
Tesla tampak senang menikmati makanan yang dia inginkan, gadis itu begitu antusias menyambut roti bakar spesial yang tadi sempat menganggu indera penciumannya.
Sedangkan pemuda yang duduk di sampingnya tampak terlihat santai mekipun disekelilingnya tidak baik-baik saja.
Bagaimana bisa Gamma terlihat sentai jika salah satu pengunjung yang mendatangai kedai roti bakar tersebut adalah salah satu anak buah Device.
Melihat Tesla yang begitu senang dan antusias memakan roti bakar spesial itu, membuat Gamma tidak tega untuk mengajak Tesla pergi. Apalagi tadi Tesla sempat bilang jika dirinya kemarin menginginkan roti bakar tapi tak kunjung datang, karena Gamma yang menyanggupi permintaan calon istrinya itu sedang bertarung dengan geng lain.
Meksipun terlihat santai tapi dalam hati Gamma mengumpat saat melihat anak buah Gilang itu menyeringai padanya, dan Gamma menatap Tesla dengan tatapan tak terbaca.
"Ahh, akhirnya." Tesla bernapas lega saat perutnya terasa kenyang.
Gamma hanya tersenyum kecil, dari tadi dirinya sibuk scroll hp, Gamma sibuk membaca artikel ibu hamil. Dan ternyata Tesla sekarang bisa dikatagorikan sedang ngidam.
"Mau lagi tidak?" Tanya Gamma saat dirinya akan beranjak untuk membayar.
Tesla hanya menggeleng, perutnya yang kekenyangan dan terasa begah membuatnya terasa berat meskipun hanya bicara.
Gamma pun memilih untuk ke kasir, dan memesan beberapa untuk dibawa pulang.
Sejak kartunya diblokir, Mentari memberinya uang untuk jajan dan pengangan, Karena memang butuh mengingat Tesla sedang hamil Gamma pun mengambilnya.
"Ayoo."Gamma berdiri didepan Tesla mengajak gadis itu pulang. Sejak tadi Gamma sudah menjadi incaran para gadis di dalam sana membuatnya merasa tidak nyaman karena dirinya sedang bersama Tesla.
Tesla mengulurkan tangannya dan di sambut Gamma dengan suka cita, keduanya keluar dengan bergandengan tangan.
Jika saja posisi mereka tidak sekolah, Gamma jelas saja senang memilki Tesla, tapi mau bagaimana lagi dirinya terlalu cepat untuk mendapatkan Tesla.
Diperjalanan gadis itu terlelap, Gamma hanya tersenyum kecil, dilirik nya wajah Tesla yang terlelap Gamma bergumam sesuatu.
"Tesla bangun!" Gamma menyentuh bahu Tesla untuk membangunkan, karena mereka sudah sampai.
Matanya mengerjap dan terbuka, Tesla membenarkan posisi duduknya.
"Terima kasih." Ucapnya yang akan turun, tapi tangan Gamma mencekal nya.
Cup
"Kalau ada apa-apa hubungi gue."
Setelah Gamma mengatakan itu, Tesla memilih turun dan megambil apa yang Gamma berikan.
"Sampaikan salam untuk calon mertua." ucapnya dengan nada menggoda.
Sampainya di rumah Tesla dibuat terkejut saat sesuatu tiba-tiba menghantam dirinya.
Bruk
"Dari mana saja kau, apa sudah lupa jadi upik abu!" Gina menatap Tesla dengan wajah marah, tanganya terlipat didepan dada.
Tesla hanya menunduk, tangannya meremat paper bag yang dia pegang.
"Kerjakan, atau terkurung di gudang!"
Tesla menatap sendu pugung Gina yang melenggang pergi, hari ini pasti tidak akan terlewati dengan mudah.
Selain selalu dikasari, Tesla juga menjadi pelayan dan pembantu dirumah kedua orang tuanya sendiri. Gadis itu membersihkan rumah dan melakukan pekerjaan lainya seperti pembantu. Entah punya salah apa hingga dirinya diperlakukan seperti itu, sampai Tesla berpikir mungkin dirinya hanya anak pungut.
Gamma masuk kedalam rumah setelah memarkirkan mobilnya, dan saat ingin masuk kedalam kamar, dirinya berpapasan dengan Sagara yang tumben ada di rumah.
"Gam gue mau bicara." Sagara menatap Gamma lekat.
Gamma sendiri acuh, pemuda itu masuk kedalam kamar dan diikuti Sagara.
"Jelaskan ini!" Sagara melepar map diatas ranjang Gamma.
Gamma yang melirik, lambat laun pasti akan ketahuan juga.
"It doesn't matter, you don't have to worry."
Sagara mengepalkan tangannya kuat.