I Found You

I Found You
Season 2 Episode 1



Hayy saya comeback uwuwu


Akhirnya, masalah keluarga saya selesai, dan saya bisa kembali lagi ke sini.


*~*



“Pernahkah kalian terfikir, di luar sana ada seseorang yang menunggu kalian?”.


“Apa pernah kalian memikirkan orang lain yang sama sekali tak tahu akan keberadaan nya?”.


“Juga, apa pernah melayang satu nama di fikiran kalian, yang mana kalian tak tahu itu siapa?”.


“Dan, pernahkah kalian membayangkan sebuah wajah, yang sama sekali tak kalian ingat?”.


“Sehingga kalian berfikir itu hanyalah sebuah kebetulan yang biasa”.


“Tapi tidak bagi semua orang”.


“Sebagian orang beranggapan itu adalah pertanda seseorang memikirkan mu”.


“Padahal kalian lah yang memikirkan orang itu”.


“Sama hal nya seperti ku, melukis wajah seseorang yang sama sekali tak ku ingat, dan ada satu nama yang melekat pada ingatan ku, nama itu adalah Archery. Bagai mimpi buruk yang datang setelah badai”.


*~*


 Selama aku hidup di dunia. Aku mulai mengerti yang nama nya kepergian. Aku mulai mengerti yang nama nya mengikhlaskan. Kepergian, yang harus membuat ku mengikhlaskan nya. Terpaksa ku Terima, walau hati ini berdenyut kesakitan.


- Marshal-


Ku fikir, waktu adalah pencuri. Dia mencuri semua waktu ku bersamanya. Tapi aku salah, waktu adalah segalanya. Dia membiarkan ku berbahagia sejenak, dan menangis sejenak. Waktu bukan uang. Waktu, dia mengajar kan ku untuk belajar dari masa lalu. Dan membuat ku, mengubah diri ku di masa depan. Terkadang, ada kala nya kita melihat ke belakang, hanya untuk memperbaiki kita yang di masa depan.


- Archery-


Buta hanya pada mata. Tapi hati, tetap bisa merasakan kepedihan dalam hidup. Aku bisa merasakan kesedihan dalam diri seseorang. Penyesalan, cinta, dan kesedihan, yang bercampur menjadi satu. Dan tak ada yang bisa ku lakukan, selain diam mematung.


- Shujae-


Manusia itu selalu punya kesalahan yang di sesali. Tapi, maafkanlah diri mu terlebih dahulu, karena itu adalah awal dari sebuah titik kedewasaan.


- Merisa-


Terkadang, anak adalah orang tua terbaik bagi orang tua nya.


- Nenek-


Kita tak butuh kostum untuk menjadi pahlawan. Hanya dengan membantu sesama dan menjaga senyuman itu terukir di wajah mereka, itu saja sudah membanggakan.


- Joel-


Seseorang itu, selalu merasakan yang nama nya kehilangan. Tidak ada yang tidak pernah merasa kan nya. Entah itu mereka kehilangan keluarga, sahabat, dan orang terkasih. Tapi apa kalian tahu? Jika suatu saat nanti, mereka akan bertemu kembali.


- Tante Rena-


*~*


Hidup dengan masalah yang tak kunjung selesai, hingga menjadi beban hidup itu. Bukanlah hal yang mudah untuk di hadapi. Sehingga hanya air mata lah yang mampu menggambar kan, bahwa hati sudah berada di titik yang paling rapuh.


Tapi, hidup bukan sekedar membawa masalah. Hidup itu, tak selalu tentang mu. Hidup itu, penuh dengan kejutan yang tak kalian duga sama sekali akan kedatangan nya. Kebahagiaan itu, pasti akan di dahului dengan kemarahan dan kesedihan. Jadi, jangan lupa untuk bahagia, walau sesakit dan seberat apa pun masalah mu.


Masa lalu itu, memang tertinggal jauh di belakang. Masa lalu yang tak bisa di ubah. Masa lalu yang mengajar kan hidup, dan merubah kita yang di masa depan. Tidak perlu menyalah kan masa lalu atas apa yang terjadi hari ini, dan esok. Tidak perlu larut dalam kesedihan yang ada di belakang. Berdamai lah dengan masa lalu.


Belajar lah dari kata "Lalu". Ia selalu meninggalkan mu begitu saja. Tapi di balik kepergian nya, ada kebahagiaan yang menanti.


*~*


3 tahun kemudian.


Bagaimana? Apa kalian masih mengingat ku? Si gadis lumpuh yang kadang tak tahu diri ini? Marshal. Iya saya datang kembali.


Sudah 3 tahun lalu berlalu, kini hidup ku sudah berubah drastis. Aku tak lagi harus merasakan duduk di kursi roda yang menyebalkan itu. 3 tahun itu, aku berusaha mati-matian untuk belajar berjalan kembali. Dan boom, usaha tak mengkhianati hasil. Usaha ku sukses besar, dan membuat kaki ku benar-benar bisa di gerakkan kembali.


Author's note.


Jujur, saya nggak tahu mau bagaimana ngejelasin nya, bagaimana Marshal bisa berjalan kembali. Makanya, saya memutuskan, untuk mempercepat arus waktu ke 3 tahun lalu kemudian, di umur Marshal yang ke tujuh belas, dan langsung saya bikin dia bisa jalan.


Author's note end.


Di umur yang ke tujuh belas ini, aku merasa Tuhan memberikan aku sebuah hadiah yang begitu besar bagi ku. Membuat kaki ku bisa berjalan kembali. Dan tentu saja, Shujae masih bersahabat baik dengan ku. Dan tentu nya, dia masih sering kali meminta ku untuk mengirim kan surat ke pada ayah nya, dan tentu saja, aku lah yang membalas surat itu.


Walaupun sebenarnya, hidup ku tak terlalu banyak berubah, aku bersyukur masih di izinkan bernafas di dunia ini. Keluarga ku tak banyak berubah. Ibu dan ayah ku tak bisa bersama lagi. Mereka sekarang, sudah berada di tahap merelakan masing-masing. Walau sebenarnya, aku masih mempunyai keinginan untuk mereka berdua.


Ayah pergi ke luar kota, meninggalkan aku bersama ibu dan nenek. Ia ingin memulai hidup dan karier yang baru. Tentu nya, ia masih sering menghubungi ku. Dan ibu? Bisnis restoran nya melambung pesat. Aku jadi bangga dengan nya.


"Marshal!"


Shujae melambai kan tangan nya pada ku. Aku berlari dengan cepat ke arah nya yang sedang menunggu ku di ujung tangga.


"Apa yang kau lakukan? Naik lift saja," Kesal ku.


"Marshal hebat!"


"Yeyyy. Marshal bisa berjalan lagi"


"Sudah ku duga. Marshal pasti bisa berjalan lagi!"


"Tuh kan! Usaha itu tidak mengkhianati hasil!"


"Awas saja kamu kali ini ngeluh karena bisa jalan lagi!"


Dasar, yang benar saja aku mengeluh dengan hadiah yang di beri Tuhan pada ku. Dari pada harus mengeluh, aku harus bersyukur. Mungkin, di luar sana ada banyak orang yang lebih susah dari ku.


Semenjak kaki ini sudah bisa berjalan, aku memutus kan untuk kuliah di luar kota. Shujae itu, seumuran dengan ku. Jadi aku meminta nya untuk kuliah bersama ku di luar kota. Walaupun tante Rena agak tak suka dengan permintaan ku, tapi kemudian ia juga menyetujui nya.


Jadi, di sinilah kami berada. Kota Bengkulu, yang sedari kecil ingin sekali ku datangi. Shujae sibuk membaca buku Braille nya selagi kami berada di dalam lift, dan mendiamkan aku manusia penyendiri. Ting. Pintu lift terbuka, aku menggenggam tangan Shujae, menuntun nya berjalan.


Kami keluar dari toko buku yang baru saja kami datangi. Ku dongak kan kepala ku, melihat langit biru yang kian cerah itu. Menghirup udara bebas, dengan sebebas yang ku bisa. Angin terus menerus menggerak kan rambut hitam legam ku dan Shujae.


"Angin itu, keberadaan nya tidak pernah di hiraukan, namun dia, adalah yang paling di butuh kan manusia."


Mata ku kembali menatap berbagai gedung-gedung pencakar langit, yang menjulang tinggi di langit, menyebabkan timbul nya bayangan yang melindungi ku dari panas nya terik matahari. Aku melihat ke arah Shujae yang sibuk dengan buku nya itu, dan membuat ku agak sedikit kesal dengan nya.


"Heii, berhenti lah membaca buku mu," Pinta ku.


Shujae mengangguk pelan, dan memasuk kan buku nya ke dalam tas nya. Ia mengerat kan genggaman tangan ku, seakan tak ingin berpisah dari ku. Sebenarnya, Shujae masih terus membawa tongkat nya itu, namun, saat ini dia sedang tidak ingin menggunakan nya.


"Marshal, jalan nya pelan-pelan dong," Kesalnya.


Aku hanya tersenyum kecil, dan makin mempercepat langkah kaki ku. Entah lah, aku terlalu antusias dengan kota yang sekarang ini menjadi tempat tinggal ku. Sewaktu kecil, menghabiskan waktu duduk di kursi roda, aku tak bebas melangkah jauh. Hanya bisa di sekitar sana.


*~*


Saat kami baru saja tiba di Bengkulu, kami sudah mencari kost terlebih dahulu. Dan sekarang, kami berdua bisa bebas menjelajahi kota ini. Mata ku mencari-cari taksi untuk kami naiki. Tak lama, kami pun mendapat kan taksi, dan langsung pergi ke tempat yang sudah kami katakan, yaitu Pantai Panjang. Pantai ini lah yang menjadi salah satu motivasi ku untuk pergi ke sini. Dari toko buku itu, hanya 1 jam ke sana.


1 Jam Kemudian.


"Huahh. Sampai."


Kami berdua menginjak kan kaki kami berdua di pantai yang sangat panjang itu. Aku langsung membuka sepatu ku dan menenteng nya dengan tangan ku, begitu pula dengan Shujae.


Kami menyusuri pantai yang pasir nya sehalus bedak bayi. Angin nya yang kencang, dengan lantang membawa rambut ku berterbangan ke sana ke mari, mengikuti arah angin bergerak. Tangan ku yang tadi nya hangat, seketika kedinginan.



Mata ku, menatap ke arah pantai, yang ombak nya agak besar, namun indah. Tangan ku semakin mengerat kan genggaman tangan ku pada Shujae, menuntun nya berjalan, agar kaki nya dapat merasakan air yang di tepi pantai.


"Dingin. Airnya dingin sekali," Ujar Shujae sambil tersenyum pada ku.


Aku hanya tersenyum kecil, dan kemudian menatap ke arah matahari yang tak lama lagi akan tenggelam dan bersembunyi di balik tubuh buat bumi. Aku menarik Shujae menjauh dari tepi pantai, dan menduduk kan pantat ku di pasir putih itu. Shujae ikut duduk bersama ku.


Aku melepaskan genggaman ku pada nya, dan memeluk lutut ku. Menjadikan lutut ku sebagai tumpuan mendarat nya dagu ku. Mata ku menatap nanar ke arah pantai yang ombak nya saling berkejaran. Tanpa sadar, air mata ku berjatuhan. Aku menangis, seakan baru pertama kali aku keluar dari rumah.


Shujae menyandar kan kepala nya ke bahu ku, dan menepuk-nepuk punggung belakang ku dengan pelan. Shujae memang tak bisa melihat, tapi dia bisa merasakan kesedihan. Bukan kesedihan yang saat ini ku rasakan, aku hanya merasa kehilangan. Rasa nya ada yang hilang di dalam diri ku ketika melihat pantai ini. Tapi apa?


"Ada apa?," Tanya Shujae.


"Rasa nya, ada yang hilang. Rasa nya ada seseorang yang ku tunggu, tapi siapa ya?," Tanya ku pada diri sendiri.


Jika orang yang ku cari, memang ada. Namun, seseorang yang ku tunggu itu tidak ada. Sebenarnya, aku masih penasaran dengan rumah 108 itu, dan nama anak laki-laki yang ku temui di panti asuhan. Walaupun sebenar nya, aku percaya kalau dialah Archery Priatta yang selama ini ku cari. Aku tahu, tak ada bukti yang kuat untuk membuktikan nya.


Hanya saja, aku percaya, kalau dialah orang yang ku cari dan orang yang selalu memberikan hadiah dari jendela kamar ku, termasuk gelang manik kerang yang sampai sekarang masih ku pakai. Hanya saja, aku masih berharap, kalau aku bisa bertemu dengan nya sekali saja. Sekali saja.


Saat aku pergi, ketika ingin menemui nya waktu itu. Hari di mana aku menemukan dokumen pengadopsian ku. Aku tak pernah melihat nya lagi. Bahkan, selama tiga tahun lalu, aku masih sering datang ke panti asuhan itu. Aku tak melihat sosok nya yang seperti hantu itu. Seakan, dia menghilang di telan bumi.


"Langit itu punya banyak rahasia. Dan semesta, mempunyai cara tersendiri untuk menyatukan kita dan memisah kan kita."


*~*


Senja, menampak kan keindahan nya, dan matahari menenggelam kan diri nya dan akan datang kembali esok pagi. Memberi secercah harapan untuk kaum manusia.



Senja, hanya datang sebentar, membawa kehangatan bagi ku. Warna mu yang indah, dengan sigap menenggelam kan semua kegelisahan hati. Mata ku, tak mau lepas pandang dari mu. Mata yang begitu terkesima dengan keindahan mu. Tapi senja, kau datang hanya sebentar.


Kemudian kau berlabuh ke tempat lain. Pergi dan mulai meninggalkan ku sendirian. Meninggalkan ku bersama kegelisahan ku. Kegelisahan yang selama ini ku sembunyikan di balik senyum manis ku. Cepat lah senja, pulang lah. Kegelapan nya mulai kembali.


*~*


Setelah puas melihat senja, aku dan Shujae memutuskan untuk pulang ke kost. Sesampai nya di sana, Shujae langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan aku, pergi ke lantai tiga, lantai paling atas dari kost-kostan ini, aku masih ingin menikmati kota yang ku impikan ini.


Langit sudah malam. Bintang sudah bertebaran di mana-mana. Angin nya yang tak lagi sehat namun sejuk. Membuat mata ku sedikit terpejam. Ini, pertama kali nya aku jauh dari ibu dan nenek, begitu pula dengan Shujae. Ini juga pertama kali untuk nya.


Saat di bandara kemarin, ibu dan tante Rena, berkali-kali menasehati kami berdua untuk hati-hati. Terutama ibu ku. "Marshal. Jaga Shujae yaa, dan juga jaga diri mu baik-baik. Jangan tidur malam-malam." Kira-kira seperti itu yang ia katakan.


Dan ketika kami sampai di Bengkulu, dan sudah mendapat kan kost. Ibu ku dan tante Rena berkali-kali menelpon dan mengirimi kami pesan. Menanyakan keadaan kami, keadaan kost yang kami tinggali, dan bagaimana universitas kami.


Mungkin, agak sedikit menyebalkan, setiap kali, setiap menit selalu di telpon. Tapi itulah ibu, selalu khawatir dengan keadaan anak-anak nya. Itu arti nya beliau begitu peduli pada kita.


"Keluarga adalah rumah."