I Found You

I Found You
Chapter 39 About Archery (4)



"Jangan terlalu bersedih, kamu terlihat seakan-akan menyalahkan Tuhan atas ke tidak adilan pada diri mu, lihatlah sekeliling mu, banyak orang yang memiliki masalah lebih sulit dari mu"


-FROM A-.



Aku sering melihatnya dari pintu kamar rumah sakit yang ia tempati. Setiap saat, aku mengintip keluar, melihat nya sambil bersembunyi. Aku sedikit merasa lega ketika dia sudah mau makan dengan teratur. Dia sudah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Kesehatan nya, mulai membaik. Wajahnya, tak lagi lesu. Sudah ada cahaya yang keluar dari paras nya.


Tak lama, dia di perbolehkan pulang, dan aku tak pernah mendengar kabar nya lagi. Karena pada saat itu, aku sering kali mendapatkan tugas dari sekolah yang sudah menumpuk seperti gunung Fuji. Setelah 2 tahun lama tak bertemu dengan nya. Aku mendapatkan sebuah kabar kembali. Kabar kemalangan yang kembali ia dapat.


Tabrakan truk yang menyebabkan kelumpuhan untuk nya. Hari itu, bertepatan dengan jadwal ku ke rumah sakit. Aku tak sengaja melihat sosoknya tergeletak lemas dengan kepala yang berdarah. Aku menunggu di ruang tunggu, menunggu dia keluar dari ruang operasi.


Perasaan ku kacau balau pada saat itu. Takut, sedih, benci, bercampur menjadi satu. Mulut ku tak henti-henti nya memanjatkan doa, bahkan ayah dan ibu ku juga ikut berdoa bersama ku. Aku benar-benar takut pada saat itu. Dua tahun tak bertemu dengan nya, dan ketika bertemu. Dia tergeletak lemas tak berdaya.


Aku tak tahu harus melakukan apa ketika kejadian itu terjadi. Aku hanya bisa berdoa untuk keselamatan nya. Memohong pada Tuhan untuk tidak mengambil nya dari ku dengan cepat. "Tuhan, tolong jangan ambil dia dari ku. "


Saat operasi selesai, aku bersembunyi. Alih-alih mencuri dengar apa perkataan dokter tentangnya. Dia selamat. Aku bisa bernafas lega, namun Aku terduduk lemas ketika mendengar kaki nya tak lagi bisa di gerakkan. Benar-benar menyesakkan bagi ku mendengar nya.


Saat dia di perbolehkan pulang. Aku kembali membuntuti mereka. Ketika aku tahu kamar nya ada di lantai bawah, berapa senang nya aku dengan hal itu. Aku membawa kan nya sebuah kotak yang berisi gelang manik-manik berbentuk kerang laut. Sebagai hadiah untuk kepulangan nya dari rumah sakit. Aku mengetuk jendela kamar nya dan langsung bersembunyi. Ia mengambil kotak hadiah itu, dengan wajah yang kebingungan. Saat ku lihat wajah nya tiba-tiba ceria, aku kembali bernafas lega.


Setelah melihat keceriaan dalam dirinya. Aku kembali berlari ke rumah ku. Aku pergi ke panti asuhan dandelion untuk berkunjung sembari bermain dengan anak-anak panti di sana. Tapi... Aku tak menyangka, jika dia datang kesana bersama nenek nya.


Dia terlihat menggunakan gelang yang ku berikan padanya. Wajah nya masih terlihat sendu, pucat tak bercahaya. Dia juga terlihat kebingungan. Saat anak-anak panti sibuk memeluk nenek nya. Aku mendorong lembut kursi roda nya. Mungkin dia kaget, dan dia langsung melihat ke arah ku. Aku menyapa nya sambil tersenyum.


"Halo."


Dia hanya melihat ku secara seksama, tidak membalas senyuman atau sapaan ku pada nya tadi. Dia hanya diam ketika Aku membawa nya ke taman, mengikuti segerombolan anak-anak yang berlarian membawa bola. Sedangkan nenek nya, dia di dalam bersama pengurus panti asuhan ini. Dan dia? Mengalami masa canggung bersama ku yang mungkin tak ia kenal sama sekali.


"Ada apa? Ada sesuatu di wajah ku? " Tanya ku yang memergoki nya sedang menatap wajah ku.


Dia menggeleng. Tiba-tiba mulut ku kembali bersuara "Kamu kok naik kursi roda? Kamu lumpuh?, " Tanya ku. Mungkin Hati nya saat ini terasa tertohok benda tajam sangat dalam.


" Iya. Kata ibu kaki ku akan sembuh dengan melakukan therapy " ujar nya yang malas mengakui kenyataan pahit ini T-T.


"Kalau begitu lakukan lah".


Aku berkata begitu seakan aku pernah merasakan apa yang ia rasakan. Walau pada kenyataannya, aku sama sekali tidak merasakan apa yang ia rasa. Menyebalkan memang, jika harus mendengar kata-kata yang menyemangati orang, walau pada akhirnya, aku tak merasa kan itu.


" Aku memang sama sekali tidak merasakan bagaimana rasa nya lumpuh. Tapi... aku punya keinginan untuk menyemangati orang lain agar ia tambah semangat untuk menjalani hidup walau seberat apapun".


Selama ini aku ingin dia mengerti maksud dari perkataan ku. Saat dia harus menerima banyak kenyataan pahit. Dia hanya diam menangis sendirian. Dalam keadaan gelap gulita, dia termenung memikirkan perlakuan orang lain terhadap nya. Menganggap mereka seakan-akan sedang menghina nya. Padahal, banyak orang membutuhkan semangat dari orang yang mereka kasihi. Sedangkan dia? Dia lupa kalau dia punya keluarga yang selalu menyemangati nya, termasuk laki-laki yang tak kau kenal ini.


"Ayah ku selalu berkata padaku, hal yang menyakitkan itu, adalah ketika orang lain membutuhkan bantuan kita, dan kita hanya bisa berpaling dari nya. " Aku kembali bersuara sambil tersenyum kepada nya.


" Kamu punya Ayah? " tanya nya.


"Punya dong, " Jawab ku cepat.


"Aku hanya mampir, " Jawab ku.


" Kamu enak punya Ayah, lah aku? ".


" Ayah mu? ".


" Dia sudah pergi".


"Kemana?, " Tanya ku.


" Ke tempat yang sama sekali tak ku ketahui ".


Ia tak terlalu banyak bercerita tentang keluarganya pada ku. Aku juga tak ingin memaksa nya melakukan itu, jika ia sendiri tak mau bercerita banyak pada ku. Aku memakluminya, karena secara garis besar, ia sama sekali tidak mengenal ku. Dia pasti sedang berhati-hati.


Baginya, aku hanyalah orang asing yang tiba-tiba muncul di panti asuhan ini. Memberinya semangat, yang mungkin semangat yang ia anggap sebagai hinaan untuk nya.


*~*


Ketika dia datang kembali ke panti asuhan. Dia datang menemui ku di sebuah tempat yang penuh sekali dengan bunga dandelion.


Dia tak melihat sosok ku di sana. Yang ia lihat hanya tempat duduk yang kosong yang pernah ku duduki bersamanya. Dia memutari Panti Asuhan itu untuk mencari ku. Tapi tetap saja dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran ku di sana.


Seorang anak perempuan yang kemungkinan masih berumur 6 tahun mendatanginya. " aku sedang mencari anak laki-laki yang rambutnya panjang segini" ujar nya sambil menjelaskan ciri ku pada anak perempuan ini.


"Kak Priatta ya. Kakak ikuti saja bunga dandelion ini" ujarnya sambil menunjuk ke arah dandelion.


Dia mengangguk dan mengikuti saran anak itu. Sejujurnya dia pasti tidak tahu siapa nama anak laki-laki yang ia temui secara misterius ini, soalnya dia tidak sempat menanya kan nama ku. Karena waktu itu, dia sempat ingin mengajak ku berkenalan, tapi...


flashback on


"ngomong-ngomong kita belum kenalan. Namaku Mashal. Bagaimana dengan-".


"Oh nenek mu sudah mau pulang. Ayo cepat nanti kamu ditinggal lagi".


Aku langsung memotong perkataan nya-_-.


Flashback of.


Dia menghentikan kursi roda nya setelah bunga dandelion yang ia ikuti terhenti di dekat ayunan berwarna merah. " ayunan ini, kayak pernah lihat". Dia meraba tempat duduk ayunan itu, dan aku masih memperhatikan nya di atas pohon.


"Tentu saja kau mengenal ayunan itu, karena tempat itu, adalah tempat yang pernah kita naiki."


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear