
"Bangun. Bangkit. jangan biarkan mereka menenggelam kan kepercayaan diri mu. Lari. Selamat kan aku. Bayangan. Jangan dengar kan perkataan mereka. Mereka hanya menertawai mu, tapi tidak pernah tahu usaha mu. Terus kan. Jangan henti kan. Biarkan proses nya berjalan. Ikhlas kan hasil nya pada Tuhan. Dan biarkan sakit hati itu menjalar dengan ikhlas, agar Tuhan membalas mu dengan lebih yang baik. "
"Terkadang, memang ada saat nya kita mengalah dengan takdir yang tidak bisa di ubah lagi. Membiarkan nya mengambil peranan penting dari hidup. Yang perlu kau lakukan hanyalah menyaring kebaikan nya. Bukan kejahatan nya. Jangan biarkan mereka membunuh rasa keberanian mu. Pancarkan keberanian mu. Jangan sirna begitu cepat. "
*~*
"April!. "
"Hayy, senang bertemu dengan mu. "
"Main sama kakak yaa. Bunda lagi sibuk. "
"April. Main yukk. "
"Kakak. Iya panggil begitu. "
"Adik ku tersayang. "
"Dahh April. Semoga bahagia dengan keluarga baru mu. "
"Jangan lupakan kakak!. "
"Kakak. Akan mencari mu nanti. "
Patss.
Aku membuka mata ku, terbangun dari mimpi indah bin aneh. Ketika aku terbangun, tubuh ku sudah banjir dengan keringat ku. Saat ku lihat, pendingin ruangan ku menyala. Namun tubuh ku basah karena keringat.
Aku duduk, bangun dari rebahan. Mata ku masih setengah mengantuk, dan aku juga masih mengumpul kan nyawa. Aku memegang kening dan rambut ku yang juga basah akibat keringat. Aku tiba-tiba merasakan suhu tubuh ku begitu dingin. Aku merasa sangat kedinginan. Padahal suhu ruangan nya begitu normal.
Aku berhati-hati duduk ke kursi roda, karena sedari tadi kepala ku sangat pusing. Aku menggerak kan kursi roda ku keluar dari kamar. Aku mendapati ibu ku sedang memasak di dapur. Aku mendekati nya sekalian mengambil air minum.
"Loh, Marshal, " Panggil ibu ketika ia tersadar dengan kehadiran ku.
"Hai bu, " Jawab ku sambil mengambil gelas dan mengisi nya dengan air putih.
"Nyenyak tidur nya? Nyenyak lah ya kan, sampai 3 jam tidur nya, " Ucap ibu sambil tersenyum kecil.
Aku mengangguk kan kepala ku, "ehhhmm. Ya begitulah, " Jawab ku sambil meneguk air yang tadi ada di dalam mulut ku.
Ibu berjalan mendekat ke arah ku. Aku meletak kan gelas itu ke meja. "Nak. Tunggu dulu. Kenapa wajah mu pucat begini?. " Ibu bertanya seperti itu ketika ia menyentuh wajah ku.
"Ahh, aku nggak tahu bu, " Jawab ku.
Jujur, sedari tadi mata ku seperti di selimuti dengan rasa kantuk. Padahal, aku baru saja tertidur 3 jam yang lalu, malah sekarang sudah sore. Kepala ku juga masih terasa pusing, dan aku juga masih kedinginan.
"Bibir mu memerah. Tubuh mu juga hangat. Kamu pasti demam, " Ujar ibu sambil ia berlari mengambil kotak P3K. Ia mencari obat demam, dan memisah kan obat itu dari semua obat.
"Sekarang, kamu makan dulu. Baru makan obat, " Kata ibu sambil menyiapkan makanan untuk ku.
Aku makan makanan yang sudah ibu masak dan siap kan. Aku makan sambil memikir kan mimpi yang baru saja aku dapat kan tadi. "Ada apa Marshal? Kenapa melamun?, " Tanya ibu sambil duduk di hadapan ku.
"Uhmm. Ibu tidak terlalu mengerti. Tapi bagaimana jika kamu catat saja mimpi itu, " Ujar ibu menyaran kan.
"Hmm. Di catat?, " Tanya ku heran.
"Iya. Setiap kali kamu mendapat kan mimpi yang aneh begitu, lebih baik kamu catat saja. Nanti bisa lah kita pecah kan maksud dari mimpi itu, " Jawab ibu.
"Uhm. Oke deh, akan ku catat mimpi itu, " Ujar ku.
"Nah, kalau sudah habis makan, kamu minum obat ini. Ibu letakkan di sini ya. Jangan lupa di makan ngerti, " Kata ibu sambil menyodor kan obat pada ku.
Aku mengangguk kan kepala ku, dan ibu pergi meninggalkan aku sendirian di dapur karena telpon nya terus menerus berdering. Seusai makan, aku mengambil obat yang ibu berikan tadi dan meminum nya. Aku pergi mandi, dan selesai mandi, aku kembali ke dalam kamar. Aku membuka buku kosong, dan menulis kan mimpi ku barusan.
" Hari ini, hari pertama aku mendapatkan mimpi indah bin aneh. Aku melihat seorang anak laki-laki yang tak ku kenal siapa dia. Aku bermain-main dengan nya seperti anak-anak lain pada umum nya. Dia memanggil ku dengan sangat akrab. Dia terlihat baik, dan menyenangkan. Dia bahkan mendoakan ku yang waktu itu sudah punya keluarga baru. Kemudian semua menjadi buram. Aku tak melihat wajah anak itu lagi, aku terbangun dari mimpi itu. Dan sekarang, aku menulis kan isi mimpi itu di sini selagi aku mengingat semua cerita di mimpi itu. Dengan harapan, anak laki-laki yang ku jumpai di mimpi itu. Adalah orang yang aku cari selama ini. "
Aku menutup buku yang tak lagi kosong itu, buku yang sudah ku hiasi dengan tinta pena dan tulisan tangan ku. Aku melihat ke arah jendela kamar ku yang langsung mengarahkan ke arah jendela kamar Shujae.
Aku tidak melihat nya, jendela nya sedari tadi tertutupi oleh gorden. Aku membuka jendela kamar ku, membiar kan udara segar masuk dan mematikan pendingin ruangan. Aku mengambil secarik kertas, dan aku menulis kan sesuatu.
"Hei. Kamu yang selalu mengawasi ku dari jendela ini. Dan kamu yang selalu memberi kan ku hadiah, siapa kamu?! Kamu siapa? Siapa tahu kita bisa berteman. Jawab kertas ini jika kamu seorang manusia bukan hantu. "
Aku menempel kan kertas itu di jendela kamar ku, sama seperti yang pernah ia lakukan pada ku. "Ku mohon, biarkan aku mendapatkan jawaban dari surat ini. Aku ingin tahu siapa kamu. Aku ingin tahu kenapa kamu melakukan ini pada ku. Kalau bisa, aku ingin berteman dengan mu. "
Sementara di luar kamar Marshal.
"Serius mau temenan sama aku? Maaf ya. Seperti nya nggak bisa. "
*~*
Semalaman, ibu berjaga di kamar ku. Ia terus menerus mengganti air kompresan ku. Ibu duduk di samping ranjang ku, dan memperhatikan aku yang sedang ingin mencoba untuk tertidur. Aku tak bisa tidur jika ia terus menerus memperhatikan ku. Aku risih.
"Uhm. Ibu. Ibu tidak mau istirahat?, " Tanya ku.
"Tidak apa. Ibu akan berjaga di sini, " Ujar ibu sambil menggeleng kan kepala nya.
"Ibu kalau mengantuk, tidur di sebelah ku saja, " Ajak ku sambil menggeser posisi tidur ku.
"Iya. Nanti ya. Nunggu ibu ngantuk, " Ucap ibu sambil mengambil sapu tangan yang berada di kepala ku. Ia mencelup kan sapu tangan itu ke air hangat dan kemudian memeras nya. Ia meletakkan sapu tangan itu kembali ke kepala ku. Ia duduk di kursi yang semula ada di dekat meja belajar ku, namun ia menarik kursi itu ke tepi ranjang ku.
"Ibu. Aku tak bisa tidur, " Ujar ku merengek.
"Aku takut. Apa ibu bisa nyanyikan lagu yang pernah ibu nyanyikan bersama ayah waktu ingin membuat ku tak lagi takut?, " Pinta ku pada ibu sambil memasang muka memelas. Ibu mengangguk kan kepalanya. Ia duduk di samping ku, dan tangan nya mengelus lembut kepala ku.
" Feel the sweet night. Grab my hands, and don't stop ran. Tell to us what your wish. Still shining my sweetest darling. Because you are the shinning shooting star. You are my shooting star. You can crush the finish line. Your are a campion, you'll always be a winner. Oh ouww, oh ouww, ohhh uoooo. You can be anything you want. If you believe in who you are. You're shinning so bright. When you looking into your heart. You don't need to hide. Just show yourself, and let the shine inside you. Because you are the shooting star. "
"I can be anything I dream. I'll Be shinning so bright. Because I'm a shooting star. "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear