
Kini di hadapan ku, ada seorang laki-laki Jangkung berdiri di depan ku. Aku berdiri agar aku dapat melihat jelas wajah laki-laki itu. Tebakan ku benar. Itu adalah dia.
"Om Joel. Perkenalkan ini Tante Merisa".
Anak itu memeluk Joel di hadapan ku dan memperkenal kan aku padanya .
" Merisa? "Panggil Joel dengan lembut.
*Menggigit bibir bawah
Marshal's Mother poV end.
Comeback to Marshal.
Malam itu, ibu tidak menjawab pertanyaan yang ku berikan pada nya. Dia menghindar dari ku. Sudah beberapa hari ini, dia selalu pergi pagi pagi sekali dan selalu pulang larut malam. Entah apa yang dia lakukan di luar sana.
Tuk tuk tuk.
Shujae menyentuh punggung tangan ku dengan pensil yang ada di tangan nya. "Ada apa? "tanya aku pada Shujae yang masih menyenggol ku dengan pensil milik nya.
Dia tak menjawab, dia hanya menunjuk ke arah bu Maimun yang sedang menjelaskan pelajaran kepada kami berdua. Aku tersadar, kalau sedari tadi, aku hanya melamun dan tidak memperhati kan bu Maimun. Aku cepat-cepat melihat ke arah bu Maimun.
"Bagaimana? Apa kalian mengerti? " Tanya bu Maimun.
Kami berdua mengangguk, padahal, dalam hati, aku sama sekali tak mengerti apa yang dia ajarkan oleh bu Maimun. Aku hanya mengikuti Shujae mengangguk. "Kalau begitu, ibu akan memberi kalian PR, dan sekalian, ibu pamit undur diri".
Bu Maimun pergi dari rumah ku setelah memberikan kami PR yang lumayan banyak. Shujae, dia masih duduk terpaku di sebelah ku. Aku kebingungan, kenapa dia masih ada di sini.
" Kok belum pulang? " Tanya ku pada Shujae.
"Aku ingin bersama mu lebih lama lagi, boleh kah? " Tanya Shujae.
"Tentu saja boleh" Jawab ku di barengi dengan anggukan kepala ku.
Shujae berteriak kesenangan. "Kalau begitu, aku akan mengajari mu kembali pelajaran tadi. Kamu pasti tidak mengerti, kamu ngelamun terus sih dari tadi" Omel Shujae pada ku yang membuat nya terlihat seperti ibu ku ketika sedang memarahi ku.
"Iya ibu Shujae" Ejek ku.
Aku dan Shujae tertawa terbahak-bahak. Shujae mengajari ku kembali pelajaran tadi. Untunglah, tapi, aku tetap tidak bisa fokus. Seperti ada yang ku fikirkan, tapi tak tahu pasti apa yang ku fikirkan.
"Nanti nomor 5 ini di kali, sedangkan yang nomor 6, tinggal di jumlah kan saja. Kan sudah di ketahui semua luas nya".
"Kalau yang nomor 7? " Tanya ku.
"Sebentar, kalau ini, menurut ku di bagi terlebih dahulu, kemudian bari di kali dengan 5. Setelah itu, jumlah kan saja" Kata nya.
"Kamu hebat deh Shujae. Kamu buta, tapi kamu pintar. Tidak seperti ku, matematika, menguras energi ku, pingin rebahan" Kata ku yang mulai kebingungan dengan Matematika yang ada di hadapan ku.
Shujae tersenyum, kemudian berkata "Ibu pernah bilang. Aku buta, bukan berarti aku bodoh. Semua manusia, tidak ada yang bodoh. Mereka hanya tidak sadar sebuah kemampuan yang tersembunyi di dalam diri nya. Jadi inti nya, kita itu harus belajar, biar kemampuan tadi muncul" Kata Shujae.
"Aku tidak bisa melihat. Aku tidak bisa merekam semua kejadian, perkataan orang lain lewat mata. Aku hanya merekan nya lewat dengan telinga ku, dan tersimpan di otak ku" Kata Shujae.
"Hebat" Jawab ku terpana.
Sementara di luar rumah:
*~*
Tiba-tiba, di tengah-tengah larut dalam keasikan mengerjakan PR, aku teringat dengan surat yang ku tulis kemarin. Surat yang ku tulis untuk Shujae. Aku mengambil nya di dalam kamar ku, dan memberikan nya kepada Shujae yang masih sibuk dengan buku PR nya.
"Ini. Surat dari ayah mu" Kata ku sambil memberikan nya pada Shujae. Shujae menghentikan aktivitas nya dan kembali fokus pada ku. Dia mengambil surat itu, dan terus menerus meraba nya. Dia membuka stempel di amplop itu, dan membuka surat itu.
"Ini bukan Braille, aku tidak bisa membaca nya" Jawab Shujae sambil memberikan surat itu kepada ku.
"Tolong bacakan untuk ku" Pinta nya pada ku yang di susul dengan anggukan kepala ku.
"Shujae. Maaf ya, ayah tidak bisa datang di hari ulang tahun mu. Dan selamat ulang tahun untuk putri semata wayang ku, putri kesayangan ku, sekarang kamu sudah besar. Sudah 14 tahun. Ayah selalu berdoa untuk mu dari atas sini. Ayah yakin, kamu akan menjadi perempuan dewasa yang sangat cantik, dan sangat baik seperti ibu mu. Ayah juga senang, kamu mendapatkan teman baru, ayah yakin, teman mu itu sangat baik. Kamu tidak perlu bersedih atas kekurangan mu. Setiap manusia, pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan, jadi jangan bersedih karena kekurangan mu. Sekarang, ayah baik-baik saja di sini. Tapi... Ayah masih ada urusan di atas sini, jadi tidak bisa menemui mu. Tapi ingatlah, ayah selalu menjaga mu dari atas sini".
Aku membaca kan isi surat yang ku tulis. Dan Shujae, mendengar kan nya dengan seksama. Aku hanya tersenyum, memikirkan surat yang ku tulis ini, aku yang menulis nya, dan aku yang membaca kan nya.
"Ayah masih ada urusan di atas sana, jadi dia tidak bisa menemui ku" Kata Shujae sambil menunjukkan wajah sedih nya.
Marshal be like: Duhh jangan nangis.
Aku hanya diam tak punya kata-kata lagi. Shujae mengambil surat itu dari tangan ku, dan melipat nya kembali. Ia memasuk kan surat itu ke dalam amplop dan memasuk kan nya di dalam tas nya.
Tiba-tiba, aku dan Shujae mendengar suara mobil pengangkut barang. Ketika aku menyuruh Shujae untuk duduk manis saja, nenek masuk ke dalam rumah di ikuti beberapa orang laki-laki di belakang nya. Mereka membawa alat yang biasa ku pakai di rumah sakit. Ternyata, ibu dan nenek benar-benar membelikan alat itu untuk ku.
Laki-laki itu keluar setelah meletakkan alat itu di dekat ruang tamu. Nenek, yang menyadari keberadaan Shujae, menyapa nya dan mengajak Shujae untuk makan bersama.
"Wah ada Shujae di sini. Ayo kita makan siang bersama" Ajak nenek.
Shujae menganggukan kepala nya. Nenek mengantarkan nya ke kursi makan. Sedangkan aku? Aku mendekati alat therapy ku itu. Ku genggam kuat tiang penyangga itu, kaki ku mencoba untuk berdiri. Badan ku yang semula terasa berat, terasa ringan. Kaki ku juga tidak terasa berat seperti biasa.
Tapi tak berlangsung lama, hanya sekitar limas belas detik aku dapat berdiri dan berjalan menggunakan kedua kaki ku. Setelah itu aku jatuh ke lantai. Tiba-tiba aku mendengar suara tepukan tangan seseorang, dan itu adalah nenek dan Shujae. "Lihat Shujae, Marshal berdiri selama lima belas detik, rekor baru" kata nenek sambil mendekati ku yang duduk di lantai.
"Marshal hebat! Pokoknya Marshal harus bisa berjalan lagi! Woohoo" teriak shujae menyemangati ku sembari kedua tangan nya mengepal ke atas.
Aku tersenyum di barengi anggukan kepala ku. Aku melihat kaki ku dan mengelus nya. Rasa nya aku bangga, bisa berdiri kembali walau tak lama. "Tunggu ibu mu pulang, dan kita ceritakan, kalau kamu bisa berdiri, walau tak lama, dia pasti senang" kata nenek sambil membantu ku duduk ke kursi roda kembali. Aku tersenyum di susuk anggukan kepala ku.
"Nenek, sebentar lagi seperti nya mau hujan. Perasaan ku nggak enak" kata ku pada nenek yang sedang mendorong kursi roda ku menjauhi alat therapy.
Nenek melihat ke arah jendela, dan wajah nya tiba-tiba mengkerut seperti tidak senang.
"Marshal. Nenek harus mencari ibu mu, kalian berdua di rumah saja. Jangan kemana-mana".
Nenek meninggalkan aku dan Shujae di rumah. Dia berlari setelah membawa jas hujan dan payung. Aku tak yakin, perasaan ku nggak enak. Semoga saja tidak ada yang terjadi.
Di waktu yang bersamaan;
"Pengkhianat!! ".
*Brakk!! (Suara hentakan)
Byurr!! (Suara sesuatu jatuh ke air*)
To be continued...