
Marshal's mother poV.
"Uhm, apa ibu mau mengadopsi anak? Ataukah aku lah anak adopsi itu? "tanya Marshal.
Sungguh, aku tak percaya, Marshal mendengar semua percakapan ku bersama Maimun. Entah apa yang akan ku katakan pada Marshal yang baru saja melontarkan pertanyaan itu barusan pada ku. Dan ini, terlalu awal, dan juga semua ini tidak sesuai dengan prediksi ku selama ini.
"Siapa yang mau mengadopsi anak? "tanya ku kepada Marshal yang sedang meminum susu yang ku bawa tadi untuk nya.
"kalau begitu apa aku lah anak adopsi itu? "tanya Marshal sambil menatap tajam ke arah aku.
Aku tidak menjawab pertanyaan nya. Aku hanya menggeleng kan kepala ku saja tanpa bersuara. Aku langsung pergi dari kamar nya tanpa memberi nya jawaban atas pertanyaan nya yang dilontarkan kepada ku barusan. Aku langsung berlari ke kamar ibu ku. Tak ada Joel di sini, tak ada tempat ku berkeluh kesah, selain hanya pada ibu.
Ckleek! (suara pintu kamar terbuka).
"Merisa?" panggil ibu.
Ibu yang sedang duduk di kursi kesayangan nya yang berada dekat dengan jendela kamar nya. Aku langsung memeluk ibu dan dia langsung membalas pelukan ku dengan sangat hangat. "ada apa sayang ku? "tanya ibu sembari mengelus kepala ku dengan belaian nya yang lembut.
" Aku bingung bu, Marshal tidak sengaja mendengar pembicaraan ku bersama Maimun, sekarang dia sudah punya asumsi kalau dia adalah anak adopsi" kata ku dengan air mata tergenang di mataku yang sudah siap mengalir dengan deras.
"Itu hanya asumsi nya, baru saja asumsi. Dia pasti menunggu jawaban pasti dari mu" Ujar ibu sambil menepuk-nepuk lembut pundak ku.
"Bagaimana jika dia menyimpul kan semua nya sendiri dan bagaimana jika dia menemukan semua berkas adopsi itu? "tanya ku takut.
" Nak. Mungkin ini sudah saat nya dia tahu. Coba kamu bicarakan bersama Joel. Dia kan ikut serta juga dalam masalah ini " Kata ibu yang mencoba mencari kan ku solusi untuk masalah ini.
"Bagaimana ya?".
Saat aku berlari ke sini kepala ku sudah berniat untuk menghubungi Joel. Aku ingin meminta kepada nya, untuk menjelaskan masalah ini secara bersama-sama kepada Marshal. Agar Marshal dapat mendengar penjelasan ini dari kedua sisi, dari ku dan dari ayah nya. Hitung-hitung Marshal dapat bertemu dengan ayah nya kembali.
Tapi saat mencoba menelpon nya. Fikiran ku sudah pergi ke mana-mana. Aku takut ketika aku menjelaskan semua masalah ini, dia akan mengatakan "ini bukan urusan ku lagi!". Tapi ternyata dugaan ku salah. Tak ada balasan dari nya telepon nya tidak aktif. Semua kontak yang berhubungan dengan nya juga sudah tidak ada yang aktif lagi.
Dan sekarang apa?!
Apa mungkin aku harus mencari keberadaan nya?
Keesokan pagi nya.
Dari semalam, aku sudah memikirkan keputusan yang akan ku ambil ini. Aku sudah berniat untuk memberi tahu Marshal kebenaran ini. Tentang siapa dia, dari mana ia berasal, dan siapa orang tua kandung nya.
Tapi, kepala dan hati ku memberontak. Mereka malah menunjuk ke arah 'kalau aku harus mencari Joel terlebih dahulu'. Sebenar nya, aku tidak mau melakukan ini. Tapi, kenapa sekarang aku berada di sini? Kenapa aku malah keluar untuk mencari nya? Ya sudah lah.
Di kota ini, aku mencari Joel sendirian. Yang ku punya hanya foto pernikahan kami. Setiap kali ku tanyakan pada semua orang, di pasar, di jalan, atau di mana pun, dan setiap orang yang ku lalui. Mereka tidak ada yang mengetahui keberadaan nya. Aku sempat frustasi dengan pencarian yang tak kunjung ada titik terang ini.
Day 1
Day 2
Day 3
Day 4
Day 5
Day 6
Day 7
Day 8
Day 9
Day 10
Day 11
Dan tiba lah hari ke tiga belas. Hari, dimana aku ingin sekali menyerah mencari nya. Rasa nya sudah tak ada tenaga lagi untuk mencari nya. Setiap kali ada orang yang ku tanyai, mereka hanya menjawab tidak tahu, atau tidak pernah melihat nya lagi. Tidak ada petunjuk yang ku dapat, kecuali...
"*kamu ngapain nyari orang ini lagi? ".
" oh ini yang nikah lagi masuk TV itu kan? Hebat ya, aku aja nggak pernah masuk TV".
" kamu istri pertama nya? ".
" kok bisa kamu dapat suami begini? ".
" udah orang jahat seperti itu, nggak usah di cariin lagi".
"aku sedih loh kamu di tinggal suami sendiri".
" mungkin dia ninggalin kamu karena kamu nggak cantik lagi kali".
"coba dandan dikit".
" ini yang kata nya orang miskin dulu kan? Kok tiba-tiba jadi orang kaya? ".
" pesugihan kali".
"eh nggak, melihara tuyul kali".
" jangan dengerin omongan mereka semua".
"kamu harus tetap kuat".
"semoga ketemu ya".
" saya doain semoga kamu dapat bertemu lagi dengan nya ".
" jodoh nggak akan kemana".
"kamu berhak untuk bahagia*".
Kebanyakan dari mereka, ada yang menghina, ada yang mengolok-olok, dan merendah kan. Tapi... Di antara mereka yang mengolok-olok, masih ada mereka yang bersedia memberi kan kebaikan hati nya. Mereka mendukung, tidak menjatuh kan. Dari hidup yang penuh derita ini. Aku belajar... Ternyata, di antara jutaan manusia jahat, masih ada kebaikan hati yang tersembunyi.
Aku beristirahat di bawah jembatan, yang terdapat sungai yang sangat bersih. "Capekk, istirahat dulu".
Plungg!! (Suara benda yang jatuh ke dalam air).
Seseorang melempar kan batu ke dalam sungai itu. Saat ku berbalik, aku melihat seorang anak perempuan bermain di pinggir sungai. Ku dekati anak itu, karena aku takut dia tergelincir dan jatuh ke dalam sungai. Tapi seperti nya, sungai itu tidak dalam. Mungkin sebatas mata kaki? Meybeh.
"Nak. Kamu ngapain di sini? " tanya ku pada anak perempuan itu.
Dia menoleh ke arah ku sambil tersenyum manis, dan kemudian dia melanjut kan aktivitas nya yang sedari tadi melempari batu ke dalam sungai. "Aku sedang main petak umpet, tante jangan berisik, nanti kita ketahuan, sstttt" kata nya sambil menyuruh ku untuk diam.
"kalau kamu tetap melemparkan batu ke sungai, nanti kamu ketahuan loh " kata ku sambil berbisik.
Dia berhenti melempar kan batu nya. Dan kemudian duduk di hadapan ku sambil menyilang kan kaki nya. "Tante cantik deh, tante nama nya siapa? " tanya nya sambil tersenyum manis yang mana membuat ku teringat akan Marshal.
"Perkenalkan, nama tante, tante Merisa" kata ku sambil berbisik dan ikut duduk bersama nya.
"kalau kamu nama nya siapa? " tanya ku lagi.
"Ana!!! ".
Seseorang meneriakkan nama orang yang tak ku kenal. Tapi... Ciri khas suara nya, aku sangat mengenal nya, seperti... Seseorang. " Ana, kamu ngapain di dekat sungai ini? Kan sudah om bilang, jangan main di dekat sungai, nanti kamu jatuh gimana, gak ada yang nolongin loh, untung ada tante ini yang menemani mu, kalau nggak kam--".
Saat aku melihat ke arah sumber suara itu. Aku tak percaya. Dia. Laki-laki yang ku cari selama ini, ada di hadapan ku saat ini. Yaitu Joel.
Suami ku yang ku cari selama ini.