
"Yaudah dokter, kamu lanjutin deh pertanyaan nya"
Ucap Mikhayla yang semakin penasaran dengan pertanyaan yang akan di tanyakan Hans.
"hm.. aku mau tanya kamu udah punya pacar gak?
"kenapa dokter menanyakan hal itu?"
Ucap Mikhayla dengan tatapan kesedihan
Melihat ekspresi wajah Mikhayla yang berubah menjadi mendung,membuat Hans merasala bersalah.
"Aku hanya iseng aja kok,gausah di jawab kalau kamu gak mau jawab."
"Enggak apa apa kok Hans."
Ucap Mikhayla yang menatap ke arah wajah Hans.
"Aku memang belum pernah pacaran sama sekali. Lucu kan?
aku bahkan punya wajah yang bisa di bilang cantik(dengan percaya diri nya) tapi kamu tahu sendiri kan kondisi aku.Aku takut buat jalanin sebuah hubungan.Aku takut mereka kecewa sama kondisi aku yang kayak gini." Ucap Mikhayla yang tampak menahan air mata nya.
"Mikha,maaf aku tidak bermaksud seperti itu.
Tapi,aku hanya mau kasih kamu saran sebagai seorang teman dan dokter pribadi kamu. Jangan biarkan pemikiran kamu yang seperti itu membatasi ruang di hati kamu. Itu hanya membohongi diri kamu sendiri.Kamu hanya takut mencoba nya.Belum tentu laki laki yang jadi pasangan kamu kecewa,siapa tahu malah mereka akan semakin mencintai kamu."
"Enggak, enggak mungkin Hans,aku bertahan hidup sampai saat ini saja sudah bisa di katakan sangat beruntung.
Dulu waktu aku kecil,aku pernah hampir mau mati karena jantung ini tiba tiba saja kumat.
Nah,bagaimana mungkin kalau seandai aku menjalin hubungan dengan seseorang,dan tiba tiba aku pergi untuk selama nya meninggalkan dia apa menurut mu dia akan baik baik saja? tidak kan?! dia akan terluka dan sangat kecewa karena kepergian ku.Aku tidak ingin membuat nya hidup dalam bayang bayang ku."
"Dengarkan aku Mik,sebagai seorang dokter aku mengetahui dengan betul keadaan kamu.Memang semuanya bisa terjadi tiba tiba,tapi percaya saja rencana Tuhan itu selalu indah.Coba kamu bayangkan alasan kamu bisa hidup sampai hari ini.Pasti Tuhan sedang rencanakan hal baik untuk kamu di depan sana.
Dan untuk rasa kecewa atau pun terluka,percaya lah Mik jika seseorang benar benar tulus mencintai mu,dia tidak akan kecewa dengan kepergian abadi sekali pun.Kurasa dia akan menjadi orang paling bahagia karena sudah menjadi tempat bagi kamu untuk menuju kebahagian."
Ucap Hans sambil mendekat kan diri nya ke arah Mikhayla dan memegang pundak nya.
Mikhayla menatap Hans dengan kesedihan.Ia merasa bahwa ucapan Hans ada benar nya.Ia hanya takut mencoba selama ini.Karena terlalu takut nya, ia membohongi perasaan nya sendiri.
Ia kembali teringat tentang Rayhan. Saat papa nya ingin menjodohkan nya dengan Rayhan,ia tidak memberi reaksi apapun.Ia takut Rayhan kecewa dengan kondisi nya.Maka dari itu ia bersikap pura pura acuh tak acuh.Dan seolah olah hanya menempatkan Rayhan sebagai dokter pribadi nya saja dan tidak lebih.
Mikhayla yang masih dalam posisi berhadapan dengan Hans,secara tiba tiba memeluk tubuh Hans.
Sontak saja Hans terkejut dengan reaksi Mikhayla.
Hans hanya diam saat Mikhayla memeluk erat tubuh nya.Ini sudah kali kedua Mikhayla memeluk nya.
Tapi,rasanya kali ini entah kenapa Hans ingin membalas pelukan Mikhayla.
Air mata Mikhayla jatuh dan mengenai baju Hans.Air mata hangat yang terjatuh di pundak nya terasa jelas di tubuh Hans.
Hans pun akhir nya membalas pelukan Mikhayla.Ia melingkarkan kedua tangan nya di punggung Mikhayla.
"Tenang lah,semua akan baik baik saja,percaya saja Tuhan akan memberikan mu hadiah yang indah bila waktu nya sudah tepat."
Hans membelai rambut Mikhayla.
"terimakasih Hans,izinkan aku meminjam tubuh nya sesaat lagi sebelum aku melupakan nya."
Ucap Mikhayla yang masih meneteskan air mata di belakang punggung Hans.
"Jangan melupakan nya,bila kamu ingin memeluk ku setiap kamu butuh,aku akan meminjam kan nya walaupun hanya sesaat.Tapi... jangan mengatakan akan melupakan nya.Aku mengerti bagaimana keadaan mu saat ini Mikhayla.Jadi menangislah sebanyak yang kamu mau,dan terus lanjutkan mimpi mu dengan senyum." Gumam Hans dalam hati nya.
Setelah merasa cukup untuk bersedih Mikhayla melepas pelukan nya.
"Maaf kan aku.. aku sudah banyak merepotkan mu Hans😥"
Ucap Mikhayla seraya menunduk kan kepala.
Hans mengangkat dagu Mikhayla.
"Tidak apa apa . Kita ini teman jadi kamu tidak perlu merasa bersalah🙂"
Ucap Hans dengan lembut dan tersenyum menatap kedua mata Mikhayla.
"terimakasih dokter ☺"
Ucap Mikhaya dengan senyum lepas di wajah nya.
Setiap melihat Mikhayla tersenyum,Hans merasa ada yang berbeda dengan nya.
Semenjak melihat Mikhayla menangis dalam pelukan nya Hans merasa kan dalam diri nya bahwa ia ingin sekali melindungi Wanita yang menangis dalam pelukan nya itu.
Tapi Hans tidak mungkin melakukan hal lebih,ia cukup menjadi dokter pribadi Mikhayla, itu membuat posisi nya lebih mudah untuk bisa mengenal Mikhayla lebih jauh.
"Yasudah jangan menangis lagi.Kamu jelek kalo lagi nangis."
Hans menepuk lembut pundak Mikhayla.
Mikhayla menghapus air mata nya dan kembali membalas perkataan Hans dengan senyuman.
"Anak baik" Ucap Hans yang kini malah membelai rambut Mikhayla.
Melihat Hans melakukan perhatian kecil itu,membuat Mikhayla merasa nyaman.
Mungkin ini yang di katakan teman.Bisa berbagi cerita dan mendapat solusi pula.
Setelah selesai dengan curhatan mereka,tiba tiba pelayan mengetuk dari balik pintu.
tok..tok..tok..
"permisi non,sudah waktu nya makan malam,tuan dan nyonya sudah menunggu di meja makan." Ucap pelayan dari bali pintu.
"iya mbak,sebentar. Saya dan dokter Hans akan turun." Ucap Mikhyala dari dalam kamar nya.
"Hans,ayo ikut makan malam,tadi kamu udah janji sama mama."
Mikhayla menarik satu tangan Hans.
Hans hanya mengikuti langkah kaki Mikhayla tanpa berkata apa pun.Melihat tingkah Mikhayla yang seperti itu,membuat Hans lembut.
Mereka berdua pun tiba di dekat meja makan. Di depan meja makan terlihat kedua orang tuan Mikhayla sudah menunggu.
"Papa,kapan balik nya? kok aku gak di kasih tahu sih papa udah pulang kerja?" Ucap Mikhayla sambil mendorong kursi untuk tempat duduk Hans.
"Baru aja sayang,papa gak mungkin ganggu kamu sama Hans berduaan.Iya kan Ma?" Ucap Ayah nya sambil menggoda putrinya.
"ih papa apa apasih? sama aja kayak mama." Ucap Mikhayla yang tampak kesal dengan godaan papa nya.
Hans yang sudah duduk di kursi meja makan hanya bisa tersenyum melihat candaan antara ayah dan anak itu.