
Tiba-tiba, ketika mata ku tak sengaja melihat ke arah jendela kamar Shujae, dan ku dapati tante Rena berdiri tegap di sana dengan tatapan mata yang menusuk, dan terlihat menakutkan. Dan tatapan mata nya berhasil membuat ku tiba-tiba merinding ketakutan.
Grekkk.
Ia menarik gorden jendela yang berwarna merah kecoklatan, dan membuat ku tak bisa lagi melihat sosok nya yang berdiri di depan jendela. Sesaat, aku merasa ada aura yang sangat mencekam. Menakutkan sekali.
*~*
Aku ingin pergi mendatangi rumah Shujae. Bermaksud, untuk menanyakan tatapan mengerikan yang di berikan oleh tante Rena. Tapi, aku takut. Aku takut kalau aku hanya sok tahu saja. Kan bisa saja, tante Rena sedang melihat serangga di jendela itu, bukan menatap ku.
Tapi, jika tak ku datangi. Aku akan penasaran setengah mati. Jadi di sini lah aku berada. Di depan pintu rumah Shujae, dan tangan ku sudah bersiap untuk mengetuk.
Krekkk.
Sebelum aku mengetuk pintu, tante Rena sudah membuka kan pintu rumah nya. Seakan, ia sudah tahu kalau aku akan mendatangi rumah nya. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekeliling dengan seksama. Aku mengangkat salah satu alis ku, kebingungan kenapa ia memperhatikan sekeliling.
"Ayo masuk. "
Tante Rena mendorong kursi roda ku dan membawa ku masuk ke dalam rumah nya. Ia menutup pintu rumah nya dan mengunci pintu rumah nya. Sesekali ia menggertak kan gigi nya, dan mata nya mencuri pandang ke jendela.
"Ada apa tante?, " Tanya ku membuka obrolan.
Tante Rena duduk di hadapan ku, namun mata nya masih melihat ke arah jendela. "Marshal. Apa kamu baik-baik saja?, " Tanya nya khawatir. Aku mengangguk dengan ekspresi wajah kebingungan. Sesekali ia menghela nafas nya, dan wajah nya sudah mulai terlihat tenang.
"Ada apa tante?, " Tanya ku untuk kedua kali nya.
"Maaf atas tatapan yang tak mengenakan tadi. Tante tak bermaksud membuat mu ketakutan, " Kata nya sambil memasang wajah memelas.
Aku diam, masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang ku tanyakan pada nya tadi. Dia mulai mengatur ekspresi wajah nya menjadi tenang. Ia duduk menyandar kan bahu nya ke sofa.
"Tadi. Tante melihat seorang anak laki-laki berada di bawah jendela kamar mu. Tante kaget, maka nya tante berekspresi seperti itu, " Kata nya memasang wajah serius.
"Eh? Anak laki-laki? Di bawah jendela ku?, " Tanya ku tak percaya.
Dia mengangguk kan kepala nya pelan sambil memejamkan mata nya. " Tante juga lihat, dia menempelkan sesuatu di jendela kamar mu, setelah itu dia bersembunyi ke bawah jendela. Apa dia teman mu?, " Tanya tante Rena serius.
Aku menggeleng kan kepala ku, dan berkata " Aku tidak mengenal nya, " Jawab ku pelan.
"Lalu siapa dia?, " Tanya tante Rena.
"Nggak tahu tante. "
"Apa dia sering seperti itu?, " Tanya nya lagi.
Kalau di ingat-ingat, anak itu memang sering memberi ku hadiah, surat, dan lain nya. " Semenjak kepulangan ku dari rumah sakit, dan semenjak kamar ku di pindah kan ke lantai bawah. Aku sering mendapatkan hadiah, entah itu bunga, atau surat. Dan selalu saja mendapatkan nya dari orang yang sama, " Jelas ku pada tante Rena.
Tiba-tiba, ekspresi tante Rena yang tadi nya tenang, menjadi khawatir. "Tapi kamu baik-baik saja kan?, " Tanya nya khawatir. Aku mengangguk kan kepala ku dengan cepat. Dia menghela nafas nya lega.
"Aku baik-baik saja tante. Tenang saja, " Jawab ku tenang walaupun dalam hati sangat tidak tenang.
"Mau bertemu Shujae?, " Tanya nya sambil tersenyum.
"Boleh."
"Permisi. Shujae nya ada nggak? Mau main nih, " Ucap ku lembut.
Shujae yang mendengar suara ku terlonjak kegirangan. Dia memanggil-manggil nama ku dan menyuruh ku masuk ke kamar nya. Ia duduk di hadapan ku, dan ku lihat. Buku catatan tebal yang pernah ia bawa ke rumah ku, tergeletak dan terbukaterbuka begitu saja.
"Sedang menulis lagi?, " Tanya ku lembut.
Dia mengangguk kan kepala nya pelan. Dia berdiri dan mengambil buku itu dari atas meja. Dan memberikan buku itu pada ku. "Mau baca?, " Tawar nya pada ku. Aku mengangguk kan kepala ku sembari tangan ku mengambil buku yang ada di tangan nya dan berkata " Iya boleh," Jawab ku.
Judul: Kita Yang Sama
Genggam tangan ku. Tarik aku, dan bawa aku pergi. Selamat kan aku, dan aku akan menyelamatkan mu. Aku bisa merasakan semua kegundahan yang ada di dalam hati kecil mu. Tak perlu menutupi nya dengan senyuman palsu mu. Jangan sungkan pada ku. Tunjukkan pada ku, berikan pada ku. Dan biarkan aku merasakan nya. Jangan di pendam, bagikan rasa sakit mu pada ku. Agar kita tidak terlalu jauh terluka.
Aku melihat ke arah Shujae setelah selesai membaca puisi buatan nya. Aku bisa merasakan pesan yang Shujae sembunyikan di dalam puisi nya. Arti dari puisi ini, menginginkan seseorang jujur, dan menceritakan masalah nya kepada orang lain. Dan biarkan orang lain merasakan rasa sakit dan perih dari masalah nya, agar mereka juga tidak terlalu jauh terluka.
"Bagaimana? Apa kamu mengerti maksud dari puisi ku kali ini?, " Tanya Shujae dengan nada suara nya yang khas lemah lembut.
"Mengerti. Kali ini aku mengerti dari isi dan pesan yang tersembunyi dari dalam puisi mu. Tanpa kamu jelaskan loh, aku sudah mengerti langsung, hebat kan! , " Ucap ku bangga.
Shujae hanya tertawa kecil mendengar perkataan ku barusan. Ia duduk makin mendekat ke arah ku. "Tadi. Ibu ku bercerita. Kalau ia melihat seorang anak laki-laki di bawah jendela mu. Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?, " Tanya Shujae khawatir.
"Tenang saja Shujae. Aku baik-baik saja kok, " Kata ku meyakinkan diri nya yang nampak jelas sedang khawatir.
"Maaf ya. Kalau saja aku bisa melihat. Aku pasti bisa lihat anak laki-laki itu, dan pasti nya akan ku lempar botol ini rapat ke kepala nya, " Kata Shujae sambil mengambil botol yang ada di samping nya dan berpose seolah ingin melempar kan botol yang ada di tangan nya.
Aku tersenyum melihat Shujae yang bertingkah seperti seorang super hero. Aku menarik nya duduk kembali. "Shujae. Apa kau pernah mengirim puisi-puisi ini ke media?, " Tanya ku sambil menutup buku catatan itu.
"Media? Belum sama sekali, " Jawab Shujae sambil menggeleng kan kepala nya.
"Apa kau mau mencoba nya?, " Tanya ku antusias.
Shujae memasang wajah kebingungan. Shujae memanggil nama ibu nya, meminta ibu nya untuk datang ke dalam kamar nya. Tak lama, tante Rena mendatangi kami berdua yang masih diam di posisi kami.
"Ada apa Shujae?, " Tanya tante Rena dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ibu. Marshal bilang, apa puisi-puisi ku mau di kirim ke media?, " Tanya nya ke pada ibu nya.
"Loh. Kenapa malah tanya ibu? Shujae sendiri mau nya gimana?," Ucap tante Rena membalikkan pertanyaan itu kepada Shujae.
"Aku mau. Tapi, aku takut, " Jawab Shujae.
"Loh, kok takut?, " Tanya tante Rena sambil melihat ke arah ku.
"Bagaimana kalau nggak di Terima?, " Tanya Shujae lagi.
Aku dan tante Rena saling berpandangan dan kemudian menghela nafas pelan. Tante Rena duduk di samping Shujae yang masih diam terpaku memikirkan jawaban yang ia berikan kepada kami berdua.
"Ketika kamu ingin memulai sesuatu. Jangan pikirkan apa yang akan di katakan orang lain, dan jangan terlalu memusingkan hasilnya. Cobalah dulu, berusaha lah, yakinlah. Usaha tidak mengkhianati hasil. "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear