GAMMATES

GAMMATES
Gugur



Gamma melajukan kendaraannya dengan kencang, pemuda itu tidak perduli dengan keselamatan nya, yang ada di pikirannya adalah Tesla, ada apa dengan gadis itu.


Sampainya di kediaman Tesla, Gamma langsung menerobos masuk saat pintu utama tidak terkunci, membuat kedua orang yang sedang menikmati makan malam terkejut melihat kedatangan Gamma yang tergesa-gesa.


"Dimana kamar Tesla!" Teriak Gamma dengan wajah panik, napasnya sudah mendetu- deru.


"Nak Gamma ada apa?" Gina mencoba bertanya.


"Di mana kamar Tesla sialan!!" Teriaknya tidak perduli siapa lawan yang dia ajak bicara.


Gamma menatap tangga, dan dengan cepat Gamma menaiki tangga dengan berlari.


"Dasar anak tidak ada sopan santun." Maki Gina setelah tadi sempat terdiam karena dibentak Gamma.


"Kenapa dengan Tesla?" Bayu pun ikut mengejar Gamma, pria itu juga panik saat melihat Gamma yang seperti kesetanan mencari Tesla.


"Bikin masalah saja." Geram Gina dengan marah.


Brak


Gamma menajamkan matanya saat melihat Tesla meringkuk disisi ranjang, tubuh gadis itu tergeletak tak berdaya.


"Tesla." Gamma langsung meraih tubuh lemas Tesla yang tak sadarkan diri, matanya memanas melihat darah mengalir di lantai.


"Ada ap-" Bayu sampai menghentikan ucapanya saat Gamma menggendong Tesla yang tak sadarkan diri.


"Tesla." Gumam Bayu, yang langsung mengikuti Gamma menuju mobil.


Di dalam mobil Gamma hanya bisa memanggil Tesla yang sudah tak sadarkan diri, kedua matanya memanas dengan dada yang terasa begitu sesak.


"Tesla bertahanlah." Gumam Gamma dengan suara parau.


Bayu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan cukup lenggang membuatnya tidak kesulitan.


Hingga dua puluh menit kemudian mobil Bayu sampai didepan pintu UGD, Tesla langsung dibaringkan di atas brankar dan langsung didorong keruang tindakan.


"Maaf anda tidak boleh masuk." Suster menghalangi Gamma yang hendak mengikuti Tesla.


"Tapi sus."


"Tunggu diluar, dokter akan menangani pasien."


Gamma pun hanya bisa pasrah, disandarkan tubuhnya pada dinding dengan kepala menunduk. Dadanya masih terasa sesak melihat keadaan Tesla.


"Tuhan jaga dia untukku." Gumam Gamma.


Bayu hanya bisa diam tanpa bicara apapun pada Gamma, hingga setelah tiga puluh menit, Gina pun datang dengan baik taksi.


"Mas, bagaimana?" Tanyanya dengan wajah pura-pura cemas.


"Masih ditangani dokter." Bayu mengusap wajahnya kasar, dirinya juga khawatir dengan keadaan Tesla.


Gina langsung diam ketika mendapat tatapan tajam dari Bayu, bibir wanita itu komat-kamit entah bicara apa.


Satu jam lebih Gamma menunggu dalam kecemasan, jaketnya yang terkena bercak darah Tesla pun dia abaikan. Hingga pintu dibelakangnya terbuka membuat Gamma langsung berbalik.


"Bagaimana keadaannya dok?" Sambar Gamma cepat.


"Sudah melewati masa kritis, karena pasien terlalu kelelahan dalam kondisi hamil muda, maka kami tidak bisa menyelamatkan janin didalam perutnya."


Tubuh Gamma mematung, tangannya terkepal erat saat sebuah batu besar menghantam dadanya, rasanya begitu sakit dan sesak.


"Pasien akan di pindahkan keruang rawat, anda bisa melihatnya disana."


Diruangan VIP, Gamma melihat wajah damai Tesla yang terlelap, gadis itu belum juga sadar dari obat yang dokter beri.


Gamma menggenggam tangan Tesla dan mengecup punggung tangan gadis itu hingga satu tetes air mata jatuh di tangan Tesla.


Dua bulan kemudian...


"Sial!! siapa yang berani cari mati!" Suara Gamma menggelegar memenuhi ruangan kelas.


Pemuda itu menatap tajam orang-orang yang ada di dalam kelas itu.


"Bos, santai kita cari tahu siapa yang melakukanya." Anji mencoba untuk meredam amarah Gamma yang cepat tersulut, pemuda itu sudah seperti banteng yang siap mengamuk.


"Gam, gue yakin mereka merencanakan sesuatu buat lo." Agam menimpali.


"Gue ngak peduli, temukan siapa yang sudah berani menyentuh milik gue." Ucap Gamma dengan nada geram.


Melihat Gamma yang sedang diliputi api, para siswa lainnya hanya bisa diam, mereka begitu takut melihat Gamma yang lepas kendali.


"Cari mereka sampai ketemu." Gamma meremat kertas yang ada di tangannya, pemuda itu melenggang pergi setelah membuat ketegangan di dalam kelas.


Fyuhh


"Hampir aja jantung gue copot." Ucap Deva yang bernapas lega.


"Sepertinya ada yang mau main-main sama si Gamma." Ucap Celo dengan menatap satu persatu temannya.


"Heh, punya nyali apa mereka sampai berani buat Gamma murka." Gumam Dion.


Mereka hanya bisa mengaguk, setelah ini pasti mereka akan kembali berkelahi.


Gamma berjalan menuju rooftof sekolah, pemuda itu membuka pintu dan menimbulkan suara nyaring karena terlalu keras.


Gamma menatap punggung seseorang yang berdiri menatap Awan cerah, hingga tiba-tiba Gamma langsung memeluk gadis itu.


"I miss you." Lirihnya.