
Tesla mengusap keringat di wajahnya, tangganya sedang memegang pel membersihkan rumah seperti biasa. Untung saja tadi sempat isi amunisi tenaga bersama Gamma, jika tidak pasti sekarang dirinya sudah pingsan.
Saat sibuk mengepel tiba-tiba ember yang berisi air pel tumpah membasahi lantai, Tesla yang sudah lelah kini menatap wanita yang berkacak pinggang didepanya.
"Apa? besok kau sudah menikah jadi anggap saja ini terakhir penderitaan mu!" Ucap Gina tanpa rasa bersalah setelah menumpahkan air bekas pel.
"Mah, Tesla sudah capek." Ucap gadis itu dengan suara bergetar.
Meskipun hal seperti ini sudah dia kerjakan setiap hari, tapi kepadanya sekarang sedang hamil tenaganya tidak bisa di porsir seperti sebelumnya.
"Kerjakan sampai selesai, setelah itu masak!" Perintah Gina tanpa belas kasihan.
Tesla mengusap pipinya yang basah, kakinya sudah lemas tidak bertenaga. Rumah yang lumayan besar dirinya sendiri yang mengerjakan apalagi Gina sepertinya sengaja membuat rumah berantakan.
Sambil menjatuhkan air matanya Tesla membersihkan air yang membanjiri lantai, gadis itu membersihkan dalam keadaan pilu.
Setelah berdebat dengan Sagara, Gamma memilih pergi, pemuda itu tidak menghiraukan mobil papanya yang baru datang, dengan acuh Gamma malah menggeber motor besarnya saat Rudy turun dari dalam mobil.
Rudy hanya bisa mengumpat dalam hati ketika melihat kelakuan putranya.
Mentari menyabut kedatangan suaminya dengan senyum mengembang, Rudy hanya bisa ikut tersenyum kala melihat wajah istrinya yang berseri.
"Mas semua sudah ku atur, sesuai yang kamu mau." Ucap Mentari sambil mengambil alih tas kerja Rudy, Mentari pun membantu Rudy untuk melepaskan jas kerjanya.
"Bagus sayang, pastikan semua berjalan sesuai keinginan." Balas Rudy sambil memeluk Mentari.
"Semoga Mas." balas Mentari.
Gamma melajukan motornya menuju sebuah restoran yang seseorang janjikan, pemuda itu masuk dan mencari sosok yang menunggunya.
"Maaf tuan, harus menunggu." Gamma menyapa dan menyalami orang yang duduk didepannya.
"Tidak apa, silakan duduk." Pria itu menyuruh Gamma duduk.
"Sebelumnya saya memang tidak mengenal kamu, tapi saat tertarik dengan ide kamu yang dikirim email ke sekertaris saya." Ucap pria yang usianya sebaya dengan Rudy itu.
Pria itu mengangguk setuju. "Saya salut dengan otak cerdas kamu, pasti orang tua kamu bangga." Tutur pria itu yang hanya dibalas dengan senyum kecut dari Gamma.
Nyatanya mereka tidak seperti itu.
"Baiklah kamu bisa kirim file nya lewat email, dan sekertaris saya akan membayar DP nya."
Gamma hanya bisa tersenyum puas, otak cerdasnya kini mulai bekerja.
Menerawang kedepan, pernikahan didepan mata dirinya akan memiliki bebas baru yang harus dirinya pertanggung jawabkan, Gamma tidak ingin kembali berada dibawah fasilitas orang tuanya, perlahan dirinya akan membentuk karakter dirinya yang sebenarnya.
"Baik, secepatnya akan selesai." Keduanya berjabat tangan, Gamma dengan senyum kepuasan dan klien pertama untuknya sama-sama puas.
Setelah bertemu dengan klien ala Gamma, pemuda itu memilih untuk datang ke markas, hari sudah gelap membuat Gamma enggan pulang.
Dikediaman Bayu, Tesla baru saja menyiapkan makan malam, gadis itu terlihat begitu pucat dengan bibir yang sudah pucat seperti kapas.
Merasa sudah selesai, Tesla memilih masuk kedalam kamar, perutnya terasa nyeri dan kram membuatnya begitu kesakitan.
"Arrghh, sakit!" Tesla terduduk disisi ranjang, tubuhnya gemetar dengan tangan mencoba meraih ponselnya di atas nakas.
"Akh.." Rintihan Tesla begitu nyata, wajahnya sudah basah dengan air mata dan kini pandanganya mulai kabur saat melihat sesuatu yang keluar dari pangkal pahanya.
"Ya Tuhan!" Tesla semakin terisak, tangannya yang gemetar mencoba untuk menghubungi seseorang.
Sambungan berdering Tesla menunggu dengan suara tangis yang memilukan.
"Gamma angkat, hiks..hiks..."
Gamma baru saja memarkirkan kendaraannya, pemuda itu merogoh saku jaketnya saat ponselnya kembali bergetar setelah tadi sempat berhenti. Karena dijalan dan tujuan sudah dekat Gamma memilih untuk mengabaikannya.
"Gamma arrghh!"