I Found You

I Found You
Chapter 40 About Archery (5) End season 1



Dia menghentikan kursi roda nya setelah bunga dandelion yang ia ikuti terhenti di dekat ayunan berwarna merah. " ayunan ini, kayak pernah lihat". Dia meraba tempat duduk ayunan itu, dan aku masih memperhatikan nya di atas pohon.


"Tentu saja kau mengenal ayunan itu, karena tempat itu, adalah tempat yang pernah kita naiki."



"mencariku".


Aku kemudian bersuara dan mungkin agak sedikit mengaget kan nya. Ia menoleh kan kepala nya melihat sekeliling, tapi tak ada siapapun disana kecuali dia. " Di atas sini". Dia medongak kan kepala nya, dan terlihatlah aku yang sedang tidur di atas pohon. Tunggu kalau dia tidur, kok bisa tahu aku disini, hantu kah?. "Bukan ini aku" ujar ku. Kemudian aku duduk sambil mengibaskan rambut panjang ky ke belakang sehingga terlihatlah kening mulus ku eaa.


"Kamu ngapain disana turun?!"perintah nya.


Kemudian aku melompat dari pohon itu.


" Sudah".


Menyebalkan.


"Kamu ngapain nyariin aku?" tanya ku bingung.


"Aku penasaran siapa namamu. Apa namamu Priatta? "tanya nya.


"kamu mencariku hanya untuk menanyakan namaku? Sudahlah, nama ku tidak penting. Apa kamu mau naik ayunan ini? "tanya ku.


" Tidak"ujar nya.


"Ayolah".


" tidak".


"Ayolah ".


"tidak".


"Ayolah".


" Oke".


"Good".


Aku langsung menggendong nya. "Eh kenapa kamu menggendong ku, turunkan aku" ucap nya sesekali menjambak rambut ku. Aku menurunkan nya di atas tempat duduk ayunan itu.


"Berat" kata ku sambil tersenyum.


"kalau tahu berat ya kenapa di gendong" ujar nya dalam hati sambil menahan amarah.


"Izinkan aku yang mendorong nya"ucap ky meminta izin.


Dia mengangguk tanpa suara, kemudian ayunan yang di duduki nya bergerak perlahan dan kemudian agak kencang. Dia seperti berubah menjadi anak kecil kembali. Dia kembali seperti adik kecil ku. Aku merindukan mu adik ku.


*~*


"Jadi kenapa Dandelion menjadi nama Panti Asuhan ini? Kau bilang, kau yang memberikan nama itu" ujar nya.


"kenapa ya soalnya di sekitar Panti Asuhan ini ada banyak bunga dandelion dan juga karena seseorang" ujar ku sambil merebahkan diri ku ke rumput.


"seseorang siapa?" Tanya nya penasaran.


"Dia sudah pergi, tapi segala kebahagiaan dan kenangan tentangnya selalu menyebar di hatiku, seperti bunga dandelion ini, yang ketika ditiup akan berterbangan di langit" ujar ku sambil meniup bunga dandelion di tangan ku.


"Aku penasaran, siapa yang sedang kau bicarakan" tanya nya lagi tiba-tiba.


Tiba-tiba aku menoleh pada nya, aku terdiam sejenak. Kepala ku berfikir dengan keras. Haruskah aku beritahu siapa aku dan siapa dia sebenarnya? Haruskah aku bilang kalau dia dan aku adalah saudara? Nggak, nggak boleh.


Aku kemudian berkata "rahasia" ujar ku. Bletak. Tiba-tiba, dia memukul dirinya sendiri, "Eh kenapa kamu menampar wajah mu sendiri?" kata jy khawatir. "Bukan apa-apa" Jawab nya sambil menahan rasa sakit di pipi nya Yang barusan saja ia tampar.


"Lagipula kalau di ceritakan dia tidak akan mengingat nya".


Walau suara ku agak berbisik pelan, dia masih bisa mendengar suara bisikan ku. Akhirnya kami kembali ke panti asuhan, di perjalanan dia sibuk mengambil dan meniup bunga dandelion di sekitar kami berdua, dia juga memberikan bunga itu pada ku untuk kami berdua.


" Kita tiup bersama ya, satu... dua... tiga...".


Bunga itu kemudian berterbangan di atas langit, ketika bunga itu berterbangan, sungguh indah. Aku melihat wajah anak di bawah ku yang sedang tersenyum manis menatap bunga yang ada di langit. Sesampainya di Panti Asuhan kami berdua begitu kaget melihat anak-anak Panti Asuhan tergeletak di tanah. Aku berlari dan berteriak memanggil nama anak-anak itu.


"Cepat telepon ambulans!" teriak ku.


Kemudian dia mengambil handphone di saku nga dan mencoba memanggil ambulans. Tapi... "kenapa mau panggil ambulans kak? Tanya seseorang dari belakang nya yang membuat nya kaget setengah mati. " Kami semua sedang latihan bermain drama di sekolah nanti" ucap salah satu anak yang berada di bawah. Aku dan dia saling bertatapan, antara ingin tertawa dan marah. Akhirnya kami berdua tertawa terbahak-bahak.


"kalian ini benar-benar deh bikin Kakak jantungan" ujar ku sambil tertawa bersama nya.


"nanti kakak dan kakak ini datang ke acara drama kami ya, besok" ucapnya sambil menunjuk ke arah Marshal.


"tentu saja, kami akan datang".


Sesampainya ia di sana kami langsung pergi ke sekolah yang dimaksud. Sampai di sekolah itu dia terlihat agak gugup. Mungkin Ini pertama kalinya ia datang ke sekolah setelah beberapa tahun sekolah di rumah, tiba-tiba tangan ku menyentuh tangan nya tanpa sadar.


"jangan takut ada aku dan yang lainnya" ujar ku meyakinkan nya.


Dia mengangguk sambil tersenyum, kami memasuki sekolah dasar itu dan langsung menuju tempat yang menjadi tempat dramanya dimulai. Dia duduk bersebelahan dengan ku. Kemudian drama pun dimulai.


2 jam kemudian;


Selesai. Kami langsung membubarkan diri, ada yang ke sebelah kanan dan ada yang sebelah kiri, dan dia ngikutin nenek nya yang mendorong kursi rodaku. "Bagaimana Marshal? Seru?" tanya nenek.


"iya nek"jawab nya ceria.


" kalau begitu kita pulang ya" ajak nenek.


"Oke".


Mereka berdua pun berpamitan dengan yang lainnya saat berpamitan tiba-tiba " Kakak terima kasih ya sudah mau datang ke acara ini kami senang sekali" ucap mereka semua sambil memeluk nya.


"sama-sama".


*~*


Lama-lama, kami berdua kian tambah dekat. Dia sering sekali datang ke panti asuhan, dan selalu menemui ku. Semua keluarga ku, sudah di minta untuk merahasiakan identitas ku. Waktu dia di rumah sakit, ketika dia menanyakan kepada resepsionis tentang penyakit ku. Aku ada di belakang nya, menyuruh resepsionis itu untuk tidak memberitahu kan nya yang sebenar nya.


Semua orang, semua tetangga, semua dokter, semua perawat yang merawat ku, mereka semua sudah di minta untuk tutup mulut jika ia bertanya tentang identitas ku yang sebenarnya. Itu adalah permintaan, aku yang meminta mereka, agar tidak memberitahu identitas ku.


Selama ini aku ingin dia mengetahui aku sebagai seorang Akbar, bukan sebagai Archery Priatta. Namun, mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Takdir sudah bertindak, tak ada yang bisa di lawan.


Melihat Dia tersenyum, adalah kebahagiaan untuk ku. Senyuman yang aku rindukan selama ini.


Kini aku bisa melihat nya lagi, walau sebagai seorang Archery, bukan sebagai Akbar. Tak apa, aku sudah meyakinkan diri ku sendiri untuk menjadi seorang archery untuk nya. Bukan sebagai Akbar. Akhirnya, aku menemukan kebahagiaan kecil ku lagi. Aku menemukan mu kembali adik ku


Ketika takdir sudah bergema


Tak ada lagi yang bisa di lawan.


Semua sudah di tetapkan


Tuhan yang menetapkan


Kita yang menjalankan


Dan orang lain yang berkomentar


Ketika pertemuan ditiadakan


Dan ketika perpisahan diadakan


Kita hanya bisa mengikhlaskan rasa sakitnya.


Ikhlaskan, biar Tuhan yang membalas kebaikan mu.


I Found You, my little sister


End.


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear