I Found You

I Found You
Chapter 27 Letter Again



"Mereka berdua tidak membenci mu kan? Mereka malah menerima mu apa ada nya, " Kata nya sambil tersenyum pada ku.


"Jadi, tinggal kamu. Saya tanya ya, apa kamu punya keinginan untuk kembali bersama anak dan istri mu?, " Tanya nya.


"A-aku-".


*~*


" Ha-hhhh. "


Aku menghirup udara di sekitar ku. Dan kemudian menghembus kan nya secara perlahan. Aku memikirkan, apa yang baru saja aku katakan kepada kakek. Tentang pertanyaan nya, yang menanyakan, apa aku ingin kembali bersama Merisa dan Marshal.


Flashback on.


"A-aku, ha-hhhh (menghela nafas), jujur aku memang ingin bersama mereka lagi. Tapi seperti nya tidak bisa lagi. Mereka juga mungkin tidak ada pemikiran untuk bersama ku lagi, " Ucap ku sambil menyandarkan kepala ku ke dinding jembatan.


Flashback off.


Aku berjalan, mengiringi sungai itu. Dengan handphone yang memperlihat kan jelas foto kedua orang yang begitu aku sayangi. Merisa, dan Marshal, sebungkus kebahagiaan di hidup ku. Yang kini, tidak bisa ku rasakan lagi.


Marshal's father poV end.


Aku kembali ke dalam kamar ku. Mendekati Piano yang terletak dekat dengan jendela kamar ku. Jari-jari ku, sesekali menyentuh tuts piano. Tak tahu lagu apa yang ia mainkan. Hanya terlintas di fikiran, dan ia melakukan nya sesuai perintah otak ku.


Aku membelai kedua bunga plastik yang berada di atas piano ku. Mengingat, semua kejadian yang sama sekali tidak pernah ku fikir kan.


Menemukan dokumen yang mungkin seharusnya tidak ku ketahui sekarang. Bertemu ayah, laki-laki, yang ku tunggu selama ini kedatangan nya. Dan menumpah kan segala kekesalan dan kerinduan yang menumpuk pada hati ku. Mengetahui, semua rahasia, yang di sembunyikan oleh kedua orang tua ku.


Rahasia, yang memang sangat menyakit kan untuk ku. Sangat menusuk hati. Menusuk hati, di bagian yang paling dalam. Rasa nya, seperti ada darah yang keluar dengan sangat deras. Ketika aku mengetahui semua kebenaran itu.


Tapi, darah itu terseka begitu saja, ketika mendengar semua ketulusan yang orang tua ku katakan. Bagaimana ketulusan mereka merawat ku yang tak tahu dari mana asal ku, semua nya yang tak jelas tentang ku. Padahal, aku bukan darah daging mereka, mereka tidak tahu asal usul ku, siapa orang tua kandung ku, tapi mereka, masih tetap ingin merawat ku.


Mengingat bagaimana mereka memberiku kasih sayang. Memberi ku atap untuk berteduh, dan memberikan dukungan dan semangat ketika aku gagal. Memberikan aku pelukan hangat, yang mungkin di luar sana, masih banyak orang yang mengingin kan pelukan ini.


Aku tidak bisa menyalahkan mereka atas tindakan dan kejadian yang terjadi hari ini. Mungkin, ini memang sudah takdir hidup ku yang sudah Tuhan tulis kan.


Dan aku yakin. Apapun yang di tulis Tuhan, dan apapun yang Tuhan rencana kan untuk kehidupan ku. Semua itu adalah hal yang baik. Tuhan tidak mungkin mengingin kan umat nya berada di jalan yang salah.


Aku yakin, Tuhan mengingin kan semua umat nya untuk berbaik sangka, dermawan, dan menyanyangi satu sama lain. Agar hidup mereka, aman, damai, dan tentram. Agar umat nya, senantiasa mengingat nya.


Mata ku tiba-tiba melihat ke arah jendela kamar ku. Ketika seseorang di seberang membuka jendela kamar nya, ya, yang tak lain orang itu adalah Shujae.


Aku membuka jendela kamar ku, dan memanggil anak itu. "Shujae!!, " Teriak ku membuat Shujae langsung menoleh ke arah ku. "Marshal?!, " Teriak nya tak kalah besar sambil melambai kan tangan nya pada ku.


"Kamu sedang apa? Seperti nya sibuk sekali, " Ucap ku agak sedikit berteriak.


"Aku? Aku sedang menuliskan sebuah surat, " Ucap Shujae sambil menunjuk kan pada ku sebuah kertas yang berisi tulisan tangan nya.


"Surat? Surat untuk siapa lagi?, " Tanya ku bingung.


"Aku mohon, jangan surat untuk ayah nya lagi, " Ucap ku dalam hati sambil menadah kan tangan ku dan berdoa.


"Untuk ayah ku, nanti kamu bantu aku kirimkan lagi ya, " Ucap Shujae sambil tersenyum manis.


"Ya Tuhan, doa ku tak terkabul, " Ucap ku dalam hati kecewa.


"Ha-hh, iya nanti aku kirim kan lagi, " Kata ku karena ketika aku ingin menolak permintaan dari Shujae, Shujae menunjuk kan pada ku wajah yang memelas seperti anak anjing, dengan senyuman yang langsung membuat hati ku iba. Aku tak tega menolak nya.


"Asikkk, nanti aku berikan pada mu ya, " Ucap nya sambil kembali menulis kan surat itu lagi.


Aku menghelas nafas, dan tersenyum. Melihat kelakuan Shujae yang seperti anak-anak. Shujae, maaf kan aku ya. Aku membohongi mu. Selama ini, aku yang membalas isi surat mu. Aku tidak mungkin pergi ke surga sana:). Aku masih ingin hidup.


Aku harap, keinginan mu, dan doa mu itu. Dapat di dengar angin, dan di bawa angin ke atas sana. Dan semoga saja, angin dapat menyampai kan isi surat dan suara hati mu kepada ayah mu di atas sana. Kamu orang baik Shujae. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan.


Aku menutup jendela kamar ku, seusai Shujae menutup jendela kamar nya juga. Aku yakin dia pasti akan langsung datang ke rumah ku. Jadi, aku menunggu kedatangan nya di depan pintu.


Tok tok tok.


Ketika aku membuka pintu rumah, aku melihat Shujae berdiri di sana. Ia tersenyum, dan kemudain meraba wajah ku. "Ini pasti Marshal, " Ucap nya sambil meraba wajah ku.


"Iya, ini aku," Jawab ku sambil tersenyum.


"Tentu saja sudah selesai. Kalau belum selesai,tidak mungkin sudah ku berikan pada mu.


" Iya juga, " Kata ku dalam hati sambil menahan malu.


"Ini surat nya. Bantu aku kirim kan lagi ya, " Pinta nya lagi.


"Tentu saja, " Ucap ku sambil melayangkan senyuman paksa.


"Aku pergi dulu, aku mau ke rumah sakit, " Ucap Shujae sambil melambaikan tangan nya pada ku.


Dia naik ke dalam mobil. Dan ku lihat ibu nya juga melambai ke arah ku, dan ku balas lambaian nya. Aku menutup pintu rumah, dan aku kembali ke dalam kamar ku. "Okeh, kali ini, apa yang ia tulis." Aku membuka isi amplop itu. Dan ku baca isi surat yang di tulis oleh Shujae.


"Ayah


Selama ini, aku hanya melihat kegelapan


Tidak ada cahaya sedikit pun


Sedih rasa nya, ketika harus menerima kenyataan kalau aku buta


Tapi ibu bilang, aku bisa sembuh


Dan bisa melihat dunia


Aku ingin tahu, bagaimana wajah ayah dan ibu


Terutama Marshal


Teman pertama ku yang mau berteman dengan ku


Tanpa memandang ku sebelah mata, ia menerima kekurangan ku


Ayah, selama aku hidup dalam kegelapan


Aku merasa sepi, hampa, dan gelap


Tidak ada yang terasa menyenangkan


Saking sepi nya, dan hampa nya


Aku pernah berniat untuk menghabisi nyawa ku


Tapi ternyata, aku lupa Ayah


Aku masih ada ayah, ibu, keluarga, dan Marshal


Hidup yang dulu nya ku kira tidak menyenangkan


Menjadi hidup yang paling bahagia ketika bersama keluarga dan sahabat


Semoga, aku bisa melihat wajah kalian semua"


"Amiin, " Ucap ku ketika selesai membaca isi surat yang paling bawah.


Aku menghela nafas. Rasa nya, ada tamparan keras mendarat di pipi ku. Rasa nya aku tertampar. Keras sekali, saking keras nya, aku langsung tersadar, dan mengerti, maksud dari penggalan surat Shujae untuk ayah.


Ia bercerita, tentang bagaimana hidup nya yang tak bisa melihat dunia. Tentang bagaimana ia ingin menyerah akan hidup nya. Tentang bagaimana kehidupan pertemanan nya. Dia, secara tidak sengaja membuat ku tersadar.


Dengan hidup yang kini ku jalani. Kaki yang lumpuh ini, yang selalu saja aku sesali, dan aku maki. Memarahi Tuhan, dan diri sendiri, atas segala cobaan ini. Tentang berapa ceroboh nya hidup ku. Tentang bagaimana aku menyerah dengan kaki ini.


Aku kesal. Saking kesal nya, aku selalu memaki kaki ini yang kini tak bisa bergerak. Padahal, ibu sudah membiayai pengobatan itu untuk ku. Berharap kaki ku akan berjalan kembali. Tapi pada akhirnya, aku hanya mengeluh. Tidak ada perjuangan lagi. Seakan, semangat yang semula tumbuh di diri ku, perlahan menguncup menjadi kecil.


Dan aku lupa. Bagaiman susah nya ibu mencari uang, sebagai single parent, ia membiayai sekolah ku dan pengobatan ini. Dan aku hanya mengeluh tak jelas. Kini aku tersadar. Akan perjuangan keluarga ku yang menyemangati ku untuk kembali berjalan lagi. Dan bagaimana hidup yang harus di jalani. Baik suka, maupun duka.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear