I Found You

I Found You
Chapter 36 About Archery (1)



"Jangan hidup dalam keegoisan, jika suatu saat kita membutuh kan pertolongan orang lain, maka tidak akan ada yang menolong karena keegoisan yang kita miliki, " Jelas Shujae menjelaskan.


"Yang arti nya, kita tidak boleh hidup mengikuti arus kehidupan yang terkadang membawa kita kesesatan. "


Aku terdiam sejenak, takjub dengan pemikiran Shujae yang begitu cepat menangkap. Dia baru satu kali mendengar nya saja sudah mengerti dari isi surat yang ku tulis. Padahal, aku memikirkan nya begitu lama. Sampai menguras otak.


"Waahhh. Kamu pintar sekali Shujae, " Puji ku pada nya sambil menepuk-nepuk tangan ku.


"Biasa saja, " Jawab Shujae malu-malu kucing.


Aku memasukkan surat itu kembali ke dalam amplop, dan memberikan nya kepada Shujae. Shujae tersenyum dan terus-menerus mengucapkan Terima kasih pada ku. Aku hanya membalas nya dengan senyuman.


"Shujae. Boleh aku tanya satu hal pada mu?, " Tanya ku pada Shujae lembut.


"Apa?, " Tanya Shujae penasaran.


"Kalau aku tidak ada. Kamu bagaimana?, " Tanya ku.


"Apa maksud mu? Kau kan ada di sini sekarang, " Balas Shujae.


"Iya. Tapi bagaimana jika suatu saat aku tidak ada, maksudnya kalau aku pergi jauh dan tak akan pernah kembali. Kamu bagaimana?, " Tanya ku lagi.


"Aku akan mengingat mu. "


"Aku tidak akan melupakan mu. Aku akan selalu mengingat mu, " Jawab Shujae dengan tegas.


"Kalau begitu Terima kasih, " Jawab ku sambil tersenyum.


"Kamu mau kemana?, " Tanya Shujae.


"Tidak kemana-mana, " Jawab ku.


"Terus kenapa kau bertanya seperti itu pada ku?, " Tanya Shujae serius.


"Hanya seumpama, " Jawab ku pelan.


Sungguh. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bertanya seperti itu kepada nya. Tiba-tiba saja, pertanyaan itu melintas dengan pelan di kepala ku, dan membuat ku penasaran. Aku merasa, akan ada sesuatu yang terjadi.


*~*



Archery poV. (Kisah Archery)


"Kau mau pergi kemana? Kita baru saja bertemu. Selama ini, aku terus membuntuti mu karena aku ingin mencari mu adik kesayangan ku, sekaligus teman lama ku. "


***


Aku di besarkan di panti asuhan. Bersama seorang anak perempuan yang masih bayi bernama April. Gadis kecil, yang sudah ku anggap adik kandung ku sendiri. Setiap hati, aku selalu menjaga nya, menjaga senyuman nya, dan selalu menjadi kakak yang baik untuk nya.


Tapi itu tak lama, setelah pengadopsian nya, aku tak pernah bertemu dengan nya lagi. Aku tak bisa menjadi sosok kakak yang baik lagi untuk nya, karena sekarang, sudah ada keluarga yang akan selalu melindungi nya. Aku tak mengenal siapa yang mengadopsi nya, aku hanya mengingat wajah mereka.


Selama itu, aku benar-benar merasa kesepian. Hampa, tak bernyawa rasa nya. Sampai ibu panti yang juga sudah ku anggap sebagai ibu kandung ku. Selalu mengingat kan ku untuk mengikhlaskan kepergian adik kecil ku itu.


"Nak. Sekarang April sudah bahagia bersama keluarga baru nya. Kita do'akan kebahagiaan untuk nya ya. "


Aamiin.


Setelah itu, aku mulai terbiasa tanpa kehadiran April. Namun, terkadang aku merasakan kehadiran sosok nya di sisi ku. Dia adik kecil kesayangan ku. Aku selalu mengingat semua kenangan yang pernah ku lalui bersama dengan nya.


Dan ketika umur ku tujuh tahun. Aku di adopsi oleh sebuah keluarga yang baik-baik. Pergi meninggalkan ibu panti dan semua kenangan ku di sana. Mengganti nama ku dari Akbar menjadi Archery Priatta. Keluarga yang bermarga Priatta.


"Halo. Nama nya siapa?, " Tanya seseorang yang sama sekali tak ku kenal sembari tangan nya mengelus lembut kepala ku.


"Akbar, " Jawab ku pelan terbata-bata.


"Nama yang bagus. Kenalkan, nama om Satya Priatta, dan di sebelah om ini. Adalah istri om. Nama nya Sarah Maimun, " Ucap nya sambil menjulur kan tangan nya mengajak ku berjabat tangan sembari ia mengenal kan wanita di sebelah nya.


"Salam kenal om, tante, " Jawab ku sambil menjabat tangan nya dan menoleh ke arah istri nya.


"Kamu mau ikut om nggak?, " Tanya nya sambil tersenyum.


"Kemana?, " Tanya ku bingung.


"Ke rumah om, " Ajak nya.


"Ga mau. Aku gak kenal om, " Jawab ku lagi.


"Ayah?, " Tanya ku tak percaya.


"Iya, mau nggak?, " Tanya seorang wanita di sebelah nya yang tak lain adalah istri nya.


"Aku... -"


Aku kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari mereka. Melihat wajah mereka yang tersenyum tulus mengadopsi ku, aku semakin tak tega untuk menolak permintaan mereka. Dan juga, selama ini aku selalu ingin merasakan sebuah keluarga yang seperti April rasakan. Apa ini kesempatan ku?


"Boleh kah aku?, " Tanya ku sambil menatap ke arah ibu panti.


"Semua nya terserah Akbar. Jika Akbar mau ikut om dan tante ini, ya Akbar ikut. Jika tidak, ya tidak, " Jelas ibu panti lembut.


"Tapi, kalau aku pergi. Aku tidak akan melihat ibu lagi, " Jawab ku sambil menahan tangis.


"Kata siapa kamu nggak bakal ketemu sama ibu ini lagi. Tentu saja kamu akan selalu bertemu dengan nya, " Ucap tante Sarah sambil tersenyum.


"Benarkah?, " Tanya ku lembut.


"Tentu saja. Selama ini, ia sudah merawat mu dari kecil. Jasa nya tidak boleh di lupakan, " Ucap tante Sarah sambil menatap ke arah ibu panti dengan senyuman yang terlayang di wajah nya.


"Jadi bagaimana Akbar?, " Tanya ibu panti.


Aku melihat ke arah dua orang dewasa yang masih menanti jawaban dari pertanyaan mereka yang di berikan untuk ku. Aku menundukkan kepala ku, dan kemudian mengangguk kan kepala ku. "Aku mau ikut om, " Jawab ku sambil mengangguk-ngangguk kan kepala ku.


"Alhamdulillah, " Sorak semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


"Besok kita urus semua surat-surat pengadopsian nya. Terima kasih Akbar, " Ucap om Satya senang sambil memeluk ku.


"Ja-jangan nangis om, " Pinta ku ketika aku merasakan bahu ku basah akibat tetesan air mata.


"Ngg-nggak. Nggak om nggak nangis kok, " Ucap nya sambil sesenggukan akibat tangisan nya.


"Sayang jangan nangis ah malu-maluin, " Ucap istri nya mencoba menenangkan suami nya itu.


"Habis nya aku senang sekali. Akbar mau ikut bersama kita, " Ucap nya dengan wajah yang sudah basah karena menangis.


"Maaf ya Akbar. Om nya cengeng, jangan di tiru ya, " Ucap istri nya sambil menepuk-nepuk bahu ku.


"Iya tante, " Jawab ku sambil tersenyum.


Tiga hari setelah pertemuan itu, kini hari ini adalah hari persidangan atas pengadopsian ku. Ada banyak keluarga Priatta yang datang untuk menyaksikan persidangan ini. Tinggal menunggu ketukan palu dari hakim, dan aku sudah resmi menjadi anak angkat mereka.


Tok tok tok.


Kini, aku sudah resmi menjadi anak mereka. Aku tersenyum lega, dan mendapati om Satya menangis kembali. Sekarang tangisan bahagia bergema. Mereka saling berpelukan, dan saling bergantian memeluk ku. Mengucapkan selamat datang di keluarga mereka.


"Selamat datang. "


Seusai persidangan itu, keluarga Priatta langsung membawa ku berkeliling kota. Mengajak ku pergi makan, dan membelikan ku baju baru. Perlakuan mewah seperti ini, yang selama ini tidak pernah ku dapatkan di panti asuhan. Membuat ku agak sedikit tak enak.


"Ayo makan!. "


"Ayo berbelanja!. "


"Ayo beli yang kamu mau nak. "


"Jangan malu-malu kucing. "


"Ba-banyak sekali pakaian nya om, " Ucap ku khawatir ketika semua keluarga itu memberikan ku sebuah tas belanjaan yang penuh sekali dengan pakaian.


"Tak apa. Ini untuk mu, " Jawab semua orang serempak.


"Oh iya. Jangan panggil om lagi ya. Panggil ayah dan ibu, " Pinta nya.


"Iya om. Eh maksudnya ayah, " Ucap ku malu-malu.


"Akbar. Apa boleh kami mengganti nama mu?, " Tanya ayah.


"Boleh. Tapi jadi apa?, " Tanya ku.


"Menjadi Archery Priatta. "


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear