I Found You

I Found You
Chapter 38 About Archery (3)



Melihat mereka sekeluarga dari bawah sini. Bagi ku, tak apa. Setidak nya, aku bisa tahu bagaimana kabar nya. Walau aku tahu, ini semua tidak baik. Memperhatikan nya dari kejauhan yang bisa di bilang seperti penguntit.


Tapi jujur. Aku tak ada niat buruk pada nya. Aku hanya ingin melihat nya saja walau dari kejauhan. Aku ingin melihat nya setiap hari, walau dia sendiri tak pernah tahu keberadaan ku. Atau, dia juga tidak tahu kalau aku bernafas di dunia ini.


*~*



"Kamu ke sana lagi sayang?, " Tanya ibu sambil menyiapkan makan malam di meja yang sudah di hadiri oleh aku dan ayah ku.


"Kamu ngapain sih nak ke sana?, " Tanya ayah penasaran.


"Aku menemui teman lama, " Ucap ku tersenyum sendiri.


"Apa anak ayah lagi jatuh cinta nih?, " Tanya ayah dan di sambut jitakan oleh ibu.


"Hush. Ayah, jangan gitu dong. Archery masih kecil," Jawab ibu kesal.


"Iya iya kalem atuh. Terus itu siapa nak?, " Tanya ayah lagi.


"Dia itu adik kecil ku ayah, " Jawab ku.


"Adik kecil?, " Tanya ayah dan ibu serempak.


"Dulu. Waktu aku kecil, eh bukan. Maksudnya, waktu aku masih tinggal di panti asuhan, ada bayi kecil di sana. Nama nya April, dia sudah ku anggap seperti adik kandung ku. Aku merawat nya dengan sangat teliti. Tapi sayang, di umur nya ke enam tahun, ia di adopsi dan jauh dari ku, " Jelas ku pada ayah dan ibu yang masih penasaran.


"Tunggu dulu. Bukan nya itu teman mu waktu TK dulu?, " Ucap Ibu yang tiba-tiba mengingat masa-masa itu.


"Wahh ibu ingat, " Jawab ku sambil memberi nya tepuk tangan.


"Tapi, terakhir kali ibu dapat kabar, kata nya Marshal pernah jatuh di rumah kerabat nya dan menyebabkan nya mengalami amnesia ringan. Ibu tak tahu dia masih mengingat mu atau tidak, " Ucap ibu berfikir namun terdengar seperti sedang meledek.


"Kasihan anak ayah nggak di ingat perjuangan nya, " Cibir ayah cekikikan dan di sambut jitakan dari ibu lagi.


*~*


Suatu.hari, ketika aku berada di bawah jendela gadis itu. Aku tak melihat nya selama satu hari penuh itu, jendela kamar nya tertutup, dan semua pintu dan jendela pun tertutup rapat-rapat. Aku sejenak merasa sangat kesepian.


Aku duduk diam di sana selama 3 jam penuh, tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Aku menjinjing tas ku sampai ke rumah. Dan mendapati ayah dan ibu yang membereskan barang-barang nya ke koper. Aku heran mau pergi ke mana mereka berdua.


"Mau kemana ibu dan ayah?, " Tanya ku heran.


"Tapi kenapa kita harus pindah?, " Tanya ku lagi.


"Ada yang harus ayah lakukan. Pekerjaan ini sangat penting untuk menyelamatkan keluarga orang lain, " Ucap ayah serius.


Walau tidak terlalu mengerti dengan apa yang ayah maksud, aku tetap mengangguk kan kepala ku dan menurut dengan mereka berdua. Aku berjalan tertatih-tatih ke kamar ku. Membereskan pakaian ku sebagian, dan sebagian nya ku simpan di lemari pakaian ku di kamar. Aku berjalan keluar dari rumah, dan di depan ku sudah ada taksi terparkir di depan rumah. Barang-barang yang sudah ayah dan ibu kemas tadi pun sudah ada di dalam bagasi.


Kami pindah ke rumah yang agak besar dari rumah yang kami tinggali tadi. Kamar ku juga lebih besar dari yang kemarin. Untung nya, rumah ini hanya berbeda dua blok dari rumah Marshal, walaupun jika berjalan kaki ke sana bisa memakan waktu yang cukup lama. Tapi tak apa bagi ku jika ini untuk nya.


*~*


Semenjak kepindahan kami di rumah yang baru lagi. Ayah jadi jarang pulang. Setiap kali dia pulang pun, aku pasti sudah terlelap. Dan ketika aku bangun, dia sudah pergi lagi. Hari-hari ku memang berjalan seperti biasa, tapi, entah kenapa. Kesehatan ku lama kelamaan menurun.


Aku sering merasa kelelahan dan pusing. Disfungsi ereksi. Sakit di punggung bagian bawah. Rasa sakit, kebas, atau dingin pada kaki dan tangan. Aku juga merasa Jantung ku berdebar-debar tak stabil. Mual, dan berkeringat. Rasa panas di dada (heartburn), gangguan pencernaan, dan juga kram.


Ibu dan ayah yang kebingungan melihat ku menahan setiap rasa sakit itu. Membawa ku ke rumah sakit yang di miliki salah satu keluarga Priatta juga. Aku di tangani oleh dokter khusus dengan sangat detail. Dan ketika dokter mendiagnosis penyakit ku. Aku langsung lemas seketika ketika dokter berkata kalau aku terkena penyakit jantung koroner.


Penyakit yang cukup berbahaya, bisa-bisa aku mengalami gagal jantung jika tidak di atasi dengan benar. Di situ, tiba-tiba aku merasa hidup ku tak lama lagi akan pergi. Tapi keluarga Priatta yang begitu baik, menyemangati aku untuk menjalankan setiap pengobatan.


Sampai ketika aku mendengar seorang gadis kecil di bawah ke rumah sakit dengan luka yang terdapat di bahu nya, dengan darah yang sudah berceceran di pakaian nya. Aku penasaran, dan mengintip dari balik pintu ruang IGD. Betapa terkejut nya aku ketika melihat Marshal terkulai lemas tak berdaya dengan wajah yang sudah basah.


Aku ingin masuk ke dalam IGD itu dan memeluk nya. Bertanya kenapa ia bisa terluka seperti itu. Tapi langkah itu terhenti ketika aku ingat, bahwa ia saja tidak mengingat sosok ku. Bagaimana bisa aku tiba-tiba datang dan langsung memeluk nya. Bisa-bisa aku di anggap penjahat lagi. Aku menunggu dia di depan pintu IGD, dan ketika dia di perbolehkan pulang, aku juga di perbolehkan pulang.


Namun, ketika aku mendapat kabar kembali. Kalau dia masuk ke rumah sakit lagi, karena kesehatan nya yang memburuk. Dan bisa-bisa mengamcam nyawa nya. Aku tanpa fikir panjang meminta ibu untuk mengantar ku ke rumah sakit. Setiba nya di sana, aku melihat sosok nya yang berantakan. Wajah nya kusut, dengan raut wajah yang seakan sudah tak ada tujuan untuk hidup lagi.


Di dalam hati kecil ku, aku bertanya-tanya. Kenapa dia? Apa yang terjadi pada nya? Ada apa ini? Saat aku tenggelam dengan dunia ku sendiri. Aku melihat berita di siaran televisi yang menyatakan di bawah nya tertulis kata " menikah".


Aku mengenali wajah laki-laki itu. Aku bingung, kenapa uang di sebelah nya bukan ibu nya Marshal, melainkan wanita yang sama sekali tak ku kenal. Aku tersadar, Ayah Marshal telah menikah lagi. Jadi ini kah yang membuat keadaan Marshal sampai seperti ini?!


Ckkk!


Aku berlari ke meja resepsionis, mengambil pena dan kertas. Menuliskan sepucuk surat yang berharap bisa mengubah hidup nya kembali. Aku menunggu jam makan siang, dan aku mengantarkan surat itu bersamaan perawat yang membawa makan siang untuk nya. Aku harap, kamu akan berubah lagi Marshal.


"Jangan terlalu bersedih, kamu terlihat seakan-akan menyalahkan Tuhan atas ke tidak adilan pada diri mu, lihatlah sekeliling mu, banyak orang yang memiliki masalah lebih sulit dari mu"


-FROM A-.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear