
Kini aku duduk di depan Piano putih ku. Shujae meminta ku untuk memainkan piano ini. Dia bilang, dia ingin mendengar permainan piano ku. Walau tak bisa melihat, dia ingin mendengar suara mainan ku yang pasti nya belum terlalu bagus seperti pianist terkenal.
Aku sempat bertanya pada Shujae. Dia ingin aku memainkan lagu apa bersama piano ini, yeahh, walaupun sebenarnya aku hanya tahu lagu "Twinkle Twinkle Little Star". Dia hanya diam, dan kemudian dia meminta ku memainkan apa saja. Baiklah kalau begitu, aku akan memainkan lagu yang ku tahu.
Aku mencuri-curi pandang ke arah Shujae, yang diam sambil menggerak kan tubuh nya perlahan, seperti sedang menikmati arah nada yang ku mainkan.
Seperti inilah aku dulu. Ketika ayah mulai memainkan lagu yang tak ku ketahui dengan piano ini. Aku hanya bisa menikmati nya sambil memejamkan mata. Menikmati arus nada yang seakan-akan mengalir dalam tubuh ku.
Setiap kali ia bermain, nada nya selalu terdengar menenang kan. Menyenang kan. Menyedih kan. Dan terkadang menyirat kan sebuah kehampaan. Yang rasa nya sesak setiap kali ayah memainkan lagu yang menyirat kan kehampaan.
Rasa nya sedih ketika ayah memainkan lagu yang menyirat kan arti kesedihan. Dan rasa nya menyenang kan, dan memenang kan. Sampai-sampai, membuat ku seperti tertidur dalam sadar.
Permainan ayah, yang seorang pemula, namun gerakan tangan nya yang menyentuh tuts piano dengan lembut namun terdengar kuat, dan bergerak ke sana kemari, sudah seperti seorang pianist profesional.
Hati ku bertanya pada ku. Mau jadi apa aku di masa depan? Mau jadi apa aku kalau aku hanya bisa menyerah begitu saja. Tanpa mencoba, dan berusaha sedikit pun.
Aku tahu, aku hanyalah manusia biasa. Bukan super hero. Tapi apa salah nya aku berharap? Dan apa salah nya aku menyerah? Manusia memang seperti itu bukan?
Membawa kematian ke depan masalah nya. Padahal, masalah nya bisa di selesai kan baik-baik. Terkadang, ada saat nya kita mendengar kan cibiran mereka, dan ada saat nya kita tidak mendengar cibiran mereka.
Ketika seseorang mencibir usaha mu, tanpa tahu apa saja yang sudah kamu lalui untuk meraih nya. Beri saja senyuman indah, dan gema kan " Aku adalah calon orang sukses!. Dan tanamkan gema itu di dalam hati mu.
Cobalah untuk melatih hati. Terima dan fikirkan matang-matang perkataan mereka. Tapi tetap lakukan dan tetap lah mencoba. Dan ikhlaskan, ikhlaskan pada Tuhan hasil nya. Biar lah ia yang mengatur hasil nya.
"Percayalah, usaha tidak membohongi hasil. "
*~*
Shujae memberikan tepuk tangan nya pada ku yang baru saja selesai memainkan piano. Ia tersenyum lebar, memperlihat kan jelas lesung pipit nya yang membuat paras nya menjadi tambah sangat cantik. Shujae membuka buku catatan nya, dan membalik-balikkan setiap halaman. Setiap halaman yang ia buka, sudah ia tandai dengan pembatas buku yang berbeda-beda tempat letak nya.
Shujae menyodor kan buku nya pada ku, menyuruh ku untuk membaca nya lagi. " Buta hanya pada mata. Namun hati, tetap bisa merasakan keindahan dan pahit nya hidup, " Kata ku sambil membaca tulisan Shujae. Aku menoleh ke arah Shujae setelah selesai membaca tulisan nya.
"Aku ini buta Marshal. Tapi hati ku tidak, hati ku tetap bisa merasakan keindahan dan pahit nya hidup. Kali ini, aku merasakan kesedihan dan kehampaan pada lagu yang baru saja kau mainkan. Padahal, lagu itu adalah lagu yang menyenangkan, apalagi untuk anak-anak, " Ucap Shujae sambil menyentuh mata dan kemudian ke dada nya.
Aku hanya tersenyum kecil dan langsung mengembalikan buku itu kepada Shujae lagi. "Kamu peka sekali ya, " Ucap ku sambil menahan tawa yang ingin keluar dari mulut ku.
"Kau bilang pada ku, kalau hati mu menjerit dan bertanya, mau jadi apa kamu di masa depan, lalu, aku tanya pada mu. Mau jadi apa kamu di masa depan?, " Tanya nya.
Aku tersenyum lagi, kemudian berkata " Aku tidak pernah memikirkan hal itu, " Ulas ku sambil memejamkan mata dengan wajah yang tersenyum.
"Kenapa tidak tahu? Kamu menyemangati diri mu sendiri, tapi kau sendiri tidak tahu jawaban nya?, " Tanya Shujae bingung.
"Jangan sembunyikan masalah mu dengan kata-kata manis mu seperti itu, " Timpal Shujae dengan nada suara yang tegas.
"Tidak ada yang ku sembunyikan, " Jawab ku.
"Kalau begitu, aku ingin tanya pada mu. Kamu mau jadi apa di masa depan?, " Tanya ku pada Shujae.
"Cita-cita ku masih sama Marshal. Aku ingin melihat wajah kalian semua, dan bertemu dengan ayah, " Ucap Shujae sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba, terdengar suara guntur di luar. Langit makin mendung. Karena aku merasa nanti akan mati lampu. Aku sudah menyiapkan lilin, senter, makanan, di ruang tamu.
Kami berdua pergi ke ruang tamu. Duduk menikmati suara guntur dan kilat yang menyambar. Patss. Seperti dugaan ku, lampu di rumah mati. Aku langsung menghidupkan lilin dan senter bersamaan.
Jdarr.
Suara guntur yang besar itu berhasil membuat ku dan Shujae terkejut ketakutan. Aku dapat melihat gemetaran tubuh dari Shujae di balik cahaya lilin. Aku menggenggam tangan Shujae, sambil berkata " Jangan takut, ada aku di sini. "
Shujae tersenyum, dan tiba-tiba aku mendengar ketukan pintu dari luar. Aku merasa deja vu, karena takut terkejut untuk kedua kali nya, seperti waktu yang aku kaget akibat muncul nya ibu dengan kilat. Aku membuka pintu hati-hati. Dan aku lihat, ibu Shujae berdiri di sana.
Aku membuka pintu dengan lebar, dan ku lihat kantong plastik hitam di tenteng oleh ibu Shujae, tante Rena "Ayo masuk tante. Hujan nya tambah deras, " Ucap ku sambil menutup pintu.
"Duduk di ruang tamu saja tante, sudah ada Shujae di sana, " Kata ku sambil menunjukkan tante Rena ke ruang tamu.
"Ah, tante bawa makan malam. Kalian sudah makan?, " Tanya tante Rena sambil menunjukkan kantong plastik yang ia bawa.
Aku dan Shujae menggelengkan kepala dengan mata yang berbinar. Tante Rena bertanya di mana dapur rumah kami, dan aku menunjukkan nya dengan cahaya senter. Tante Rena menyiapkan makan malam, mengambil piring, dan membawa nya ke ruang tamu. Aku, Shujae, dan tante Rena makan bersama di tengah lampu yang mati.
Seusai makan malam, tante Rena membawa senter handphone nya dan meletakkan nya di dekat meja, dan ia juga langsung membereskan sisa makanan kami. Aku membantu nya mencuci piring. Dan Shujae, masih duduk manis di ruang tamu.
"Marshal. Boleh tante tanya?, " Tanya tante Rena sambil membantu ku mencuci piring.
"Boleh tante. Mau tanya apa?, " Tanya ku sambil menatap nya.
"Apa Shujae menyusah kan mu lagi? Apa dia meminta mu mengirim kan surat lagi?, " Tante tante Rena beruntun.
"Dia memang meminta ku untuk mengirim kan surat lagi. Tapi, tak apa tante. Aku senang kok membantu nya, " Ucap ku pada tante Rena sambil tersenyum.
"Kamu memang anak yang baik. Terima kasih ya, sudah mau membuat Shujae tersenyum lagi, " Ucap tante Rena.
"Selama ini, sebelum dia bertemu dengan mu. Anak-anak lain tidak ada yang mau bermain dengan nya, atau lebih tepatnya tidak ada yang mau berteman dengan nya. Maka nya, kamu di sebut nya adalah teman pertama nya. Tante juga senang, dia mendapatkan teman yang baik sekali seperti mu, " Puji tante Rena membuat ku malu tak berkepanjangan.
"Dia selalu menanyakan ayah nya. Setiap hari, dan kadang setiap jam. Dia bilang dia ingin bertemu dengan ayah nya. Dia juga bilang ingin sekali melihat wajah orang-orang di sekitar nya. Tante sampai bingung, mau bagaimana menjawab semua pertanyaan nya, " Ucap tante Rena sambil tertawa kecil.
"Walau banyak bicara, dia orang yang menyenangkan kok tante. Aku selalu senang kalau lagi bersama nya, " Kata ku sambil mencuci tangan ku sehabis cuci piring.
Ternyata. Tante Rena sama bingung nya dengan ku, kalau setiap kali Shujae selalu menanyakan ayah nya. Tapi, jujur. Walau Shujae adalah orang yang buta. Yang tidak bisa melihat. Dia benar. Hati nya tak buta. Dia masih bisa merasakan keindahan dan pahit nya hidup.
Dia juga pasti bisa merasakan kesedihan seseorang. Pantas dia menanyakan hal itu pada ku tadi. Walau aku sempat bingung, mau menjawab apa.
Terkadang, ada saat nya kita mengorbankan kebahagiaan kita, hanya untuk melihat senyuman yang selalu "Dia" Sembunyikan.
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear