
[Budayakan Like sebelum membaca, nikmati!]
***
"Ka-kamu... Kamu benar-benar membunuhnya?! Tidakkah kamu takut polisi akan menangkapmu?"
Melihat adegan di depannya, pantat Rui terbanting ke tanah.
Dia menatap Yuuto seolah-olah baru saja melihat hantu.
Di dunia yang damai dimana peperangan hampir tidak pernah terjadi lagi, reaksi yang di tunjukkannya merupakan reaksi normal.
Tapi tentu saja, Rui hanyalah seorang gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah. Menikmati hari-hari yang damai tanpa konflik sedikitpun.
Tapi sekarang, sebuah adegan kejam dan berdarah yang hanya terjadi di film horor tepat dipertontonkan di hadapannya. Bagaimana bisa dia tidak terkejut?
Melihat mayat tanpa kepala itu, Rui sekali lagi merasakan tubuhnya bergidik, benar-benar ketakutan.
Dia juga mulai merasa mual. Semburan ketidaknyamanan membanjiri seluruh pikirannya.
"Polisi? Apakah mereka kuat? Selama mereka tidak mengganggu Yang Mulia ini, itu tidak masalah. Bukankah sebaiknya kamu mempedulikan dirimu sendiri daripada mengkawatirkan orang lain? Orang ini mengatakan bahwa ia berasal dari Liga Pembunuh. Apa artinya itu? Itu berarti kau telah ditargetkan oleh mereka! Kamu seharusnya berterima kasih padaku untuk ini."
Yuuto menanggapi Rui tanpa ekspresi.
Dia bisa memaklumi keterkejutannya.
Bagaimanapun, gadis kecil ini hanya putri manja dari keluarga yang memiliki nama besar. Yang mana seluruh hidupnya dipenuhi pujian dan kehormatan.
Tetapi, saat dihadapkan dengan bahaya yang mengancam nyawa, Rui sesekali harus memahami hukum rimba dimana yang kuat memakan yang lemah. Sama sepertinya, tidak apa-apa untuk menjadi sedikit emosional.
Ini adalah cara bertahan hidup! Tidak peduli apa, kehormatan dan prestasi tidak lebih dan omong kosong!
"Kamu benar... Orang tua ini memang tidak berguna. Aku bahkan tidak menyadari Nona Muda sedang diincar."
Di sana, suara penyesalan datang dari Katasuke.
Ia berjalan dengan tubuh yang bergoyang-goyang, sudut mulutnya diwarnai dengan darah. Tentu saja, nyeri di bagian bawahnya masih terus berdenyut-denyut.
Rasa sakit semacam itu tidak mungkin di pahami jika seseorang tidak mengalaminya sendiri.
Dibandingkan dengan luka di area lain, siksaan di area sel*ngkangannya memiliki dampak yang paling kuat.
Tidak hanya itu, Katasuke merupakan salah satu orang yang dianggap langka bagi mereka yang terkena tangan iblis Yuuto. Sungguh luar biasa bahwa ia masih mampu berdiri tegak setelah semua itu.
"Paman, kamu tidak perlu memaksakan diri..." Rui buru-buru menopang Katasuke. Melihat bagaimana dia berjuang keras di atas rasa sakit, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak kawatir.
"Tidak apa-apa..." Katasuke menjawab dengan santai.
Tidak ada lagi wajah sombong seperti sebelumnya, hanya ada senyum cerah yang di paksakan di wajahnya. Ia tidak berani meremehkan pria itu lagi.
Mengingat adegan beberapa saat lalu, Katasuke langsung bergidik. Ia bisa rasakan sel*ngkangannya menjadi dingin.
Katasuke terbatuk beberapa kali dengan enteng, dia merasa sedikit canggung.
"Pertama-tama, orang tua ini minta maaf atas perilaku kasar saya. Tidak hanya gagal melindungi majikanku sendiri, aku bahkan mengutamakan ego daripada tugas yang diberikan!"
Itulah hukum rimba, bung! Selama kamu memegang prinsip ini, tidak peduli seberapa licik seekor rubah ataupun seberapa kuat seekor harimau, dihadapan kekuatan absolut, semuanya bisa diselesaikan dengan tinju!
Bahkan Katasuke sangat menghormatinya sekarang...
"Jadi, apa yang sebenarnya kamu coba katakan?" Yuuto bertanya dengan nada dingin. Ia masih berpura-pura membenci Katasuke.
Katasuke menghela nafas tanpa daya. Sepertinya pria ini terlanjur kecewa karena masalah yang ia buat.
Lagipula, semua ini tidak akan terjadi jika dia berpikir lebih jernih. Bertemu ahli langka seperti Yuuto merupakan pertemuan yang dibuat oleh takdir.
Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia mungkin bisa mendapatkan beberapa manfaat. Tapi sekarang, sepertinya itu mustahil.
"Saya tahu saya salah. Orang tua ini telah melakukan tindakan berdosa sehingga pantas dihukum mati. Namun, tolong kasihanilah gadis ini, dia masih hanya seorang gadis kecil! Bunuh aku sebagai gantinya!" Katasuke berkata dengan serius.
Untuk membuktikan ketulusannya, dia membanting kepalanya ke tanah sehingga dahinya mengeluarkan darah. Berlutut dan memohon agar Rui di selamatkan.
"Ini..."
Melihat betapa tulusnya Katasuke meminta maaf, Yuuto tidak tahu harus bagaimana bereaksi.
Dia bukanlah mesin pembunuh yang mengambil nyawa manusia tanpa pandang bulu. Jika pihak lain bersikeras meminta perdamaian, tidak ada alasan untuk berpura-pura menabur kebencian.
Namun, perdamaian itu harus didasari dengan ketulusan tanpa niat terselubung. Tanpa niat dari hati, Yuuto tidak akan membiarkan pikirannya melunak. Dan Katasuke adalah pengecualian.
Pada titik ini, Yuuto merasa sedikit bersalah pada Katasuke, "Baiklah, baiklah... Itu cukup pak tua. Aku akan memaafkanmu kali ini."
"Terima kasih Tuan Muda!" Seru Katasuke sambil mengucapkan dengan penuh rasa syukur.
Untung dia tahu bagaimana mengakui bahwa dia salah.
"Paman kamu...."
Rui mengalami kesedihan saat mendengarkan kata-kata pengawalnya.
Sejak ia kecil, Katasuke telah menemaninya kemanapun dia pergi. Orang yang ia kagumi di hatinya, telah jatuh menjadi seperti ini sampai ke titik di paksa meminta maaf, ia merasa sakit di hatinya hanya karena melihatnya.
Katasuke mengangkat kepalanya sebelum akhirnya berdiri tegak.
Dia menatap Yuuto dengan sopan yang disertai senyum cerah. Walaupun kepalanya di penuhi darah.
"Karena permasalahan telah selesai, kita sudahi sampai disini. Tuan Muda, saya akan kembali dan melaporkan masalah mengenai Liga Pembunuh. Ngomong-ngomong, saya melihat anda sebagai jenius yang jarang muncul dalam beberapa ratus tahun. Di usia muda, anda telah membuka mata orang tua ini. Di keluarga kami, sangat sedikit ahli yang mencapai tingkat Void Determination. Serta beberapa Sky Profound di kursi Tetua. Dengan bakat anda yang begitu menakjubkan, suatu kehormatan jika anda menerima undangan saya."
Bagus! Dia memakan umpannya!
Yuuto sangat gembira sekarang. Ia sudah menunggunya untuk mengucapkan kata-kata itu. Dan lagi, ia tidak berharap orang tua ini akan banyak bicara dan menjadi begitu bodoh. Ia bahkan memberitahu kekuatan keluarga Sumika!
"Aku... Aku bersedia!" Yuuto menjawab bahkan tanpa berpikir.
"Eh?" Katasuke membeku dan menatap Yuuto dengan ekspresi tidak percaya.
.....
Sorry lama update, kuota abis dan ini baru beli lagi (○゚ε゚○)