I Found You

I Found You
Chapter 28 Poems



Aku kesal. Saking kesal nya, aku selalu memaki kaki ini yang kini tak bisa bergerak. Padahal, ibu sudah membiayai pengobatan itu untuk ku. Berharap kaki ku akan berjalan kembali. Tapi pada akhirnya, aku hanya mengeluh. Tidak ada perjuangan lagi. Seakan, semangat yang semula tumbuh di diri ku, perlahan menguncup menjadi kecil.


Dan aku lupa. Bagaiman susah nya ibu mencari uang, sebagai single parent, ia membiayai sekolah ku dan pengobatan ini. Dan aku hanya mengeluh tak jelas. Kini aku tersadar. Akan perjuangan keluarga ku yang menyemangati ku untuk kembali berjalan lagi. Dan bagaimana hidup yang harus di jalani. Baik suka, maupun duka.


*~*


"Shujae...


Buta, tuli, semua itu adalah keadaan yang di ciptakan oleh Tuhan


Tuhan memberi mu keadaan seperti itu, karena ia tahu, betapa kuat nya diri mu


Dulu, ayah selalu merasa sendirian


Padahal, ada banyak sekali manusia di sekitar ayah


Tapi, ayah tidak pernah tahu


Siapa orang baik, dan siapa orang jahat


Semua, selalu memasang wajah yang baik


Dan ayah merasa, keadaan mu itu


Tidak mengharuskan mu melihat dunia yang kejam ini


Putri ku...


Hidup mengajar kan kita untuk menilai dan memilih


Kita tak bisa hidup hanya mengikuti arus


Kita tak bisa hidup dalam keegoisan


Jika begitu...


Kita bisa tenggelam dan tak bisa ke daratan


Maka tidak akan ada yang menolong mu"


Aku menulis dan memikirkan kembali isi surat yang akan ku tulis. Mungkin, isi surat nya tidak terlalu nyambung. Tapi aku merasa, tulisan yang ku buat ini, adalah jawaban yang pantas untuk surat dari Shujae.


Aku memasukkan nya ke dalam amplop, dan membiarkan surat itu di atas meja. Tanpa sadar, sudah dua jam terlewat. Hari menunjukkan pukul enam sore. Sudah mau malam, dan Aku hanya menghabiskan waktu ku hanya untuk menulis surat ini.


Aku keluar dari kamar ku, mencari sensasi baru. Ku lihat, awan mendung berkerumun di atas langit. Mungkin akan turun hujan. "Marshal, ibu ke rumah teman dulu ya. Kami di sini saja bersama Shujae? Bisa?, " Tanya ibu sambil menenteng tas nya.


Aku hanya mengangguk. Kemudian, ibu pergi menjemput Shujae di rumah nya. Tak lama Shujae datang ke rumah. Sambil membawa sebuah buku yang lumayan tebal. Sedangkan ibu, sudah pergi ketika Shujae tiba di rumah.


Aku mendekat ke arah nya yang masih diam terpaku di depan pintu rumah. "Ayo masuk, seperti nya mau hujan, " Kata ku sambil menutup pintu rumah.


Shujae duduk di tempat biasa kami belajar. Kalau seperti ini, rasa nya mau belajar bersama bu Maimun. Aku membuat kan minuman hangat karena cocok dengan hari yang seperti nya mau turun hujan.


"Aku buatkan minum, " Kata ku sambil meletakkan secangkir teh di meja.


"Apa itu yang kau bawa?, " Tanya ku ketika melihat ke arah buku yang di bawa Shujae.


"Ini? Buku catatan ku, " Jawab nya sambil menunjuk kan nya pada ku.


Aku melihat ke arah nya, yang menyuruh ku untuk membuka nya. Aku membuka buku itu dengan perlahan, dan ku lihat, ada banyak sekali puisi di dalam nya. Tak dapat di percaya, tulisan tangan nya sungguh bagus dan rapi, tidak seperti tulisan tangan ku.


"Baca lah, " Ucap Shujae sambil meminum teh yang ku buat tadi.


Shujae membuka halaman selanjutnya dari buku catatan nya, dan masih menyuruh ku membaca nya.


"Suara bising, yang keluar dari celotehan mu. Membuat kepala ku begitu pusing, sehingga ingin sekali menerjang mu. Bibir mu yang terus menerus bergerak tanpa henti, seperti seekor burung beo. Yang ingin sekali ku lakban. Tatapan tajam mu yang mematikan. Kepala botak mu yang tak ada rambut, dan belaian tangan mu, yang menggantung janji ku. "


Aku masih belum mengerti, maksud dari setiap penggalan puisi yang di buat oleh Shujae. Walaupun, setiap kata, dan nada yang ku baca. Menyiratkan, sebuah kesedihan dan kegundahan hati.


"Wow, puisi mu sungguh indah. Bagaimana cara mu membuat seperti ini?, " Tanya ku sambil menutup buku yang ada di tangan ku.


"Semua ini, murni dari pengalaman ku, " Ucap Shujae sambil memegang erat cangkir yang ada di tangan nya.


"Maksudnya? Aku tidak mengerti, " Tanya ku bingung.


"Maksud dari penggalan puisi pertama, aku menuliskan puisi ini untuk orang yang aku sayangi. Orang, yang sama sekali tak tahu kalau aku hidup, " Kata Shujae yang mana membuat ku semakin bingung.


"Dan yang kedua. Puisi ini menceritakan, tentang saudara sepupu ku yang mengidap kanker otak. Dia orang yang berisik, seperti yang ku tulis, mulut nya selalu bergerak seperti beo. Tapi dia orang yang baik, walau tak ada rambut yang ada di kepala nya. Waktu aku masih belum tahu, apa itu botak. Aku menyebut kepala nya 'Nyala', " Kata Shujae sambil menahan tawa.


Aku tersenyum melihat wajah nya yang mencoba menahan tawa. "Kalau begitu, maksud dari kalimat terakhir apa? Dan belaian tangan mu, yang menggantung janji ku?, " Tanya kuku pada Shujae.


"Waktu itu, adalah detik-detik kematian nya. Aku mengucap kan sebuah janji, kalau aku akan jadi seorang penulis yang terkenal. Tapi, aku tak tahu bagaimana cara ku untuk mewujudkan janji itu. Aku kan buta, mana bisa jadi penulis, " Kata Shujae sambil tersenyum kecil.


"Kata siapa? Apa kau tahu Helen Keller? Dia buta sekaligus tuli. Tapi nama nya, tercatat di sejarah. Dia dosen, dan juga seorang penulis, " Kata ku sambil tersenyum pada Shujae.


"Benar kah?, " Tanya Shujae tak percaya.


"Ayah ku pernah bilang, jangan malu untuk terus bermimpi. Kejar, jangan lepaskan. Ketika kau tak sadar dengan apa yang ingin kau raih, mimpi itu sudah tercapai, " Ucap ku sambil tersenyum


Oh iya, kalian tahu tidak, siapa itu Helen Keller? Jika tidak, silakan mencari tahu, tapi sehabis baca cerita ini, kalian cari buku sejarah, atau di internet. Cari tahu siapa itu Helen Keller. Beliau, adalah inspirasi saya untuk menulis cerita novel.


"Kau tahu Shujae. Dulu, aku sama seperti mu. Punya fikiran untuk mengakhiri hidup ku. Tapi, semua wacana itu kandas tak tersisa. Bagaikan angin yang berhembus begitu saja. Aku juga pernah tersirat sebuah fikiran untuk menyerah dengan hidup. Tapi aku bertanya pada diri ku sendiri. 'Mau jadi apa kamu, kalau kamu hanya bisa menyerah?'. Dan aku kembali bangkit, dan berjalan menjauh dari kata 'Menyerah'. Dan aku membiarkan hati ku berteriak 'Siapa kamu?! Tunjukkan pada mereka siapa diri mu! ', dan aku akan kembali percaya diri, " Ucap ku pada Shujae dengan semangat yang membara.


"Bunuh diri itu, tidak menyelesaikan masalah. Jika kau merasa itu lega, maka percayalah, lega mu hanya bertahan sesaat, " Kata ku sambil menggenggam erat tangan Shujae.


*~*


Pojok Puisi Author:


Di langit, aku hanya bisa memandang bintang


Bintang yang bersinar dengan cahaya nya sendiri. Angin malam yang begitu dingin, dan mengeluarkan suara-suara seperti bisikan halus melewati telinga kuku dan bergema di dalam nya


Pernah ada di benak ku


Mengapa bintang bisa bersinar dalam kegelapan. Walapun dia tahu, dia bersinar dalam kegelapan malam yang luas.


Yang bisa saja menenggelamkan cahaya nya


Lalu, ada pertanyaan yang muncul kembali.


"Bagaimana dengan ku? Apa aku bisa bersinar, di tengah kegelapan yang melanda? Dan cibiran yang terdengar dari mulut ke mulut?. "


Entahlah, yang jelas, semua ada di tangan ku.


*~*


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear