Mikha sama anak temen papa?"
"Enggak mau di jomblangin,cuma mau di kenalin aja kok" Ucap ayah Mikha seraya tersenyum.
"iya kayak nya itu ide bagus sayang,hitung hitung tambah temen kamu.Iya kan pa?
Ucap Ibu Mikhayla.
"Bagus sih pa,ma, tapi itu mah sama aja dengan jomblangin.Kata di kenalin mah kata lebih halus nya aja"
Ujar Mikhayla dengan wajah tidak senang nya.
Mikhayla sebenar nya tidak senang bila ulangtahun nya di rayakan dengan meriah,karena bagi Mikhayla ulang tahun hanyalah sebuah peringatan saja.Lagi pula yang datang kebanyakan relasi dari ayah nya,dan juga teman dari ibu nya.
Dari kecil hingga saat ini,teman Mikhayla bisa di hitung dengan jari.Ia tidak terlalu suka bergaul.
Bahkan,di saat orang lain memiliki seorang sahabat,Mikhayla sama sekali tidak memiliki nya. Ia hanya percaya pada diri nya sendiri dan menjadi sahabat untuk diri nya sendiri,dan kedua orang tua nya.
Bukan karena perbedaan kasta,tapi Mikhayla takut kalau seandai nya dia punya banyak teman,dan teman teman nya mengetahui Mikhayla mengidap penyakit pasti Mikhayla akan di pandang remeh oleh teman teman nya.
Maka dari itu,Mikhayla hanya berteman dengan orang yang di nilai nya bisa menjaga rahasia nya dan bisa mengerti kondisi nya.
Mikhayla juga bukan wanita yang suka memilih harus berteman dengan siapa.Miskin dan kaya sekalipun bagi Mikhayla sama saja.Yang penting mereka bisa memahami dan memiliki prinsip kejujuran satu sama lain itu sudah cukup untuk Mikhayla.
****
Setelah menyelesaikan sarapan pagi nya,Mikhayla berangkat ke menuju perusahaan nya.Begitu pula dengan kedua orang tua Mikhayla.
Sesampai mya di perusahaan,Mikhayla langsung menuju ruangan nya.
Di depan ruangan nya Mikhayla di sambut oleh Cantika yang memang sudah menunggu kedatangan Mikhayla sedari tadi.
Dengan senyum nya Cantika menyapa Mikhayla, mengikuti langkah kaki Mikhayla masuk ke dalam ruangan nya.