
"Oh iya. Jangan panggil om lagi ya. Panggil ayah dan ibu, " Pinta nya.
"Iya om. Eh maksudnya ayah, " Ucap ku malu-malu.
"Akbar. Apa boleh kami mengganti nama mu?, " Tanya ayah.
"Boleh. Tapi jadi apa?, " Tanya ku.
"Menjadi Archery Priatta. "
*~*
Tak perlu waktu yang lama untuk ku memikirkan jawaban yang akan ku berikan pada mereka. Aku langsung menyetujui permintaan mereka yang ingin mengganti nama ku menjadi " Archery Priatta ". Mereka langsung bersorak bahagia.
Hari-hari pertama ku di keluarga ini, sungguh menyenangkan. Mereka berniat memasukkan aku kembali ke TK, dan aku menyetujui nya juga. Yaa, karena aku hanya suka bermain-main pada saat itu.
Hari drama sekolah di tempat yang tak ada teman-teman lama ku, bagi ku sungguh menyiksa. Sekarang aku merasakan yang nama nya takut pergi ke sekolah tanpa orang tua. Padahal umur ku itu sudah tujuh tahun pada saat itu.
Ibu dan ayah ku yang baru, menemani ku di hari pertama sekolah. Mereka mengintip ku dari jendela, dan memotret ku dari sana. Mereka menyuruh ku untuk menyapa teman-teman yang ada di sana. Aku hanya menggeleng malu, dan tidak melakukan apa-apa.
Sampai, ketika aku sedang membaca buku sendirian. Ada seorang anak perempuan mendekat ke arah ku. Dia menghampiri ku tanpa rasa takut sedikit pun. Dia mencoba untuk menyapa ku.
" Halo sedang baca apa? " sapa nya yang mencoba akrab.
Aku menatap nya sambil tersenyum karena aku juga sedang mencoba akrab. Dia duduk di sebelah ku sambil memperhatikan apa yang aku baca. Saat dia kepergok ngintipin aku, dia langsung menarik pandangan mya dari buku ku.
"Ada apa sih? " tanya ku heran.
"Nggak ada. Kamu kok sendirian? Gak punya teman? Kalau gitu kamu mau gak temenan sama aku? Nama ku Marshal" Ucap nya sambil mengajak ku untuk bersalaman.
Aku melihat ke arah tangan nya yang terbuka lebar, "Boleh. Nama ku Archery, panggil saja begitu" jawab ku sambil bersalaman dengan nya.
"Nama mu bagus. Archery dalam Bahasa Inggris, yang berarti panahan dalam Bahasa Indonesia, " Jelas nya dan di sambut anggukan oleh ku.
"Tepat sekali, " Jawab ku sambil tersenyum.
Awal nya, aku tak terlalu mengenali wajah nya, sampai ada wajah dua orang dewasa yang ku kenal berdiri di hadapan ku, ketika mereka menjemput kepulangan teman baru ku. Dua orang itu, adalah orang yang sudah mengadopsi adik kecil ku, April.
Karena pada saat itu, dia mengenalkan diri nya sebagai Marshal, bukan April. Aku jadi terpaksa memakai nama Archery ku. Kalau saja, dia mengenal kan diri nya sebagai April, maka aku akan mengenal kan diri ku sebagai Akbar.
Dia sudah berubah. Dia sudah berubah. Dia jadi lebih tinggi dan percaya diri. Dia suka tersenyum. Tidak seperti dulu, dia sering sekali menangis. Sampai-sampai, aku selalu menutup telinga ku jika dia sudah mulai menangis dengan keras.
Aku senang bisa bertemu lagi dengan nya. Berteman dengan nya adalah keberuntungan bagi ku. Aku begitu senang, sampai tak tahu harus bagaimana mengutarakan kesenangan ini. Aku berteman degan nya seperti anak-anak normal lain nya. Ku fikir, aku tidak akan kehilangan diri nya lagi, tetapi dia harus pindah dari sana sehabis kami berdua lulus dari TK.
Kurasa, hidup ku akan sempurna di sini, apalagi kalau bersama dengan adik kecil ku. Tapi tidak untuk waktu yang cukup lama. Sampai...
Hari lulus nya kami dari TK. Dia tidak bisa mengikuti ku yang akan sekolah di sekolah negeri. Dia akan sekolah di rumah. Lebih tepat nya homeschooling. Karena pada saat kelulusan TK, hidup keluarga nya sudah banyak berubah.
Semenjak itu aku tidak pernah bertemu dengan mya lagi. Hal yang ku takuti benar terjadi. Aku tak dapat bertemu dengan nya lagi. Adik kecil ku pergi lagi.
Tapi, kami berdua sempat bertemu sebelum dia pindah rumah. Aku masih ingat tangisan ku yang mengalir ketika melepas kepergian nya lagi. Aku sempat berkata "Jangan lupakan aku Marshal. Walau suatu saat ketika kamu melupakan aku, aku akan tetap mengingat mu. Karena kamu adalah sahabat ku".
Aku dan dia sempat bersalaman sebelum dia pergi. Aku juga ingat ketika aku meneriak kan nama nya, ketika dia mulai pergi menjauh dari ku. Dia melambaikan tangan mungil nya ke arah ku sambil meneriak kan nama ku juga, dan aku membalas nya dengan lambaian dan senyuman. Yang mungkin senyuman terakhir ku yang ia ingat.
Setelah kepergian nya yang kedua kali itu, aku menangis tak henti-henti. Ayah dan ibu ku sudah mencoba segala cara untuk menghibur ku. Namun mereka tak berhasil untuk memendam suara tangis ku yang tak kunjung berhenti. Namun lama-lama, tangisan ku memendam dengan sendirinya. Aku sudah mulai mengerti kalau...
"Semua orang, selalu merasakan yang nama nya kehilangan. Mereka kehilangan keluarga, sahabat, dan orang terkasih. Tapi mereka yakin, jika suatu saat mereka akan bertemu kembali lagi nanti. "
Iya benar. Setelah dua tahun akan kepergian nya, kami, aku dan keluarga ku pindah rumah juga. Sebenarnya, aku sempat heran kenapa kami semua pindah. Kata ayah, ada sebuah kasus yang harus ia tangani. Dan aku juga baru tersadar, kalau pekerjaan ayah adalah sebagai pengacara.
Saat aku iseng ingin berkeliling di komplek perumahan ku, aku berhasil menemukan nya kembali. Tapi, entah kenapa aku merasa kalau ia sudah melupakan aku. Dia sudah melupakan ku. Dia tidak mengingat ku lagi.
Entah kenapa, setiap perkataan yang ku ucap kan, selalu terjadi. Contoh nya sekarang, aku bilang kalau dia melupakan aku, maka aku akan tetap mengingat nya. Benar, aku tetap mengingat nya. Semua kenangan itu, masih tersimpan rapat di taman ingatan ku.
Aku hanya bisa melihat nya dari kejauhan. Melihat nya dari jendela kamar nya yang ada di lantai dua. Di sebelah rumah nya, ada rumah kosong, dan aku sering duduk bersembunyi di sana sambil memperhatikan jendela kamar nya. Berharap kalau dia akan membuka jendela kamar nya, dan menyadari akan keberadaan ku di sana.
Setiap hari, sepulang sekolah. Aku mampir melihat ke arah jendela kamar nya lagi. Memperhatikan nya kembali. Terkadang, aku mendengar lantunan melodi piano yang berasal dari dalam kamar nya. Dan sering kali aku melihat ayah nya di dalam kamar nya.
Melihat mereka sekeluarga dari bawah sini. Bagi ku, tak apa. Setidak nya, aku bisa tahu bagaimana kabar nya. Walau aku tahu, ini semua tidak baik. Memperhatikan nya dari kejauhan yang bisa di bilang seperti penguntit.
Tapi jujur. Aku tak ada niat buruk pada nya. Aku hanya ingin melihat nya saja walau dari kejauhan. Aku ingin melihat nya setiap hari, walau dia sendiri tak pernah tahu keberadaan ku. Atau, dia juga tidak tahu kalau aku bernafas di dunia ini.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear