
[Budayakan Like sebelum membaca]
***
Spirit Great World.
Tanah ditumpahkan dengan darah sementara api berkobar di mana-mana. Daratan yang semula hijau kini diwarnai dengan noda darah.
Tempat itu sangat berantakan, seolah-olah perang besar baru saja terjadi. Satu-satunya hal yang tergeletak di seluruh area adalah mayat disekitarnya.
Masing-masing dan setiap wajah tampak akrab tapi sekarang mayat tak bernyawa tersebar di semua tempat.
"LINDUNGI BENTENG!!! JANGAN BIARKAN MEREKA MASUK...!"
Boom!
Boom!
Boom!
Menerima kekuatan luar biasa ini, dinding yang melindungi mereka bergetar, menimbulkan riak yang dalam saat permukaannya bergoyang-goyang seperti jelly.
"Humph! Untuk berpikir bahwa makhluk rendahan memiliki Array yang begitu kuat, betapa menjengkelkan!"
Disana, beberapa sosok mengapung di atas langit. Mereka memiliki penampilan yang tidak dimiliki Spirit Great World.
Dengan sepasang sayap aneh yang diisi dengan bintang-bintang, orang akan tahu bahwa sayap mereka mengandung alam semesta mereka sendiri.
Dibanding malaikat, mereka memiliki kemiripan dengan manusia. Namun, kulit mereka sangat aneh. Ada yang merah, biru, ungu, hitam, dan bahkan warna putih, jelas mereka memiliki keunikan tersendiri.
Hal yang paling ikonik dari mereka adalah, mereka sangat sombong!
Tetapi, kesombongan mereka sesuai dengan kekuatannya.
"Jangan buang-buang waktu! Temukan Yang Mulia Kaisar. Jejaknya menghilang tepat disini. Itu berarti dia pasti ada di dalam sana." Seseorang berkata dengan ikrar yang mendominasi.
Nampaknya dialah pemimpin mereka.
"Array ini cukup unik. Sepertinya di buat oleh seorang ahli yang kuat. Bagaimana mungkin orang seperti itu ada di dunia ini? Tapi, jadi apa? Aku masih bisa menghancurkannya dengan satu serangan!"
Yang lain mengungkapkan dengan arogan. Itu adalah pria tampan yang memiliki rambut seputih salju. Dia adalah satu-satunya orang yang memiliki kulit normal.
*Gemuruh...
Dengan itu, dia mengangkat tangannya ke atas. Tiba-tiba, seluruh langit tampak mendung seiring dengan tekanan.
Sejumlah energi yang tak terbatas berkumpul membentuk tinju yang menutupi langit.
Bahkan benteng di bawahnya sekecil debu jika di bandingkan.
"AAAH!!! JANGAN BIARKAN ITU SAMPAI! HANCURKAN! HANCURKAN ITU!"
Bahkan setelah semua pasukan mereka disatukan, tidak ada dari mereka yang berhasil mengalahkan salah satu dari makhluk tersebut. Kekuatan mereka melampaui Spirit Great World itu sendiri. Bahkan raja iblis seperti semut di hadapan mereka.
Oleh sebab itu, 7 raja iblis dari 10 telah mati, dan 100% pasukan yang ada dibantai habis-habisan hanya dengan sekali serang.
Saat ini, satu-satunya yang tersisa hanyalah penduduk yang tidak bisa bertarung. Tim terkuat Astaroth, Aegis, dan Ashur berjuang mati-matian mempertahankan Array sementara penduduk meringkuk ketakutan.
"Ashur! Gunakan Nihility Collapse!" Astaroth berkomentar dengan ekspresi serius. Alisnya menajam saat mengatakan ini.
"Tidak bisa! Jika aku melakukan itu, dunia akan hancur!" Ashur membantah dengan keringat bercucuran.
"Lakukan saja!!!" Astaroth berteriak dengan marah sambil memelototi Ashur, "Tidak ada waktu untuk memikirkannya. Aku sudah mengunci seluruh hutan dengan segenap kekuatan, jadi kamu tidak harus merasa kawatir! Saat ini, prioritas utama kita harus melindungi semua orang! Bahkan jika kita mati, kita akan mati bersama-sama!"
Astaroth kemudian melihat ke arah Aegis.
"Aegis-kun, pergilah sejauh yang kau bisa dan bawa pergi semua orang! Kita tidak tahu siapa yang mereka cari... Yang jelas, tidak ada dari mereka yang boleh di bawa pergi!"
"Ta-tapi..! Bagaimana dengan kalian?" Aegis merengut saat wajahnya berubah kawatir.
"PERGILAH...!" Keduanya menjawab bersamaan.
"Kami akan menahannya! Tolong bertahanlah sampai Yang Mulia kembali... Teruslah hidup hingga hari pembalasan tiba!"
"Kalian..." Aegis mendidih saat dia mencengkeram tinjunya.
Tubuh Aegis menggigil tak terkendali sekarang. Untuk berpikir orang yang dia anggap saudara akan mengorbankan nyawanya demi pelariannya, Aegis sangat sedih.
Sebagai pria, ini pertama kalinya dia menangis. Menengok terakhir kalinya ke belakang, Aegis memantapkan tekadnya saat dia menghapiri warga sipil.
Dengan komando cepat, Aegis memerintahkan seluruh penduduk mengevakuasi ke dimensi yang ia buat.
Ketika dia hendak meninggalkan benteng, bayangan gelap melintas di sampingnya.
Seluruh pikiran Aegis terbangun dengan kaget saat melihat sosok itu.
"Nyonya! Apa yang anda lakukan?! Tolong ikutlah bersama saya!" Aegis berteriak tetapi tidak ada jawaban.
Ketika dia akan menyusul, sebuah suara yang akrab merasuki kepalanya, "Cepat pergi! Jika kau bertemu dengan si bodoh itu, katakan padanya aku baik-baik saja. Meskipun aku tidak ingat kapan aku tertarik pada si bodoh itu, aku mencintainya lebih dari siapapun! Sebagai orang yang bertanggung jawab atas benteng, aku merasa menyesal tidak bisa melindungi titipannya. Pergilah!"
"TIDAK...! NYONYA, JIKA ANDA PERGI, APA YANG AKAN TUAN KATAKAN?!" Hati Aegis hancur saat suara itu berangsur-angsur menghilang.
Tiba-tiba, seluruh langit menjadi gelap seolah-olah hari sudah malam. Ekspresi Aegis segera berubah setelah melihat ini.
Setelah meninggalkan benteng, Aegis pergi dengan hati yang hancur.
BOOOOOOOOMMM!!!!
Bersamaan dengan itu, dunia bergetar ketika asap jamur membumbung tinggi. Bahkan setelah meninggalkan hutan, asap itu masih terlihat sejelas siang hari.
Tapi selanjutnya, cahaya putih aneh membentang menutupi Burial Junggle. Semuanya terjadi begitu cepat. Setelah itu, keheningan meresap mengikutinya.