
Aku bertanya " Dimana anak ayah dan istri ayah?," tanya ku penasaran.
Ayah diam, dan kemudian saling berpandangan dengan ibu. " Anak dan istri ku ada disini. Di dalam ruangan ini, " ucap nya yang mana membuat ku tidak mengerti sama sekali.
"Maksud nya," tanya ku.
Ayah mencerita kan semuanya. Yang ia lakukan selama 4 tahun. Tentang pernikahan palsu itu, dan keadilan, pengadilan yang terjadi ketika tidak bersama kami. Berbohong demi menyelamat kan nyawa kami berdua. Bagaimana dia hidup sendirian di luar sana, dan bagaimana dia merindu kan aku dan ibu. Memikirkan kami di tengah-tengah kerinduan.
Aku menyesal, karena sudah menaruh rasa benci pada nya.
"Ayah, maaf kan aku, karena sudah membenci mu. Padahal, aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi, " Ucap ku sambil memasang wajah memelas.
"Bukan salah mu. Tapi salah ayah, karena ayah tidak jujur, " Ucap ayah sambil mengelus kepala ku.
"Tapi tetap saja, aku minta maaf, " Ucap ku lagi.
"Kalau saja ayah jujur dari pertama, semua ini tidak akan terjadi, " Ucap ayah sambil memeluk ku dengan lembut.
"Jadi bagaimana sayang? Apa kamu masih ingin bersama ayah dan ibu? Atau kau ingin pergi?, " Tanya ayah.
"Jika kau memang ingin pergi, tolong tunggu lah umur mu 20 tahun, " Ucap ibu melanjut kan perkataan ayah.
"Tidak akan. Aku akan ada di sini. Bersama ayah. Bersama ibu. Bersama nenek. Bersama Shujae. Aku akan di sini selama nya. Aku tidak akan meninggalkan kalian yang sudah sangat berjasa bagi ku, " Ucap ku sambil mengepal kan tangan ku.
"Ini baru semangat yang ayah suka, " Ucap ayah.
*~*
Nenek pergi entah kemana. Ibu mengantar ayah ke depan rumah. Tadi nya, aku ingin meminta permintaan yang tidak masuk akal. Aku ingin meminta ayah untuk tinggal di sini saja. Tapi, pasti ibu tidak akan menyetujui hal itu.
"Ibu pasti tidak akan setuju, " Ucap ku sambil mengacak-acak rambut ku.
"Apa yang tidak akan ibu setujui?, " Tanya ibu tiba-tiba muncul di belakang ku.
"Eh, bukan apa-apa bu, " Ucap ku sambil mengalihkan pandangan mata ku.
"Ayo, ibu ingin menunjukkan sesuatu pada mu, " Ucap ibu sambil menaiki tangga ke arah lantai dua.
"Tu-tunggu dulu, aku tidak bisa ke sana, " Ucap ku sambil melihat ke arah kaki ku.
"Maju kan kursi roda mu, dan tekan tombol itu, " Ucap ibu sambil menunjuk ke arah tombol merah yang ada di dekat ku.
Aku memajukan kursi roda ku sedikit, dan ku tekan tombol yang ibu ku tunjuk kan. Krakk. Aku melihat ke bawah, dan ku lihat roda kursi roda ku, tertempel sesuatu. Dan tiba-tiba, aku melihat seperti rel kereta muncul di atas tangga yang di naiki oleh ibu ku tadi.
Grekkk.
Kursi roda ku meluncur dengan cepat ke atas, ia bergerak seperti kereta api. Aku melihat ke belakang ku, yang mulai menjauh. Aku tak percaya, sejak kapan ini di buat? Waw, aku jadi bisa ke lantai atas. Akhirnya, sekian lama.
"Sejak kapan ini di buat bu?, " Tanya ku yang sudah sampai di lantai atas.
"Semenjak kamu lumpuh, waktu ibu pertama kali mendengar kalau kamu lumpuh, ibu langsung menyuruh seseorang untuk membuat rel ini, bagaimana, kamu suka rel nya?, " Tanya ibu sambil tersenyum pada ku.
"Tentu saja, aku menyukai nya. Terima kasih ibu, Terima kasih, " Ucap ku.
Ibu tersenyum, dan berjalan ke belakang ku. Dia membantu ku mendorong kursi roda ku. Dia membawa ku ke sebuah ruangan yang tak lain adalah gudang.
Krieett.
Ibu membuka gudang itu dengan kunci yang ada di tangan nya. Ia membawa ku masuk ke dalam gudang, dan betapa takut nya aku, ketika aku melihat banyak sekali kain putih bergantung. Aku fikir itu adalah hantu.
Srakkk.
Ibu membuka setiap kain putih itu. Dan terpampang jelas lah sebuah foto yang selama ini ku kira ibu sudah membuang nya. Foto-foto ayah. Foto yang ada ayah. Foto keluarga kami.
"Selama ini. Kamu berfikir kalau ibu membuang semua foto ini bukan? Salah. Semua foto ini, ada di gudang ini. Ibu tidak mungkin membuang nya. Ini kan kenang-kenangan kita bersama ayah, " Ucap ibu sambil menunjuk kan foto keluarga kami.
Aku terdiam sejenak. Mencoba mencari celah untuk mengatakan permintaan ku yang mungkin tidak masuk akal ini. "Ibu, aku ingin meminta satu hal. Mungkin terdengar tidak masuk akal, geleng kan saja kepala ibu jika tidak menyetujui nya, dan angguk kan kepala ibu jika ibu menyetujui nya, " Ucap ku sambil menghela nafas.
"Apa permintaan mu?, " Tanya ibu bingung.
"Apa ibu bisa bersama ayah lagi?, " Tanya ku sambil memejam kan mata ku karena takut ibu akan langsung marah ketika ia mendengar permintaan ku ini.
Aku membuka sebelah mata ku dengan perlahan, aku lihat ibu menoleh ke arah ku, dengan ekspresi wajah yang terkejut. Kemudian wajah nya tiba-tiba murung dan memaling kan pandangan nya dari ku. Dia membuka kain putih itu, yang masih menyelimuti salah satu foto yang belum ia buka. Dan terlihat jelas lah foto diri nya dan ayah menggunakan pakaian pernikahan. Ternyata foto pernikahan nya.
"Ha-hhh. Andai, semudah itu sayang. Ibu juga mengingin kan hal yang sama seperti yang kau minta. Tapi seperti nya tidak bisa lagi, " Ucap nya sambil menghela nafas.
"Ibu juga ingin kembali di saat-saat seperti ini. Ibu ingin kembali bersama ayah. Mengukir kenangan yang baru, dan pasti nya akan sangat menyenang kan, " Ucap Ibu sambil menunjuk kan foto pernikahan yang ia pegang pada ku.
"Kira-kira, apa ayah juga mengingin kan hal yang sama ibu?, " Tanya ku pada ibu yang masih sibuk melihat foto pernikahan nya.
"Entah lah sayang, " Ucap ibu sambil mengangkat kedua bahu nya.
Marshal's Father poV.
Sepulang nya aku dari rumah. Aku masuk ke dalam mobil, dan mengendarai mobil. Menemui Ana dan kakek nya. Aku ingin mencerita kan semua kejadian hari ini. Kejadian ku yang tak ku sangka terjadi. Pertemuan ku dengan putri kesayangan ku, yang selama ini ku rindu kan.
Sesampai nya aku di bawah jembatan. Sejujur nya, aku sudah pernah memberi kan bantuan. Aku sudah pernah mengajak mereka untuk tinggal bersama di rumah ku. Yeahhh, karena aku tinggal sendirian di rumah. Aku juga membutuh kan teman di rumah. Tapi sayang nya, mereka tidak mau tinggal di rumah ku. Mereka bilang, mereka tidak mau merepot kan aku. Padahal mah tidak sama sekali.
"Om Joel!!, " Teriak Ana sambil berlari ke arah ku yang berjalan mendekati mereka berdua.
"Jangan lari-lari ah, nanti jatuh, " Ucap ku sambil menggendong Ana.
"Hehehe, gak apa kok om, aku sudah biasa, lihat aku dapat luka baru, " Kata Ana sambil memperlihat kan aku luka baru nya yang berada di kaki kanan nya.
"Anak ini, jangan begitu lah. Anak perempuan itu harus menjaga kulit nya, " Ucap ku sambil menurun kan Ana dari gendongan ku, karena aku sudah merasa kedua tangan ku pegal dan kram karena keberatan.
"Iya iya om. Ok bawel seperti kakek, " Omel nya pada ku.
Aku hanya terkekeh kecil dengan omongan gadis kecil ini. "Ngomong-ngomong, di mana kakek mu?, " Tanya ku pada Ana yang masih terlihat kesal pada ku. Dia menunjuk ke arah kakek nya duduk dan aku langsung pergi ke arah kakek nya.
"Joel?, " Panggil lembut kakek itu.
"Iya ini aku, " Ucap ku sambil duduk di samping nya.
"Jadi bagaimana?, " Tanya nya yang mana membuat ku bingung.
"Tadi, kamu kan baru saja menemui putri mu, " Ucap nya.
Aku tersenyum kecil, dan menunduk kan kepala. "Yeahhh, begitulah. Melepas rindu, " Ucap ku.
"Jadi bagaimana? Apa putri mu membenci mu ketika ia sudah mengetahui rahasia mu? Pasti kamu sudah jujur kan?, " Tanya nya beruntun.
"Tentu saja aku sudah jujur pada mereka berdua. Mereka malah meminta maaf, " Ucap ku.
"Mereka berdua tidak membenci mu kan? Mereka malah menerima mu apa ada nya, " Kata nya sambil tersenyum pada ku.
"Jadi, tinggal kamu. Saya tanya ya, apa kamu punya keinginan untuk kembali bersama anak dan istri mu?, " Tanya nya.
"A-aku-".
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear