
"Ibu," panggil Marshal dengan lembut.
Marshal melihat ibu nya yang sedang membaca buku di kamar nya. "Ada apa Marshal?," tanya ibu nya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Marshal menunjuk kan dokumen itu dan meletak kan dokumen itu di atas kasur yang di tiduri oleh ibu nya tadi. Ibu nya terlonjak kaget tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa maksud dari semua dokumen ini,?" tanya Marshal dengan raut wajah yang tegas.
Wajah Ibu terlihat sangat kaget ketika aku menunjukkan dokumen yang didapat dari Panti Asuhan tadi, dia diam sejenak melihat ke arah ku dan aku kembali bertanya "apa Aku adalah anak adopsi?," tanya ku sekali lagi.
Ibu tidak bisa mengelak lagi dengan dokumen yang ku berikan pada nya. Ibu berdiri berjalan mendekat ke arah ku, " kamu ingin tahu kan? Maka baik lah, tapi tunggu seseorang datang, " Ucap ibu sambil menatap tegas ke arah ku.
Dia keluar dari kamar nya, sambil membawa dokumen yang ku berikan tadi padanya. Aku mengintip dari balik pintu kamar nya, dia menelpon seseorang. Aku tak tahu siapa yang ia telepon saat itu.
Yang jelas, saat ini aku benar-benar ingin tahu semua rahasia yang Ibu ku sembunyikan dari ku, tentang siapa aku, dan dari mana aku berasal.
"Tunggu dia datang dan kita bicara kan bersama," Ucap ibu sambil mematikan handphone nya dan menatap ku dengan sangat tajam. Aku mengangguk kan kepala ku dan menunggu seseorang yang ibu bilang di ruang tamu.
Aku mengeluarkan bunga plastik itu yang masih ku simpan di saku baju ku, aku mencoba kuat dengan rahasia yang akan aku ketahui. Yang akan aku Terima. Aku mulai berandai-andai, jika aku memang benar seorang anak adopsi.
Apakah aku harus marah? Ataukah? Aku harus berterima kasih dan menerima semua kenyataan tentang diri ku yang hanya seorang anak adopsi. Aku mulai berfikir tentang apa tujuan si anak berinisial A. P memberi kan ku bunga plastik dan semua surat-surat yang berisi perkataan yang selalu menyemangati ku ketika aku merasa aku membutuhkan sebuah dukungan.
Tapi aneh. Aneh bagi ku. Sangat aneh menurut ku, kenapa surat dan hadiah yang dia berikan selalu tepat dengan keadaan ku yang begitu terpuruk bagi ku. Seakan-akan, dia selalu memperhatikan ku dari jauh.
Setelah 20 menit menunggu, aku mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku menggerak kan kursi roda ku. Aku menuju pintu dan membuka kan pintu rumah.
Tapi, betapa terkejut nya aku, ketika orang yang aku rindu kan, berada di hadapan ku sekarang. Iya, ayah, ayah ku, ayah ku yang ku tunggu selama ini. Tapi, aku bingung harus bereaksi seperti apa. Aku bingung, aku harus menunjuk kan kesenangan atau tidak. Mengingat luka yang pernah ia beri kan pada ku dan ibu.
"Marshal," panggil nya lembut.
Aku melihat ke arah nya dan ku layang kan senyum ku seramah mungkin. Aku ingin memeluk nya, aku ingin sekali, tapi apa boleh aku memeluk nya? Tiba-tiba tanpa seizin ku, ayah memeluk ku dengan sangat erat.
Sampai-sampai nafas ku sesak saking erat nya. Aku tak dapat memungkiri kebahagiaan ku saat itu. Aku membalas pelukan nya dengan erat dan lembut. Menghayati pelukan yang selama ini ku rindu kan.
Tiba-tiba, aku merasa bahu ku kian basah dan ketika aku melepas kan pelukan ku. Aku mendapati Ayah ku menangis haru, entah tangisan bahagia melihat ku atau bukan. Dia bertemu dengan ku, aku tidak tahu, aku masih bingung tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
"Kamu tidak merindu kan ku?," Tanya ayah dengan mata yang sembab.
Aku terdiam sebentar. Sebenarnya aku begitu merindukan nya. Kemudian aku menatap nya dengan kedua mata yang sudah menghangat. "Tentu saja aku merindukan ayah!," ucap ku sambil memeluk nya kembali.
"Waktu untuk Ayah dan anak, Joel ayo masuk, " Kata ibu yang tiba-tiba sudah ada di belakang ku.
Ayah masuk ke dalam rumah, dan ayah duduk di sebelah ku. Sedangkan ibu, membuat kan ayah secangkir teh hangat di dapur.
Ayah tersenyum, kemudian berkata " Maaf kan ayah ya. Ayah tidak bermaksud untuk tidak menolong mu waktu itu. Ayah hanya takut kamu membenci ayah, jadi ayah pergi, " ucap ayah dengan wajah yang begitu sedih.
"Aku memang membenci ayah. I did. Aku sudah melakukan nya tapi apa ayah tahu, kebencian yang tumbuh di hati ku selalu kalah ketika mengingat semua ajaran dan kenangan yang telah kita lalui. Aku tidak akan bisa membenci ayah. Ayah adalah ayah ku, ayah juga pahlawan ku, " ucap ku sambil menggenggam erat tangan ayah yang ada di atas kaki ku.
Ayah kembali tersenyum, tak lama ibu datang sambil membawakan teh yang ia buat tadi. Dia duduk di hadapan kamu berdua. "Bagaimana Marshal? Kamu senang?," tanya ibu sambil melayang kan senyuman pada ku.
"Tentu saja aku senang, tapi sekarang cukup reuni nya, sekarang beri tahu aku semua kebenaran nya, " ucap ku dengan nada suara yang tegas.
Ayah menghela nafas nya panjang, kemudian dia membuka suara. "kamu memang anak adopsi. Waktu sebelum mengadopsi mu, kami dikaruniai seorang bayi mungil yang ada di perut ibu mu, tapi waktu itu terjadi sebuah kecelakaan yang membuat kami kehilangan bayi itu dan juga membuat ibu mu kehilangan rahim nya, yang membuat nya tidak bisa hamil kembali. Lalu kami pergi ke suatu panti asuhan dan ketika pertama kali melihat mu, kami sudah merasa sangat cocok, disanalah kami mengadopsi mu," Ucap ayah.
"Mengganti nama mu yang nama aslimu adalah April, menjadi Marshal. Sejujurnya nama Marshal, itu adalah nama yang akan kami berikan untuk bayi yang akan hadir itu, tapi ternyata tidak. Nama Marshal hanya bisa dipakai oleh mu. Bukan orang lain," Lanjut ayah membuat ku tersentak kaget dengan asal muasal nama ini.
"Panti asuhan yang mana,?" tanya ku.
"panti asuhan yang sering kamu datangi bersama nenek, " ucap ibu.
"Lalu kenapa kalian merahasiakan ini? Selain itu, apa kalian tidak pernah berniat untuk memberitahu ku kebenarannya?," tanya Marshal.
Ayah tersenyum dan kemudian berkata "tidak kami hanya menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu kebenaran ini. Menunggu agar kamu cukup umur dan untuk mengerti semua masalah ini, dan kami pikir sekaranglah waktu nya. Tadi nya kami berencana untuk memberitahu mu dua minggu lagi, karena kami belum siap untuk memberitahu nya kepada mu. Tapi ternyata Tuhan tidak mengizinkan. Dia membuat mu menemukan dokumen ini dan kami terpaksa jujur hari ini," Ucap ayah sambil menunjuk ke arah dokumen tadi.
"Sebenarnya ibu takut. Ibu takut kehilangan orang yang ibu sayangi lagi. Pertama bayi yang ada di perut ibu, kedua ayah mu dan ketiga aku kehilangan ayah ku. Aku takut kehilangan mu aku tidak mau kehilangan lagi. Tapi sekarang semua ada di pada mu Marshal, pilih lah kau boleh membenci kami. Kau boleh untuk mencari orang tua asli mu. Tapi tolong kau boleh melakukan itu ketika kau sudah cukup umur dan sekarang tolong biar kan ibu dan ayah merawat mu, " ucap ibu.
"Aku tak bisa membenci kalian. Aku tidak bisa meninggalkan kalian. Kalian menyelamat kan aku, bahkan orang tua kandung ku saja membuang ku. Betapa beruntung nya aku memiliki orang tua seperti kalian. Terima kasih karena sudah ingin merawat ku hingga sekarang, " ucap ku sambil tersenyum manis.
Kami mengobrol sebentar, berbincang-bincang seperti suasana rumah yang aku rindukan. Tiba-tiba, aku teringat akan satu hal. Aku tersadar,ayah datang sendirian, tidak ada yang menemani nya.
Aku bertanya " Dimana anak ayah dan istri ayah?," tanya ku penasaran.
Ayah diam, dan kemudian saling berpandangan dengan ibu. " Anak dan istri ku ada disini. Di dalam ruangan ini, " ucap nya yang mana membuat ku tidak mengerti sama sekali.
"Maksud nya," tanya ku.
Ayah menceritakan semuanya. Yang ia lakukan selama 4 tahun. Tentang pernikahan palsu itu, dan keadilan pengadilan yang terjadi ketika tidak bersama kami. Berbohong demi menyelamat kan nyawa kami berdua. Bagaimana dia hidup sendirian di luar sana, dan bagaimana dia merindukan aku dan ibu. Memikirkan kami di tengah-tengah kerinduan.
Aku menyesal, karena sudah menaruh rasa benci pada nya.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear