
"Kamu bicara apa sayang, pasti kamu sedang bercanda kan." Ucap wanita yang duduk dengan suara lembut tapi tatapan wanita itu membuat Tesla semakin mencekram kuat rok yang dia pakai.
"Tesla! Jagan bercanda." Ucap Bayu yang juga menatap Tesla tak suka.
"T-tesla benar-benar hamil Pah." Katanya dengan suara parau menahan tangis.
Detik itu juga dua wanita yang duduk disana memejamkan matanya mendengar suara pecahan piring yang begitu nyaring.
Praaangg!!!
Bayu melempar piring makanya di lantai membuat isi di piring itu berantakan sama seperti pecahan keramik. Tesla menjatuhkan air matanya dengan tubuh bergetar takut, apalagi papa Bayu berdiri dan mendekatinya.
Plak
"SIAPA PRIA ITU!!" Bayu mencekram dagu Tesla setelah menampar wajah gadis itu sampai meninggalkan ruam di pipi.
Tesla menangis terisak merasakan panas dan bebas di pipinya.
"KATAKAN BRENGSEK!!"
Teriak Bayu dengan tatapan mata penuh kemarahan.
"D-dia Gam-"
Bruk
Tubuh Tesla di hempasan begitu saja dari kursi, membuat gadis itu jatuh tersungkur dengan tangisnya.
"Memalukan." Gumam Gina yang menatap Tesla dengan tatapan tidak suka.
Wanita itu meninggalkan meja makan dan menyusul sang suami yang sudah lebih dulu pergi, sedangkan di ruangan makan hanya ada Isak tangis memilukan dari Tesla yang merasa sakit fisik maupun hati.
Mentari menatap wajah putranya yang menampilkan wajah memelas, tidak di pungkiri rasa kecewa Mentari begitu besar pada putranya yang masih duduk di bangku sekolah.
Keduanya berada di dalam kamar Gamma, Mentari duduk disisi ranjang, sedangkan Gamma duduk berjongkok didepan Mentari dan menggenggam tangannya.
"Kamu buat Mama kecewa Gamma." Lirih Mentari dengan tatapan sendu.
Mentari hanya takut jika kemarahan suaminya semakin memuncak setelah tahu apa yang Gamma perbuat, selama ini Rudy terlalu keras dengan Gamma, dan keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
"Maafin Gamma mah." Gamma tertunduk lesu dengan perasaan campur aduk. Dirinya marasa dunianya akan jungkir balik setelah apa yang dia alami.
Menghamili seorang gadis tidak pernah terpikirkan oleh Gamma, dan sekarang dirinya dihadapkan dengan masalah besar dalam kehidupannya.
Melihat putranya yang sepertinya putus asa membuat Mentari tidak tega, bagaimana pun Gamma masih remaja dan butuh bimbingan orang tua.
"Mama akan bicara dengan papa mu, semoga papa mau mengerti." Tangan mentari mengusap kepala Gamma dengan lembut. Di kecupnya kening sang putra dan memeluknya hangat.
Gamma menunggu didepan rumah Tesla, pemuda itu menunggu dengan tenang sampai yang dia tunggu keluar.
Gamma turun dari atas motornya dan bersandar untuk menunggu Tesla yang berjalan pelan menuju arahnya, gadis itu menunduk menghindari tatapannya.
"Tesla." Gamma menyentuh wajah Tesla saat gadis itu sudah berdiri di depannya.
Di tatapnya wajah Tesla yang terlihat matanya begitu sembab.
"Tes, ini-" Suara Gamma tertahan di kerongkongan, lidahnya terasa kelu dengan tatapan mata yang memanas melihat bekas luka memar di pipi Tesla yang masih baru.
Air mata Tesla luruh begitu saja saat tatapan keduanya bertemu, wajah Tesla terlihat begitu menyedihkan hingga membuat Gamma merasakan sakit di hatinya.
Grep
Gamma membawa Tesla kepelukkanya, pemuda itu memeluk Tesla yang menangis pilu.
"Sorry, gue akan tangung jawab." Ucap Gamma sambil memeluk gadis itu erat.