I Found You

I Found You
Chapter 22 Encounter with you



"Pengkhianat!! ".


*Brakk!! (Suara hentakan)


Byurr!! (Suara sesuatu jatuh ke air*).


Marshal's father poV


Merisa menendang batu yang ada di dekat kaki nya. Membuat aku dan Ana melongo tak percaya. Saat ini, aku benar-benar merasakan hawa amarah yang begitu mengerikan di sekitar Merisa. Ana berjalan mendekat ke arah merisa yang masih memaki seseorang dengan menatap luas ke sungai. Entah siapa yang ia maki, mungkin itu aku?


"Tante, jangan marah, nanti cantik nya hilang. "


Ana mencoba menenangkan Merisa dengan suara khas nya yang bisa saja langsung membuat orang yang mendengar nya iba. Bagaimana, apakah berhasil?


"Nggak, tante gak marah, cuman lagi kesal. " Merisa menatap lurus ke arah ku. Membuat bulu kuduk ku tiba-tiba berdiri. Tiba-tiba, hujan mulai turun. Aku menarik Merisa dan Ana untuk berteduh di bawah jembatan. Kami berlari ke sana, karena jembatan nya lumayan jauh dari tempat kami berdiri tadi. Di mana, di sana juga ada kakek nya Ana.


Zrass!


Hujan turun dengan sangat deras ketika kami sudah sampai di bawah jembatan. Aku dapat melihat aliran sungai yang tadi nya tenang, tiba-tiba bergerak dengan sangat mematikan. Seperti aura yang ku rasakan. Tadi nya tenang, namun berubah mematikan.


Merisa duduk di dekat bunga liar. Aku melihat wajah nya agak sedikit bersedih. Aku berjalan mendekati nya dan duduk di sebelah nya. Menggenggam tangan nya lembut, tapi tangan nya menolak genggaman ku. Dia menghempas kan tangan ku dari tangan nya.


Dia duduk memeluk lutut dan dagu nya bersandar di atas lutut. "Bagaimana kabar mu?, " Tanya ku membuka obrolan di antara kami berdua. "Baik," Jawab nya tanpa menatap mata ku. "Bagaimana dengan Marshal?, " Tanya ku lagi dan mengikuti nya duduk memeluk lutut.


"Baik."


Dia hanya diam. Tidak ada perkataan yang tercetus sedikit saja dari mulut nya. Membuat keadaan di antara kami kembali menghening setelah tadi ada obrolan yang keluar.


"Apa yang kamu lakukan di sini?, " Tanya ku lagi.


"Mencari mu. "


Jawaban nya membuat ku tersentak kaget. Aku menatap nya dengan penuh keheranan. "Kenapa kamu mencari ku?, " Tanya ku tak percaya.


Dia memandang lurus ke arah ku, dan berkata "Marshal membutuh kan penjelasan dari kita berdua, dia sudah tahu kalau dia adalah anak adopsi. "


Merisa menatap ku dengan sangat tajam. "Bagaimana bisa dia tahu?, " Tanya ku lagi. "Dia tidak sengaja mendengar perkataan ku bersama Maimun, " Kata nya sambil memalingkan pandangan mata nya dari ku.


Aku terdiam, mencoba mencerna semua masalah ini. "Jadi, inti nya kamu mencari ku, untuk meminta ku menjelaskan masalah ini pada Marshal?, " Tanya ku pada Merisa yang sama sekali tak menatap ku.


Dia hanya mengangguk kan kepala nya dengan pelan. "Kalau begitu, aku akan ke rumah mu 2 minggu lagi, sekalian, aku ingin bertemu dengan Marshal. Aku sangat merindukan nya, " Kata ku sambil melihat langit-langit bawah jembatan dengan isi kepala yang sedang mengkhayal.


Mengkhayal betapa indah nya momen, ketika aku bertemu dengan putri kecil ku. Putri kecil ku, malaikat kecil ku, dan semangat hidup ku. Aku akan memeluk nya nanti.


"Ngomong-ngomong mana istri mu?, " Tanya Merisa.


"Istri?. "


"Iya, mana dia?," Tanya nya lagi.


"Dia, ada di sini, " Jawab ku sambil menatap nya.


"Di sini? Di mana?. " Merisa memutar kepala nya ke sekitar sungai. Memutar kepala nya ke kanan, dan ke kiri. Mencari wanita yang ia maksud. "Dia ada di hadapan ku, " Jawab ku. Dia berhenti memutar kepala nya. Dan menoleh ke arah ku.


Dia diam. Memasang wajah kebingungan. Aku tersenyum, dan berkata "Hanya kamu istri ku, " Jawab ku sambil menggenggam tangan nya. Kali ini, tangan nya tidak menolak genggaman tangan ku. Dia hanya diam ketika aku menggenggam tangan nya.


"Apa maksud mu? Aku kan mantan istri mu. Lagian nggak mungkin kan, Ana bukan anak mu, " Kata nya sambil melihat Ana dan kakek nya yang sedang bercengkrama riang.


"Ana bukan anak ku, " Jawab ku sambil tertawa kecil.


"Hah? ".


Aku mencoba sekuat tenaga untuk tidak tertawa sama sekali. " Ana bukan anak ku, dia cucu nya kakek itu, "jawab ku. Merisa agak tersentak kaget dengan perkataan ku barusan. Dia menoleh ke arah ku dan kemudian memalingkan pandangan nya dari ku.


Hujan mulai mereda. Merisa berdiri bersiap ingin meninggalkan ku. " Aku mau pulang, jangan lupa, 2 minggu lagi kamu ke rumah. Kita jelaskan semua nya ke Marshal, " Kata Merisa dan berjalan menjauhi ku.


Aku membalikkan tubuh ku, dan berkata " Jika aku jujur, apa kau masih mau menerima ku Merisa?. " Tiba-tiba aku mendengar suara derap langkah kaki berlari seseorang. Tidak mungkin itu Merisa kan?


Grepp!


Sebuah tangan melingkar di pinggang ku. Memeluk ku dari belakang, yang mana membuat ku kaget. Kaget akan sebuah tangan yang tak asing melingkar di pinggang ku. Yaitu tangan istri ku. Merisa.


"Sebentar saja, dua menit saja, " Kata nya sambil membenam kan seluruh wajah nya di punggung ku.


Aku membalikkan tubuh ku dan melepas kan tangan yang melingkar ke pinggang ku. Aku menatap wajah Merisa yang menunduk dan tangan kanan ku meraih dagu nya. Mencoba mengangkat wajah nya yang sedari tadi ia tunduk kan.


"Bukan dua menit, tapi selama nya. " Aku tersenyum menatap lurus ke wajah cantik Merisa. Aku memeluk nya dan melingkar kan kedua tangan ku ke pinggang nya. Dia membalas pelukan ku dengan lembut, dengan senyuman yang merekah di wajah nya. Aku tersenyum dan mengerat kan pelukan ku, jujur aku sudah lama menginginkan pelukan yang begitu hangat seperti ini.


"Apa kamu mau jujur pada ku?, " Tanya Merisa dan tubuh nya masih memeluk ku.


"Kalau kamu mau mendengar cerita ku yang penuh drama ini, aku akan cerita kan, " Kata ku sambil melonggar kan tangan ku di pinggang nya.


"Aku mau dengar, " Kata nya sambil menarik ku duduk kembali.


Jantung ku kini berdegup sangat kencang. Aku tidak menyangka kalau hari ini adalah hari dimana aku harus mengatakan yang sejujurnya pada Merisa. Aku menceritakan semua pengalaman dan perjalanan yang ku lalui tanpa kehadiran nya. Dan juga alasan ku yang terpaksa menceraikan nya.


Skipp.


"Bodoh! Seharusnya kau jujur pada ku, kenapa kau menanggung semua nya sendirian?. " Merisa mulai mengeluarkan kristal bening dari mata indah nya.


"Jangan nangis, " Kata ku sembari tangan kanan ku menyeka kristal-kristal bening yang berharga itu keluar dari mata istri ku.


"Kau tahu. Waktu itu aku begitu membenci mu. Aku fikir kau sudah tidak peduli dengan Marshal lagi, dan ternyata, kamu melakukan semua ini demi menyelamatkan aku dan Marshal, " Kata nya sambil menangis.


Aku tersenyum melihat nya, dan berkata " Itu adalah tugas ku sebagai seorang ayah dan sebagai seorang suami yang melindungi keluarga nya. " Aku menarik Merisa dengan lembut, menarik nya ke kepelukan ku.


"Joel?," Panggil seseorang dari belakang Merisa. Mata ku menatap lurus dari arah belakang Merisa. Memperlihat kan sesosok wanita tua, yaitu ibu nya Merisa.


"I-ibu?, " Panggil Merisa sembari melepaskan pelukan nya dari ku.


Ibu nya berjalan mendekat ke arah kami berdua yang masih duduk di tanah. Aku dan Merisa berdiri dari duduk kami. Ibu nya membuka kedua tangan nya dan Mata nya menatap ke arah ku. Dia membuka tangan nya seakan-akan dia ingin memeluk ku.


Aku berjalan mendekat ke arah ibu Merisa dan memeluk nya. "Putra ku ada di sini, " Kata nya sambil mengelus lembut rambut ku yang agak kecoklatan.


"Ibu kok tahu aku di sini?, " Tanya Merisa.


"Ibu juga kenapa basah kuyup begini?, " Tanya ku di ikuti dengan anggukan kepala Merisa.


"Tadi ibu dari rumah, tiba-tiba ibu ngerasa perasaan ibu nggak enak, jadi ibu kau nyari kamu Merisa. Terus di jalan ketemu tetangga yang ngelihat kamu di bawah jembatan dengan seorang laki-laki. Jadi ibu kesini, " Kata nya menjelaskan pada kami berdua.


"Joel, apa kabar mu?, " Tanya nya.


"Baik, " Jawab ku.


"Ibu tadi sudah dengar semua pengakuan mu pada Merisa, ibu mengerti sekarang, dan yang lebih penting sekarang adalah pengakuan kalian berdua dengan anak kalian, " Kata ibu lembut namun dengan suara yang tegas.


"Kami sudah putuskan, kami berdua akan jujur pada Marshal, tapi 2 minggu lagi, " Kata ku mewakili Merisa.


"Kenapa dua minggu lagi?, " Tanya ibu.


"Kami mau menyiapkan kata-kata dulu bu, " Kata ku dan Merisa bersama-sama.


* ibu Merisa tepok jidat.


To be continued...


Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear