I Found You

I Found You
Chapter 23 A Plastic Flower Again



Joel tidak menyangka. Hari yang tidak ia perhitungkan. Datang begitu saja. Pertemuan nya dengan sang istri tercinta, dan ibu nya, tidak pernah ia sangka. Kalau hari ini dia akan bertemu dengan mereka berdua. Bagi nya, itu sudah seperti reuni keluarga, hanya saja, tidak ada Marshal.


Marshal's father poV end.


Hujan masih turun dengan sangat deras, ketika nenek pergi menyusul Merisa. Meninggalkan cucu nya bersama teman nya, Shujae di rumah. Mereka berdua, yang tadi nya bersiap untuk makan siang bersama nenek, berakhir makan siang berdua saja.


Shujae makan dengan lahap, dan Marshal yang tidak selera dengan makanan nya. Ia memainkan nasi yang ada di piring nya, yang mana menimbulkan suara dari sendok nya. Ting. Ting. Ting.


Shujae berhenti mengunyah, karena telinga nya mendengar suara. Mencoba mendengar secara jelas suara itu. "Kamu memainkan makanan mu?, " Tanya Shujae dengan mulut yang masih penuh dengan makanan nya.


"Eh tidak. Aku lagi makan kok, " Jawab Marshal sambil menyuapkan sesendok nasi ke mulut nya. Shujae masih diam, dan kemudian melanjutkan makan nya.


20 menit kemudian.


Hujan sudah tidak turun. Shujae pamit pada Marshal untuk pulang ke rumah nya. Marshal mendorong kursi roda nya mengarah ke alat therapy. Ia mencoba untuk berdiri lagi. Menggenggam erat tiang penyangga itu, dan mencoba menegakkan kaki nya.


Sesaat dia berhasil berdiri. Tapi, kemudian ia jatuh kembali. Bukan Marshal nama nya jika mudah menyerah. Dia masih belajar berdiri, dan jatuh kembali. Terus seperti itu, sampai ibu dan nenek nya pulang.


"Marshal istirahat dulu nak, " Pinta ibu nya sambil membantu putri nya duduk kembali ke kursi roda.


Marshal duduk kembali ke kursi roda nya. Ia diam melihat ibu nya yang sedang membuat teh manis hangat, untuk menghangat kan tubuh nya yang tak terkena hujan. Ibu nya, Merisa, membuat kan Marshal juga teh untuk di minum bersama nya.


Ia duduk di hadapan putri nya. Menyuruh Marshal meminum teh yang barusan Ia buat. Marshal meneguk teh itu beberapa kali, dan ibu nya tiba-tiba mengajak nya bicara.


"Bagaimana belajar mu?," Tanya nya sambil meletak kan cangkir teh nya ke meja.


"Baik, yeahhh seperti biasa, tugas terosss, ah iya, hampir lupa, hari ini aku dapat rekor baru, aku bisa berdiri 1 menit" Jawab Marshal dengan nada suara yang santai seperti biasa.


"Waw, selamat atas rekor baru mu. Ibu yakin kamu pasti bisa berhasil berdiri dan berjalan lagi, " Ucap nya sambil bertepuk tangan.


Marshal tersenyum, dan kemudian berkata "Apa yang ibu lakukan di luar sana? Beberapa hari ini, ibu tidak ada di rumah," Tanya Marshal.


"Ibu ada urusan," Jawab nya dengan nada suara nya yang santai.


"Uhm, ibu, aku ingin bertanya satu hal pada mu, " Ucap Marshal hati-hati.


"Apa yang ingin kau tanya kan?," Tanya nya


" Ibu, aku ingin menanyakan tentang pertanyaan ku yang belum kau jawab kemarin," Ucap nya dengan sangat hati-hati.


Ibu diam, dia mematung dengan pertanyaan yang di tanyakan Marshal kepada nya lagi. Merisa menghela nafas nya panjang. Ia tersenyum, dan kemudian berkata " Maaf kan ibu ya sayang, ibu belum bisa menjawab nya. Ibu tidak bisa menjawab nya sendirian," Ujar nya kemudian membawa cangkir bekas minum teh ke dapur.


Marshal hanya diam, dan tersenyum paksa. Ia mendorong kursi roda nya, mengarah ke dalam kamar tidur nya. Ia mendekat ke arah kalender, dan menandakan sesuatu dengan pena, yang bertuliskan "A New Record".


Ia kembali mendorong kursi roda nya ke arah meja belajar nya. Ia membuka buku tulis yang ada di meja belajar nya. Tiba-tiba, kepala nya teringat dengan ayah nya. Kepergian ayah nya dari rumah, dan luka yang di berikan oleh ayah nya.


Dear diary, 24032020


Debur ombak yang mendebarkan


Palu yang di pukul menyesak kan


Ingatan yang di bawa bagai aliran sungai yang deras


Yang cepat sekali melintas pergi


Kau hanya berlabuh sebentar di sini


Kemudian, kau berlayar menjauhi ku


Angin pantai yang menyejuk kan


Seperti engkau yang punya pelukan yang hangat


Dan kemudian, membakar pelukan itu


Bersama dengan memori ku tentang mu


Kaki ku hanya mengikuti aliran sungai ingatan ini


Membiar kan aku mengikuti arah permainan mu


Janji yang pernah kau ucap kan


Berjanji untuk tidak melanggar nya


Namun, kau sendiri yang melanggar nya


Marshal menutup buku tulis nya, dan beralih ke piano yang ada di dekat nya. Memainkan lagu yang sama sekali tidak ia tahu. Ia hanya mengikuti arah permainan tangan nya, yang bergerak mengikuti perintah dari otak nya.


Sesaat, mata nya mencuri pandang ke jendela kamar Shujae. Berharap gadis itu muncul dari jendela kamar nya. Tapi, gadis itu tak kunjung muncul di sana. Membuat kandas harapan Marshal.


Marshal merebah kan tubuh nya di atas kasur. Berhati-hati ketika ingin pindah dari kursi roda ke tempat tidur nya. Takut jatuh lagi. Marshal menempat kan kepala nya di bantal nya yang empuk. Menutup mata nya. Mencoba untuk terlelap sebentar saja.


*~*


Di tempat Joel, ayah Marshal.


Joel masih duduk di bawah jembatan. Memainkan handphone nya, memandangi nomor istri nya yang baru saja ia dapat kan tadi siang. Ia menghela nafas nya pelan. Kakek Ana yang mendengar helaan nafas Joel, ia menepuk pundak nya.


Joel yang masih sibuk dengan dunia nya sendiri. Terkejut dengan tepukan lembut di bahu nya. Ia menoleh ke pada sang kakek dan tersenyum, sambil berkata " Tidak apa, aku baik-baik saja. "


"Kau lihat Joel, apa yang di lakukan istri mu ketika dia tahu semua kebenaran itu?, " Tanya kakek itu.


"Dia malah meminta maaf pada ku, " Jawab Joel dengan menyandar kan tubuh nya ke dinding jembatan.


"Lihat, dia tidak menjauh kan?, " Tanya kakek itu lagi.


Joel menggeleng kan kepala nya. Ia berdiri, berjalan pergi ke tempat ia bertemu dengan Merisa tadi. Menduduk kan pantat nya di atas tanah yang bersih tanpa kotoran. Ia duduk, memandangi sungai yang aliran nya sudah kembali tenang.


Angin menderu kencang, melewati telinga Joel. Membuat telinga nya berdengung tiba-tiba. Dia duduk memeluk lutut nya. Memikir kan apa yang akan ia katakan pada putri kecil nya nanti saat bertemu.


"Om, " Panggil Ana sambil membawa kan sebuah barang tak asing bagi Joel. Joel mengambil barang itu, melihat-lihat isi di dalam nya. Itu sebuah album foto dengan ukuran yang sangat kecil, ada banyak foto di dalam nya. Dan juga, foto diri nya.


"Foto ku? Ini album foto? Punya siapa?, " Tanya Joel sambil membolak-balik kan halaman album foto itu. Saat di halaman tengah album foto itu, dia melihat foto seorang bayi dan dua orang dewasa.


Foto itu, tak lain adalah diri nya dan Merisa, yang sedang menggendong Marshal yang masih kecil waktu itu. Dia mengusap foto itu dengan lembut, foto yang memperlihat kan jelas kebahagiaan yang terpancar dari keluarga kecil itu.


Tanpa sadar, air mata nya mulai menitik. Menitik setetes, seperti hujan yang kemudian turun dengan sangat sangat saaanggaat deras. Joel juga tidak sadar, dengan basah nya pipi nya, karena air mata nya yang tak ia sadari sudah turun ke pipi nya.


Gadis kecil yang berdiri di samping nya, memeluk nya dari belakang. Mencoba untuk menenang kan diri nya. Joel yang masih menangis, menggenggam erat tangan mungil yang melingkar lembut di leher nya.


"Cup... Cup... Cup... Jangan nangis om, om harus nya seneng, karena nanti mau ketemu sama anak om, Marshal, " Ucap gadis kecil itu sambil menggoyang kan tubuh nya, mencoba membuat Joel mengikuti tarian kecil nya.


Joel ikut menggoyang kan tubuh nya, mencoba mengikuti irama tarian kecil yang di buat anak itu. Joel menghapus air mata nya, dan memboyong gadis itu ke pangkuan nya.


"Om nggak sedih, ini air mata kebahagiaan, " Jawab Joel berbicara pada gadis di pangkuan nya, Ana.


*~*


Marshal bangun dari tidur nya, membuka mata nya, dan melihat langit-langit dinding kamar nya yang penuh dengan lampu berbentuk bintang berkelap-kelip. Dia duduk di tepi ranjang nya. Memegang kepala nya yang masih pusing.


Dia mencoba menggapai kursi roda nya, namun, penglihatan nya tertarik pada sesuatu yang ada di atas piano nya. Sekuntum bunga mawar plastik, dengan sepucuk surat terikat di tangkai nya.


Marshal mengambil bunga plastik itu, dan mengambil surat itu. Membuka dan membaca surat itu. "Entah apa yang terjadi pada mu, yang jelas aku merindukan kehadiran mu di sini. " Begitu tulisan yang tertulis di dalam surat itu. Dan pasti nya, berasal dari si inisial A. P yang masih menjadi rahasia bagi nya.


Marshal meletak kan bunga plastik itu di dalam vas yang pernah ia letak kan di atas piano nya. Ini sudah ke dua kali nya ia mendapat kan bunga plastik itu dari laki-laki yang sampai sekarang masih ia cari keberadaan nya.


"Mungkin aku harus pergi ke panti asuhan itu, " Ucap Marshal sambil melayang kan senyuman di wajah nya yang cantik.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear