God System

God System
One vs Many ll



#Pengen update sehari 2? Mari kita mulai dari yang termudah, setiap kali up tembus 30 like atau lebih, author akan update sekonsisten mungkin. Berlaku sampai karya ini tamat!


***


"Sword of the Executioner. Pedang yang dapat membalikkan semua efek ruang dan waktu. Atau dikenal sebagai, pedang pembunuh dewa dan perantara pengaktifan skill «God Slayer». Aku tidak berharap kalau kamu akan menggunakannya. Melawanmu dengan waktu itu mustahil. Kalau begitu, aku juga akan mulai serius."


Sring!


Giliran Astaroth yang mulai beraksi. Dia pun mengeluarkan sebuah sabit hitam besar yang berasal dari dimensi penyimpanannya.


*Gemuruh...


Duo itu terpana setelah melihat sabit itu. Entah karena naluri alami atau karena firasat mereka, kematian terasa begitu dekat di bawah leher mereka jika mereka mengambil langkah maju.


Sabit itu bahkan tidak terlihat istimewa atau memiliki efek yang sensasional, hanya pisau jagal biasa seperti sabit pada umumnya. Namun, naluri bertahan hidup mereka mengatakan kalau sabit itu lebih berbahaya daripada apapun.


Duo itu pun memutuskan untuk menyerangnya bersama-sama.


"Humph! Ayo maju!"


Mereka mendengus dingin sambil melesat maju dengan kecepatan penuh, gerakan mereka menyebabkan udara bergetar dengan suara ledakan supersonic dan lintasan mereka yang menghasilkan cincin putih dapat terlihat untuk beberapa saat.


Sraing!


Ashur mengayunkan pedangnya ke depan dengan kekuatan penuh, bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya berkedip-kedip saat tebasannya menembus ruang dan waktu, langsung menuju musuh.


Swuush!


Sayangnya, Astaroth dengan mudah menghindarinya dengan bersembunyi di dimensi lain. Skill Void Room Manipulation memungkinkannya untuk berpindah-pindah dimensi kecil sesuka hati meskipun agak kurang dibandingkan dengan Space-time Manipulation, itu bisa menyelamatkannya dari bahaya sementara.


"Humph! Kamu pikir kemana kamu bisa bersembunyi? Hancurkan!"


Boom!


Sword of the Executioner dengan cepat menemukan domain Astaroth. Keberadaannya dengan mudah di deteksi olehnya.


Ketika Aegis mengayunkan pedangnya ke bawah, seluruh kekosongan bergetar. Rasanya seolah-olah dunia ini akan berakhir begitu ruang waktu terhenti, memundurkan waktu secara terbalik dan menyebabkan dunia ini tidak memiliki warna, hitam putih seperti film lama yang di putar ulang.


Swuush!


Ajaibnya, Astaroth berhasil melarikan diri dari kemampuan ini dengan Attacking Nihility yang telah digabungkan dengan Spatial Transfer. Ia berhasil meniadakan serangan itu ke dimensi yang jauh, mengisolasinya dan menghentikan serangan Aegis sepenuhnya.


"Itu sangat berbahaya kau tahu?" Astaroth tiba-tiba muncul di kekosongan seraya memasang ekspresi cemberut.


Aegis dan Ashur begitu terkejut karena Astaroth sudah ada di belakang mereka.


"Hati-hati!"


"Terlambat!"


Prang!


Satu ayunan untuk menyelesaikan semuanya, armor Ashur hancur berantakan saat ujung sabit Astaroth menyentuh permukaannya.


Sayangnya, Ashur harus mengalami nasib yang berbeda.


"Sial!"


DUAR!


Tinju Astaroth yang memiliki bobot tak terbayangkan menghantam perutnya. Ashur dikirim jatuh seperti meteor sambil menyemburkan seteguk darah.


JEBUMM!


Puluhan meter luas tanah berubah menjadi kawah besar. Di tengahnya, seseorang terbaring dengan lemah sambil menatap kosong meratapi apa yang baru saja terjadi.


Di langit, Astaroth memandang Ashur sambil tersenyum dan berkata, "Sabitku memiliki kemampuan Negasi Daya Tahan. Dalam beberapa kasus, ini sangat berguna. Tidak peduli jenis armor apapun yang kamu miliki, aku bisa membatalkan efek pembatas dan dapat menyerangmu secara langsung. Hanya saja, meskipun ini hanyalah skill tingkat rendah dan mempunya banyak kelemahan, itu sudah cukup untuk mengalahkanmu."


Darah memercik keluar dari mulutnya, ketika Ashur tertawa pahit, ia berkata dengan lemah, "Hahaha... Uhuk! Kalau begitu, aku menyerah saja..."


Aegis tercengang setelah mendengar ini. Dia terdiam dan seluruh wajahnya menjadi pucat.


Kehilangan Ashur sebagai tim mempersempit kemenangannya, atau bahkan... Dia tidak lagi memiliki kesempatan untuk menang. Rasa kawatir di hatinya bergejolak dan ini sangat menggangu konsentrasinya.


"Bagaimana? Apakah kamu ingin menyerah juga?" Astaroth bertanya dengan suara ramah.


"Aku..."


Keringat Aegis bercucuran. Dia sedang berpikir keras untuk mempertimbangkan keputusannya.


Ini bukan pertarungan hidup dan mati, hanya untuk menentukan makanan apa yang akan mereka pilih. Jika dia mati disini hanya karena keegoisannya, betapa ironisnya itu?


Lagipula, Astaroth terlalu kuat. Mustahil mengalahkannya sendirian. Menantangnya tanpa persiapan hanya akan membawa dirinya sendiri ke jurang kematian.


Setelah beberapa menit berpikir, Aegis pun memutuskan untuk menjadi kooperatif dan menyerah dengan sukarela.


"Hahahaha! Bagus bagus! Menu hari ini adalah kacang merah!" Astaroth tertawa puas dengan ekspresi bangga.


Ashur dan Aegis hanya menghela nafas sambil memasang ekspresi muram. Tapi, apa yang bisa mereka lakukan? Itu adalah kesepakatannya. Mau tidak mau mereka tidak memiliki alasan untuk menolak meskipun mereka enggan untuk melakukannya.


"Kacang merah, aku datang!"


Bam!


Astaroth dengan gembira melesat seperti peluru. Meninggalkan keduanya di belakang dan langsung menuju restoran.


Aegis membantu Ashur berdiri setelah luka-lukanya sembuh, selanjutnya, mereka pun menyusul.


.....


"Ya tuhan, siapa aku, dimana aku? Apa yang sedang terjadi?"


Di kejauhan, semua ahli dari kelompok Party Tak Terkalahkan yang baru saja menyaksikan pertarungan mereka benar-benar terpana kali ini.


Selain keterkejutan mereka, Carl juga merasa kalau hatinya baru saja tertusuk-tusuk oleh ribuan jarum, sehingga membuat rasa percaya dirinya lenyap bersama angin. Dia bahkan tidak berani membuat suara keras selagi pertarungan ketiganya tengah berlangsung.