
Keesokan pagi nya, Marshal bersiap untuk belajar. Dia menunggu kedatangan Shujae dan bu Maimun. Marshal mengambil buku nya dan meletak kan nya di meja nya. Tak lupa, dia mengambil air minum dan meletak kan nya di samping tubuh nya. Marshal itu tidak bisa berfikir kalau belum minum air.
Bagaimana, kalian juga begitu nggak? Kalau author juga begitu.
Dia mencoba untuk turun dari kursi roda nya, duduk di lantai, dan memaku tangan nya di meja kaca yang ada di ruang tamu nya. Marshal mengeluar kan bunga plastik yang kemarin ia dapat kan, dan meletak kan nya di hadapan nya. Sesekali tangan nya mengelus-ngelus lembut mahkota bunga itu.
Membuat dia berfikir, betapa tidak ada kerjaan nya orang itu. Yang selalu saja memberi kan nya bunga plastik, hadiah, dan terutama surat penyemangat yang di kumpul kan oleh Marshal selama ini.
Beberapa menit kemudian, Shujae dan Bu Maimun datang bersamaan. Kemudian, bu Maimun memulai pelajaran nya seperti biasa. Hari ini, pelajaran Matematika dan bahasa Indonesia. Pelajaran pertama adalah pelajaran yang sangat malas di ikuti Marshal.
Skip.
"Shujae, apa kamu mau ikut aku?, " Tanya Marshal tanpa menatap ke arah Shujae.
"Kemana?, " Tanya Shujae bingung.
Marshal menoleh ke arah Shujae. "Hari ini, aku mau pergi ke panti asuhan. Apa kamu mau ikut ke sana?, " Tanya Marshal lagi. Shujae memasang ekspresi wajah yang bingung. Ia masih memikir kan ajakan yang baru saja Marshal ajukan pada nya.
"Apa di sana ada banyak anak-anak?, " Tanya Shujae sambil memasang wajah penuh dengan harap.
"Tentu saja ada banyak sekali anak-anak, " Ucap Marshal sambil menahan tawa.
"Aku mau ikut, tapi aku minta izin dulu sama ibu ku, " Kata Shujae sambil tersenyum manis.
Marshal menunggu Shujae yang sedang meminta izin kepada ibu nya. Marshal pergi ke panti asuhan itu sehabis belajar bersama bu Maimun dan Shujae. Marshal pergi ke panti asuhan di temani pak Roni, sopir pribadi keluarga nya, dan juga bersama Shujae.
Dia ikut karena dia sungguh antusias untuk datang ke sana. Nenek tidak ikut bersama mereka, tapi nenek menitip kan buah-buahan untuk di berikan ke sana.
Sesampai nya di panti asuhan. Shujae turun dibantu oleh pak roni. Marshal memutar kepala nya melihat-lihat sekeliling panti asuhan itu, sekalian mencari si laki-laki misterius itu yang si 'Awingbawak' yang sampai sekarang tidak ia ketahui nama asli nya.
Marshal menggerak kan kursi roda nya dan di belakang nya di ikuti oleh Shujae dan pak Roni. Marshal mengetuk pintu panti asuhan, dan ibu panti membuka nya.
"Eh, ada Marshal, tumben datang gak sama nenek?, "tanya ibu panti yang di sambut oleh sorak kan anak-anak di belakang nya.
" Uwooo. "
" Iya nenek lagi sibuk, " ucap Marshal sambil memberikan buah yang di titip oleh nenek nya tadi untuk di berikan pada mereka.
"Wah, ada siapa nih?," Tanya ibu panti ketika dia sadar, akan keberadaan Shujae yang ada di belakang Marshal.
Marshal menoleh ke belakang, dan tangan nya menarik lembut tangan Shujae, membuat nya maju berjajar dengan Marshal. "Teman baru?," tanya salah satu anak dengan mata yang berbinar, sembari tangan nya menunjuk ke arah Shujae yang berada di samping Marshal.
Marshal tersenyum, dan berkata "ini teman baru kakak, kenalkan, nama nya Shujae, " ucap Marshal mengenal kan Shujae kepada anak-anak di sana. Anak-anak di sana begitu antusias dengan kedatangan teman baru, siapa lagi kalau bukan Shujae.
"Halo kak."
"Halo."
"halo kak. "
"halo."
Anak-anak di sana saling berebutan untuk menyapa Shujae. Shujae menjawab dengan senyuman nya yang ramah. "kakak kenapa bawa tongkat?," tanya salah satu anak yang menyapa Shujae tadi. Marshal menoleh ke arah Shujae, memasti kan Shujae tidak marah dengan pertanyaan anak itu tadi.
Shujae mengangkat tongkat nya dan menunjuk kan tongkat itu kepada anak itu. "Kakak ini buta, maaf kan kakak ya, kalau kakak tidak bisa melihat kalian dan tongkat ini sangat membantu kakak, " jawab Shujae yang di sambut oleh angguk kan kepala anak-anak di sana.
Shujae cepat sekali akur dengan anak-anak. Marshal tak lupa dengan tujuan nya ke sini. Dia ingin mencari anak laki-laki itu. Laki-laki yang masih menyimpan sejuta misteri yang belum bisa di pecah kan.
"Shujae, aku ada urusan sebentar, kamu tunggu di sini dulu ya, bersama mereka, " Bisik Marshal di telinga Shujae dengan lembut. Shujae mengangguk kan kepala nya, dan ikut masuk ke dalam bersama Anak-anak dan ibu panti.
"Loh, Marshal mau kemana?, " Tanya nya khawatir.
"Ah, saya ada urusan, sebentar saja, " Kata Marshal sambil mengeluarkan jurus puppy eyes nya.
"Ya sudah, tapi hati-hati ya, " Pinta pak Roni namun dengan nada suara yang tegas.
Marshal mengangguk kan kepala nya. Ia keluar dari panti asuhan, dan langsung pergi ke tempat yang selalu saja mempertemukan nya pada laki-laki itu, atau lebih tepat nya si 'Awingbawak'.
Di saku baju nya, dia membawa bunga plastik yang baru saja ia dapat kan kemarin siang. Berharap, dia akan membuka mulut nya. Tapi seperti nya tidak, karena anak itu pintar sekali berakting.
Sesampainya Marshal di pohon besar yang menggantung sebuah ayunan yang tak asing lagi bagi nya, ia melihat ke atas. Mencari anak itu yang biasa nya nongkrong di atas pohon. Dia tak menemu kan anak itu di atas pohon, melainkan dia hanya menemukan sebuah kekosongan.
Dia melihat-lihat sekeliling nya. Berharap laki-laki itu ada di sekitar nya. Tapi dia tidak ada. Marshal sudah bingung, tumben anak itu tidak mengaget kan nya ketika ia datang kesini. Biasa nya, dia muncul seperti hantu. Dan menghilang seperi hantu juga. Tapi sekarang tidak ada yang seperti itu. Tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang selain diri nya.
Marshal menggerak kan kursi roda nya, berkeliling mencari nya. Tapi dia masih tetap tidak menemukan nya. Melainkan, dia sampai di depan sebuah ruangan yang tidak dia kenal. Ruangan yang bertulis "Catatan Adopsi".
Marshal tahu, tak seharusnya ia memasuki ruangan itu. Tapi dia penasaran. Dia membuka pintu itu dengan pelan agar tak menimbul kan suara yang berisik.
" Permisi, " Ucap Marshal sambil memasuki ruangan itu.
Ketika dia masuk ke dalam nya, di sana ada banyak sekali laci besi. Di laci besi itu juga tertempel sebuah kertas bertulis nama-nama orang yang tak ia kenal. Marshal melihat semua nama itu dengan seksama. Sampai ia menemukan sebuah nama yang sangat ia kenal.
"Joel? Nama ayah?, " Tanya Marshal sambil mengelus-ngelus laci besi itu dengan lembut di karena kan di laci itu tertempel debu yang amat tebal.
Nama ayah nya tertulis di sana. Dan di bawah nya juga tertulis sebuah pernyataan yang menulis kan " Pengadopsian ". Marshal membuka laci itu, dan banyak sekali dokumen di dalam nya. Marshal mengambil dokumen merah yang bertulis sama dengan tulisan yang tertulis di depan laci tadi.
Marshal melihat jelas, nama seorang anak perempuan yang tak ia kenal. Namun di sana tercantum nama kedua orang tua nya, Merisa, dan Joel.
Marshal membaca dengan sangat teliti isi dokumen itu, dan terpampang jelas nama 'April' di sana. Di sana juga ada dokumen tentang pergantian nama, entah itu foto kopian atau dokumen asli. Yang jelas, dia benar-benar terkejut. Terkejut akan pergantian nama 'April' menjadi nama yang ia pakai sampai sekarang 'Marshal'.
"Apa benar, aku adalah anak adopsi?, " Tanya Marshal tak percaya.
Marshal mengambil semua dokumen yang ada di dalam laci itu, dan menyembunyikan nya di balik pakaian nya. Dia menutup dan membersih kan laci itu seperti semula, agar tak ada yang tahu jika dia mengambil dokumen itu.
Marshal cepat-cepat keluar dari dalam ruangan itu. Ia menutup pintu itu, dan mendorong kursi roda nya dengan sekuat tenaga, mengakibat kan kursi roda nya bergerak dengan sangat cepat.
Marshal berlaku seperti biasa saja saat sudah berada di dalam panti asuhan, dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia dengan pintar nya menutupi rahasia nya yang iya sembunyikan di dalam baju nya. Walau ketika dia menebar senyuman indah dari wajah nya, di kepala nya ada banyak sekali pertanyaan yang akan ditanyakan kepada ibu nya nanti di rumah.
Sempat ada perbincangan yang terjadi, sebelum Marshal izin pamit, untuk pulang ke rumah nya. Beberapa menit ketika untuk pulang, Anak-anak di sana berlarian, dan memeluk Shujae dengan sangat erat.
"Kapan-kapan, ke sini lagi ya kak, " Pinta anak-anak itu pada Shujae.
Shujae mengangguk kan kepala nya. Setelah itu, mereka naik ke dalam mobil, dan pulang ke rumah. Dan sesampai dirumah, Marshal tidak langsung pergi ke dalam kamar nya, melainkan langsung pergi ke kamar ibu nya dengan membawa dokumen yang ia dapat kan di panti asuhan tadi.
"Ibu," panggil Marshal dengan lembut.
Marshal melihat ibu nya yang sedang membaca buku di kamar nya. "Ada apa Marshal?," tanya ibu nya sambil duduk di tepi tempat tidur.
Marshal menunjuk kan dokumen itu dan meletak kan dokumen itu di atas kasur yang di tiduri oleh ibu nya tadi. Ibu nya terlonjak kaget tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Apa maksud dari semua dokumen ini,?" tanya Marshal dengan raut wajah yang tegas.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear