God System

God System
Kekacauan di Restoran Gochuzin-san



#Pengen update sehari 2? Mari kita mulai dari yang termudah, setiap kali up tembus 30 like atau lebih, author akan update sekonsisten mungkin. Berlaku sampai karya ini tamat!


***


Ini adalah hari yang cerah, ya! Hari yang cerah untuk memakan kuliner terbaik di restoran Gochuzin-san.


Ini adalah restoran kecil yang baru dibuat. Namun karena kemampuan gift dari Yuuto «God of Cooking» yang di berikan kepadanya, kijin tua yang telah berevolusi menjadi oni itu berhasil menarik minat banyak sekali pelanggan.


Sejak restorannya didirikan, orang-orang telah mengantri untuk waktu yang lama. Tentu saja, pelanggan-pelanggan ini kebanyakan hanyalah anak-anak yang belum mendapatkan bagian pekerjaan tertentu. Tapi ada juga beberapa orang dewasa yang datang karena ingin makan saja setelah lelah bekerja.


Makanan yang paling terkenal di restoran ini adalah roti kukus, pizza, roti isi daging dan juga roti isian kacang merah.


Bagi penduduk bumi, makanan ini memang tidak asing. Dan jika Yuuto mengetahuinya, mungkin dia akan terkejut sehingga dia akan menjatuhkan rahangnya sampai ke tanah.


Seperti yang diharapkan dari skill Dewa Memasak, cara dia mendapat ide-ide baru memang mengerikan.


Meskipun tidak sempurna seperti aslinya, rasanya jauh lebih enak daripada masakan di bumi manapun. Terutama pizza, topingnya menggunakan sayur-sayuran kering yang membuatnya memiliki cita rasa renyah dan gurih.


Selain itu, ada juga varian lain seperti daging dan biji-bijian. Meskipun agak kurang, orang-orang di benteng menyukainya.


Dan saat ini, tiga raja iblis paling terkenal di benteng dengan sabar mengantri sambil berunding untuk memutuskan menu apa yang akan mereka makan.


"Maaf, tapi aku tak bisa menyerah begitu saja... Sudah pasti, itulah satu-satunya pilihan!" Astaroth berkata saat dia memberikan tatapan sinis.


"Hah?! Apa kau sudah gila?! Jelas jelas hanya itu satu-satunya pilihan yang memungkinkan!" Ashur menolak dengan tegas.


"Gah! Kalian berdua tidak tahu apa-apa! Keindahan di balik "Diri" nya! Aku menyarankan untuk hal itu bagaimanapun juga!" Aegis menuntut dengan ekspresi marah.


"Roti kukus terbaik itu... Pizza!" Teriak Aegis.


Tidak, roti kukus dan pizza jelas makanan yang berbeda kau tahu?


"Kacang merah!" Balas Astaroth.


"Daging! Roti isi daging! Benar kan Sakiko-chan?" Ashur mengangkat kerah Astaroth dan mulai membentak.


Ia menoleh ke arah gadis cantik yang memakai pakaian seperti eksekutif perusahaan. Tubuh langsing dan montok dengan proporsi sempurna. Serta rambut hitam yang dikuncir ke belakang, ditambah kacamata mungil yang dia kenakan semakin menambah pesona surgawi yang di pancarkannya. Hal ini akan membuat pria manapun jatuh cinta kepadanya hanya dengan sekali pandang.


Tentu saja, dia merupakan salah satu guru tercantik di akademi.


Selain itu, dia begitu dewasa ketika dia mengangkat kacamatanya dengan jari telunjuknya, menatap tajam kepada trio itu dengan ekspresi acuh tak acuh.


"Hentikan wajah "aku tidak peduli" mu itu!" Trio itu berteriak kesal pada saat yang sama.


Bagaimanapun, gadis itu sudah ada disini sejak trio itu mulai mengantri. Ashur adalah yang pertama kali merasakan keberadaannya.


Dengan demikian, sepertinya tujuan Sakiko sudah jelas


"Aku pikir kalian sedang bersemangat tentang sesuatu tapi..." Sakiko ingin mengatakan beberapa hal tapi ketiganya mengganggunya dengan seruan berisik mereka.


"Itu sudah jelas kan?! Raja dari segala roti kukus itu yang rasa daging!"


"Kacang merah!!"


"Pizza!!!"


.....


"Huft... Huft... Huft..."


Menjadi terlalu bersemangat membuat mereka lelah dan terengah-engah. Trio itu berhenti sejenak kemudian Astaroth akhirnya berkata, "Sakiko-chan. Bagaimana menurutmu?"


"Ya! Kita bisa memutuskannya setelah mendengar jawaban dari Sakiko-sensei!"


"Pizza kan, Sakiko-chan?"


"Eeeh..." Sakiko tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk mengeluarkan pendapatnya.


"Kadang-kadang, isian roti kukus bisa jadi panas. Sehingga bisa menambah nafsu makan kalian. Jadi, aku lebih suka bagian rotinya saja." Sakiko menjawab dengan sungguh-sungguh.


"Eeh?! Hanya rotinya?!" Trio itu tercengang.


Mereka tidak mengharapkan jawaban ini.


Sakiko pun akhirnya melanjutkan, "Sebaliknya, roti bagian bawah yang menempel di kertasnya itu jauh lebih enak. Aku sangat senang hanya dengan itu."


"ITU YANG KAU SUKA?!" Mereka bahkan lebih terkejut daripada sebelumnya.


Mereka berpikir. Sakiko-sensei, bukankah seleramu terhadap kuliner terlalu buruk?!


Pada akhirnya, mereka tidak dapat mencapai kesepakatan. Membuat Sakiko-sensei setuju itu sangat sulit.


Jadi, untuk mempengaruhi Sakiko yang tidak memilih, ketiganya memulai pertarungan yang sangat sengit.


"Dibandingkan dengan daging dan juga pizza, isian kacang merah lebih sederhana. Di dalamnya hanya ada pasta kacang merah. Oleh karena itu, kau bisa menikmatinya dengan tenang."


"Roti daging tidak berair. Dan pizza memiliki cita rasa renyah yang luar biasa. Perbedaannya, isian kacang merah yang lembut tidak akan membuat baju atau tanganmu kotor." Tutur Astaroth dengan ekspresi serius.


"Oh, ini terdengar bagus." Sakiko mengangguk setuju.


"Cih, semua yang dia katakan memang benar." Ashur dan Aegis mengutuk pada saat yang sama.


Entah apa yang terjadi, ada diagram lingkaran imajiner yang menunjukkan pilihan antara mereka bertiga. Dan arsiran roti isi kacang menjadi jauh lebih besar setelah dia mengatakan itu.


Aegis berdecak kesal saat dia berkata, "Aku benci mengakui ini. Tapi dia cukup persuasif. Aku merasa kalau tiba-tiba saja isian kacang merah yang akan menang."


Sayangnya, semua itu sirna ketika Astaroth mengucapkan, "Saat aku mengatakan hal ini, akan menjadi kemenangan mutlak buatku!!!"


"Dan, poin terpentingnya adalah, roti isian kacang..."


"TIDAK MANIS!!!"


Bam!


Tulisan besar imajiner "TIDAK MANIS" seolah-olah muncul di depan mereka.


Ketiganya langsung terdiam. Di saat terakhir, di membuang semua poinnya dan gagal dalam presentasinya.


"Cukup! Begini saja... Bagaimana kalau kita bertarung untuk menentukan siapa yang akan memakan salah satu dari mereka?" Ashur menyahut dengan keluhan.


Dia paling benci jika harus berdebat karena itu bukan keahliannya. Kalau bisa diselesaikan dengan tinju, kenapa tidak?


"Oh?"


Tiba-tiba, suasana berubah. Perdebatan sehat yang semula tidak berbahaya, kini berubah suram dengan aura supresif mereka yang mengintimidasi area sekitar.


Orang-orang mundur dengan cepat. Takut kalau efeknya mengenai mereka.


Saat berikutnya, seolah-olah ada petir melintas di mata mereka, mata trio itu bertemu dengan ekspresi dingin.


Astaroth pun berkata dengan nada mengejek, "Aku tidak mengira kalau seorang maniak otot sepertimu akan memiliki solusi yang begitu cerdas."


"Jadi, apakah kalian ingin melakukannya di luar? Kita tidak bisa merusak lingkungan di sekitar benteng atau Yang Mulia akan marah." Aegis menyarankan.


"Hahaha, sudah diputuskan! Ayo bertarung!" Mata Ashur berbinar.


Dia tertawa terbahak-bahak saat dia melompat ke udara, melesat ke luar benteng dengan penuh semangat.


"Tunggu kami!" Keduanya menyusul dengan kecepatan yang sama.


Kepergian mereka membuat Sakiko tertegun. Dia buru-buru berteriak ketika dia mencoba menghentikan mereka, "Tu-tunggu! Kalian pikir kalian mau kemana?! Jika Yang Mulia marah, aku tidak akan bertanggung jawab akan—!"


Trio itu sudah pergi bahkan sebelum dia bisa menyelesaikan kata-katanya. Sakiko menginjak kakinya dengan marah saat dia mendengus untuk berbalik. Kembali ke akademi.