
" Feel the sweet night. Grab my hands, and don't stop ran. Tell to us what your wish. Still shining my sweetest darling. Because you are the shinning shooting star. You are my shooting star. You can crush the finish line. Your are a campion, you'll always be a winner. Oh ouww, oh ouww, ohhh uoooo. You can be anything you want. If you believe in who you are. You're shinning so bright. When you looking into your heart. You don't need to hide. Just show yourself, and let the shine inside you. Because you are the shooting star. "
"I can be anything I dream. I'll Be shinning so bright. Because I'm a shooting star. "
Lagu itu, adalah lagu yang sering kali ayah dan ibu ku nyanyikan. Setiap kali aku ketakutan, atau merasa tak percaya diri, mereka akan menyanyikan lagu itu agar aku tak lagi di landa rasa takut.
Aku tahu sekarang, apa yang sedang aku rindu kan. Kebersamaan kami bertiga. Mengingat kan aku, tentang bagaimana wajah ibu dan ayah ketika menyanyikan lagu ini, dengan mata mereka yang terpejam. Menghayati setiap lirik dan nada dari lagu itu.
Membuat ku tak lagi di landa rasa takut. Membuat ku menjadi sangat percaya diri. Lagu ini benar-benar berhasil membuat hati ku bergerak. Lagu yang selalu ku simpan di dalam hati, dan akan selalu tersimpan di taman ingatan.
Aku merindukan masa-masa itu.
*~*
Pagi hari, ketika mata ku terbuka. Aku terbangun dari tidur ku. Dengan sapu tangan yang masih tertempel di kepala ku, dan ku dapati ibu tak lagi ada di dalam kamar ku.
Aku bisa mendengar suara bising dari arah luar kamar ku. Aku beranjak ke kursi roda dan pergi ke luar kamar. Ku dapati ibu tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi.
Aku mendekati nya perlahan tanpa membuat suara sedikit pun. Aku bisa melihat keringat yang bercucuran di pelipis nya. Ia dengan sigap menyiapkan sarapan di pagi hari, padahal dia sendiri belum terlelap dari tadi malam karena menjaga ku agar tertidur dengan nyenyak.
"Ibu, " Panggil ku lembut sambil mendekat kan kursi roda ku ke arah ibu.
"Ah. Sudah bangun ya. Kamu mandi dulu gih, air panas sudah ibu siapkan di dalam kamar mandi. Kamu tinggal mandi saja, " Perintah ibu ketika ia sadar akan kehadiran ku.
Aku mengangguk dan langsung pergi ke dalam kamar mandi. Seusai mandi, aku bersiap untuk belajar dan sarapan. "Eh, tidak perlu. Ibu sudah minta izin dengan bu Maimun untuk tidak belajar hari ini. Kamu kan sedang sakit, mending istirahat saja, nanti ada Shujae datang, " Ujar ibu sambil mengembalikan buku yang sudah ku siapkan ke dalam kamar.
Aku makan sarapan yang sudah ibu ku siap kan tadi. Aku makan perlahan-lahan, menikmati makanan itu agar aku tak tersedak. Tak lama, seusai sarapan ku habis. Akhir nya Shujae datang. Ia datang bersama ibu nya, dan membawa buah tangan.
"Bawa apa tante?, " Tanya ku ketika ibu nya Shujae dan Shujae mendekat ke arah ku.
"Ahhh, ini. Ini buah untuk mu, " Kata ibu nya Shujae sambil meletakkan sekeranjang buah di hadapan ku.
"Untuk ku?, " Tanya ku lagi.
"Iya. Kata ibu mu kamu sakit. Jangan lupa di makan ya, semoga cepat sembuh kamu, " Ucap tante Rena sambil mengelus lembut kepala ku.
Aku mengangguk kan kepala ku. Dan Shujae duduk di samping ku. Tante rena bertanya di mana keberadaan ibu, jadi aku bilang ibu ada di kamarnya. Ia pergi mendatangi ibu yang entah sedang apa di dalam kamar nya.
Shujae melihat ku dengan tatapan mata yang kosong namun ia melayangkan senyuman manis di wajah nya. Aku malah ikut-ikutan tersenyum ketika melihat nya terus-menerus tersenyum tanpa alasan.
"Kamu kenapa tersenyum terus sih? Serem tahu, " Kesal ku namun dengan nada suara yang terdengar sedang menahan tawa.
"Aihh. Kamu ini. Ada-ada saja, " Jawab ku sambil tertawa kecil.
Aku dan Shujae mengobrol sedikit, dan ibu ku bersama dengan ibu nya Shujae di dalam kamar nya. Aku mengajak Shujae ke dalam kamar ku juga, karena aku juga tiba-tiba teringat tentang surat yang ku tulis untuk Shujae.
"Shujae. Kau ingat surat yang kau tulis untuk ayah mu?, " Tanya ku sambil mengambil surat yang ada di atas meja belajar ku.
"Iya. Aku mengingat nya. Apa sudah ada balasan dari nya?, " Tanya Shujae antusias sambil duduk di tepi ranjang ku.
"Iya. Sudah di balas nya, kemarin baru sampai surat nya, " Jawab ku sambil memberikan surat itu kepada Shujae.
"Terima kasih Marshal. Uhmm, tapi bagaimana aku bisa tahu balasan dari nya?, " Tanya Shujae dengan wajah yang kebingungan.
"Kenapa?," Tanya ku ikut-ikutan kebingungan.
"Aku kan buta, " Ucap Shujae tersenyum kecil dan membuat ku tersadar kalau ia tidak bisa membaca isi surat nya.
"Eh oh iya ya. Aku lupa. Ma-maaf. Sini, akan ku bacakan untuk mu, " Ucap ku sambil mengambil surat itu dari tangan Shujae dan Shujae diam dan ia duduk manis bersiap mendengar kan isi surat yang akan ku bacakan.
"Aku merasa seperti ingin mendongeng, " Ucap ku dalam hati sambil tersenyum.
"Shujae... Buta, tuli, semua itu adalah keadaan yang di ciptakan oleh Tuhan. Tuhan memberi mu keadaan seperti itu, karena ia tahu, betapa kuat nya diri mu. Dulu, ayah selalu merasa sendirian. Padahal, ada banyak sekali manusia di sekitar ayah. Tapi, ayah tidak pernah tahu. Siapa orang baik, dan siapa orang jahat. Semua, selalu memasang wajah yang baik. Dan ayah merasa, keadaan mu itu. Tidak mengharuskan mu melihat dunia yang kejam ini. Putri ku... Hidup mengajar kan kita untuk menilai dan memilih. Kita tak bisa hidup hanya mengikuti arus. Kita tak bisa hidup dalam keegoisan. Jika begitu.... Kita bisa tenggelam dan tak bisa ke daratan. Maka tidak akan ada yang menolong mu. "
"Selalu merasa sendiri walau ada banyak manusia di sekitar nya. Tak bisa hidup hanya dengan mengikuti arus kehidupan. Tak bisa hidup dalam keegoisan jika tidak kita akan tenggelam dan tidak akan ada yang menolong, " Gumam Shujae memperpendek akhir dari surat itu.
"Ada apa?, " Tanya ku bingung.
"Mendengar nya sekali saja, aku sudah tahu apa yang di maksud oleh ayah ku, " Kata Shujae tersenyum sambil memejamkan mata nya.
"Oh ya? Kalau begitu apa yang beliau maksud?, " Ujar ku memastikan sambil tersenyum miring.
"Jangan hidup dalam keegoisan, jika suatu saat kita membutuh kan pertolongan orang lain, maka tidak akan ada yang menolong karena keegoisan yang kita miliki, " Jelas Shujae menjelaskan.
"Yang arti nya, kita tidak boleh hidup mengikuti arus kehidupan yang terkadang membawa kita kesesatan. "
To be continued...
Jangan lupa vote, komen, dan kasih rating bintang 5. Dan juga, support author dengan cara follow instagram nya author @nonaabear