
[Budayakan like sebelum/sesudah membaca. Vote dan gift untuk mendukung author terus semangat. Dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar kalian agar novel ini gk sepi sepi amat]
***
Malam pukul 08.30 AM.
"Yah... Inilah Surga! Sudah berapa lama sejak terakhir kali aku mandi dengan air panas?"
Yuuto berbicara pada dirinya sendiri dengan nyaman sambil menikmati fasilitas yang diberikan oleh keluarga Sumika, kamar mewah dari tirai bambu yang dilengkapi dengan Onsen!
Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Tidak mungkin orang Jepang akan menolak hal seperti ini. Bahkan pria malas seperti Yuuto sekalipun tidak tahan saat mendengar pemandian air panas.
Meskipun memiliki ukuran yang tidak begitu besar, pemandian ini terletak di luar ruangan, yang tidak memiliki atap, sepenuhnya benar-benar kosong. Hanya bintang-bintang dan pemandangan langit yang bisa ia lihat. Itu memberi nuansa yang memanjakan mata dan pikiran.
Dengan kesempurnaan kecil ini, itu sudah cukup untuk membuat hati Yuuto merasa sangat nyaman.
Tidak peduli apa, ini lebih baik daripada membuatnya sendiri, yang mana sangat merepotkan. Dengan sifat Yuuto, ia terlalu malas untuk melakukannya.
Toh, seseorang memberinya 'kupon' gratis. Bagaimana mungkin dia bisa menolak?
Di tengah-tengah aktifitasnya, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di kepalanya.
'Aku ingin tahu kabar orang-orang yang ada di benteng. Kuharap mereka tidak mengalami masalah ketika aku pergi.' Yuuto memandang ke langit dan bergumam dengan ekspresi serius.
Ada perasaan tidak nyaman semenjak dia meninggalkan dunia itu.
Instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Tetapi ia tidak dapat mengkonfirmasi hal tersebut. Oleh sebab itu, Yuuto hanya bisa berdoa akan keselamatan mereka.
Dengan pertahanan benteng dan formasi yang ia letakkan, seharusnya tidak ada orang di Spirit Great World yang dapat menembusnya. Yuuto berharap semuanya akan berjalan lancar.
Tentu saja, ini hanyalah kata-kata yang digunakan untuk menghibur dirinya sendiri. Ia merasa gugup dalam hati dan masih tidak dapat menghilangkan kekawatiran ini.
Baiklah bung! Ini benar-benar sangat menjengkelkan! Aku tahu firasat dan instingku tidak pernah salah, jika sesuatu terjadi, paling-paling, aku hanya harus membantu mereka, itu saja.
Pada akhirnya, dia melepas kekawatiran ini untuk sementara waktu. Lagipula, dia sudah sejauh ini dan tidak bisa mundur lagi.
2 hari dengan cepat terlewati sejak ia meninggalkan benteng, dan Yuuto hampir mencapai tahap akhir dari rencananya.
.....
"Kau sudah dengar? Kompetisi antar keluarga akan diadakan besok."
Seseorang tiba-tiba berbicara di depan Yuuto berada. Sepertinya sumber suara itu berasal dari ruangan lain. Nada itu dapat terdengar dari pagar kayu besar yang berdiri kokoh memisahkan kedua kolam.
Mendengar percakapan mereka, telinga Yuuto berdenyut. Dia sangat tertarik dengan kompetisi ini dan memutuskan untuk mendengarkan lebih jauh.
"Aku benar-benar menantikannya! Apakah kamu tahu kalau Tuan Muda Lucas dari keluarga Hitachi berhasil menjadi juara bertahan selama lebih dari 3 tahun?"
"Tentu saja! Dia adalah bintang yang bersinar yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Sekaligus jenius yang jarang muncul dalam beberapa tahun. Mulai dari lari sprint 100 meter, panahan, berkuda, pertarungan kecerdasan sampa duel fisik dan berpedang, Tuan Muda Lucas berhasil mencetak skor terbaik! Sayang sekali Nona Muda terus terusan gagal mengalahkannya."
"Benar, dalam hal performa, Nona Rui tidak lebih baik dari Lucas. Hanya saja, setiap kali mereka berduel dengan pedang, Nona akan selalu kalah. Mungkinkah dia tidak berbakat dalam pertandingan kendo?"
"Itu kemungkinan. Tidakkah kamu mengingatnya? Sebelum Tuan Muda Lucas muncul, rekor yang Nona Muda ciptakan juga selalu mengisi kursi pertama!"
"Itu sangat disayangkan... Tidak peduli apa, Sumika Family dan Hitachi Family sudah menjadi musuh sejak dulu. Ku yakin Kepala Keluarga kita dan Nona Muda Rui tidak akan menerima kekalahan ini begitu saja. Jelas mereka sangat tidak puas. Lebih banyak kebencian akan di tumpuk dalam kedua belah pihak. Perang mungkin saja terjadi."
"Holy f*ck! Kenapa kamu mengatakan sesuatu yang mengerikan seperti itu? Jika perang meletus, dimana aku akan menafkahi anak dan istriku?"
"Jangan kawatir. Bahkan jika itu terjadi, presiden negara ini dan negara Amerika Serikat tidak akan tinggal diam. Karena itu melanggar kode etik PBB inggris. Sehingga, kemungkinan itu terjadi sangat kecil. Kecuali jika makhluk seperti Dewa Surgawi menimbulkan kekacauan, aku akan mengatakan bahwa, tidak hanya perang antar keluarga, bahkan bukan tidak mungkin Perang Dunia meletus!"
"Dewa Surgawi? Apakah dia orang yang muncul di berita akhir-akhir ini? Apakah dia cukup kuat untuk memicu peristiwa sebesar itu?"
"Konyol! Tidakkah kamu lupa siapa yang menguasai Bumi? Dialah Eternal Sovereign! Di samping itu, masih ada 9 Pilar, salah satunya Immortal Ancestor di negara kita! Menurut sejarah ribuan tahun yang lalu, seluruh bumi di tutupi dengan api dan nyala perang. Ini adalah era dimana Dewa dan manusia hidup berdampingan. Konon katanya, makhluk-makhluk seperti ini mampu mengendalikan awan dan hujan, menguras lautan dan menghancurkan pegunungan. Bukan tidak mungkin Dewa Surgawi menjadi salah satunya!"
"Tapi... Bukankah itu hanya legenda? Pengetahuan manusia saat ini tidak dapat menemukan bukti keberadaan mereka. Hanya sisa-sisa peninggalan sejarah lah yang bisa kita analisa. Dan kuil Immortal Ancestor juga merupakan salah satu peninggalan yang tersisa. Bukankah Dewa Surgawi ini hanya melakukan pertunjukan terbang? Informasi tentangnya terlalu di buat-buat. Sekarang, aku benar-benar ingin memukulnya! Ia memiliki nyali yang besar karena berani mengaku sebagai Dewa Surgawi. Jika dia muncul disini, aku akan pastikan dia berlutut di bawah kakiku!"
"HA HA! Kau terlalu bersemangat... Memang benar tidak ada bukti konkret yang menunjukkan orang ini seorang Dewa. Itu sepenuhnya hanya julukan yang di buat-buat oleh netizen. Aku sama denganmu kawan! Dewa Surgawi? Omong kosong! Aku akan meledakkan kepalanya!"
"HA HA HA HA HA...!"
.....
Sambil memasang ekspresi pahit, ia berguman dengan tak berdaya, 'Orang-orang bodoh ini... Tidak bisakah aku melenyapkan mereka?'